One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 30. Demi Apa Sampai Begitu?


__ADS_3

Ada rasa bersalah dan tidak enak hati Faya kepada keluarga Wulan dan Indra. Sepertinya pesta kecil itu telah hancur karna dirinya. Entah apa pekerjaannya masih aman.


Tidak, bukan itu. Faya lebih mengkhawatirkan keadaan Prima daripada pekerjaannya. Entahlah. Macam-macam fikiran buruk mendominasi hati dan fikirannya. Sama sekali tidak bisa di ajak berkompromi.


Tatapan Faya terus menatap ke arah jalan raya. Jarinya saling mere mas takut.


“Kamu tau gak apa yang terjadi Tadi?” tanya Faya mengorek minformasi dari Harvey.


“Pas kamu jatuh tadi, pak Prima langsung nyebur gitu aja. Kayaknya dia mau nolongin kamu, deh, Fay.”


Ya ampun. Padahal bosnya itu takut air. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada bosnya itu. Padahal ia sudah diwanti-wanti oleh ariga untuk berhati-hati dengan air saat sedang bersama dengan Prima.


“Kurangi khawatirnya, Fay. Tadi aku udah telfon saudara yang ikut ngantar, katanya Pak Prima baik-baik aja. Cuma masih belum sadar.”


Ucapan Harvey itu sama sekali tidak bisa membantunya. Belum sadar, bukankah itu pertandan kalau bosnya itu tidak baik-baik saja? Dia sudah kepalang khawatir. Dan belum lega rasanya kalau belum melihat kondisi Prima dengan mata kepalanya sendiri.


Setelah sampai di rumah sakit, Faya dan Harvey segera pergi ke ruang perawatan dimana Prima di rawat.


Di depan sebuah ruangan, nampak beberapa anggota keluarga Prima sedang duduk menunggu sambil mengobrol ringan. Ada Favita dan juga Ren.


Faya segera mendekat dan langsung menanyakan keadaan bosnya kepada Favita.


“Buk, bagaimana keadaan Pak Prima?”


Favita bisa merasakan betapa sekretaris adiknya itu sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya saat ini.


“Masih belum sadar. Kata dokter akibat syok berat. Soalnya kan memang dia trauma sama air.”


Mendengar jawaban Favita, membuat Faya sontak membungkukkan badannya di depan Favita dan Ren. Ada rasa menyesal yang tak terbilang yang sedang bercokol dalam hatinya.


“Saya minta maaf, Pak, Buk. Karna saya Pak Prima jadi seperti ini.” Sesal Favita.


“Jangan begitu, Fay. Bukan salahmu kalau kamu kecebur di kolam. Sekarang kita doakan aja supaya Prima cepet bangun.” Favita begitu bijaksana menanggapi keadaan. Walaupun begitu, Faya tetap merasa tidak enak hati sekali.


Harvey menuntun Faya untuk duduk di kursi. Ia mengusap kedua punggung gadis itu untuk membantu menenangkan.


“Tenang, Fay. Berdoa.”

__ADS_1


Sumpah, Faya takut setengah mati. Berbagai perasaan tidak enak campur aduk di hatinya. Sudahlah mengacaukan pesta Wulan dan Indra, ditambah dengan kejadian Prima. Faya sampai tidak tau harus bagaimana agar keluarga bosnya itu tidak marah padanya.


Sementara di dalam kamar, Zinnia sedang menunggui putranya duduk di samping ranjang. Ada Ranu dan juga Mia. Juga Esta dan Rai. Mereka semua sedang menunggui Prima bangun.


Zinnia terus mengusapi wajah Prima yang pucat pasi. Kemudian ia menggenggam tangannya. Ia terus merapalkan doa dalam hati.


Semua keluarga Prima tau kalau Prima trauma dengan air banyak. Kolam, laut, danau dan sungai. Bahkan di rumahnya, Prima tidak punya bath tub untuk mandi. Karna waktu kecil, Prima sempat tenggelam karna perahu yang ia naiki terbalik. Saat itu, bahkan semua orang sudah pasrah kalau ternyata si Prima kecil lebih memilih untuk meninggalkan dunia.


Tapi takdir masih berbaik hati pada bocah itu. Sehingga memberinya kesempatan untuk hidup. Dengan konsekuensi, Prima menjadi sangat takut dengan air.


Zinnia yang tak pernah lekang memperhatikan wajah sang putra langsung berjingkat lega saat melihat kelopak mata Prima bergerak-gerak. Prima juga nampak menggerakkan kepalanya kesamping. Kemudian, ia membuka matanya.


“Prima? nak? Kamu udah bangun? Kamu kenal sama Mama, gak?” sebuah pertanyaan konyol dari Zinnia. Ia hanya takut jika trauma Prima mempengaruhi daya ingatnya. Seperti yang kerap di utarakan oleh dokter.


“Tante siapa?” lirih Prima. wajahnya nampak bingung sekali. Ia mengalihkan pandangan bingung itu kepada semua orang yng ada disana.


Sontak sekujur tubuh Zinnia melemas. Untung ada Mia yang berdiri di dekatnya dan langsung menahan tubuh kakak iparnya itu.


“Prima? kamu bener-bener gak kenal sama kami?” Ranu menimpali. Tentu saja ia ikut khawatir.


Wajah Prima datar. Ia menatapi satu-persatu anggota keluargnya dengan tatapan sayu. Membuat keluarganya yakin kalau Prima pastilah telah benar-benar hilang ingatan. Airmata Zinnia sudah mengalir sejak tadi. Apalagi saat tatapan Prima berakhir padanya.


“Hehehehehehhe.” Ujarnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Plak!


Sontak Zinnia memukul lengan putranya itu dengan sangat keras sekali. Ia lega, sekaligus kesal setengah mati.


“Dasar kurang ajar. Kamu hampir buat jantung Mama copot, Prim!” bentak Zinnia kesal bercampur lega.


Tentu saja ia lega. Ternyata putranya itu hanya mengerjainya saja.


“Dasar cucu lucknut.” Dengus Rai yang ikut kesal setengah mati.


“Hehehehehe. Prima gak mungkin lah ngelupain wajah-wajah bawel ini.”


Untuk beberapa saat, semua orang terhanyut dalam kelegaan. Sebelum Prima mengingat detik-detik kejadian perkara.

__ADS_1


“Faya?! Faya gimana, Ma? Apa dia baik-baik aja?” tanya Prima yang tiba-tiba khawatir.


Ia ingat, tadi melihat Faya tercebur ke dalam kolam dan ia berniat menolongnya.


“Kamu ini. Mau nolongin orang kok nolongin yang bisa berenang. Gak inget dirinya sendiri gak bisa berenang.” Gerutu Zinnia kesal.


Barulah Prima menyadari kekonyolannya sendiri. ternyata Faya pandai berenang? Entah kenapa tadi ia sepanik itu saat melihat Faya jatuh ke kolam renang.


“Kamu itu udah bikin semua orang khawatir, Prim.” Esta ikut menimpali. Namun wajah leganya begitu jelas terpampang di sela keriputnya.


Ren dan Favita yang dikabari Ranu kalau Prima telah bangun, langsung bergegas masuk ke dalam ruangan.


“Gimana keadaanmu, Nak?” tanya Ren.


“Prima gak apa-apa kok, Pa.”


“Kamu sih gak apa-apa. Tapi kami semua yang jantungan, tau!” dengus Favita. Ia lega tapi juga kesal dengan sikap aneh adiknya itu. Demi apa coba sampai rela nyemplung begitu ke dalam kolam. Gak sadar kalau gak bisa berenang.


“Ya udahlah. Yang penting kan sekarang aku udah gak apa-apa.” Prima membela diri.


Di luar ruangan, Faya nampak lega mendengar kalau Prima sudah sadar. Dia tidak tau saja kalau bosnya itu bahkan sempat-sempatnya mengerjai keluarganya sendiri. bahkan sesaat setelah membuka mata.


Begitu juga dengan Harvey. Ia ikut lega mendengar Prima sudah bangun.


“Harv, kamu pasti capek. Kalau mau pulang gak apa-apa, kok. Dari tadi kamu udah di telfonin aja, kan?” sela Faya setelah degup kecemasan perlahan menghilang dari dadanya.


“Ehm. Beneran nih gak apa-apa? Tapi nanti gak ada yang nemenin kamu disini.”


“Gak apa-apa. Kamu pulang aja. Aku gak enak ngerepotin kamu terus.” Jujur Faya.


Harvey nampak berfikir sebentar. Tapi kemudian ia mengangguk.


“Ya udah kalau gitu. Aku pulang dulu. Kalau perlu apa-apa, langsung telfon aku, ya.”


“Oke. Makasih banyak ya Harv.”


“Sama-sama.”

__ADS_1


Faya mengantarkan kepergian Harvey dengan matanya. Kemudian, ia kembali duduk termangu di kursi besi. Sekaran dia sudah lega.


__ADS_2