One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 123. Kabar Mengejutkan Dari Favita.


__ADS_3

Keluarga besar Prima sedang berada di sebuah ruangan privat di sebuah restoran langganan. Disitu juga ada Prima dan Faya yang baru saja kembali minggu lalu setelah hampir dua bulan berkeliling. Berkumpulnya mereka malam ini adalah atas permintaan khusus dari Favita. Gadis itu bilang ingin mengatakan suatu hal yang penting.


“Dia yang nyuruh kumpul jam 7, tapinya dianya yang masih entah dimana.” Prima mulai menggerutu kesal. Sudah lewat setengah jam dari jadwal dan Favita malah belum muncul juga batang hidungnya.


“Sabar, Mas.” Bisik Faya tidak enak hati.


“Jadi kapan kamu mau mulai kerja, Prim?” suara Ren mendominasi.


“Pa, kami baru aja pulang. Masih capek.” Prima beralasan. Lama libur bekerja membuatnya malas memikirkan untuk kembali bekerja lagi.


“Papa butuh kamu di kantor.”


“Kan udah ada Vita?”


“Itu kan lain. Kemarin aja dia bilang mau resign, kok.” Gerutu Ren. Nampaknya pria paruh baya itu juga sedang kesal. Entah karna apa.


“Vita bilang juga sama Papa?” Zinnia ikut menimpali. “Dia juga bilang sama Mama kalau dia mau keluar dari kantor.”


“Apa dia nyuruh kita kumpul disini buat bahas masalah ini?” Raipun ikut bersuara.


“Ya kalaupun begitu, kita hormati aja keputusannya. Toh dari pertama memang Vita kurang pas di kantor.” Esta juga mulai bersuara.


Untuk beberapa menit ke depan, mereka sibuk membahas masalah ini. Hingga pintu di ketuk dari luar dan muncullah sosok Favita dari sana.


“Sorry. Aku telat, ya?” Favita buru-buru mengambil tempat duuknya.


“Kalau mau ngaret ngapain nyuruh datang jam 7?” ternyata Prima masih kesal.


“Tadinya juga aku mau datang jam 7. Tapi ada suatu hal jadi telat deh. Hufh.” Favita menghembuskan nafasnya. Nampak sekali kalau dia sedang ngos-ngosan. Untuk beberapa saat dia menarik dan menghembuskan nafas untuk mengusir lelahnya.


“Tambah tembem aja tuh pipi ya, Fay?” selorohnya kemudian ketika bersitatap dengan adik iparnya.


“Hehe. Iya, Mbak. seneng terus soalnya.” Jawab Faya malu-malu.

__ADS_1


“Widiiihh. Roman-romannya aku bakalan punya ponakan gak lama lagi.”


“Doain aja, Mbak.” jawab Faya.


“Jadi, kamu mau ngomong apa, Vit?” nampaknya Ren menjadi tidak sabar ingin segera mengetahui apa niat dari putrinya itu mengumpulkan semua keluarganya.


“Aku mau nikah.”


Jeda beberapa detik dan semua orang sedang terdiam menatap aneh dan tidak percaya kepada Favita.


“Memangnya ada yang mau?” suara Prima membuyarkan lamunan mereka.


“Enak aja. Banyak tau yang mau sama aku.”


“Nge-prank lagi apa gimana?” tanya Zinnia.


“Ma, kali ini Vita serius. Vita mau nikah.”


“Nak, kalau kamu mau nikah, boleh. Kami gak ada yang bakalan ngelarang kamu. Tapi, harus ada calonnya dulu.”


Byuurrrr!!!


Prima sontak menyemburkan air mineral yang baru saja masuk ke dalam mulutnya ketika melihat siapa pria yang sedang berdiri di depan pintu. Ia lebih terkejut lagi ketika Favita menggandeng mesra pria itu dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan.


Sama halnya dengan Prima, Faya juga ternganga tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia hanya melongo tak berkedip dengan pandangan mengikuti pria yang di gandeng oleh Favita hingga pria itu duduk tepat di hadapannya.


“Duduk, Yang.” Favita mempersilahkan pria itu untuk duduk.


“Gak mungkin.” Desis Prima tidak percaya. “Mbak beneran mau sama dia?” Prima langsung menunjukkan protesnya. Sementara Favita hanya tersenyum lebar kepada semua orang.


“Semuanya, kenalin, ini pacar aku. Harvey.”


Sekarang Harvey menjadi pusat perhatian. Bergantian dengan Favita.

__ADS_1


“Dan kami, berencana mau nikah. Secepatnya.”


Semua orang bisa melihat kalau Favita tengah antusias saat ini.


“Beneran? Mbak Vita mau nikah sama Harvey? Serius?!” Faya juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Serius dong. Kemarin dia udah ngelamar aku. Dan aku setuju. Jadi malam ini aku ngajak dia ketemu sama kalian semua.”


Mereka semua bukan tidak mengenal Harvey. Hanya saja, mereka sangat terkejut karna ternyata Vita dan Harvey dekat dan bahkan sudah berpacaran. Tidak ada satupun dari pihak keluarga yang mengetahui hal ini.


“Sejak kapan? Kenapa bisa??” Prima terus saja menyelidik.


“Udah lama. Kami deket dari nikahan kalian waktu itu. Terus sering ketemu, terus jadian, deh.” Terang Favita berapi-api. Jadi inilah alasan Vita sering keluar untuk olahraga pagi-pagi sekali. Ternyata bersama Harvey.


“Maaf kalau mengejutkan kalian semua. Tapi aku mau memperkenalkan diri secara resmi sama keluarga Vita.” Barulah Harvey buka suara. “Kepada Om, dan Tante, saya ingin meminta ijin dan restu untuk menikahi putri Om dan Tante.” Harvey bertutur lembut dan penuh hormat kepada Ren dan Zinnia.


Pasangan paruh baya itu hanya bisa ternganga saja. Ini sangat tiba-tiba. Mereka semua terkecoh karna mengira Favita akan membicarakan perihal pengunduran dirinya dari FD Corp. Ternyata bukan itu.


Ren dan Zinnia, mereka kompak melihat bergantian kepada Harvey kemudian kepada Favita. Keduanya menangkap keseriusan dari pemuda itu.


“Om berterimakasih sama kamu, Harv. Udah mampu meluluhkan hati putri Om. Semua keputusan ada di tangan Vita. Om dan Tante cuma bisa ngikutin aja. Soalnya kita juga udah lama kenal sama kamu.” Ujar Ren.


Yang di maksud oleh Ren adalah, mereka sudah tau siapa Harvey. Mereka sudah bertemu beberapa kali. Sejak Harvey jadi model perusahaan, sampai ketika di pernikahan Prima-Faya.


“Jadi, Papa sama Mama ngerestuin kami, kan?” tanya Favita.


“Tunggu!” Prima menginterupsi dengan tegas. “Lo!” tunjuknya kemudian kepada Harvey tepat di depan wajahnya. “Jangan main-main.” Nadanya sedikit mengancam.


“Gue gak main-main. Gue serius sama Vita.”


Jawaban yang di sertai dengan tatapan ketulusan dari Harvey mampu membungkam mulut Prima. Dia tidak jadi mengucapkan kata-katanya selanjutnya dan malah mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia menarik tangannya dan kembali duduk di kursinya. Tentu saja, tatapan nyalangitumaish terus tertuju kepada Harvey. Si mantan rivalnya.


Move-on sih move-on. Siapa sangka kalau move-on-nya seorang Harvey justru jatuh kepada Favita? Yang itu berarti, Harvey akan jadi kakak iparnya? Tidak, tidak. Ini mengerikan! Prima terus berteriak dalam hati.

__ADS_1


Dari rival, malah jadi ipar.


__ADS_2