
“Nenek gak mau mati dulu sebelum menggendong cicit.” Seloroh Esta.
“Nenek!” Pekik Prima. Neneknya itu selalu berkata yang menjurus pada kematian. Membuatnya menjadi tidak enak hati.
“Tenang aja, Ma. Mama masih akan berumur panjang. Soalnya Prima masih belum bisa mengontrol sikapnya. Mana ada cewek yang mau sama dia.” Gerutu Ren. Ia seperti sedang mengadukan putranya itu kepada mamanya.
“Siapa bilang gak ada yang mau. Banyak kok yang mau sama Prima.” Prima membela diri.
“Hallah. Tadi aja Aliva kamu bikin berang kan?” Ditambah lagi Favita mengadu.
“Kenapa lagi?” Tanya ZInnia.
“Kok Kakak tau?”
“Ya tau lah. Tadi aku ketemu sama Aliva di depan restoran. Dia bilang mau ketemuan sama kamu. Tapi tau gak, Ma. Prima gak datang dan malahnyuruh sekretarisnya buat nemuin Aliva. Ya jelas dia marah, lah. Janjinya di ingkari. Siapa cewek yang gak marah. Udah di ajak ketemuan, tapi yang ngajak malah gak datang.”
Prima hanya menundukkan kepala saja. Ia merasa kini seluruh tatapan tertuju padanya. Seolah menghakimi sikapnya yang sudah ingkar janji dan jahil kepada sekretarisnya.
“Dasar tukang adu.” Gerutu Prima tidak terima. Kan dia malu.
“Dan parahnya, itu sekretaris sampe di siram sama Aliva karna saking jengkelnya sama kamu.”
“Kakak tau darimana kalau Faya di siram sama aliva? Aku tanya katanya gak terjadi apa-apa kok sama mereka.” Kali ini Prima ingin berdebat tentang pembenaran yang ia tau.
“Orang kantor semua pada cerita. Soraya juga ada di tempat kejadian.”
Prima terdiam. Ia melirik tatapan tajam dari Ren yang menghujam ke arahnya.
“Sudah, sudah. Buruan makan. Jangan pada ribut.” Esta menimpali. Menengahi keributan kecil itu.
“Inilah yang buat aku malas pulang. Kalian semua seolah menghakimi aku. Padahal hal kecil saja. Faya juga gak protes kok sama aku. Kenapa kalian yang repot.” Prima mendengus kesal. Dia meletakkan sendok di tangannya ke atas piring yang masih setengah ia habiskan. Menatap berkeliling dengan wajah kesalnya. Tatapannya terhenti pada wajah sedih Esta.
Prima yang berniat untuk pergi, akhirnya membatalkan keinginannya setelah melihat tatapan kesedihan yang terpancar dari netra renta neneknya. Ia kemudian mengambil sendok lagi dan fokus menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara.
Prima selesai makan lebih dulu. Setelah itu ia meninggalkan kursinya dan memilih duduk menyendiri di taman belakang. Bermain dengan ponselnya.
“Kalian ini jangan terlalu keras sama Prima. Kasihan dia.” Rai meminta kepada Ren dan Zinnia juga Favita.
__ADS_1
“Kakek gak tau aja gimana sikapnya itu kalau di kantor.”
“Kakek tau. Tapi biarin aja lah. Dia kan juga punya rencana dan pandangan hidup sendiri. Kita hanya mengawasi dan mengingatkan.” Esta satu pemikiran dengan suaminya.
Semua orang kembali terdiam menikmati makan malam mereka.
Prima merasa bosan berada di taman. Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghibur diri. Jadinya ia segera pamit pada keluarga besarnya untuk pulang ke partemennya.
Sebenarnya, ia tidak langsung pulang ke apartemen. Melainkan pergi untuk bertemu dengan teman-temannya untuk bermain bilyar.
Prima fokus ke jalan raya. Membelah lautan kendaraan yang terjebak di lampu merah. Ia memilih jalan pintas walaupun jarak yang harus ia tempuh menjadi lebih jauh.
Mobil mewah Prima melewati jalanan yang lumayan sepi. Sesekali ia menatap layar GPS yang ada di dashboard mobilnya. Mengikuti petunjuk arah yang ada disana.
Prima melihat sesuatu di depan sana. Ia menurunkan kecepatan mobilnya. Dan benar saja. Beberapa orang tengah berkerumun melihat sesuatu. Merasa penasaran, Prima menghentikan mobilnya. Ia tidak keluar dari dalam mobil
tapi hanya memperhatikan saja dari dalam.
Di depan sana, nampak beberapa pemuda mabuk sedang dihajar oleh seseorang. Prima menajamkan penglihatannya. Ia berfikir apa dia perlu untuk membantu atau tidak.
Namun, matanya membulat seketika saat melihat seseorang yang di kenalnya.
Seketika jiwa pahlawan Prima bergejolak. Ia teringat dengan ucapan gadis itu yang ternyata berbohong padanya tentang pertemuannya dengan Aliva.
Kenapa Faya berbohong padanya?
Biasanya sekretarisnya yang lain akan langsung melayangkan protes dengan mengundurkan diri. Tapi Faya justru menyembunyikan kenyataannya. Kenapa gadis itu melakukannya?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dibenak Prima.
Sambil berfikir Prima berlari ke arah mereka. Berniat untuk menghentikan para pemuda itu. Nampak Faya memundurkan kakinya beberapa langkah untuk menghindari dua pria yang ada di depannya.
“Selangkah lagi mendekat, kubanting kalian!” Pekik Faya mengeluarkan ancamannya.
Prima sudah berada sangat dekat dan menepuk bahu gadis itu.
Bruk!
__ADS_1
Seketika Prima merasakan tubuhnya melayang kemudian terjatuh di atas aspal. Pinggangnya bergemeletukan. Tangannya terasa kram.
“Aarrghgh!” Lirihnya menahan sakit.
Faya yang belum menyadari siapa yang sudah dibantingnya itu, menatap marah kepada pria yang tergeletak di aspal. Matanya langsung terbelalak saat melihat ternyata itu adalah Prima.
“Oh, ya ampun! Pak Prima!” Pekik Faya sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Terkejut bukan main.
Ia fikir yang menyentuh pundaknya tadi adalah salah satu teman pemuda mabuk yang mengganggunya itu. Makanya ia langsung menarik dan membanting pria itu yang ternyata adalah Prima.
Dengan ekspresi ketakutan, Faya mendekati Prima yang sedang susah payah untuk bangun dan duduk. Sementara dua pria yang mengganggunya tadi sudah minggat entah kemana. Takut dengan Faya.
“Bapak gak apa-apa?” Tanya Faya panik.
Melihat wajah Prima yang mengkerut, ia tau kalau pria itu sedang menahan sakit akibat perbuatannya.
“Jangan pegang!” Pekik Prima saat Faya hendak membantunya berdiri. Pria itu mengangkat tangan agar Faya tidak memeganginya. Ia takut di banting lagi.
Wajah Faya pias. Bakan nasi goreng yang baru saja di belinya sudah terbang entah kemana. Padahal tadi ada di tangannya. Tapi bukan itu masalahnya. Dia membanting Prima! Bosnya! Astaga. Dada Faya di penuhi rasa sesal, takut dan tidak enak hati.
“Maaf, Pak. Saya gak sengaja. Saya fikir Bapak itu temen mereka. Lagian Bapak, sih. Kenapa langsung pegang-pegang saya?”
Prima tidak menjawab. Ia berbalik, berjalan membungkuk sambil memegangi pinggangnya yang terasa seperti patah. Jalannya sudah seperti nenek kabayan saja.
“Pak? Ayo saya antar ke rumah sakit. Kayaknya pinggang bapak patah deh.” Cemas Faya.
Dan Prima masih terdiam. Ia kesal setengah mati. Berniat menolong malah dia yang kena imbasnya. Ia tidak menyangka kalau ternyata tenaga Faya cukup kuat untuk mengangkatnya.
Prima langsung masuk ke dalam mobil. Tidak mempedulikan Faya yang menatap cemas plus takut padanya.
“Eh, Pak!” Panggil Faya namun tidak di gubris oleh Prima. Pria itu justru melajukan mobilnya kembali meninggalkan Faya sendirian.
Faya hanya ternganga saja. Sekilas terbersit di fikirannya, bagaimana besok dia akan menghadapi bosnya itu di kantor?
__ADS_1
jangan lupa komennya, likenya, ratenya, votenya, hadiahnya.
kali ini aku mau rewel masalah ini yaaa. beneran, pengen ngerasain gajan dari entun aku tuuhhhh.. hehehehehehe.