
Prima menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Namun sesaat kemudian ia kembali bersikap normal seperti biasanya.
Padahal di sampingnya, kepala Zinnia seolah tengah berasap. Menatap marah dengan wajah merah kepada putranya itu. Prima seketika merasakan akan adanya ancaman dan serangan dari ibunya itu.
Benar saja, belum sempat ia menyingkir ia sudah mendapat serangan berupa jambakan dari sang ibu. Zinnia mengamuk tak terkendali. Menarik rambut putranya membabi buta. Menggoyang-goyangkannya tak terkendali.
“Dasar bocah nakal! Sejak kapan kamu jadi anak bejad begini?! Hah?!”
“Ma... Ma. Aduh, aduh. Sakit, Ma. Lepasin, Ma. Aduh. Pa, tolongin Prima, Pa.” Rengek Prima meminta bantuan kepada ayahnya.
Sebenarnya Ren malas ikut campur karna nanti dia akan jadi sasaran juga. Tapi, ia tidak tega juga melihat putra semata wayangnya itu di hajar habis-habisan oleh ibunya.
“Sayang, udah, udah. Nanti kepala Prima lepas, gimana?”
Sling!
Zinnia mengalihkan kemarahannya kepada suaminya dengan menatap tajam sambil mengerutkan wajah.
Ren mundur demi tidak ingin terkena serangan maut itu juga.
“Papa!” pekik Prima kembali.
“Sayang, udah. Biar aku nanti yang hajar dia. Kasihan tangan kamu yang cantik itu jadi semakin keriput nanti karna marah-marah.” Ren mencoba merayu istrinya. Dan untungnya berhasil.
Perlahan, Zinnia melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut putranya.
Jangan di tanya lagi bagaimana penampakan Prima saat ini. Yang jelas sudah acak adul tidak karuan. Bahkan mungkin ada bagian yang botak di kepalanya.
“Mama kenapa, sih?! Ya ampun. Kalau aku botak, gimana?”
Dengusan itu berhasil memancing kembali amarah Zinnia yang baru saja mereda. Wanita itu bangkit kembali dengan amarahnya namun segera di cegah oleh Ren. Sementara Prima sudah meringsut ke ujung sofa menghindari serangan ibunya yang akan datang.
“Sayang, sabar.” Ren berusaha menenangkan istrinya.
“Pokoknya Mama gak mau tau ya, Prim. Kamu harus nikahin Faya sekarang juga!” bentak Zinnia.
__ADS_1
“Hah? Nikahin Faya? Mama ini ada-ada aja, deh. Ngapain juga Prima harus nikahin Faya, Ma?”
“Kamu ini memang anak gak tau di untung ya Prim. Malu-maluin keluarga aja. Nanti kalau sampai Faya hamil, gimana?”
Sikap Prima cepat sekali berubah. Kini ia bersikap biasa saja meskipun mendengar ibunya mengomel tak karuan.
“Hamil? Siapa yang hamil?” suara Favita yang baru muncul dan masih berdiri di pintu mengejutkan mereka semua.
Ren, Zinnia, dan Prima kompak menoleh ke arah pintu. Sementara Favita menuntut penjelasan melalui tatapan mengernyitnya kemudian mengambil duduk di sebelah adiknya.
“Mama hamil? Idih, ya kali aku punya adik di umur segini, Ma?” protes Favita lagi.
“Enak aja. Bukan Mama. Tuh, adikmu ngehamilin anak orang sekaligus pacar orang.” Jelas Zinnia menunjuk Prima yang duduk di depan mereka.
“Hah? Serius? Siapa yang kamu hamilin, Prim?”
“Faya.” Ren yang menyahut.
“Hah???” Favita sempurna ternganga dengan sangat lebar. Mungkin kalau ada buah naga bisa langsung masuk semuanya ke dalam sana.
“Gila, kamu. Kok bisa?”
Dan perihal b h, sebenarnya Zinnia hanya mengarang cerita saja. Ia tidak menemukan apapun di kamar Prima. ia hanya menggunakan itu sebagai pancingan agar Prima berkata jujur. Dan ternyata itu sangat mengejutkan.
“Udah lah. Ngapain pada heboh, sih? Santai aja kali.”
“Kamu kok santai gitu sih, Prim? Gak ngerasa bersalah apa gimana udah nidurin anak orang, pacar orang, plus sekretaris kamu sendiri? aku sebagai perempuan jadi ikut sakit tau.” Favita juga ikut-ikutan mendengus kesal. Rasa-rasanya ia bisa merasakan bagaimana terpuruknya Faya setelah kejadian semalam.
“Papa gak nyangka ternyata kamu punya sifat buruk begini, Prim. Ya, mungkin salah kami yang terlalu memanjakanmu.” Suara Ren berubah serak. Sepertinya pria paruh baya itu benar-benar kecewa terhadap sikap putra kebanggannya.
Sementara Prima. hanya memperhatikan ekspresi satu-persatu anggota keluarganya itu dengan seksama.
“Ya ampun, aku jadi kasihan sama Faya. Mana anaknya baik banget lagi. Sabar. Malah kamu rusak begini. Jahat kamu, Prim.” Tuding Favita melampiaskan sakit hatinya. Sebagai sesama perempuan, ia bisa merasakan sakitnya Faya yang telah di tiduri oleh Prima.
“Panggil Faya kesini. Kita harus membahas pernikahan kalian sekarang juga.” Tegas Ren.
__ADS_1
“Gak mau, Pa. Apaan sih, nikah-nikah? Orang dia belum pasti hamil apa enggak ini.”
“Kamu mau jadi pecundang, Prim? Iya? Nurun siapa sifat bejad kamu ini? Hah?” Ren semakin meninggikan suaranya. “Jangan malu-maluin keluarga.”
“Udah. Gini aja. Kita tunggu sebulan lagi. Kalau statusnya udah jelas, baru deh, nikah.”
Prima bagun dan ngeloyor pergi begitu saja sambil bersaku tangan seperti biasanya. meninggalkan orang tua dan kakaknya yang menatap tak percaya padanya.
“Ya ampun, Pa. Kok jadi gini, sih? Huhuhu.” Zinnia menangis. Kecewa terhadap sikap putra yang selalu ia banggakan itu.
Tidak ada yang menyangka kalau ternyata Prima mempunyai sisi seburuk itu. Tega meniduri sekretarisnya sendiri.
Sementara Prima, ia terus melenggang santai menuju ke ruangannya denngan sesekali tersenyum. Sekilas melirik Faya yang juga melihatnya.
“Pak, kita harus konseling sekarang.” Ujar Faya. Nada suaranya bergetar. Menandakan kalau dia sedang gugup.
“Ya udah, ayo.” Prima tak jadi masuk ke ruangannya. Ia malah berbalik dengan di ikuti oleh Faya di belakangnya.
Keduanya sedang menunggu lift untuk turun. Saat pintu lift terbuka dan mereka hendak masuk, tiba-tiba tubuh Faya di tubruk oleh Favita yang langsung keluar begitu melihat Faya. Wanita itu memeluk Faya dengan sangat erat.
“Ya ampun, Fay. Kamu pasti kecewa banget. Maafin kami, ya. Kami udah gagal mendidik Prima jadi cowok baik-baik. Sabar ya, Fay.” Ucap Favita. Ia mengelus-elus punggung Faya dengan lembut seolah sedang menyalurkan simpatinya.
“Buk? Buk Vita kenapa?” tanya Faya heran setengah mati.
Favita melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Faya dengan tangannya sementara wajahnya mengkerut sedih.
Faya yang bingung kenapa Favita melakukan itu hanya terbengong heran saja. Bukan hanya dia yang terbengong, tapi seluruh karyawan yang ada di sekitar mereka juga ikut terheran-heran dengan kelakuan Favita itu.
“Faya, dengar. Kalau ada apa-apa, kamu bisa langsung cerita ke aku. Oke? Jangan di pendam sendiri. aku siap bantuin kamu. Ya? Kalau perlu kita timpuk bocah ini bareng-bareng.” Vita nampak sangat kesal dengan adiknya itu.
Faya mengangguk terbata dengan tatapan yang masih terheran-heran. Apa sebenernya yang sedang di maksudkan oleh Favita itu.
Karna kejadian melow yang tak jelas itu, mereka sampai tak menyadari kalau Prima sudah masuk ke dalam lift dan sedang menunggu mereka dengan terkekeh kecil.
“Udah deh, Kak. Lebay banget. Kami buru-buru nih.” Prima memberi peringatan.
__ADS_1
Faya yang tersadar langsung berjalan masuk menyusul Prima.
Prima segera memencet tombol lift. Meninggalkan Favita yang lupa dan malah tidak jadi turun.