
Sejak pagi buta, Faya sudah di recoki oleh Bian yang terus menerus mengetuki pintu kamarnya. Ya ampun. Ingin sekali rasanya ia menceburkan Bian ke laut saja agar tidak mengganggunya. Bukannya dia sok jual mahal, tapi dia malas berurusan dengan bocil yang mengaku sebagai kekasih pria itu.
Tujuan Faya kesini adalah untuk menyembuhkan hatinya. Jadi dia tidak mau terlibat dengan urusan apapun seperti berkencan dengan Bian dan semacamnya. Lagipula, ia baru mengenal Bian beberapa hari saja. Dia belum tau sifat macam apa yang di miliki oleh Bian.
“Fay! Buka dulu pintunya. kita main, yuk!” teriak Bian dari luar kamarnya.
Karna saking kesalnya, Faya terpaksa membuka pintu untuk menemui pria itu. karna kalau tidak begitu, Bian pasti terus merengek seperti anak kecil dan terus mengganggunya.
“Apa sih, Bian?” Faya sengaja mengetuskan bicaranya. Ia ingin sejak awal sudah memberi batasan kepada pria itu. ia ingin Bian mengerti kalau sejak awal Faya sama sekali tidak memberi harapan kosong kepadanya.
“Ayo sarapan. Kamu belum sarapan, kan?”
“Aku belum lapar. Kamu duluan aja sana.” Usir Faya terang-terangan.
“Pengennya sarapan sama kamu.” Rayu Bian lagi.
“Tapi aku gak pengen sarapan sama kamu.”
“Ih. Faya. Susah banget sih dapetin kamu. Aku jadi semakin tergila-gila sama kamu kalau kamu jual mahal begini.”
“Udah ah. Sana pergi. Aku banyak urusan.” Kesal Faya kemudian langsung menutup pintu kamarnya. Bukan apa, ia melihat si bocil kematian sedang melihat tajam kepada mereka dari ujung koridor sana. Faya malas bertengkar pagi-pagi begini.
Faya kembali duduk bersandar di ranjangnya. Membuka laptop untuk mencari lowongan pekerjaan. Ya walaupun semalam ia sudah di tawari pekerjaan oleh Pak Hendro, namun tetap, ia merasa tidak enak hati. Ia merasa memanfaatkan kejadian kemarin untuk mendapat keuntungan pribadi. Ia akan menghubungi mereka saat dia sudah buntu dan tidak punya pilihan lain.
Tapi selama ia masih bisa mencari pekerjaan yang lain, ia ingin berusaha lebih dulu. Terkesan gengsi sih, tapi begitulah yang Faya rasakan. Tidak enak hati.
Tok.
Tok.
Tok.
Faya tidak menggubris. Ia tau kalau itu adalah Bian.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
“Hufh.” Dengus Faya kesal setengah mati. Pria itu seperti tidak tau caranya menyerah. Padahal si bocil kematian sudah mengawasi mereka dengan tatapan tajamya tadi. Namun sepertinya Bian masih belum menyerah juga.
“Bian, awas ya kamu. Aku lempar ke laut baru tau rasa.” Maki Faya bergumam.
“Apa lagi?!!!” pekik Faya menyemburkan kekesalannya kepada Bian.
Deg.
Jeder!!!
Tubuh Faya seketika membeku. Untuk sepersekian detik ia menyadari kalau yang berdiri di depannya bukanlah Bian. Jadi dalam detik itu juga, ia langsung menutup pintu dengan sangat keras.
Itu adalah reaksi terkejut sehingga tubuh Faya refleks menutup pintu.
Faya berdiri dengan masih menatapi pintu. Tangannya juga masih setia memegangi handle pintu itu. berharap kalau ia salah lihat tadi.
“Aku pasti salah lihat. Gak mungkin dia ada disini. Gak, gak mungkin.” Faya bergumam dengan diri sendiri.
Tok.
Tok.
Tok.
Perlahan, Faya menelan salivanya dengan susah payah. Ia kemali membuka pintu itu sedikit. Hanya sedikit saja ia mengintip untuk memastikan kalau ia tidak sedang salah memvisualisasikan orang yang masih berdiri di depan pintunya itu.
Namun setelah yakin kalau visualnya tidak salah melihat, Faya sontak membuka lebar pintu kamarnya.
“Akhirnya ketemu juga kamu.” Desis Prima. ada sesungging senyum kelegaan di kedua sudut bibirnya.
“Kok Bapak bisa ada disini?” serang Faya langsung. Netranya seketika memancarkan kemarahan kepada pria itu.
Entahlah, ada rasa rindu dan senang saat melihat Prima ada di depannya. Pun ia tidak bisa mengabaikan kemarahannya karna memang belum hilang sepenuhnya dari hatinya.
“Ya bisa dong. Boleh masuk, gak? Mau ngobrol sama kamu.” Tanya Prima. kali ini, ia tidak ingin bertindak gegabah dengan langsung menyelonong masuk begitu saja. Ia sadar kalau Faya masih marah padanya dan ia tidak ingin menambah masalah baru.
“Gak boleh. Udah ya, Pak. Saya sibuk.”
Prima hanya bisa ternganga saja melihat Faya kembali menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
Sabar, Prim. Sabar. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri
Sementara Faya, ia duduk di tepian ranjang dengan memegangi dadanya. Ada rasa sakit dan debar yang ia rasakan bersamaan. Pertanyaan-pertanyaan juga mulai muncul di kepalanya.
Bagaimana bisa pria itu ada disini?
Siapa yang memberitahu kalau dia ada di sini?
Apa Harvey yang memberitahu?
Karna memang Harveylah satu-satunya orang yang tau kalau Faya ada di sini.
Sementara Prima, ia hanya menghela nafas pelan saja. Mencoba untuk memahami sikap Faya. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa waktu yang lalu.
Prima tiba di kapal itu dengan diantar oleh helikopter. Yang tentu saja Ariga sudah mempersiapkan semuanya untuk Prima. pekerjaan Ariga memang tidak di ragukan lagi. Entah siapa yang Ariga loby hingga dengan mudahnya ia bisa masuk ke sini.
Dan disinilah Prima sekarang. Berada di kapal yang sama dengan Faya demi memperjuangkan maaf dari gadis itu. memperjuangkan maaf dan perasaannya.
Sudah satu jam Faya mengurung diri di kamar semenjak kedatangan Prima. Dan sialnya perutnya mulai keroncongan minta di isi. Karna memang dia belum sarapan pagi.
Faya memberanikan diri membuka celah pintu untuk sekedar mengintip apa Prima masih ada di sana atau tidak. Sungguh ia merasa sangat canggung dengan mantan bosnya itu sekarang. Lagian, ngapain juga itu orang nyusul dia kesini?
Setelah memastikan aman, Faya keluar dari kamarnya dan pergi ke restoran untuk sarapan. Lega rasanya saat melihat hidangan yang baru saja tersaji di hadapannya yang masih mengepulkan asap. Ia baru saja mengambilnya secara prasmanan dari etalase.
Restoran kala itu masih terlihat ramai. Banyak turis asing yang juga sedang menikmati waktu santai mereka di sini.
Faya mulai menyuapkan soto batok ke dalam mulutnya. Ia lebih memilih menu khas Indonesia karna lidahnya kurang cocok dengan masakan luar negeri.
Sedang asyik menyantap soto, tiba-tiba Prima sudah duduk saja di hadapannya tanpa permisi. Pria itu juga nampak membawa nampan berisi soto batok seperti dirinya.
Faya kesal. Ia hendak pergi meninggalkan Prima sebelum pria itu mencegahnya dengan memegangi pergelangan tangannya.
“Di sini aja. Aku gak bakalan ganggu kamu, kok. Aku Cuma numpang sarapan karna Cuma ini kursi yang kosong.” Itu bukan hanya alasan Prima saja. Tapi memang benar-benar tidak ada lagi kursi yang kosong setelah Faya mengedarkan matanya.
Tak punya pilihan lain, akhirnya Faya memaksa dirinya untuk tidak mengindahkan keberadaan pria yang juga tengah asyik menyantap sotonya itu.
__ADS_1
tuh yang dari kemarin ngarep mereka ketemu. udah ketemu tuh. jangan lupa jejaknya yow.