
“Sora, biar aku sama Pak Prima yang cuci piringnya. Kamu temenin Faya aja. lagian perut kami begah. Kekenyangan. Olahraga sedikit biar perut sedikit kempes.” tiba-tiba sebuah tawaran keluar dari mulut Harvey. Yang membuat Prima sontak membelalakkan matanya tidak terima. Enak saja Harvey membawa-bawa namanya.
“Kok aku?”
“Beneran? Waahhh. Makasih banget kalau begitu.” Ujar Soraya yang tidak jadi mencucui piring dan malah kembali bergabung bersama dengan Faya,.
“Bapak tega lihat cewek-cewek cantik itu cuci piring sebanyak ini?” sindir Harvey yang membuat Prima tak punya kesempatan mengelak.
Dengan menyeret kakinya, Prima akhirnya sudah berdiri di bak pencuci piring bersama dengan Harvey. Kedua pria itu kompak mencuci piring sampai selesai. Harvey yang menyabuni, dan Prima yang membilasnya.
Tak jarang, Faya dan Sora terkikik lucu melihat dua pria itu saling senggol tidak jelas.
Setelah selesai mencuci piring, keduanya kembali ikut bergabung duduk di sofa.
“Mau buah, Fay?” tawar Harvey. Tangannya sudah terulur ke keranjang buah di meja. Buah yang ia bawa tadi.
“Boleh.” Jawab Faya. Ia tidak sadar kalau jawaban itu berhasil membuat Prima melotot matanya. Melirik tajam keapda Faya.
“Ehmmm..” Harvey memilihkan buah untuk Faya. Tangannya memutar-mutar di atas keranjang buah. “Kiwi?”
“Hehe. Kamu masih tau buah kesukaanku, Harv?”
“Ya jelas dong. Semua tentang kamu gak akan pernah aku lupa.” Seloroh Harvey. Ia melancarkan serangannya diam-diam. Tak peduli ada hati milik musuh yang sedang terbakar.
“Ya ampun. So sweet banget sih kamu, Harv. Faya pasti udah meleleh tuh.” Soraya tambah menggoda. Membuat salah satu hati semakin terasa panas seperti terbakar lava Gunung Semeru.
“Apa sih, Mbak.” Faya tersenyum simpul.
Kelakuan tiga manusia itu benar-benar membuat Prima kesal setengah mati. Ini lagi, Soraya. Kenapa malah mendukung perhatian Harvey ke Faya, sih. Dalam hati, Prima sedang ngedumel tidak jelas.
“Kamu, gak pulang?” pertanyaan itu tertuju kepada Harvey yang nampaknya masih betah berlama-lama di rumah Faya.
Mendengar itu, sontak Faya, Soraya, dan Harvey melihat dengan tatapan aneh kepada Prima.
__ADS_1
“Ini udah malam. Gak baik cowok lama-lama di rumah cewek.” Sindir Prima terang-terangan.
Apa dia bilang? Gak baik cowok lama-lama di rumah cewek? Yang benar saja. Dia bahkan membiarkan Faya tidur seranjang dengannya. Dan itu sangat tidak baik, menurut Faya.
“Ehm, oh, iya. Kayaknya aku pulang dulu deh, Fay. Besok aku kesini lagi buat jagain kamu.”
“Gak perlu di jagain. Faya bukan anak kecil yang harus di jagain.” Dengus Prima lagi. Dia berkata begitu dengan fokus ke layar ponselnya.
Lagi-lagi, Faya yang duduk di sampingnya mengernyit. Sikap Prima sangat aneh menurutnya.
Seutas senyuman muncul di bibir Prima saat melihat Harvey bangkit dari duduknya. Ia merasa sudah memenangkan perang dingin itu. Telak.
“Pak Prima ayo. Kata Pak Prima udah malam. Bapak gak mau pulang?” sindir Harvey memulai perlawanannya.
“Gak. Rumahku dekat ini. Udah sana buruan pulang.”
“Gak bisa gitu dong, Pak. Bapak sama saya kan sama-sama cowok. Kalau saya gak baik lama-lama disini, berarti Bapak juga dong.” Sepertinya, Harvey tau kalau Prima sengaja mengusirnya.
Prima tak bisa mengelak. Apalagi melihat dua pasang mata milik Faya dan Soraya sedang menatap aneh padanya. Seketika ia jadi salah tingkah.
“Ayo, Pak. Tunggu apa lagi?” desak Harvey.
Tak punya pilihan lain, akhirnya Prima bangun dengan rasa berat hati. Dia sungguh ingin menemani. Faya di sisi gadis itu.
“Mbak Sora gak usah pulang, ya. Temenin aku. Nginep disini.” Pinta Faya. Dan Soraya setuju. Ia juga merasa tidak tega membiarkan Faya sendirian dalam keadaan sakit.
Prima dan Harvey keluar dari rumah Faya dengan saling menyenggol bahu satu sama lain. Membuat dua gadis di dalam itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja. Benar-benar seperti dua anak kecil yang sedang bertengkar karna memperebutkan sesuatu.
Prima melengos kepada Harvey. Ia berjalan mendekati pintu rumahnya.
“Prima! mau minum kopi?” panggil Harvey.
Prima mengernyit. Telinganya tiba-tiba terasa sakit saat Harvey memanggil namanya tanpa embel-embel ‘Pak’ seperti biasanya. Tangannya yang sedang menekan tombol password terhenti dan ia menoleh kepada Harvey.
__ADS_1
“Prima?!!” tekan Prima tak mau di panggil dengan namnya saja.
“Jadi apa? Ini di luar jam kerja jadi gak ada alasan gue manggil lo Pak Prima. tadi itu karna gue gak mau terlihat aneh di depan Faya.” Harvey membela diri. “Lagian, palingan kita Cuma beda 2 tahun aja. gak ada salahnya gue panggil nama aja, kan?”
Semakin lama, Harvey semakin berani. Membuat Prima mendengus pelan. Sekarnag pria itu memanggilnya dengan sebutan lo?
“Ayo ngopi. Kayaknya masih ada pembicaraan di antara kita yang belum selesai.”
Prima merasa tertantang. Ia mengikuti ajakan Harvey. Mereka pergi ke cafe depan apartemen.
Sesampainya di cafe, mereka duduk saling berhadapan. Saling bersilang kaki, dan saling menatap tajam satu sama lain. Keduanya memesan kopi untuk mereka sebagai teman mengobrol.
“Lo suka Faya, kan?” tanya Harvey langsung setelah beberapa detik pelayan menghidangkan kopi di meja mereka.
Prima mengernyit. Ia seperti sudah bisa menebak kemana lawan bicaranya itu membawa arah pembicaraan ini.
“Seperti yang lo tau, gue juga suka sama Faya. Gue bahkan udah nembak dia....”
“Apa dia udah nerima perasaan lo?” potong Prima cepat.
Harvey terhenyak. Kalimatnya tercekat di tenggorokan.
“Kayaknya dia belum nerima perasaan lo. Kenapa lo udah pede tingkat dewa begitu?” sindir Prima.
“Dia memang belum nerima perasaan gue. Gue juga gak bilang kalau lo harus mundur. Gue Cuma mau bilang, sebagai sesama cowok, ayo kita bersaing dengar cara jantan buat dapetin Faya.” Tegas Harvey lagi. Ia tidak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam dari Prima.
“Apa lo anggap Faya itu barang yang dengan rendahnya di rebutin? Gue gak mau bersaing sama lo bukan karna gue ngerasa lemah dan ngalah. Tapi gue memberi peluang buat kamu. Semoga berhasil. Kita lihat nanti akhirnya hati Faya buat siapa.” Dengung Prima dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ia menyesap sisa minuman kopinya lantas pergi meninggalkan Harvey yang menatapnya tak percaya.
Satu hal yang di yakini oleh Harvey adalah, kalau Prima ternyata benar-benar mempunyai perhatian khusus kepada Faya. Perhatian yang melebihi sebagai seorang atasan kepada bawahannya.
Prima meninggalkan Harvey dengan hati kesal bukan main. Enak saja dia di ajak bertarung memperebutkan Faya. Entah kenapa harga dirinya tidak membiarkan itu terjadi. Dia tidak ingin Faya di buat semacam sebuah benda untuk taruhan. Ia tidak suka. Hatinya tidak rela. Faya terlalu berharga kalau hanya untuk di buat taruhan dua pria seperti mereka.
Dan yang jelas, hatinya adalah milik Faya. Walaupun gadis itu tidak tau sama sekali.
__ADS_1