One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 93. Hanya Sebatas Bagian Dari Masa Lalu.


__ADS_3

Faya dan Prima kini sudah ada di dalam gedung bioskop dan sedang memilih film yang akan mereka toton. Setelah berdebat kecil, akhirnya mereka mmeilih film Hollywood yang sedang tren. Film tentang sekumpulan pahlawan.


“Mau pop corn?” tawar Prima.


“Boleh.”


“Tunggu disini sebentar. Aku beli popcorn dulu.” Pesan Prima meminta Faya untuk duduk di sofa tunggu.


Faya memandangi punggung Prima yang berjalan menjauh darinya. Ia bisa merasakan debaran itu yang masih sama seperti sebelumnya.


Mengingat keseriusan Prima akan hubungan mereka, membuat Faya meyakinkan diri, kalau mereka pasti akan bahagia besama. Memang, dalam rumah tangga pasti akan ada banyak sekali cobaan. Dan mulai sekarang, ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.


Ia melemparkan senyuman manis kepada Prima ketika kekasihnya itu sudah kembali dengan membawa satu wadah besar popcorn dan satu gelas minuman bersoda dengan dua sedotan di dalamnya.


“Kok cuma beli satu, Mas?”


“Satu untuk berdua. Biar romantis.” Jawab Prima asal.


“Mau nonton apa mau romantis-romantisan?” sindir Faya.


“Ya kalau bisa dua-duanya kenapa enggak. Sekalian nonton sekalian romantis-romantisan.”


“Dasar.”


Prima hanya terkekeh saja mendengarnya.


Ketika pintu teater sudah dibuka, mereka ikut mengantri untuk masuk ke dalamnya. Dengan Prima yang setia memegang makanan dan minuman mereka. Sementara Faya memegang tiketnya.


“Prima?”


Sebuah suara wanita membuat Prima dan Faya menoleh.


“Beneran ternyata kamu. Apa kabar?” tanya wanita itu dengan senyuman ramah. Lesung pipinya menambah kesan manis di senyumannya. Wanita itu sedikit mirip dengan aktris India, Preity Zinta. Lesung pipinyapun mirip sekali.


“Afta? Kamu Afta?” nampak Prima juga sumringah bertemu dengan wanita itu. sementara Faya hanya kebingungan saja. Karna dia belum pernah bertemu dengan wanita cantik itu.


“Siapa, Ta?” tanya wanita yang berdiri di samping Afta.


“Oh, ini Prima.”


“Prima? Prima yang cinta pertama kamu dulu?”

__ADS_1


Kalimat itu sontak membuat wajah Faya memanas. Apalagi saat Afta tersenyum simpul sambil mengangguk. Entah apa maksudnya.


“Gimana kabarmu, Prim? Makin ganteng aja nih.” Afta basa basi.


“Kabarku baik. Gimana kabarmu?”


“Aku baik juga.”


“Sendirian aja?” tanya Afta lagi.


“Aku sama....” Prima terkejut ketika tidak mendapati Faya di sampingnya. Ia melihat ke arah pintu masuk dan ternyata Faya sudah masuk lebih dulu meninggalkannya. Faya masuk lebih dulu tanpa memberitahunya.


“Mbak, saya sama mas-mas yang itu ya. Ini tiketnya.” Faya menyerahkan dua lembar tiket kepada petugas. Setelah itu dia langsung nyelonong masuk begitu saja tanpa membedulikan Prima yang sedang reuni dengan cinta pertamanya.


“Kenapa Prim?” tanya Afta yang ikut bingung melihat Prima bingung. Ia mengikuti arah pandang Prima ke arah pintu masuk.


“Aku masuk duluan ya.” Prima bergegas menyusul Faya walaupun gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.


Perasaan Prima tidak enak. Apalagi saat melihat tatapan dingin Faya ketika ia duduk di dekat gadis itu. Ia meletakkan minuman dan popcornnya di tempatnya kemudian memajukan wajahnya hingga sangat dekat kepada Faya.


“Jangan marah dong.”


“Ko udahan reuninya? Seru tuh ketemu cinta pertama di  bioskop. Kelihatan banget bahagianya.” Ketus Faya. Jelas ia sedang menunjukkan kecemburuannya sekarang.


“Gak gitu juga konsepnya.” Faya masih ngambek.


“Iya deh. Maaf. Dia itu cuman masa lalu aku, sayang. Udah gak penting. Yang penting sekarang kamu masa depanku.” Bisik Prima tepat di telinga Faya.


Memang, entah itu cinta pertama atau apapun itu, Afta merupakan bagian dari masa lalu Prima. ia juga tau kalau mereka tidak sengaja bertemu. Tapi ia tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Entahlah, kenapa perempuan di beri kerumitan perasaan seperti ini. Walaupun tau itu tidak sengaja, tapi tetap saja merasa cemburu. Seolah hati perempuan itu di desain untuk terus ragu walaupun dalam kepastian sekalipun.


“Udah jangan berisik. Itu filmya udah mau di mulai.” Dengus Faya kembali. Ternyata dia masih kesal.


“Udah dong marahnya, sayang. Nanti jadi gak fokus nonton filmnya.” Rayu Prima.


“Ya gimana mau fokus? Yang di inget mantan terus.”


Ya ampun, Prima memilih mengalah saja. Dia akhirnya diam sambil menunggu amarah kekasihnya mereda. Membasahi tenggorokan dengan minuman bersoda yang ia bawa tadi.


“Lho, Prim. Kamu duduk disitu rupanya.” Terdengar suara Afta dari arah belakang Prima dan Faya. Ternyata wanita itu duduk tepat di belakang mereka.


Hal ini tentu saja membuat posisi Prima semakin sulit. Kekesalan Faya belum mereda. Di tambah sekarang Afta dan temannya ternyata duduk di belakang mereka pula. Ya ampun, Prima merasa tidak enak. Ia bisa merasakan aura membunuh yang berputar di sekitarnya.

__ADS_1


Merasa nyawanya sedang terancam, Prima hanya tersnyum kaku sambil mengangguk.


“Kamu beneran nonton sendirian, Prim? Kasihan banget. Masih jomblo apa gimana?” ujar Afta lagi. Wanita itu mencondongkan tubuhnya demi bisa mengobrol dengan Prima.


“Aku gak sendiri kok. Aku sama calon istriku. Kenalin, ini Faya, calon istriku.” Prima sengaja mengeraskan suaranya agar baik Afta maupun Faya bisa mendengarnya. “Sayang, kenalin, ini Afta, temenku waktu SMA dulu.” Ujar Prima memaksa Faya untuk menoleh.


Dan berhasil. Prima merasa terselamatkan. Walaupun Faya terpaksa menoleh dan tersenyum ramah kepada Afta, tapi ia selamat kali ini.


Mendengar Prima memperkenalkan calon istrinya, membuat Afta langsung memundurkan tubuhnya. Seketika merasa tidak enak kepada Faya. Sebenarnya agak kesal juga karna Prima memperkenalkannya sebagai teman. Padahal dulu mereka pernah menjalin hubungan.


“Oh, gitu. Salam kenal Mbak Faya.”


“Salam kenal juga.” Jelas sekali Faya terpaksa mengatakan itu. apalagi senyumnya, nampak kaku dan di paksakan.


Semenara Prima bisa bernafas lega ketika Faya tidak menolak ia genggam tangannya. Ia justru tersenyum senang, karna merasa keadaan gentingnya sudah berlalu.


Selamattttt, batinnya.


Sepanjang pemutaran film, Prima kerap berbisik mesra di telinga Faya. Padahal, yang dia katakan itu sama sekali tidak penting. Cuma sekedar,


Kamu cantik.


Senyum dong.


Jangan cemberut.


Filmnya bikin bosan, Fay.


Aku sayang kamu.


Semacam itu kata-kata yang di bisikkan oleh Prima. ia sengaja menunjukkan kemesraan itu di depan Afta untuk menghibur Faya. Karna ia yakin kalau kemarahan Faya belum menghilang sepenuhnya.


Padahal Faya, sedang merasa di atas angin. Kemarahannya sudah menghilang sejak Prima mengakuinya sebagai calon istri tadi. Ia merasa di anggap dan seketika itu rasa marahnya menguap entah kemana. Yang tertinggal hanya perasaan senang yang melambung tinggi.


Melihat kemesraan yang tersaji di depannya, membuat Afta merasa sangat tidak nyaman. Entah kenapa ia merasa sikap Prima itu memang di tunjukkan kepadanya. Itu membuatnya kesal.


Apalagi Prima begitu perhatian menyuapi Faya popcorn dan minumannya sekalian. Nampak begitu perhatian kepada calon istrinya itu.



__ADS_1


wiiiii. ketemu mantan.


__ADS_2