One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 34. Sinyal Darurat Itu Mulai Muncul.


__ADS_3

“Kok Bapak jadi marah?”


Prima hanya tidak suka mendengar Faya merendahkan diri atas kekurangannya. Ia tidak suka.


“Ayo, pulang.” Akhirnya Prima memaksa Faya. Ia berdiri lebih dulu dan di susul oleh Faya yang terburu-buru mengambil ssepatunya.


Namun nahasnya, ia malah tersungkur karna tidak melihat lubang kecil di pasir hingga membuatnya nyusruk dan mencium pasir pantai.


“Akh!” pekik Faya sesaat sebelum wajahnya sempurna tenggelam di pasir.


Prima yang mendengar pekikan Faya langsung menoleh. Dan pemandangan yang ada di depannya membuat Prima tertegun. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak sambil mendekati Faya. Bukan untuk membantu gadis itu, melainkan hanya untuk melihat kesialan sekretarisnya itu.


Faya bangun dengan susah payah. Ia langsung membersihkan area wajahnya yang penuh dengan pasir. Kemudian, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Orang-orang di sekelilingnya juga nampak sedang menertawakan dirinya. Kemudian ia beralih kepada Prima yang sampai memegangi perut akibat menertawakanna. Ingin sekali rasanya ia membanting bosnya itu. Karyawannya nyusruk, bukannya dibantuin, malah di ketawain. Dengus Faya dalam hati.


Prima benar-benar tidak membantu Faya. Pria itu lantas berbalik dan melanjutkan jalannya menuju ke mobil.


Sepanjang jalan, Faya terus mengucek-ucek matanya yang terasa mengganjal dan perih. Ia merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam matanya. Pasti pasir.


Sementara Prima telah menunggu Faya di samping mobilnya. Ia melihat ke belakang yang ternyata Faya masih berjalan. Gadis itu sesekali berhenti untuk mengucek matanya.


Di tempat yang tak jauh, terdapat air keran di sebelah warung warga. Faya segera menghampiri dan langsung membasuh wajahnya. Ia menampung air di kedua tangannya dan menenggelamkan wajahnya disana. Mengedip-ngedipkan matanya berharap pasir yang masuk ke matanya bisa hilang.


Tapi tidak. Bahkan setelah beberapa kali Faya melakukan itu, matanya masih terganjal dan perih. Sedikit kesal. Tapi mau bagaimana.


Pilihan Faya selanjutnya adalah mencari kaca untuk melihat keadaan mata sebelah kanannya yang ia rasa semakin perih. Bahkan karna terlalu banyak mengucek matanya, pandangannya menjadi sedikit kabur.


Bruk.


“Aduh.”


Faya terkejut saat tiba-tiba ia membentur sesuatu. Dan itu adalah punggung Prima.


Prima langsung berbalik saat seseorang menabrak punggungnya. Ia langsung mengernyit ketika mengetahui yang menabraknya adalah sekretarisnya sendiri.


“Maaf, Pak. Saya gak sengaja.” Sesal Faya. Takut di marahi.


“Kamu kenapa?” selidik Prima.


“Mata saya kemasukan pasir, Pak. Susah buat lihat.”

__ADS_1


“Mana sini, coba.” Prima berujar tanpa ba-bi-bu. Ia langsung menarik kepala Faya untuk di dekatkan ke wajahnya. Matanya dengan teliti melihati mata kanan Faya yang sudah memerah.


Wajah mereka berada di jarak bahaya. Sinyal daruratpun langsung di keluarkan oleh Faya. Seketika ia menjauhkan wajahnya hingga tangan Prima yang memegang pipinya terlepas. Rasanya canggung sekali.


“Kok malah jauh, sini, deket. Biar bisa di lihat.” Prima kembali memaksa wajah Faya untuk dekat dengan wajahnya.


Kali ini, Faya tak sempat memberontak. Apalagi saat merasakan hembusan nafas Prima yang berhembus di wajahnya, jantungnya serasa melorot ke inti bumi.


“Coba lihat ke atas.” Perintah Prima. dan Faya menurut.


Prima semakin mendekatkan wajahnya. Merasa tidak mendapat penerangan yang cukup, iapun kemudian mengambil ponselnya dan menyorot ke arah mata Faya. Faya tersentak karna seperti melihat cahaya ilahi.


“Diem, ya.”ujar Prima kemudian. Ia telah melihat si biang kerok yang bersembunyi di mata fata. Dengan hati-hati ia mencungkil pasir kecil itu. Butuh beberapa percobaan sampai akhirnya ia berhasil.


Setelah berhasil mengambil kotoran, Prima semakin mendekatkan wajahnya. Mengarahkan mulutnya di mata Faya kemudian...


“Buuuuh!” Prima meniup mata itu dengan kuat sampai Faya terkejut bukan main.


Karna terkejut, Faya sampai memundurkan tubuhnya. Ia hampir saja terjatuh lagi saat menginjak sampah botol plastik di dekat kakinya. Untung saja Prima segera menangkapnya. Pria itu menarik lengan Faya hingga tanpa sengaja Faya berbalik dan mendarat di dada bidang Prima.


Astaga. Dalam beberapa menit, sudah berapa kali hatinya melorot?


“Gimana? Udah enakan?” tanya Prima yang lebih mengkhawatirkan keadaan mata Faya.


Faya mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Masih perih, Pak. Mungkin iritasi karna itu tadi. Makasih, Pak.”


“Mana sini kunci mobilnya. Biar aku yang nyetir.” Pinta Prima mengulurkan tangan kepada Faya.


“Gak usah, Pak. Masak Bapak nyetir.”


“Mata kamu lagi sakit. Jadi aku gak mau mati muda, Fay. Mana sini.” Paksa Prima


Faya mengerti maksud Prima. “Tapi, Pak....” Faya benar-benar tak enak hati.


“Udah, mana sini. Bukan Cuma kali ini aja aku nyetirin kamu. Kamu gak inget dulu aku selalu nyetirin kamu?”


Faya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kemudian ia merogoh tasnya dan memberikan kunci mobil kepada Prima. sungguh ia merasa tak enak hati.

__ADS_1


“Masuk.” Perintah Prima kembali sambil berjalan mengitari mobil.


Yang terjadi setelah mendapatkan perintah itu, Faya jadi bingung sendiri. mau duduk di belakang, tidak mungkin karna itu akan sangat aneh. Mau duduk di depan, entah kenapa ia merasa sangat canggung. Setelah kejadian jantung melorot tadi, Faya merasakan kecanggungan yang luar biasa.


“Cepetan, Fay!” teriak Prima yang sudah duduk manis di balik kemudi.


Dengan perlahan, Faya memutuskan untuk duduk di depan. Walaupun canggung, ia tetap harus menahannya. Padahal dulu dia tidak pernah merasa secanggung ini.


“Seatbeltnya.” Ujar Prima kemudian.


“Oh. Iya. Maaf, Pak.”


Faya menghela nafas perlahan. Entah kenapa ia kok menjadi gugup dan linglung.


Setelah seatbelt Faya sempurna terpasang, Prima mulai melajukan mobilnya.


“Mata kamu masih sakit, Fay?” tanya Prima dalam perjalanan. Ia bingung kenapa Faya sejak tadi hanya diam saja tak bersuara.


“Masih agak perih, Pak.”


“Kita ke rumah sakiat aja, ya. Periksain mata kamu.”


“Ya ampun, gak usah, Pak. Udah gak apa-apa, kok. Cuma tinggal iritasinya doang. Besok juga udah sembuh.” Kekeuh Faya.


Faya merasa, Prima sedikit berlebihan kali ini. Ia tidak biasa kalau Prima perhatian seperti itu. Itu membuatnya sangat aneh dan canggung setengah mati. Ia takut, tidak bisa membedakan antara perhatian seorang bos dengan seorang...... seorang.....


Mikirin apa sih aku ini?


“Ya udah. Terserah kamu. Jangan nanti bilang aku bos yang gak perhatian ke bawahannya. Sekretarisnya sakit gak peduli. Awas aja kalau ngomel.” Ancam Prima.


“Ya gak mungkin lah Pak saya begitu. Hehehe.”


“Ya udah. Kita balik aja ke hotel.”


Prima kemudian tetap pada jalur kembali ke hotel. Ia bahkan mengesampingkan rasa laparnya sendiri karna memang sejak siang tadi dia belum makan. Hanya ngemil camilan bersama dengan teman-temannya tadi. Tak apa. Ia bisa memesan makanan di hotel saja. Yang penting ia ingin Faya segera istirahat agar mata gadis itu cepat sembuh.



__ADS_1


jangan lupa jejaknya ya warga.. tengkyu buat yang setia kasih jempolnya buat karya ini.~~~~


__ADS_2