One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 23. Butuh Teman Untuk Mengalihkan Kesepian.


__ADS_3

“Pak?” panggil Faya. Ia menghampiri Prima.


Prima menoleh.


“Ayo, ikut aku.” Ajak Prima dengan tegas.


Sungguh, Faya sangat penasaran. Hal penting apa yang terjadi sampai Prima memaksanya bertemu di bioskop. Rasanya tidak mungkin mereka akan bertemu klien di tempat seperti ini.


“Mau kemana, Pak?”


Pertanyaan Faya tidak di tanggapi oleh Prima. Pria itu justru ikut mengantri di deretan penonton yang hendak masuk ke dalam studio.


“Pak?”


“Udah. Jangan banyak tanya. Ikut aja.”


Beberapa detik berlalu dan akhirnya Faya mengerti kenapa Prima mengajaknya ke tempat ini. Itu pasti karna Prima malu menonton film sendirian tanpa ada temannya.


Setelah duduk, Faya memberanikan diri berceletuk.


“Bapak malu ya, ketahuan nonton sendirian?”


Prima diam saja.


Kelakuan bosnya itu benar-benar di luar prediksi. Bos mana yang menelfon sekretarisnya hanya untuk di temani menonton? Pasti cuma Prima.


Tapi ya sudahlah. Faya menganggap kalau ia masih berguna selama ia di butuhkan oleh Prima. Bosnya itu baru saja patah hati karna di selingkuhi. Jadi wajar jika Prima ingin menghibur diri untuk mengalihkan rasa sakit hatinya. Mungkin.


Film yang mereka tonton adalah film horor luar negeri yang sedang booming saat ini. Filmnya cukup seram. Tapi itu belum cukup membuat seorang Faya takut. Gadis itu hanya mengunyahi pop corn saja walaupun matanya tidak berkedip dari layar kaca.


Sama halnya dengan Prima. Ia tidak berkutik. Baginya, filmnya biasa saja dan tidak seram sama sekali.


“Kamu gak takut?” bisik Prima yang ternyata penasaran. Yang ia tau, kebanyakan perempuan akan takut jika menonton film horor.


“Enggak, Pak. Ngapain takut. Cuma begitu doang. Suaranya aja yang ngagetin.”


Prima diam. Tidak lagi menemukan bahan pembicaraan.


“Bapak ngerasa aneh, gak sih?” tanya Faya dengan berbisik.


“Aneh kenapa?”

__ADS_1


“Saya sekretaris bapak, lho. Masak iya di suruh nemenin nonton.”


“Memangnya ada yang ngelarang kalau gak boleh ajak sekretaris nonton?”


“Ya gak gitu, Pak. Rasanya gimanaaa gitu.”


“Ya udah pulang sana kalau gak mau.” Dengus Prima kesal.


Lha? Kenapa dia kesal? Fikir Faya.


Bahkan suaranya yang lumayan besar itu sempat mengganggu beberapa penonton. Tatapan terganggu itu mampu membuat Faya diam sampai film berakhir.


Setelah keluar dari studiopun, Faya memilih untuk diam saja dan mengikuti bosnya berjalan di belakang.


“Kamu udah makan, belum?” tanya Prima.


“Belum, Pak.”


“Kenapa gak ngomong dari tadi?”


“Ya bapak gak nanya. Mana berani saya bilang, Pak.” Jujur Faya.


“Kamu udah berani bentak-bentak, ya?”


Prima mendengus. Kemudian ia kembali berjalan dan Faya kembali mengikutinya. Sehingga tanpa sadar kalau ternyata Prima berhenti di sebuah restoran yang ada di sana.


“Duduk. malah berdiri aja.”


Dengan ragu, Faya mengikuti perintah Prima. Ia duduk di depan pria itu. Menatap bosnya itu canggung.


Seorang pelayan menghampiri dan memberikan daftar menu. Prima telah selesai memesan makanannya. Sementara Faya masih bingung mau memesan apa. Ia melihat harganya yang mahal semua.


Apa Prima yang membayar makanannya? Tapi, Faya merasa ragu. pun tidak enak hati.


“Cepetan. Aku gak punya banyak waktu.”


“Yang ini aja, Mbak.” Akhirnya Faya memilih menu yang paling murah.


Tidak bisa di katakan murah juga. Karna harganya tetap di atas 70 ribu. Bagi Faya itu tidaklah murah. Sangat mahal malah.


Faya menghabiskannya dalam diam. Dia bahkan tidak berkutik sedikitpun. Tidak melihat kepada Prima yang sesekali memperhatikannya.

__ADS_1


Kalau di perhatikan, Faya lumayan manis juga. Batin Prima.


Fikiran itu segera ia tepis dengan menggelengkan kepalanya. Saat ia menggeleng, kebetulan Faya melihatnya. Gadis itu jadi mengernyit heran. Penasaran tentang apa yang sedang di fikirkan oleh bosnya itu.


Setelah mereka selesai makan, Prima segera beranjak dan membayar makanan mereka. Entahlah, Faya merasa sangat tidak enak hati karna harus di traktir oleh bosnya begini.


“Udah, biar saya yang bayar. kamu tunggu di mobil aja. Anggap aja ini sebagai bayaran karna kamu udah nemenin saya nonton.” Perintah Prima kembali. Dan Faya tidak punya pilihan lain selain menurut.


Sambil berjalan menuju tempat parkir, Faya merasa beruntung. Setelah ia melewati hampir satu bulan bekerja di bawah Prima, pria itu tidaklah seburuk yang ia duga. Hanya di awal-awal saja dulu Prima sering mengerjainya habis-habisan. Dan karna sikap absurdnya itu, membuat Faya berfikir kalau Prima merupakan tipe bos killer yang tidak asyik.


Tapi siapa sangka, kalau ternyata Prima merupakan tipe bos yang baik hati. Bahkan bersedia mentraktirnya makan.


Faya menunggu Prima di samping mobil. Setelah Prima datang, pria itu segera melemparkan kunci mobil kepada Faya. Untung reflek Faya bagus sehingga ia segera menangkap kunci itu.


“Kamu udah bisa bawa mobil, kan? Kamu nyetir.” Paksa Prima. tanpa basa basi, ia segera masuk dan duduk manis di kursi penumpang. Memasang seatbelet, kemudian bersedekap, dan mulai memejamkan matanya.


Sementara Faya masih ada di luar. Ia masih belum yakin tentang keahlian mengemudinya. Ia takut akan kecelakaan nanti.


Untungnya ia teringat ucapan Harvey. Harus berfikiran positif agar apa yang terjadi baik-baik saja.


Hufh.


Faya menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia membuka pintu dan duduk di balik kemudi. Ia menoleh kepada Prima yang sedang memejamkan mata. Nampak nyaman sekali.


Dengan hati-hati, Faya mulai melajukan mobilnya. Berkali-kali mereka terjebak macet yang membuat perjalanan pulang menjadi lebih lama.


“Mampir di toko roti Flamboyan dulu. Abis itu mampir ke rumah Mama.”


Suara Prima membuat Faya terkejut. Ia fikir bosnya itu sudah terlelap. Ia menoleh dengan berusaha menetralkan degupan jantungnya.


Faya tau dimana toko roti langganan bosnya itu. Karna sudah dua kali ia ikut Prima ke sana.


Lima belas menit kemudian, Faya telah berhasil memarkirkan mobil di depan toko roti itu.


“Pak, udah sampai, Pak.” Lirih Faya memberitahu Prima.


Mendengar itu, Prima langsung membuka lebar kedua matanya. Melepas seatbelt kemudian keluar dari mobil.


Faya mengikuti keluar. Walaupun ia tidak masuk ke dalam toko, tapi ia ikut keluar. Entah kenapa lututnya terasa sedikit bergetar. Mengemudikan mobil Prima berbeda dengan mobil Harvey. Kalau mobil Harvey, ia bisa santai pembawaannya. Tapi tidak saat ia mengemudikan mobil bosnya itu. Rasanya aneh dan canggung. Pun takut jika ia melakukan kesalahan.


Aroma gurih legit roti yang harum membuat Faya sedikit menelan salivanya. Aroma nikmat itu sungguh menggoda hidungnya.

__ADS_1


Dari luar, Faya bisa melihat Prima yang sedang bertransaksi di meja kasir. Berbicara basa-basi kepada kasir yang sepertinya sangat mengenalnya. Setelah itu, ia kembali ke deretan rak dan mengambil beberapa roti kembali. Faya terus memperhatikan. Ia tau, kalau roti itu di beli Prima untuk Zinnia. Karna ibu dari bosnya itu sangat menyukai roti Flamboyan.


__ADS_2