
Komitmen dan keseriusan akan sebuah hubungan, itu hanyalah kamuflase akan sebuah harapan baik untuk menjalani hubungan ke depannya. Tanpa tau apa yang akan terjadi di dalam hubungan itu sendiri.
Contohnya Iwan, dia dulu juga berkomitmen kepada gadis bernama Kirani. Dan gadis itu membalasnya. Dan berujung mereka berkomitmen untuk membina rumah tangga bersama. Namun pada akhirnya, komitmen itu harus hancur di tengah jalan karna salah satu dari mereka berhianat.
Dalam sebuah hubungan, walaupun sudah berkomitmen sedalam apapun, akan hancur ketika salah satu berhianat. Dan yang berhianat itu, bisa siapa saja, bisa aku, ataupun kamu. Setiap orang berpotensi menghianati satu sama lain.
Hanya rasa sadar diri saja yang bsia meneguhkan komitmen itu. Sadar diri kalau ketika sudah menikah, maka bukan lagi dalam tahap mencari, tapi sudah dalam tahap menjaga dan melindungi satu sama lain.
“Jadi kamu gimana, Fay? Apa kamu juga seserius dia?” Iwan melemparkan pertanyaan itu kepada adiknya untuk memastikan saja.
Faya terdiam. Niatnya mengundang kakanya adalah untuk memberitahu perihal Kirani. Kok sekarang jadi dia dan Prima yang merasa seperti sedang di sidang oleh Iwan?
“Kamu udah siap nikah sama dia? Udah yakin dia jodohmu?” tanya Iwan lagi.
Bukan Faya tidak berfikir ke arah sana. Fikiran itu juga sudah mengganggunya beberapa hari terakhir ini. Tapi, ia masih ingin menyelesaikan semua masalah yang ada dulu. Ia ingin memikirkan masalah masa depannya nanti dengan otak yang tenang tanpa gangguan.
“Mas, apaan sih?” Faya jadi menundukan wajahnya karna malu ditanya begitu.
“Kok gitu? Kamu gak mau nikah sama aku, Fay?” tanya Prima mendesak.
“Bukan gitu. Ya ampun. Bisa gak bahas yang lain aja. sekarang ini bukan waktunya buat bahas ini. Ada hal yang jauh lebih penting buat di bahas, Mas.” Protes Faya. Ia ingin mengubah ke rencana awalnya.
Iwan jadi tertawa melihat reaksi Faya yang seperti masih ragu. Padahal jelas, dari sorot mata Faya, adiknya itu sudah yakin untuk menikah dengan Prima.
Faya saling pandang dengan Prima. seolah sedang mengirimkan sinyal, kalau ia butuh waktu berdua bersama dengan kakaknya.
Prima yang mengertipun langsung mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Mas, aku mau pulang dulu sebentar, ya. Ada kerjaan yang mesti di kerjain.” Pamit Prima pada akhirnya.
“Oh, gitu. Nanti kesini lagi ya. Kita lanjut ngobrolnya.”
“Iya, Mas. Nanti aku kesini lagi kalau udah selesai kerja.” Prima tersenyum lalu keluar dari rumah Faya.
Perasaan Prima tidak menentu. Ingin tetap di sana, tapi dia merasa bukan haknya ikut campur urusan keluarga itu.
Sementara di dalam, Faya mengambil alih bekas duduk Prima. Ia menatap kakaknya dengan tatapan nanar. Matanya sudah mengembun dan siap tumpah.
“Mau ngomong apa? mukanya serius begitu?”
“Mas, maaf kalau aku harus nyakitin Mas. Tapi Mas harus tau kebenaranya.” Ujar Faya. Ia menegakan dirinya untuk meraih ponsel dari atas meja. Mencari sebuah video kemudian menyerahkannya kepada Iwan.
Mata Iwan sempurna membulat melihat video itu. dadanya naik turun seiring emosinya yang kian memuncak. Hatinya hancur? Tentu saja. Istri yang ia nafkahi dengan sungguh-sungguh, tega berbuat semenjijikkan itu di belakangnya. Mengobral tubuh kepada pria lain.
Karna bagi Iwan, kalimat sakral ijab kabul yang perah ia ucapkan sambil menjabat tangan ayah Kirani bukanlah kalimat yang bisa di ingkari sesuka hati. Kalimat itu menyertakan nama Allah yang berarti Allah menjadi saksi atas ikatan suci itu.
Tangan Iwan nampak gemetar. Kekecewaan, kemarahan, dan rasa tidak percaya kini memenuhi rongga dadanya. Hatinya seperti sedang di tikam oleh belati tajam berkali-kali.
“Kapan ini kejadiannya?” lirih Iwan. Suaranya bahkan hampir tidak terdengar oleh Faya.
“Kemarin siang.”dan Faya mulai menceritakan awal mula ia bisa memergoki Kirani di kamar hotel itu.
Sambil menonton video itu, telinga Iwan juga fokus mendengarkan cerita dari Faya. Ia sudah mengulangi video itu untuk yang ketiga kalinya. Seolah masih mencoba menepis kalau apa yang sedang di lihatnya itu adalah sebuah kenyataan.
“Jadi sekarang dia di kantor polisi?” tanya Iwan dengan suara yang masih bergetar. Ia mengembalikan ponsel Faya.
__ADS_1
Faya mengangguk. “Mas gak apa-apa?” tanya Faya pada akhirnya.
“Hancur, Fay. Rumah tangga yang Mas jaga mati-matian udah hancur. Emang bener katamu dari dulu, kalau baiknya udah dari dulu Mas pisah sama dia. Sebelum sesakit ini. Mas cuman berusaha menjaga komitmen Mas, Fay. Karna Mas yakin, kalau dia juga menjaga komitmen kami.”
“Tapi buktinya dia kayak gitu, Mas. Gak usah di pertahanin lagi. Sekarang udah ketahuan busuknya. Lepasin dia, biar Mas tenang mikirin hidup Mas sendiri.”
“Mas masih gak percaya dia setega ini, Fay.” Iwan meremas kemeja di bagian dadanya. Seolah ingin melampiaskan rasa sakit yang hampir tidak bisa ia tahan. Dadanya terasa panas dan hampir saja meledak.
Setelah beberapa kali menarik nafas dalam, Iwan bangkit dari duduknya. Ia berdiri dengan wajah penuh emosi kekecewaan.
“Mas mau kemana?”
“Ke kantor polisi.”
“Aku ikut, Mas.” Faya segera menyambar ponsel dan tasnya kemudian ikut Iwan keluar dari rumah. “sebentar, aku bilang dulu sama Mas Prima.”
Faya segera masuk ke dalam apartemen Prima. Ia mendapati pria itu sedang duduk di sofa sambil bermain ponsel.
“Mas, aku mau nganter Mas Iwan dulu ke kantor polisi.” Pamit Faya.
“Biar aku yang antar.” Prima bergegas bangun. Menyambar ponsel dan kunci mobilnya.
Faya tidak mencegahnya. Dia membiarkan Prima mengantarkan mereka ke kantor polisi.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara. Iwan yang duduk di belakang hanya terus memandang ke luar jendela. Hari masih gerimis. Seolah menyempurnakan rasa sakitnya akibat di hianati oleh istrinya sendiri.
Sementara di depan, Faya juga terhanyut dengan fikirannya sendiri. Berbagai bayangan terlintas di benaknya perihal apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Dan Prima, memilih untuk ikutan diam karna tidak tau harus membahas apa. ia tidak ingin salah bicara yang pada akhirnya berujung menyinggung Iwan. Sekarang sedang masa sensitif bagi mereka. Yang bisa Prima lakukan adalah, membantu apa yang bisa ia bantu. Ia berharap masalah ini segera selesai. Tidak tega juga melihat wajah kekasihnya lebih banyak murung dari biasanya.