
Perasaan Faya sedang campur aduk tak karuan. Ia kesal dengan tanggapan Prima seolah kehamilannya bukanlah
perkara besar.
Bukan hanya perkara harga diri yang hancur. Tapi malu yang seumur hidup akan terus melekat dalam dirinya jika ia hamil di luar nikah. Belum lagi cemoohan dari orang-orang di luar sana yang tentu akan sangat menyakitinya setiap waktu.
Menikah dengan Prima? tentu saja bukan hal yang buruk. Tapi perjalanan yang membuat mereka menikah adalah jalan yang paling buruk di dunia. Lagipula, kalau sampai kabar itu menyebar pasti akan membuat reputasi Prima dan bahkan keluarganya menjadi sangat buruk.
Banyak sekali konsekuensi yang harus ia hadapi jika mereka sampai menikah karna hal yang salah. Benar Faya punya ketertarikan sedikit kepada bosnya itu. Tapi itu belum cukup untuk membuatnya yakin menikahi pria itu. Ah, entahlah. Faya sangat ingin menangis sekarang.
“Kok malah diem? Kamu mau aku ngapain?” kalimat Prima itu menyadarkannya dari lamunan.
Tes.
Tes.
Beberapa bulir airmata Faya mulai berjatuhan di pangkuannya. Gadis itu masih tak mau mengangkat wajahnya.
Melihat itu, timbul rasa tak tega di hati Prima. ingin menyudahi saja mengerjai Faya. Ia merasa kalau ternyata bercandanya memang sedikit kelewatan sih.
“Fay?”
“Gak tau lah!” Faya berteriak sambil bangun dari kursinya dan langsung masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu kamar dari dalam dan ia berjalan menghampiri ranjang, melemparkan dirinya di atas ranjang dengan menelungkup, kemudian menangis sesenggukan. Ia menutup kepalanya dengan bantal guling. Malu kalau suara tangisnya terdengar oleh Prima dari luar.
“Fay! Buka pintunya!” teriakan Prima itu bahkan tak di gubris oleh Faya. Ia sudah terlanjur larut dalam kesedihan. Semakin mengeratkan guling di kepalanya.
“Fay!!” Prima mengetuk-ngetuk pintu kamar Faya.
“Bapak pulang aja! saya mau istirahat!” usir Faya dengan terang-terangan.
Prima nampak menghela nafas pelan di depan pintu kamar Faya. Menurunkan tangan yang sempat bertengger di handle pintu. Ia ingin meminta maaf, tapi Faya tidak mau keluar. Untuk berteriak minta maafpun, rasanya tidak elok sekali. Ia harus meminta maaf kepada Faya secara langsung.
Prima menuruti permintaan Faya. Ia kemudian keluar dari rumah Faya dan masuk ke dalam rumahnya sendiri.
Sementara Faya, masih terus meneteskan airmata dalam bekapan bantal guling. Entah kenapa rasanya sulit sekali bicara serius kepada Prima. Hatinya sakit. Seakan ada yang meremasnya.
__ADS_1
Ia tidak mengerti, kenapa Prima sangat sulit untuk mengerti ketakutannya. Ia sakit melihat pria itu bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi.
Prima mungkin bisa sesantai itu. Tapi tidak dengan dirinya. Prima tak akan meninggalkan bekas apapun. Tapi dirinya? Ahh, sakit sekali membayangkannya.
**
**
Faya libur selama tiga hari. Sampai ia benar-benar merasa pulih baru ia kembali bekerja. Dan hari ini, ia sudah siap menunggu Prima untuk berangkat ke kantor.
Wajah Faya murung. Bahkan ia langsung melengos saat Prima melemparkan senyuman padanya. Sikapnya begitu dingin tanpa ekspresi. Ia benar-benar sudah begitu lelah menghadapi sikap Prima. bukan sikap konyol dan jahilnya. Tapi sikap tak acuh pria itu akan masalah yang sedang ia hadapi.
Faya merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh Prima. bosnya itu sama sekali tak mempedulikan rasa sakit, malu, dan takut yang sedang ia rasakan.
Faya bekerja seperti biasa. Mengurusi jadwal Prima yang semakin padat. Hanya saja, dia jauh lebih banyak diam daripada biasanya. Sudah beberapa malam ia kesulitan untuk tidur hingga membuat lingkaran hitam di sekitar matanya.
Sementara Prima, dia berencana untuk membiarkan saja Faya sampai gadis itu merasa tenang baru ia akan menjelaskannya. Ia merasa sekarang bukan waktu yang tepat. Mengingat emosi gadis itu sedang sensitif belakangan ini.
Mata Faya semakin berat saja saat bekerja. Dia berinisiatif untuk membeli kopi di cafe depan kantor. Ia turun dengan menggunakan lift.
“Fay, kamu sakit? Kok kayaknya lemes banget gitu?” tanya Rika. Salah seorang karyawan di bagian pemasaran.
“Iya, kurang sehat aja.”
“Denger-denger kamu lagi hamil ya, Fay? Mukanya pucet gitu. Kakakku juga gitu pas hamil kemaren. Mukanya persis kayak kamu. Hahahahahahaha.” Canda Rika.
Deg.
“Barusan kamu bilang apa, Rika? Kamu denger dari mana?” Faya ingin memastikan pendengarannya.
“Jadi bener kamu lagi hamil? Pantesan mukanya pucet dan lesu gitu.”
Tiba-tiba lutut Faya melemas seketika. Tangannya gemetar. Ia mencengkeram samping celananya dengan sangat kuat.
Ketakutannya itu membuat Faya tak bisa menyangkal ataupun sekedar mengelak ucapan Rika. Semakin ia ingin membuka mulut, semakin suaranya tak mau keluar dan ia semakin gemetar.
__ADS_1
“Kok diem, Fay? Kamu beneran lagi hamil? Emangnya kamu udah nikah? Sama siapa? Kok kita gak ada denger kabarmu nikah, sih?” Rika benar-benar tak tau cara untuk berhenti.
Ting!
Saat pintu lift terbuka, Faya buru-buru keluar.
“Aku duluan ya.” Ujarnya tanpa berani menatap mata Rika langsung.
Sikapnya itu semakin membuat teman-teman kantornya curiga. Dan dalam beberapa menit, kabar kehamilan Faya sudah menyebar di seantero kantor. Padahal, Faya bahkan belum mengosongkan gelas kopinya.
Faya merasa ada yang aneh saat ia kembali dari cafe. Begitu ia memasuki lobi, semua mata tertuju padanya. Menatap tajam dan mengintimidasi. Ia mengernyit. Memikirkan apa yang sudah ia lakukan hingga ia merasa semua orang sedang menghakiminya.
Saat melewati tiga orang karyawan yang sedang berbincang, ia mendapat tatapan tajam dari mereka. Keadaan itu membuat Faya berfikir, ia harus mencari tau. Mereka pasti sedang membicarakan dirinya. Dan satu-satunya tempat untuk mengorek infosmasi secara jelas adalah kamar mandi wanita.
Segera saja Faya pergi ke kamar mandi di lantai satu yang biasanya selalu ramai. Ia menunggu di salah satu bilik dan diam di sana. Duduk di atas closet.
“Gak nyangka ya, ternyata Faya modelan begitu. Sampai berani jual diri segala. Apa gaji dari perusahaan gak cukup sampai dia rela ngelakuin itu?” terdengar seseorang membicarakannya. Faya menajamkan telinganya walaupun hatinya sakit bagai di tusuk.
“Kalem Cuma di luar aja. ternyata di dalam bringas juga.”
“Jangan suudzon. Siapa tau dia emang beneran udah nikah.”
“Mana mungkin. Kata Mbak Sora aja Faya belum nikah. Mbak Sora kan deket sama Faya. Orang kata Mbak Sora Faya itu hamil di luar nikah kok.”
Deg.
Mbak Sora?
Faya berusaha menyingkirkan fikiran buruk yang tiba-tiba menyerang kepalanya tentang Soraya. Tidak mungkin Soraya akan berbuat seperti itu. Soraya adalah wanita yang baik yang selalu menolongnya. Jadi tak mungkin jika Soraya yang menyebarkan aibnya seperti itu.
Tidak, tidak. Tidak mungkin itu ulah Soraya.
Faya memejamkan matanya kuat-kuat di dalam toilet. Membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tak terdengar sampai keluar.
Sunguh, betapapun ia menyangkal, tapi otaknya lebih mempercayai omongan orang-orag itu tentang Soraya.
__ADS_1