One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 26. Merampas Waktu Agar Tidak Berlarut Dalam Kesedihan.


__ADS_3

Sepulangnya Soraya, Faya baru saja hendak mandi setelah itu ia berencana untuk tidur. Saat ponselnya berbunyi dan itu adalah telfon dari Prima.


“Iya, Pak?”


“Kamu ke rumahku sekarang. Bantu aku ngerjain sesuatu.” Perintah Prima lagi.


“Sekarang, Pak?”


“Besok! Sekarang, Faya.”


“Iya, Pak. Saya kesana sekarang.” Ujar Faya tak bisa menolak. Ia melirik jam dinding. Sudah hampir jam 8 malam. Namun, Prima masih membutuhkan tenaganya dimana ia seharusnya sudah beristirahat.


Prima menyuruhnya datang, apa pria itu sudah mulai mempercayainya?


Faya memencet bel dan tak berapa lama kemudian Prima muncul.


“Paswordnya 959595.” Prima memberitahu sambil mengajak Faya masuk.


Lho? Kok sama dengan pasword rumahku? Faya hanya membatin. Tapi tak berani menanyakannya.


Manik mata Faya membulat menyaksikan pemandangan mewah di dalam apartemen Prima. baru tadi ia dan Soraya membicarakan perihal ini, dan sekarang Prima menyuruhnya ke rumahnya. Sungguh kejutan sekali.


Apartemen Prima itu sangat luas. Berdesain klasik minimalis yang memanjakan mata melihat setiap perabotan lucu dan unik yang ada di ruangannya. Namun yang membuat mata Faya seperti kelilipan kali ini adalah, beberapa barang-abrang Prima nampak berserakan di mana-mana. Bahkan di sofa, terdapat celana dan kaus pria itu.


Apa lagi itu?


Faya terbelalak saat pandangannya tertuju pada sebuah benda berwarna merah maroon yang jelas ia tau bentuknya adalah celana da lam.


Iyuh.


Faya mengernyit bergidik. Antara jijik dan.........


“Ngeliatin apa, kamu?” suara bariton Prima mengejutkan Faya dan menyadarkanya dari lamunan tidak senonoh. “Sini.” Ajak Prima lagi.


Kini, mereka sudah masuk ke sebuah ruangan yang melihat kondisi di dalamnya itu merupakan ruangan kerja yang di maksud oleh Prima.


Dan Faya kembali terbelalak melihat keadaan ruang kerja itu yang lebih mirip seperti toko buku loakan. Banyak kertas berserakan dan buku-buku tak tertata rapi di tempatnya. Risih sekali Faya melihatnya. Membuat tangannya gatal ingin membereskan.


“Susunkan ini.” Prima memaksa meletakkan setumpuk berkas ke tangan Faya. Padahal gadis itu belum siap. Untung saja berkas-berkas itu tidak jatuh dan berhamburan kemana-mana.


“Susun berdasarkan tanggal.” Perintah Prima. kemudian ia duduk di meja kerjanya dan nampak sibuk mengerjakan sesuatu.


Padahal Prima hanya berpura-pura. Ia ingin merampas waktu sendiri Faya dan membuat gadis itu lelah sehingga fikiran sedihnya teralihkan. Setelah lelah gadis itu akan langsung tertidur.

__ADS_1


Kenapa dia repot-repot melakukan itu? Entahlah. Prima sendiri tidak tau alasan tepatnya. Yang jelas, saat ia melihat Faya menangis, atau murung seperti sedang memikirkan sesuatu, ia merasa tidak tega.


Sesekali Prima melirik Faya yang nampak fokus melaksanakan perintahnya duduk di sofa di depan meja kerjanya. Saat melihat wajah bingung Faya, sebuah senyuman mungil akan muncul di kedua sudut bibirnya.


“Kamu bisa lanjutin dulu ya. Aku mau mandi dulu.” Pamit Prima pada akhirnya. Entah kenapa ia merasa canggung berlama-lema berada berdua di ruangan itu. Tidak biasanya.


Sepeninggal Prima, tak lama kemudian Faya sudah berhasil menyelesaikan tugasnya. Kini, ia ingin menyalurkan rasa gatal tangannya melihat ruangan yang berantakan itu. Jadilah ia mulai membereskan ruangan kerja Prima itu hingga terlihat bersih dan rapi.


Entah apa yang di pakai oleh Prima untuk mandi hingga membutuhkan waktu hampir 2 jam lamanya. Bahkan, untuk membunuh waktu, Faya juga membereskan ruang tamu, mencuci piring dan membersihkan sampah-sampah yang berserakan.


Semua pakaian Prima yang berserakan ia kumpulkan menjadi satu dan memasukkannya ke dalam keranjang yang ada di dekat kamar mandi.


Melihat hasil kerjanya, Faya merasa puas sendiri.


“Nah, gini kan enak.” Gumamnya.


“Apanya yang enak?” suara Prima yang tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya.


“Bapak udah selesai?”


Prima nampak tertegun melihat keadaan rumahnya yang sudah bersih dan rapi. Padahal ia tidak menyuruh Faya untuk membersihkannya. Karna besok, ibunya akan datang bersama dengan pembantu untuk membersihkan rumahnya. Hal yang rutin di lakukan Zinnia seminggu sekali.


“Kamu yang beresin semua ini?” heran Prima.


“Wah.” Prima kagum. Lantas ia bertepuk tangan bangga untuk Faya. Gadis itu hanya tersenyum lebar merasa kerja kerasnya di hargai.


“Pak? Bapak laper, gak? Bapak punya mi instan, gak?”


“Ada tuh di lemari. Cari aja. Mau buat apa?”


“Saya bikinin mie, mau, Pak?”


“Terserah kamu.”


Mendapat ijin, Faya bergegas mengambil dua bungkus mie instan, dua butir telur. Sedikit daun bawang dan beberapa bumbu dapur lainnya. Ia meracik semua bahan sementara Prima memperhatikan saja dari meja makan.


“Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, kamu di perbolehkan buat masuk ke rumah ini. Paswordnya yang tadi.” Jelas Prima.


“Berarti Bapak udah percaya sepenuhnya sama saya, ya Pak?”


Prima hanya diam. Tidak menanggapi. Ia terus memperhatikan punggung Faya yang bergerak kesana kemari di depan kompor.


“Berarti sekarang saya udah bener-bener jadi sekretarisnya Pak Prima. soalnya kan cuma ada 3 wanita yang boleh masuk ke sini, keluarganya Pak Prima, istri, dan sekretarisnya Bapak.”

__ADS_1


Mendengar ocehan Faya itu, membuat Prima mengernyitkan keningnya. Ia merasa tidak pernah menyebutkan hal itu kepada siapapun. Kecuali Aliva. Ya, dia ingat pernah menyebutkannya kepada Aliva. Tapi bagaimana Faya bisa tau?


“Kok kamu bisa tau itu?”


Dan Faya langsung tersadar kalau ia telah salah berucap. Tidak mungkin ia mengatakan kalau saat itu ia mendengar pembicaraan anatra Prima dan Aliva. Bisa mati kutu dia dianggap menguping.


“Wah, udah mateng.” Faya mengalihkan pembicaraan. Ia meletakkan dua mangkuk berisi mie instan hasil racikannya. Satu untuk Prima, dan satu untuknya.


Aroma gurih dari makanan itu membuat Prima lupa tentang apa yang  menjadi topik pembicaraan tadi. Ia langsung memandangi mie yang nampaknya sangat lezat itu.


“Silahkan di nikmati, Pak.” Faya mempersilahkan. Ia lega karna Prima tidak memperpanjang urusan.


Perlahan Prima menyeruput makanannya. Enak sekal. Bathinnya dan ia segera menghabiskannya.


“Minggu depan kamu ikut aku ke Jogja. Acara pernikahan sepupuku.”


“Ngapain saya juga ikut, Pak? Kan Bapak pergi buat acara keluarga. Jadi kenapa saya juga harus ikut?”


“Ooooo. Jadi kamu mau makan gaji buta? Gitu? Selama aku seminggu di Jogja, kamu mau berleha-leha. Malas-malasan di sini, gitu?”


Lha? Kok jadi aku yang kena sih? Batin Faya.


“Bukan gitu, Pak. Kan Bapak pergi buat menghadiri acara keluarga. Jadi bukan kerjaan saya, Pak.”


“Kerjaan kamu itu ngurusin aku, Fay. Nanti disana juga aku bakalan kontrol proyek pembangunan mall. Jadi bukan cuma acara keluarga aja. Kita disana juga nanti kerja.” Jelas Prima.


Sudah, Faya tak bsia berkilah. Sudah terbayangkan betapa lelahnya nanti.


Tapi ya tidak apa-apa lah. Anggap saja ini sebagai liburan. Toh dia belum pernah juga pergi ke Jogja. Ambil baiknya saja.


“Kapan perginya, Pak?”


“Jum’at siang.”


“Siap, Pak. Saya pesankan tiketnya nanti. Hehehehe.”


Sungguh, Prima ingin tertawa terbahak-bahak saat Faya mengangkat tangan memberikan tanda hormat kepadanya. Apalagi dengan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi-giginya. Imut sekali.




yo warga! udah hari senin aja yaaa. gak bosan aku ngingetin buat ninggalin jejak yaaa.. biar semangat up aku.

__ADS_1


kalian yang pendatang baru, boleh lah mampir di novelku yang lain. di jamin gak kalah seru. ada cerita kakek-neneknya prima. ada cerita ortunya prima juga. mampir yaa.


__ADS_2