
Perasaan Faya semakin berkecamuk luar biasa. Setelah apa yang terjadi semalam. Dan kini ia merasakan jantungnya yang terus berdetap tak karuan saat bersitatap dengan Prima. Astaga. Sepertinya ia harus segera menetapkan batasan sebagai bawahan. Ia yakin, karna kejadian semalamlah yang membuat perasaaannya tak menentu seperti sekarang.
Di tambah dengan Prima yang terus menggenggam tangannya sepanjang proses hipnoterapi tadi. Belum lagi tentang bercandaan Prima kalau pria itu hanya ingin menikahi dirinya. Bukan orang lain.
Soal pernikahan, Faya tau betul itu hanya selorohan Prima untuk menghindari kencan buta yang sudah di atur oleh ibunya. Sudah beberapa kali Prima berkata begitu.
Hati gadis mana yang tidak luluh setelah serentetan kejadian yang mengusik hati itu? Bahkan untuk seorang Faya, yang motivasi terbesarnya adalah uang, tetap tidak mampu membendung desiran yang terus muncul di dadanya.
Sial. Apa dia suka dengan Prima?
Sebuah pertanyaan yang seharusnya bisa di jawab oleh Faya dengan mudah. Tapi tidak. Karna apa? Karna ia tidak bisa menemukan kesungguhan dari bosnya itu. Ia takut jika hanya ke ge er-an sendiri dan salah mengartikan sikap Prima padanya.
“Fay, kita makan malam dulu.” Suara bariton Prima membuat Faya sontak melihatnya dari kaca spion.
“Bapak mau makan dimana?”
“Orion Aja.”
“Baik, Pak.”
Faya membelokkan mobil setelah pertigaan lampu merah. Tak jauh dari sana, terdapat sebuah restoran yang sering di sambangi oleh Prima.
Setelah mobil terparkir dengan sempurna, mereka lantas turun dan langsung masuk ke dalam. Pihak restoran sudah mengenal Prima dengan baik. Karna itu, salah satu pelayan langsung mengarahkan ke meja yang kosong di bagian tengah.
Tak berapa lama, pelayan kembali dengan membawa makanan pesanan Prima dan Faya.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini, berada di hadapan Prima benar-benar membuatnya kikuk setengah mati. Sebenarnya ia malu dengan fikirannya sendiri. tapi ya mau bagaimana, mengendalikan rasa grogi tidaklah mudah seperti yang terlihat.
Sepanjang makan, Faya tak mengeluarkan sedikitpun suaranya. Bahkan Prima sudah berkali-kali menatap gadis yang duduk di hadapannya itu dengan aneh. Ia bisa merasakan hawa canggung yang mengelilingi gadis itu.
Dalam diam, Faya telah bertekad untuk menanyakan perihal semalam kepada Prima. ia tidak bisa menduga-duga seperti ini terus tanpa tau yang sebenarnya. Agar semua jelas dan tidak ada kesalah fahaman yang terjadi. Dan agar ia merasa tenang dalam bekerja. Itu yang utama.
“Kamu kenapa, Fay? Diem aja? Gak kayak biasanya, bawel. Lagi berantem sama Harvey?”
Mendengar nama Harvey di sebut, membuat Faya mengangkat kepalanya dan menatap Prima. bosnya itu sedang membersihkan mulut dengan tisu.
__ADS_1
“Ehm, Pak...”
“Kenapa? Ada apa? Mau minta kenaikan gaji?” tebak Prima.
“Enggak, Pak. Bukan itu.”
“Terus apa? Gak usah takut-takut gitu.”
“Ehm, gini, Pak. Semalam.... apa kita ngelakuin sesuatu?” tanya Faya pada akhirnya.
Setelah pertanyaan itu meluncur lancar dari mulutnya, perasaan Faya lumayan sedikit lega.
“Sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Prima mengernyit.
“Ya, sesuatu?”
“Kamu ini mau ngomong apa sebenernya? Yang jelas dong kalau ngomong.”
Faya meneliti setiap gerakan dan ekspresi wajah Prima. Bosnya itu, sama sekali tak ada yang mencurigakan yang mengindikasikan kalau mereka melakukan sesuatu semalam.
“Bapak gak ingat semalam Bapak ngapain sa.....”
“Ngapain apa? Memangnya semalam aku ngapain?” lagi-lagi, Prima memasang tampang bodoh yang sialnya di percayai oleh Faya.
Faya berfikir, sepertinya Prima memang tidak tau. Atau lebih tepatnya tidak mengingat kejadian semalam. Padahal ia yakin betul, kalau telah terjadi sesuatu antara mereka semalam. Sesuatu yang in tim dan... dan....
Hah!
Faya memejamkan mata erat-erat sambil menggelengkan kepala. Bayangan lembutnya bibir Prima terus bergelayut di ingatannya tak mau pergi. Sungguh ia prustasi sendiri.
Dan sialnya, Prima sama sekali tak mengingat secuilpun kejadian semalam. Astaga, dia bisa gila sendiri.
“Semalam aku mabuk berat. Jadi aku sama sekali gak ingat apa-apa. Apa aku ngelakuin sesuatu yang malu-maluin? Atau aku mukul kamu tanpa sadar? Atau gimana?”
“Enggak, Pak. Gak ada apa-apa kok, Pak. Gak usah di fikirin.”
__ADS_1
Akhirnya Faya menyerah. Rasa kesal sudah memenuhi dadanya. Kesal akibat ia meyakini sesuatu tapi tidak bisa mengingatnya. Jadi, yang bisa Faya lakukan sekarang adalah, meyakini kalau telah terjadi sesuatu. Itu saja.
Padahal keyakinannya itu membuat hatinya mencelos dan sakit. Juga takut pada waktu yang bersamaan.
Benar dia sudah dewasa, tapi kalau sampai ia memiliki bayi di luar nikah, bagaimana? Sudahlah hidupnya baru keluar dari kekacauan, masak harus kacau lagi?
Hal pertama yang terlintas di fikiran Faya adalah Iwan. Bagaimana jika kakaknya itu tau kalau ia sudah melakukan itu bahkan sebelum ia menikah dan sampai hamil pula? Alamat Iwan akan memutus hubungan dengannya. Apa hari-hari menyedihkannya akan kembali datang?
“Kamu kenapa sih, geleng-geleng kepala gitu? Ada masalah?” selidik Prima. ia menyeruput minumannya.
“Gak ada kok, Pak.” Lirih Faya jelas sekali wajahnya memperlihatkan raut kecewa. Rasanya, Prima ingin tertawa terbahak-bahak sekarang ini. Astaga, Faya benar-benar percaya kalau ia tidak mengingat kejadian semalam.
Padahal, Prima ingat jelas lembutnya bibir Faya menyapu bibirnya. Dan setelah itu... ehem.
Suara ponsel Faya membuat gadis itu langsung mengangkatnya. Ia sempat tersenyum melihat nama Harvey di layarnya.
“Iya, Harv.” Sapanya.
Mendengar itu, manik mata Prima membulat. Ia menjadi kesal apalagi saat gadis itu tersenyum-senyum simpul begitu.
“Oo. Aku belum pulang. Sebentar lagi mungkin. Kenapa?—oh, kamu di depan apartemen? Sebentar lagi aku pulang. Kalau kamu gak keberatan nunggu, sih.—oke. Sampai ketemu nanti.” Faya menutup telfon.
Tatapan tajam Prima tak lekang dari Faya. Kesal sekali rasanya melihat Faya bertelfon dengan pria lain di depannya seperti itu. Seketika otaknya mulai berputar mencari cara-cara licik.
Faya melirik jam tangannya. Sudah jam setengah delapan. Tapi yang membuatnya terus mendesah adalah, bosnya itu sepertinya masih enggan beranjak dari kursinya. Pria itu bahkan memesan camilan ringan sampai dua kali. Padahal, ia ada janji dengan Harvey dan pria itu sedang menunggunya di rumah.
Saat Prima telah menghabiskan camilannya dan beranjak dari kursi, Faya baru bisa bernafas lega. Ia segera membayar bill dan mengikuti Prima keluar dari restoran.
“Fay, kita balik ke kantor lagi ya. Ada berkas penting yang belum aku kerjain tadi.”
Jreng.
“Hah?!”
Ingin rasanya Faya mengumpat dan memaki bosnya itu. Kalau perlu, membantingnya seperti dulu. Kalau di fikir-fikir, sudah lama sejak terakhir kali ia membanting bosnya itu. Tapi ia tidak punya kapasitas. Sungguh ia takut di pecat.
__ADS_1
“Ke kantor lagi, Pak? Sudah malam lho Pak.”
“Kenapa? Kamu udah gak mau kerja sama aku lagi? Udah bosan kerja sama aku?”