
Fikiran Faya masih menimbang. Antara ia masih ingin di sini, atau pulang bersama Prima. tapi masalahnya, Prima mengaitkannya dengan perasaannya. Kalau ia ikut pulang, otomatis mereka jadian alias pacaran. Kalau tetap disini, hati kecil Faya ingin pulang bersama Prima.
Sedang asyik dengan fikirannya, seseorang datang dan langsung menarik pergelangan tangan Faya dan menyeretnya menjauh dari meja makan.
“Bian! Kamu apa-apaan sih?!” pekik Faya tidak terima Bian main tarik begitu saja. Ia mengerem kakinya hingga Bianpun berhenti dan berbalik menatapnya.
“Aku perlu ngomong sama kamu.”
“Ngomong apa? aku gak ada tuh yang mau di omongin sama kamu.”
“Tapi aku ada, Fay.”
“Ya udah, ngomong disini aja. kamu gak lihat aku lagi makan?”
Bian nampak ragu. Ia justru melemparkan pandangan tidak suka kepada Prima. sementara tangannya masih mencengkeram kuat tangan Faya.
“Bisa tolong lepasin tanganmu dari calon istriku?”
Hah?
Bian dan Faya langsung menoleh kepada Prima yang kini sudah berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Faya dan Bian.
Faya mematung. Seolah masih tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar.
Prima tak tinggal diam. Ia menarik tangan Faya hingga terlepas dari pegangan Bian.
“Siapa kamu ngaku-ngaku calon suaminya Faya?” dengus Bian tidak terima.
“Aku? Ya calon suaminya Faya, lah. Pake nanya lagi.” Santai Prima.
“Fay? Beneran?” tuntut Bian.
“Bi, udah deh. Berapa kali aku harus nolak kamu? Kamu udah ada bocil tuh. Jaga aja dia baik-baik. Gak udah sibuk sama aku. Aku udah capek banget tau gak berurusan sama kalian. Aku tuh kesini niatnya mau healing, bukan mau nambah musuh.” Jelas Faya.
“Tapi aku sukanya sama kamu, Fay.”
“Mulai sekrang, kasih rasa sukamu itu sama dia tuh. Aku beneran udah capek, Bi. Aku marah sama kamu, sama Morin juga. Pokoknya kalian harus minta maaf sama dia.” Tunjuk Faya kepada Prima. “Kalian udah bikin orang celaka tau gak?”
“Fay!” pekik Bian saat Faya tidak menggubrisnya. Ia memandang marah kepada Prima. sementara Prima, terlihat santai saja.
__ADS_1
“Ayo, Pak. Kita pergi.” Ajak Faya yang kemudian berbalik.
“Kurang ajar.” Dengus Bian tidak terima. Ia kembali maju mengejar dan menarik bahu Prima.
Prima yang sudah mulai kesal juga, memegang tangan Bian yang ada di bahunya kemudian berbalik dan,
Bruk!
Prima membanting Bian begitu saja ke atas lantai hingga menimbulkan bunyi. Mereka yang sudah menjadi perhatian sejak tadi, kini semakin membuat lebih banyak perhatian.
Sementara Faya ternganga tidak percaya. Ternyata Prima bisa mengikuti gayanya seperti itu. apa mungkin karna Prima sudah berpengalaman di banting Faya? Haha.
“Kak Bian!!!” teriak si bocil kematian mendekati Bian dan membantu pria itu bangun. Morin menatap marah kepada Prima.
“Oh, pas banget kamu disini, cil. Minta maaf, sekarang.”
“Hah? Apa?”
“Aku bilang minta maaf sama dia sekarang. Gara-gara kamu punggungnya terluka. Cepet minta maaf.” Desak Faya kepada Morin.
“Ih. Ogah. Salah sendiri, kenapa dia pake tiba-tiba dateng begitu. Coba kalau enggak, kan lumayan mukamu yang kena.” Jawab Morin.
“Ayo, kita pergi aja.” ajak Prima kembali.
Sementara Faya masih berada di awang-awang. Kesadarannya tiba-tiba menguap entah kemana. Kepalanya konsisten menoleh kepada Prima yang berjarak hanya beberapa centi meter saja.
Prima terus mengajak Faya pergi dari restoran itu. meninggalkan Bian dan Morin yang menatap mereka tidak percaya.
“Udah, Pak. Lepasin. Kita udah jauh.” Lirih Faya saat mereka sudah berada di dekat jogging track. Ia mengendikkan bahunya untuk melepaskan diri dari Prima. bukan apa, lama-lama dia bisa spot jantung kalau begini.
Prima dan Faya duduk di salah satu kursi di sebuah food court yang ada di sana. Prima memesankan minuman boba untuk Faya dan juga dirinya. Sudah lima belas menit berlalu, tapi Faya, masih diam saja.
“Kamu marah ya? Apa aku bertindak berlebihan?”
“Enggak kok, Pak. Bapak malah udah nyelamatin saya. Tapi tadi Bapak hebat lho, pas banting Bian. Hahahahhaa.” Faya berusaha mencairkan suasana hatinya yang sedang terlewat baik itu.
“Siapa dulu yang ngajarin.”
“Saya gak pernah tuh, ngajarin Bapak buat banting orang.” Faya merasa tersinggung.
__ADS_1
“Ya kamu udah berkali-kali banting aku, sampai aku faham gerakanmu.”
Faya Cuma bisa nyengir saja mendengarnya. Ya, memang dia sudah terhitung beberapa kali membanting mantan bosnya itu.
“Tapi, Bapak beneran mau ngelaporin mereka ke Polisi, Pak?” selidik Faya. Ia merasa, masalah ini agak sepele kalau sampai di bawa ke polisi segala.
“Kenapa? Kamu gak tega lihat cowok yang naksir kamu itu kenapa-napa?” Prima jadi mendengus kesal. Pokoknya dia sensitif sekali kalau Faya membicarakan pria lain di depannya. Telinga dan hatinya menolak mendengarkan tapi mau bagaimana. Jadilah hatinya yang terbakar rasa cemburu seperti itu. dan dia melampiaskannya dengan kekesalan.
“Ya bukan gitu juga, Pak. Males banget ngurusinnya. Ribet.” Faya beralasan.
“Siapa juga yang nyuruh kamu ngurusin. Masih ada paman Ariga. Kamu tenang aja.” ucapan Prima terdengar serius.
Memang, punggung Prima jadi terluka karna kelakuan dua manusia itu. wajar saja kalau dia marah. Soalnya kan, badannya mahal. Faya tidak berhak menghalangi karna yang terluka adalah Prima, bukan dirinya.
Padahal, Prima Tidak serius dengan ucapannya itu. ia hanya menggertak saja agar mereka berhenti mengganggu Faya.
Wajah Faya terlihat sedikit murung. Membuat Prima gemas setengah mati. Apalagi bibir manyunnya itu membuat Prima ingin meraupnya saja.
Tunggu, dia kan sudah pernah merasakannya.
Perlahan, senyuman Prima terbit akibat membayangkan sebuah kejadian malam itu.
“Tenang aja. Aku gak bakalan laporin mereka kok. Kerjaanku masih banyak. Kayak aku gak ada kerjaan aja main lapor-laporin.” Akhirnya Prima jujur juga.
Satu pelajaran berharga yang Prima ambil dari kejadian ini, kalau dia tidak boleh membiarkan kesalah fahaman berlangsung lama. Atau, seseorang yang berharga baginya akan pergi lagi meninggalkannya.
“Bapak banyak berubah.” Lirih Faya setelah beberapa saat memperhatikan wajah Prima.
“Fay, bisa gak, jangan panggil Bapak. Kamu kan bukan sekretarsiku lagi. Panggil pakai yang lain, kek. Aku jadi ngerasa kayak udah tua banget di panggil begitu.”
“Jadi panggil apa? udah biasa panggil Bapak, gimana dong.”
“Ya, panggil Mas, bisa. Aa, bisa. Oppa, juga bisa, kan wajahku mirip artis Korea juga. Atau Abang, boleh tuh panggil Abang.”
Faya saja sampai bergidik ngeri sekali mendengarnya. Membayangkan ia memanggil Prima dengan sebutan abang? Apalagi oppa? Ya ampun. Faya segera menggelengkan kepalanya. Semua panggilan itu membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
ulur-ulur dulu ya warga. masak mau langsung di terima, gengsi dong sebagai cewek. hahahahaha.