
Faya telah selesai memakan bubur buatan Prima. tidak bohong, bubur itu memang terasa lumayan enak di lidahnya.
“Gimana keadaanmu? Udah baikan?”
“Saya udah gak apa-apa, Pak. Bapak kalau mau pergi, pergi aja.”
“Suruh temenmu datang kesini buat nemenin kamu. Aku harus pulang ke rumah dulu sebentar.”
“Gak apa-apa. Bapak pergi aja.”
Sungguh, Faya merasa tidak enak hati. Perhatian Prima itu membuat jantungnya terus berdebar. Apalagi, tatapan Prima sekarang ini sangatlah berbeda dari sebelumnya. Lebih teduh dan... dan...
“Kalau gitu, aku tinggal dulu sebentar. Aku gak lama.” Janji Prima tanpa di minta.
Prima membetulkan selimut yang menutupi tubuh Faya. Baru setelah itu ia berjalan keluar sambil membawa mangkuk bekas bubur.
“Pak!” panggil Faya.
Prima yang sudah sampai di pintu berhenti dan berbalik. “Hm?”
“Bapak suka sama saya?”
Entah, darimana keberanian Faya itu muncul. Perasaannya seolah di desak tentang kenangan malam kemarin itu. Hatinya tidak rela membiarkan fikirannya terus di landa keraguan dan ketakutan.
Tapi, kenapa dia malah bertanya tentang suka? Bukannya tentang malam itu? Entahlah, Faya juga tak tau kenapa dia bertanya seperti itu. Padahal ia hanya ingin memperjelas tentang ingatan Prima. bukan tentang perasaan Prima.
Dasar mulut.
Prima sempurna mematung. Mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak pernah ia duga dari Faya membuatnya tersenyum miring. Perlahan, ia berbalik dan kembali mendekati Faya. Ia meletakkan kembali mangkuk yang ia bawa ke atas nakas.
Sementara Faya, sedang mertuki dirinya sendiri. Lebih tepatnya sedang memaki mulutnya yang sama sekali tidak pernah menuruti kehendak hatinya. Ia menundukkan kepala dalam sambil menggigit bibir bawahnya. Membayangkan akan apa yang akan di lakukan Prima akan kelancangannya barusan.
Tangannya sudah saling mengerat di bawah selimut. Rasanya keringat dingin sudah menyerang tengkuknya saat ini. Apalagi, saat melihat Prima yang jongkok di samping ranjangnya. Ekor matanya melirik dengan jantung yang semakin berdegup dengan sangat kencang. Sungguh, ia ingin mengikat mulutnya itu dengan karet.
“Kenapa? Kamu berharap aku suka sama kamu?”
Deg.
Tuh, kan.
Bukan begitu. Faya hanya ingin memastikan. Biar bagaimanapun, ia punya insting seorang wanita yang merasa kalau perhatian Prima padanya itu lebih dari perhatian seorang bos kepada sekretarisnya. Tapi tetap, ia butuh penjelasan karna tidak ingindi anggap salah kaprah.
“Ehm, ehm... bukan gitu, Pak. Saya...”
__ADS_1
“Apa?”
“Maaf kalau saya ngomong ngelantur, Pak. Anggap aja Bapak gak dengar apa-apa. Maklum, saya lagi demam.” Faya sebisa mungkin menahan malu.
Rasanya Prima ingin tertawa dengan sangat keras mendengar Faya menampik ucapannya sendiri. untung saja ia masih bisa menahan diri.
“Cchhh. Hemh.” Prima menahan tawa. Tangan kirinya terulur dan malah mengacak puncak kepala Faya. Membuat wajah Faya semakin merona saja. Panas dan berdebar. Bahunya mengendik sampai rapat dengan kepalanya.
“Istirahat. Jangan mikirin yang macam-macam. Aku keluar sebentar.”
Ucapan dan prilaku Prima itu sudah seperti kekasihnya saja. Bagaimana Faya tidak merasa demikian? Lihatlah, bahkan setelah berkata seperti itu, pria itu justru melemparkan sebuah senyuman yang bagi Faya itu sangatlah manis.
Prima berlalu keluar dari kamar Faya sambil mengu lum senyum. Ia kemudian keluar dari rumah Faya dan pergi menuju ke kediaman orang tuanya.
Sepeninggalnya Prima, Faya langsung melompat dari ranjang sambil membawa botol infus. Sesampainya di kamar mandi, ia segera mengunci pintu kemudian bersandar di pintunya.
Dadanya naik turun seiring irama nafasnya yang juga tak teratur dan berantakan. Ia berjalan ke arah Washtafel, meletakkan botol infus di sampingnya dan membasuh wajahnya dengan air dingin untuk meredakan hawa panas yang ia rasakan di wajahnya.
Faya menatap pantulan wajahnya di cermin, wajahnya sudah sempurna memerah. Seperti buah tomat masak.
“Jadi dia itu suka apa enggak, sih?” gumam Faya pada pantulan dirinya. Alisnya berkerut memikirkan banyak hal.
Saat sedang menatap cermin, pandangan Faya terpaku di area perutnya. Seketika rasa takut itu kembali menyerangnya. Dadanya berdegub dengan sangat keras. Degupan akibat rasa takut.
Setelah berhasil menyegarkan diri, Faya keluar dari kamar mandi. Ia mendengar ponselnya berdering kemudian mengambilnya.
Nama Soraya muncul di layar ponselnya dan ia segera mengangkatnya.
“Iya, Mbak Sora?”
“Dimana, Fay? Minggu nih, jalan yuk.” ajak Soraya dari seberang.
“Ehm, sorry, Mbak. kayaknya gak bisa deh. Soalnya aku lagi gak enak badan.”
“Kamu sakit? Sakit apa?” Soraya terdengar kaget.
“Demam, Mbak.”
“O, gitu. Ya udah, aku kesana sekarang. Kamu pengen apa? Biar kubawain sekalian.”
“Gak usah, Mbak.”
Faya mematikan ponselnya setelah Soraya menutup telfon. Setelah itu, ia membawa infus dan duduk di ruang tamu. Menunggu kedatangan Soraya sambil menonton TV. Keadaannya sudah jauh lebih baik. Hanya masih sedikit pusing saja.
__ADS_1
Ternyata bubur buatan Prima manjur juga. Hahaha.
20 menit kemudian, terdengar bel pintu rumah Faya berbunyi. Ia segera bangun dan membuka pintu. Dan terkejutlah Faya saat mengetahui kalau yang datang bukan hanya Soraya, tapi ada Harvey juga.
“Harv?”
“Hai.” Nampak sekali wajah Harvey yang berubah merona. Ia menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal.
“Kok kamu bisa ada disini?” tanya Faya. Karna seingatnya ia tidak memberitahu Harvey.
“Tadi kami ketemu di jalan. Aku ngasih tau dia kalau kamu sakit. Jadi aku ajak aja sekalian.” Ujar Soraya.
“Oh, masuk dulu Mbak Sora.”
“Nih, aku bawain buah. Kamu sakit apa?” tanya Harvey setelah menyerahkan sekeranjang buah-buahan kepada Faya.
“Demam aja.”
Sungguh, Faya masih merasa canggung bertemu dengan Harvey. Setelah apa yang pria itu ucapkan perihal perasaannya. Tapi, biar bagaimanapun, Faya tetap tak mau merusak hubungan baiknya dengan Harvey.
“Makasih, buahnya.” Faya melemparkan senyuman kepada Harvey.
Kini, ketiganya sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Faya.
“Kamu panggil dokter sendiri? kok di infusnya di rumah?” tanya Sora. Ia mengupaskan buah untuk Faya.
“Enggak, Mbak. Pak Prima yang bantu aku panggilkan dokter.”
“Oohhhhh. Sekrang Pak Prima dimana?”
“Lagi keluar katanya.”
“Kenapa kamu gak bilang kalau sakit?” suara bariton Harvey membuat Faya gelisah. Ia bingung harus menjawab apa. Ia takut menyinggung perasaan Harvey.
“Cuma demam biasa kok, Harv. Aku gak mau ngerepotin kamu.” Ujar Faya hati-hati. “Lagian aku udah baikan kok.” Sambung Faya.
Harvey tersenyum. Ia sadar betul tentang kecanggungan Faya ada di dekatnya. Tapi Harvey tidak menyesal. Ia sudah lega karna sudah mengatakan perasaannya kepada Faya. Terlepas di terima atau bahkan di tolak, dia siap untuk semua resikonya.
Lagipula Harvey tau kalau Faya memang tak punya perasaan lebih kepadanya selain sebagai sahabat.
__ADS_1
dear, warga, tolong jangan ada yang bilang, ah, lama kali lah si prima itu ngungkapinnya. disini otor perjelas ya, kejadian malam itu baru sekitar beberapa hari yang lalu. jadi yang di lakukan prima itu mengalir sesuai waktu ya. jadi harap bersabar. wokeee...