One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 92. Munculnya Rasa Takut.


__ADS_3

Prima merangkum pundak Faya dan menuntunnya ke tempat parkir. Ia juga membukakan pintu mobil dan membantu Faya untuk masuk ke dalamnya. Setelah itu ia memutari mobil dan masuk kemudian duduk di balik kemudi.


“Rasanya aku pengen banting Mbak Kiran sampai hancur tulang-tulangnya.” Gumaman dari Faya yang terdengar sangat menakutkan di telinga Prima. pasalnya, gadis itu berkata sambil menggeretakkan giginya.


“Jangan banting aku. Awas aja. aku abisin kamu nanti.” Ancam Prima sambil terkekeh geli plus seram.


“Hhh. Lega aku, Mas.”


“Lega abis maki-maki orang?”


“Em.” Faya menganguk. Memang, di wajahnya nampak sekali kalau ia sedang lega. Seolah salah satu beban di pundaknya telah berhasil di singkirkan. “Tapi kefikiran juga, gimana nasib Mas Iwan sekarang?”


“Nanti kita bicarain lagi di rumah sama Mas Iwan. Kalau dia mau, aku bisa kasih dia kerjaan di kantor.”


“Jangan gitu. Menyalah gunakan kekuasaan itu namanya.” Protes Faya.


“Biarin aja. Gak ada yang bakalan protes kok.”


“Hehehe. Kita tanya lagi nanti.”


“Jadi, sekarang mau kemana? Udah sore nih.”


“Kencan.” Jawab Faya asal. Padahal jawaban asal itu membuat Prima terbelalak senang.


“Yakin mau kencan?”


“Yaudah kalau gak mau.” Tanting Faya.


“Enak aja. Gak boleh di rubah dong. Oke. Kita kencan. Nonton?”


“Boleh.”


“Berangkat!!” pekik Prima girang bukan main. Melajukan mobilnya menuju ke sebuah studio pemutaran film.


Di perjalanan, prima tak henti-hentinya bersiul. Kebiasaan ketika dia tengah merasa senang. Prima lega karna sepertinya Faya telah melepas bebannya.


“Mas, kamu gak bakalan selingkuh dari aku, kan?” ketika Faya mengutarakan kekhawatirannya, di situ Prima menjadi bingung tidak percaya mendapat pertanyaan jenis begitu.


“Yang jelas, kamu bukan satu-satunya wanita yang aku sayangi, Fay.” Memang, Prima sengaja memantik api pertengkaran.


“Kok  gitu? Kamu punya simpenan?”


“Bukan simpenan juga. Seluruh keluarga aku tau, kok.”

__ADS_1


“Mas? Serius?” Faya hampir saja memukul Prima. Hatinya terbakar cemburu.


“Ya serius. Sebenernya, kamu itu wanita ke dua yang ada di hatiku.”


“Wah.” Faya ternganga tidak percaya. Ternyata Prima brengsek juga ternyata.


“Siapa dia? Aku jadi pengen ketemu.” Faya sudah ngambek. Ia menyilangkan tangan di dada dan menghela nafas kasar karna sebal.


“Kamu udah ketemu, kok. Namanya Zinnia Nashira.”


Mendengar nama Zinnia di sebut, membuat Faya langsung menoleh kepada Prima yang justru malah senyum-senyum tidak jelas.


Plak!


Sebuah pukulan yang tidak terlalu keras berhasil mendarat di lengan Prima. Mendapat pukulan itu, Prima bukan marah, justru semakin kencang tertawa.


“Aku jujur, sayang.”


“Kalok dia sih, aku gak peru khawatir. Apalagi cemburu. Dengus Faya sambil tersenyum. Merasa konyol karna sudah cemburu dengan calon ibu mertua sendiri.


“Hahahaha. Makanya, jangan buru-buru ngambeknya.”


“Nyebelin.”


“Hahahahaha.” Prima tertawa puas sekali. “Gak sabar deh pengen kamu cepet-cepet balik kantor. Biar bisa sama kamu terus setiap waktu.”


“Apa itu?”


“Tolong jangan kasih tau orang-orang kantor dulu kalau kita pacaran. Aku gak nyaman, Mas.”


“Kenapa gitu?”


“Bayangin aja, gosip kemaren aja belum hilang. Masak aku mau digosipin lagi kegatelan sama pak bos sebdiri. Gak mau aku. Panas telingaku. Jadi, untuk sementara tolong kita diam-diam aja dulu ya. Nanti setelah semuanya aman terkendali, baru deh.”


Prima nampak berfikir sebentar. Kemudian ia menganggukkan kepalanya. “Ya udah kalau gitu. Aku sih gak masalah. Yang penting selalu bisa sama kamu setiap waktu.”


“Makasih udah ngertiin aku, Mas.”


“Tapi ngomong-ngomong, kamu kapan siapnya sih di nikahin sama aku?”


Pertanyaan menjurus Prima itu membuat jantung Faya blingsatan tidak karuan. Jujur ia takut merasakan seperti apa yang terjadi dengan rumah tangga Iwan dan Kirani.


“Kok malah diem? Kenapa? Gak mau nikah sama aku?”

__ADS_1


“Boleh jujur gak, Mas?”


“Jujur aja.” padahal jantung Prima cemas bukan main. Takut kalau Faya benar-benar akan menolaknya.


“Jujur aku takut setelah apa yang terjadi sama Mas Iwan dan Mbak Kiran. Karna aku fikir, itu bisa aja terjadi sama kita. Entah kamu atau aku yang khilaf terus serong. Kemungkinan itu ada kan, Mas? Aku jadi takut.”


“Tenang aja, aku tumbuh di keluarga yang baik-baik. Keluargaku, gak ada yang menghianati pasangannya. Kecuali kakek buyutku dulu. Tapi berhenti di situ. Dan aku, gak akan mengulangi kesalahan kakek buyutku lagi. Memang, kemungkinan itu tetep ada. Tapi itu semua tergantung sama kita sendiri. Kita ijinin gak kemungkinan itu masuk ke dalam hati kita? Kalau aku sih, gak bakalan ijinin hal semacam itu ganggu hidupku. Aku udah nemuin kamu, orang yang harus kujaga dan kuhargai. Jadi, aku bakalan jaga dan ngelindungi kamu. Aku memang gak bisa memastikan hal ini karna kita gak bisa tau apa yang bakal terjadi ke depan, tapi aku bisa janjikan ini, kalau kamu, adalah satu-satunya wanita yang bakalan nemenin aku sampai aku mati.”


Faya terdiam setelah mendengarkan kalimat panjang lebar dari Prima. kalimat yang mampu menghangatkan hati Faya. Menyingkirkan keraguan dan ketakutan yang sempat singgah di hatinya. Seserius itu Prima tentang perasaannya. Dan alangkah jahatnya jika ia masih juga meragukan ketulusan pria itu.


“Aku juga bakalan jaga hati aku cuma buat kamu, Mas. Aku janji.”


“Harus lah. Awas aja kalau kamu sampai nyeleweng. Aku banting orang yang kamu selewengin sampai mampus.” Geram Prima.


“Ya ampun, serem amat.”


“Harus dong. Pokoknya kamu cuma buat aku. Dan aku Cuma buat kamu. Kita saling memiliki satu sama lain. Gak akan ada kata pisah atau apapun itu. jadi, ayo kita sama-sama jaga hati masing-masing. Dengan gitu, kita pasti bisa ngelewatin cobaannya.”


Faya trenyuh. Tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan membelai pipi Prima yang sedang fokus mengemudi. Hampir saja Prima menginjak pedal rem akibat tubuhnya merinding disko. Untung masih bisa menahan diri.


“Uluh-uluh, ternyata pacarku ini dewasa juga pemikirannya. Selama ini kemana aja tuh fikiran?” seloroh Faya.


“Lagi sembunyi di dalam goa. Sekarang udah selesai semedi jadi udah keluar.” Jawab Prima asal.


“Hahahahahaha. Ada-ada aja kamu, Mas. Ya udah kalau gitu. Aku jadi yakin mau nikah sama kamu. Tapi entar ya, aku masih punya satu masalah lagi.”


Prima tau apa yang di maksud oleh Faya. “Mudah-mudahan cepet kelar. Biar cepet nikah kita. Aku udah gak sabar banget soalnya. Bayangin malam pertama sama kamu. Uuuuhhhh.”


“Ih! Itu otak apa pasir pantai? Ngeres banget.” Desis Faya merona. Akibat ucapan Prima, ia jadi berfikir kesana juga kan.


“Itulah yang bikin enak, sayang.” Prima semakin menggoda.


“Udah, ah. Ngomongin yang lain aja bisa gak? Ngeselin. Bikin malu.”


“Ngapain malu, kita udah tidur bareng lho.”


“Gak usah di ingetin. Bikin sebel.”


“Hehehehehe. Aku sayang kamu, Fayandayu. Lucu banget sih kamu. Bikin gemes.”


Faya bereaksi seolah sedang marah kepada Prima. ia memalingkan wajah ke sisi jendela hingga Prima tidak bisa melihat wajahnya yang sedang merona dan bibirnya yang sedang tersenyum senang.


__ADS_1



uluh,  uluh, bang prima.... udah terserang bucin akut dia.


__ADS_2