
Proyek pembangunan mall di Lingkar Utara kota Jogja itu sudah terlihat bahkan dari jarak yang lumayan jauh.
Dari kejauhan, nampak konstruksi rangka bangunan sudah berdiri sempurna. Faya membelokkan mobil ke area proyek. Seorang pria berbadan tinggi besar langsung menyambut kedatangan Prima. menyalami pria itu dengan hormat.
“Selamat datang, Pak Prima.” ujar pria itu.
“Apa kabar, Pak Kardi?” sapa Prima juga dengan ramah. “Baik, Pak. Mari, silahkan.” Ajak Pak Kardi lagi.
Pak kardi adalah kepala proyek yang bertanggung jawab atas pembangunan mall itu. Pak Kardi juga bekerja di Jakarta. Tapi selama mengurusi proyek ini, ia bolak balik Jakarta-Jogja demi memastikan proyek itu berjalan lancar dan sesuai rencana.
Seseorang memberikan dua buah helm keselamatan kepada Faya. Setelah itu ia memberikan salah satunya kepada Prima sebelum mereka mulai berkeliling.
Pak Kardi semangat menjelaskan perihal pekerjaan sambil berjalan berkeliling. Prima memperhatikan dengan jeli dan mendengarkan dengan seksama penjelasan yang di tuturkan oleh Pak Kardi. Dan Prima merasa puas dengan hasilnya sejauh ini.
“Kamu ini! Kan udah ku bilang. Ini bukan bigini. Becus kerja gak sebenernya kamu ini? Suruh gantikan saya sementara aja kok malah jadi ribet gini.” Terdengar seorang pekerja sedang marah-marah kepada anak buahnya.
Dan rombongan Prima itupun langsung menghentikan langkah dan melihat ke arah ruangan.
“Ada apa ini?” tanya Pak Kardi.
Dua orang yang tengah ribut itu langsung menoleh kepada mereka.
“Oh, Pak. Gak apa-apa, Pak. Biasalah. Ini anak buah gak becus kerjanya.” Hardik salah seorang yang nampaknya mempunyai posisi lebih tinggi dari orang yang di marahi. Sementara orang yang dimarahi nampak hanya bisa pasrah sambil menundukkan kepalanya.
“Tolong jaga sikap. Ada orang datang dari perusahaan induk.” Jelas Pak Kardi lagi.
“Iya, maaf, Pak.”
“Apa jabatan kamu disini?” suara Prima yang mendekati pria itu.
Pria itu nampak terkejut melihat Prima. dan kemudian mengalihkan pandangan bertanya kepada Pak Kardi.
“Dia ini Pak Prima. Manajer Eksekutive di FD Corp.” Jelas Pak Kardi.
Seketika wajah pria itu nampak lesu dengan alis yang berkerut turun. Tiba-tiba nampak khawatir.
“Saya, manajer di PJ Konstruksi.”
“Bukannya kamu yang ketemu di hotel tadi?” sembur Prima.
__ADS_1
“I-iya, Pak. Maaf tadi saya gak mengenali Bapak.”
“Ooh. Gak apa-apa. Ternyata Jogja ini sempit juga ya.” Seloroh Prima. ia tersenyum smirk kepada Fajri yang nampak lesu. Menyadari kesalahannya karna telah salah menuduh Prima sebagai pria hidung belang yang telah menyewa Faya. Manalah dia berkata begitu dengan lantang pula tadi. Mampuslah.
“Silahkan di lanjut bekerja.”
“Baik, Pak.” Fajri nampak lega saat melihat Prima berjalan pergi meninggalkannya. Namun pria itu kembali berbalik setelah beberapa langkah.
“Oh, iya. Tadi kamu lihat gak, ada cowok brengsek yang mulutnya kayak comberan. Kamu kan ada di hotel,
pasti denger kan ya? Ada cowok yang ngomong ngelantur sampai buat orang sakit hati. Nuduh sembarangan tanpa tau kejelasannya. Kamu inget, kan?” Prima sengaja melakukan itu untuk memberi Fajri pelajaran.
“I-iya, Pak. Saya minta maaf, Pak.” Fajri mengakui kesalahannya. Sementara semua orang disana melihat kesal padanya. Terlebih Pak Kardi.
“Faya, atur jadwal pertemuan sama PJ Konstruksi. Kayaknya gak cocok melanjutkan kerjasama ini. Soalnya mereka bahkan gak becus mencari karyawan yang bisa menggunakan mulut dengan baik.”
Ancaman itu sontak membuat Fajri terbelalak kaget. Ia segera mengejar Prima.
“Pak. Pak. Tolong jangan begitu, Pak.”
“Kenapa? Gak usah khawatir. Karna saya yang memutus kontrak, jadi saya yang akan membayar pinaltinya nanti.”
“Bukan masalah itu, Pak. Kalau bapak memutus kontrak seperti ini, gimana nasib kami, Pak? Nama baik perusahaan kami pasti akan turun drastis dan itu akan mempengaruhi proyek-proyek selanjutnya. Tolong fikirkan lagi, Pak. Perusahaan kami masih perusahaan rintisan. Tolong pertimbangkan lagi.”
Fajri terdiam. Tidak menemukan kalimat untuk membantah. Memang dia yang salah. Seketika ia menyesal bukan main. Mengutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Pak, saya mohon. Ini kesalahan pribadi saya. Tolong jangan melibatkan perusahan kami.” Mohon Fajri kembali.
“Kamu udah minta maaf sama sekretaris saya?” tekan Prima dengan sorot mata tajam. Sengaja mengintimidasi Fajri.
Fajri nampak menoleh kepada Faya yang berdiri di antara rombongan. Semua orang sedang menatap kepada pria itu dengan tatapan kesal bukan main. Fajri berani mengacaukan mood Prima.
Sementara Faya, hanya bisa mematung atas sikap Prima. ia merasa apa yang sedang di lakukan oleh Prima itu sama sekali tak ada hubungannya dengan pekerjaan. jantungnya kembali berdetak cepat dengan spontan.
Tatapan Faya dan Fajri bertemu. Faya bisa melihat tatapan permohonan dari pria itu.
Fajri melangkah mendekati Faya.
“Aku minta maaf, Fay. Atas ucapanku tadi pagi yang nyinggung kamu. Maafin aku, ya?” tulus Fajri.
__ADS_1
Faya mematung. Menatap mantan kekasihnya itu dengan tatapan sedikit kesal. Kemudian ia mengalihkan pandangan kepada Prima. bosnya itu nampak mengangguk kecil dan tersenyum.
“Kamu mau maafin aku kan, Fay?” tuntut Fajri lagi.
Perlahan, Faya menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Fajri bernafas lega. Ia merasa pekerjaannya selamat.
Setelah puas mengerjai Fajri, Prima kemudian keluar dari area konstruksi dan berjalan kembali ke mobilnya. Ia mengakhiri sesi peninjauan itu.
Suasana hati Faya terlihat riang. Ia terus tersenyum sambil fokus mengemudi.
“Makasih, Pak.” Ujarnya kemudian.
“Buat apa?”
“Yaaa. Pokoknya makasih banyak Bapak udah bantu saya.”
Prima tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sambil melirik Faya dari tempat duduknya. Melihat gadis itu terus tersenyum seperti itu, membuat hati Prima juga senang bukan kepalang.
Astaga. Entah sampai kapan ia bisa menahan perasaannya kepada Faya. Sebelum ia menyebrangi batasan yang ia buat sendiri.
“Jadi sekarang kamu gak punya pacar, Fay?” Prima memulai obrolan pribadi.
“Gak ada, Pak. Sekarang saya Cuma fokus buat kerja aja. Ngumpulin uang buat keliling Indonesia. Abis itu keliling dunia.”
“Hahahahhaa. Mimpimu itu. Kerja aja yang bener. Nanti aku naikin gaji kamu biar bisa keliling dunia.”
“Beneran, Pak? Makasih banyak, Pak.”
Tentu saja Faya bersyukur atas tawaran itu. Sekarang, Faya merasa kalau dia mulai menyukai pekerjaannya. Apalagi Prima adalah bos yang baik. Setelah ia menjalaninya, ternyata tak seburuk yang di katakan orang.
“Kita mampir ke Prambanan, Fay. Kamu belum pernah kan ke Candi Prambanan?”
“Belum, Pak. Bapak mau ajak saya ke Candi Prambanan?”
“Baik kan aku?” Prima memuji diri sendiri.
“Iya. Pak Prima itu bos paling baik sedunia. Sama bawahannya aja baik gini. Apalagi sama istri....”
Seketika Faya menangkupkan mulutnya rapat-rapat. Sadar kalau ia telah keluar dari jalur pembicaraan.
__ADS_1
“Yang jelas kalau sama istri aku bakalan lebih baik lagi.”
Faya terkekeh kecil. Ternyata Prima menanggapi ucapannya dengan santai.