One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 64. Tidak Punya Tempat Tujuan.


__ADS_3

Halte bis di seberang jalan menjadi tujuan Faya. Ia berhenti dan duduk di sana. Ia membayar tiket bus Transjakarta itu dan duduk manis di dalamnya.


5 menit kemudian, datang sebuah bis dan berhenti di halte. Faya segera naik tanpa peduli bis itu akan melewati rute yang mana. Yang penting, ia ingin membaur agar rasa sakitnya sedikit teralihkan.


Sudah sekitar 2 jam Faya berputar-putar kota Jakarta. Ia sudah beberapa kali naik dan turun untuk berganti bis. Bahkan dalam waktu 2 jam itu, Faya tak pernah melihat ponselnya. Ponsel itu ia matikan agar tidak ada yang menghubunginya. Terutama Prima.


Dan disinilah Faya. Duduk di halte bis dekat Monas. Merasa sudah lelah, ia memilih untuk tidak melanjutkan berkelilingnya. Ternyata membaur seperti itu tetap tak mampu menggerus rasa sakit di hatinya.


Lama Faya termenung di dalam halte. Ia tak punya tujuan lain. Ingin pulang ke apartemen, ia takut Prima akan mencarinya kesana. Saat ini, Faya belum siap untuk bertemu pria itu. Rasa marah dan sakitnya terlalu besar untuk memaafkan pria itu sekarang.


Kalau hanya di kerjai dengan permen karet, kursi yang patah, sampai di siram oleh minuman, Faya tidak masalah dengan itu. Karna itu masih bisa di anggap wajar karna hanya sediit melibatkan fisiknya saja. Tapi kali ini, Prima telah melibatkan hati dan perasaannya. Mempermainkan rasa takutnya. Dan itu membuat harga dirinya sangat terluka. Hatinya hancur.


Faya benar-benar tidak punya tujuan. Satu-satunya orang yang ia ingat adalah Harvey. Tapi apa tidak terlalu jahat jika ia mendatangi Harvey hanya ketika dia di rundung maslah seperti ini? Faya merasa itu sangat tidak adil bagi Harvey. Setelah ia mengabaikan perasaan pria itu kemarin.


Tapi, Faya benar-benar tak punya tujuan lain. Tidak mungkin juga ia pulang ke rumah Kirani setelah hubungan mereka yang memburuk.


Rumah teman yang lain?


Faya tipe orang yang sungkan jika harus merepotkan orang lain. Lagipula, rumah teman-temannya berada di luar kota Jakarta. Ia tak punya teman dekat yang bisa ia mintai tolong.


Selama ini,ia terlalu sibuk mencari cara untuk bertahan hidup dikerasnya Ibukota. Sehingga tanpa sadar, ia hanya memiliki segelintir orang yang dekat dengannya.


Faya turun dari halte dan memilih berjalan-jalan sebentar di trotoar. Sambil ia berfikir ia hendak kemana karna ia benar-benar tak ingin pulang ke apartemennya.


Setelah lama, akhirnya Faya memutuskan untuk menginap di hotel saja malam ini. Untuk besok, ia akan memikirkan caranya. Yang jelas, ia sudah tidak ingin lagi bekerja di FD Corp.


Faya berhenti di trotoar untuk mencari taksi. Sampai sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti di depannya.


“Fay!” panggil Harvey. Ia menurunkan kaca jendelanya. “Ngapain kamu disini?”

__ADS_1


“Harv? Ehm. Aku. Gak ngapa-ngapain.” Jawab Faya gugup.


“Ayo masuk. Aku antar kamu.”


Faya berfikir sebentar sebelum meng-iyakan tawaran Harvey. Ia kemudian masuk ke dalam mobil Harvey.


“Mau pulang apa mau ke kantor?” tanya Harvey setelah beberapa meter menjalankan mobilya.


“Bukan keduanya.” Jawab Faya lirih.


“Apa ada masalah? Wajahmu kelihatan lesu.”


Faya tidak menjawab. Ia hanya menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian, bahunya terguncang dan airmata sudah menetes dari kedua matanya. Faya tergugu bahkan sebelum menceritakan apapun kepada Harvey.


“Fay? Kamu kenapa?” karna terkejut melihat Faya yang tiba-tiba menangis, Harvey menepikan mobilnya. Ia menghadap Faya dengan tatapan khawatir.


Tapi, Harvey tidak mendesak Faya untuk bercerita. Ia menunggu gadis itu merasa tenang dulu baru bertanya.


“Maaf, Harv.” Lirih Faya. Ia menghapus sisa aliran air matanya di pipi.


“Udah tenang? Sekarang, bisa kamu ceritain ke aku? Kamu ada masalah apa, Fay?”


Entahlah, darimana Faya akan mulai bercerita. Ini terlalu rumit. Ia menatap pria di sampingnya itu dengan pias dan rasa tidak enak hati.


“Aku keluar dari perusahaan.” Kalimat itulah yang Faya pilih sebagai pembukaan ceritanya.


“Keluar? Kenapa?”


“Aku gak mau kerja di sana lagi, Harv. Aku gak mau ketemu sama Pak Prima lagi. Karna dia hidupku kacau balau sekarang.”

__ADS_1


Harvey tetap tenang dan menunggu Faya menyelesaikan ceritanya.


“Beberapa waktu lalu, tanpa sengaja aku dan Pak Prima tidur bareng di kamarnya. Keadaanku sangat kacau waktu bangun. Aku langsung berfikir kalau kami udah ngelakuin hal itu. Sampai hari ini aku berfikir, kalau aku udah kehilangan mahkotaku di tangan Pak Prima.”


Jujur, sakit sekali hati Harvey mendengarnya. Gadis yang ia cintai telah si tiduri oleh rivalnya sendiri.


“Aku terus berfikir dan berfikir dalam ketakutan. Sampai aku sakit karna terlalu banyak berfikir. Aku takut kalau sampai aku hamil. Aku gak tau mau cerita ke siapa tentang masalah ini. Sampai akhirnya aku cerita semuanya sama Mbak Sora. Tapi hal yang gak pernah aku duga, kalau selama ini Mbak Sora Cuma manfaatin aku buat deket sama Pak Prima aja. semua kebaikannya Cuma pura-pura. Dia suka sama Pak Prima. dia marah waktu aku kasih tau dia kalau kami udah tidur bareng. Dan dia menyebar rumor di kantor kalau aku hamil di luar nikah.” Faya kembali terisak. Teringat akan rasa sakit bertubi-tubi yang ia rasakan hari ini.


Tentu saja perasaan Harvey sangat sakit mendengarnya. Ia ingin menyela tapi memutuskan untuk mendengarnya sampai akhir.


“Kemarin itu aku bahkan sempet di sidang sama keluarganya Pak Prima. karna ternyata Buk Zinnia memergoki kami malam itu. Aku gak tau gimana dia bisa tau. dan kamu tau apa? Ternyata Pak Prima berbohong. Dia sengaja ngerjain aku dengan biarin aku berfikir kalau malam itu kami bener-bener udah ngelakuin hal itu. Padahal malam itu gak terjadi apa-apa sama kami. Dia baru jelasin hari ini setelah semua masalah yang udah aku hadapi. Jahat banget itu orang. Kali ini ngerjainnya gak tanggung-tanggung.” Faya masih terisak.


Harvey merasa lega mendengar kalimat terkahir Faya. Ia lega karna ternyata Faya tidak kehilangan hal berharganya.


Tapi, ada rasa marah juga di dada Harvey mendengar Prima memperlakukan Faya sedemikian buruknya. Membiarkan Faya berfikir dalam ketakutan. Sendirian. Tiba-tiba Harvey merasakan kemarahan kepada rivalnya itu.


“Jadi sekarang kamu mau kemana?”


Faya menggeleng pelan.


“Aku gak tau mau kemana. Aku gak punya tujuan. Aku gak mau pulang ke apartemen. Aku males ketemu sama Pak Prima.”


Harvey diam sejenak. Ia berfikir untuk mencari cara.


“Gimana kalau sementara kamu tinggal di apartemenku dulu? Nanti malam aku ada kerjaan di luar kota buat beberapa hari. Jadi kamu bisa tinggal disana sambil memikirkan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Gimana?”


Tentu saja tawaran itu terdengar baik bagi Faya. Perlahan, Fayapun menganggukkan kepalanya menyetujui ide Harvey.


“Maaf aku selalu ngerepotin kamu, Harv.”

__ADS_1


“Gak apa-apa. Sekarang tenangkan fikiran kamu dulu.”


Mobil Harvey pun melaju menuju ke apartemennya.


__ADS_2