
Suasana sebuah kamar hotel nampak sibuk. Seorang perias sedang fokus merias seorang gadis yang duduk di depan kaca. Gadis itu nampak sedang memejamkan mata menuruti perintah sang perias. Sedangkan wajahnya sedang di poles.
Dalam wajah yang terlihat tenang, berbanding terbalik dengan hatinya yang sedang bergemuruh hebat. Degupannya bahkan lebih kencang dari biasanya.
Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Faya. Karna hari ini, ia akan resmi di persunting oleh Prima, pria yang ia tau tulus mencintainya.
Dadanya terus berdegup kencang. Apalagi saat perias bilang sudah selesai merias wajahnya. Ia membuka mata dan mendapati dirinya yang telah berubah drastis. Menjelma menjadi bak puteri kerajaan dengan tiara yang bertengger di atas kepalanya. Bahkan ia sendiri menjadi pangling dengan wajahnya. Nampak bukan seperti Faya.
Ia memang belum mengenakan gaun, masih mengenakan bathrobe. Setelah di rias, baru Faya akan mengganti gaunnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan di pintu kamar Faya. Iwan memunculkan kepalanya dari sela pintu yang terbuka.
“Mas boleh masuk?” tanya Iwan meminta ijin.
“Masuk aja, Mas. Gak ada yang ngelarang kok. Hehehehe.”
Iwan nampak tersenyum mendengar jawaban adiknya itu. ia kemudian masuk dan menutup pintu kembali.
“Ehm, bisa minta tolong kasih waktu sebentar?” pinta Iwan pada perias. Meminta mereka untuk keluar dari kamar.
Semua orang menuruti permintaan Iwan. Wajah seriusnya membuat tidak ada yang berani menolaknya.
Kini Iwan sudah duduk di tepian ranjang. Sementara Faya ikut duduk di samping kakaknya itu. Perasaan Faya tidak enak saat melihat ekspresi serius di wajah Iwan. Ia juga melihat sebuah mendung di sana.
“Mas kenapa?” tanya Faya tidak sabar.
Iwan menoleh dan mengembangkan senyuman. “Mas boleh peluk kamu buat yang terakhir kalinya?” lirih Iwan.
__ADS_1
“Kok terakhir sih, Mas? Mas boleh peluk aku kapanpun Mas mau. Biarpun aku udah jadi istrinya Mas Prima, aku masih tetep adiknya Mas.” Faya kemudian memeluk kakaknya itu dengan sangat erat.
Lama mereka melakukan itu. sampai perasaan Iwan terasa sedikit ringan, baru ia melepaskan pelukannya. Ia membelai pipi adik tersayangnya itu dengan lembut. Menatap dalam kepada Faya.
“Gak nyangka kamu udah mau di ambil orang aja. Ternyata adiknya Mas ini udah besar. Kapan kamu jadi sedewasa ini, Fay? Saking sibuknya Mas sampai gak perhatiin perkembangan kamu. Mas minta maaf ya, selama ini mas gak punya waktu buat ngurus kamu.”
“Mas, seharusnya aku yang minta maaf sama Mas. Selama ini belum bisa jadi adik yang baik buat Mas. Selalu bikin Mas khawatir. Bikin Mas repot. Kadang juga nyakitin hatinya Mas. Aku minta maaf ya, Mas.”
Mata Faya tidak sanggup membendung air yang sudah sejak tadi berdesakan di pelupuk matanya. Jadilah air itu tumpah membasahi pipinya yang sudah di poles.
“Kok malah nangis? nanti di marahin sama periasnya lho. Udah cantik gini.” Iwan menyeka airmata adiknya. Sebenarnya dia juga merasa sedih. Ingin rasanya menangis saja. Tapi ia menguatkan diri tidak mau terlihat lemah di depan Faya.
“Udah mau jadi istri, gak boleh cengeng. Nanti Mas di marahin sama Prima karna udah buat kamu nangis.”
Faya hanya merespon dengan mencoba menghentikan tangisannya. Ia lemah kalau sudah berhadapan dengan Iwan. Bentengnya luluh lantak.
“Mas harap, kehidupan kamu setelah ini jauh lebih baik dari sebelum ini. Mas yakin, Prima akan jadi suami yang baik buat kamu. Mas bisa tau kalau dia sangat menyayangi kamu. Usahakan jadi istri yang baik buat Prima. Bukan Cuma sama Prima aja, sama keluarganya juga. Mereka keluarga yang baik. Jangan buat mereka kecewa. Mas tau kamu bakalan melakukan yang terbaik untuk rumah tanggamu. Mas Cuma bisa bantu doa, supaya kalian bahagia selalu.
Setelah Prima sah menjadikan Faya istrinya, maka seluruh tanggung jawab Iwan berpindah ke pundak Prima. pria yang Iwan yakini akan bisa memberikan kebahagiaan kepada adik semata wayangnya itu.
Ada rasa berat hati bercampur dengan kesedihan sekaligus kelegaan yang Iwan rasakan saaat ini. Berat karna harus merelakan satu-satunya keluarganya untuk di ambil orang lain. Sedih karna kini tanggung jawabnya sudah terputus dan berpindah kepada orang lain. Orang yang baru setahun lebih di kenal Faya. meninggalkan dirinya yang sudah mengenal Faya sejak gadis itu lahir ke dunia. Dan lega karna Prima merupakan pria yang baik dan bisa di percaya untuk di serahi tanggung jawabnya.
Perasaan berkecamuk itulah yang sedang di rasakan oleh Iwan sekarang ini. Membuat dadanya bergemuruh hingga air matanya lolos begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi.
Iwan segera mengalihkan wajahnya begitu air matanya jatuh. Tidak mau Faya melihatnya menangis. Padahal Faya sudah melihatnya sekilas.
Iwan yang selama ini sudah bertindak menjadi sosok ayah sekaligus ibu bagi Faya. wajar jika perasaan berkecamuk itu menguasai mereka saat ini. Mungkin seperti itulah perasaan ayahnya jika ayahnya masih hidup. Orang tuanya akan sedih namun senang di waktu yang bersamaan ketika ia menikah.
“Mas, udah dong. Jangan sedih gitu. Aku jadi ikut sedih.” Ujar Faya.
Jangan tanya lagi bagaimana kondisi wajah Faya sekarang. Airmata yang meleleh sudah merusak sebagian kecil dari riasannya. Untung saja hanya sebagian kecil. Kalau tidak, mungkin Faya sudah mendapat amukan dari perias itu.
“Ya udah, kamu lanjutin siap-siapnya. Mas mau ke luar dulu.” Iwan pamit kemudian keluar dari kamar Faya.
__ADS_1
Benar saja, ketika perias masuk, wanita berkacamata itu nampak sedikit kesal dengan hasil pekerjaannya yang sudah berantakan. Menyadari hal itu, Faya hanya bisa meringis saja.
“Maaf, Mbak. Abis nangis.” jujur Faya.
“Gak apa-apa, Mbak. bisa di perbaiki kok.”
Dan perias itu kembali memperbaiki riasan Faya.
“Yang tadi itu, masnya Mbak Faya, ya?” tanya perias sambil membenahi riasannya.
“Iya, Mbak. kenapa?”
“Kalau boleh tau namanya siapa, Mbak? soalnya mirip sama temen sekolah aku dulu.” Ujar Mbak perias lagi.
“Namanya Iwan, Mbak. dulu sekolah di SMA Generasi Bangsa.”
“Ooh. Iya, bener. Berarti dia memang temenku pas waktu SMA dulu. Aku juga dulu sekolah di sana.” Mbak perias nampak antusias sekali. Wajah kesalnya berubah hilang entah kemana.
“Ngomong-ngomong, Mbak namanya siapa?”
“Saya Marini.”
“Udah nikah, Mbak?” Faya semakin berani menanyakan hal menjurus. Sebuah ide gila tiba-tiba mampir di kepalanya. Marini nampak sedikit terkejut namun segera bersikap biasa saja.
“Udah nikah, udah janda juga, Mbak. Anak saya satu. Cowok, masih sd kelas 4. Suami saya meninggal tahun lalu. Kecelakaan Waktu kami baru pulang mudik.” Jelas marini.
Dan seutas senyumanpun muncul di bibir Faya. senyuman penuh dengan modus.
ayooo. yang mau ikut kondangan. jangan lama-lama. nanti kita telat.
__ADS_1