One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 91. Sejatinya, Tidak Ada Yang Bisa Mengubah Masalalu.


__ADS_3

Kantor polisi hari ini sedikit lengang. Iwan langsung turun begitu Prima memarkirkan mobil. Di ikuti oleh Faya dan kemudian di susul oleh Prima.


Prima nampak berbicara kepada petugas. Meminta ijin untuk menjenguk Kirani. “Ayo, Mas.” Ajaknya kemudian mengikuti petugas yang akan mengantarkan mereka ke ruang tahanan.


Prima dan Faya hanya mengantarkan Iwan sampai di depan ruangan tahanan. Tidak ikut masuk. Mereka ingin memberikan waktu untuk Iwan bicara dengan istrinya. Pasangan itu duduk di kursi kayu yang ada di dekat pintu.


Walaupun mereka tidak ikut masuk, namun Faya masih bisa mendengar pembicaraan antara Iwan dan Kirani. Terdengar Kirani sedang terisak memohon pengampunan dari sang suami. Berkali-kali meminta maaf setelah Iwan menanyakan alasan kenapa Kirani tega melakukan perbuatan hina itu.


Hati Faya ikut pias mendengarnya. Bukan pias karna mendengar tangisan Kirani, tapi pias membayangkan betapa terlukanya hati kakaknya itu sekarang. Ia tau benar, betapa besar rasa cinta dan tanggung jawab Iwan untuk Kirani. Tapi pada akhirnya, itu berujung pada penghianatan.


“Mungkin aku masih bisa maafin kamu kalau kamu cuman nyabu, Kiran. Aku masih bisa bantu kamu buat sembuh. Tapi ini, kamu tidur sama laki-laki lain sementara aku berjuang buat kamu. Untuk masalah yang satu ini, aku gak bisa maafin kamu.” Terdengar Iwan mulai bresuara.


Suara deru tangis Kirani bertambah keras. Meraung seolah tidak peduli kalau sekarang dia sedang berada di penjara.


“Maafin aku, Mas. Aku bener-bener minta maaf.” Ujar Kirani dari balik jendela jeruji besi yang memisahkan mereka.


“Kayaknya aku gak bakalan bisa maafin kamu, Kiran. Terlalu sakit hatiku. Aku mati-matian jaga diri di luaran sana buat kamu. Tapi kamu malah umbar tubuh kamu sama laki-laki yang bukan muhrimmu. Laki-laki asing yang sebenarnya gak berhak atas tubuh itu. Tubuh itu milikku, Kiran. Tapi kamu tega ngasih ke orang lain. Andai aku tau kalau kamu serendah ini, aku gak akan ngejar-ngejar kamu kayak orang gila dulu.”


Ternyata, mendengar Iwan mengatainya wanita rendah, membuat Kirani tersinggung.

__ADS_1


“Aku gak serendah itu, Mas. Ini semua gara-gara adikmu itu. Kalau aja dia gak datang, aku gak bakalan kayak gini.”


“Berhenti nyalahin Faya, Kiran. Ini semuanya salah kamu. Tuhan kasih tau kelakuanmu lewat Faya. Aku sangat berterimakasih sama dia. Jangan kamu fikir aku gak tau gimana perlakuan kamu sama adikku waktu aku gak ada di rumah. Semua tetangga bilang kamu gak pernah memperlakukan Faya dengan baik. Sekarang, gak usah sok ngerasa jadi korban. Dari awal memang sifatmu yang salah. Kamu yang salah. Kalau aku sampai denger kamu jelek-jelekkin Faya lagi, seumur hidup, aku gak akan maafin kamu.” Iwan juga terpancing emosi ketika adiknya malah di salahkan oleh Kiran.


Tentu saja dia tidak terima. Selama ini, dia sudah cukup menebalkan telinga mendengar perlakuan Kirani kepada Faya. Ia mencoba memaklumi karna memang mereka menumpang di rumah Kirani. Ia ingin meyakinkan dirinya dan Faya, kalau dengan diam, itulah bentuk rasa terimakasih mereka kepada wanita itu.


Sekarang, dia menyesal karna sudah memaksa Faya untuk bertahan dalam lingkungan yang tidak sehat. Ia menyesal karna sudah menempatkan Faya dalam posisi yang sulit. Seharusnya, sejak awal ia membiarkan saja ketika Faya ingin pindah dan kos sendiri. ia terlalu menaruh percaya kepada wanita yang kini justru malah menghianatinya tanpa ampun.


“Aku kesini cuma mau bilang, kalau kamu aku talak, Kirani.” Dan Iwan mengucapkan kata talak itu sebanyak tiga kali. Sebagai pertanda kalau ia benar-benar sudah berniat ingin mengakhiri pernikahannya dengan Kirani.


Kirani yang seperti sudah jatuh, tertimpa tangga, patah kaki pula, hanya bisa terdiam dengan airmata yang deras mengaliri pipinya. Menyesal, sudah tidak berguna lagi.


Untuk terakhir kalinya Iwan menatap dalam ke dalam netra wanita yang kini sudah sah menjadi mantan istrinya itu. Kemudian ia berdiri dan berbalik, berjalan keluar dari ruangan itu.


Di luar, Faya sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi. Ia sedang menangis di pelukan Prima ketika Iwan keluar dari ruang tahanan. Ia benar-benar bisa merasakan betapa hancur hati kakaknya itu kini.


“Prima, tolong kamu antar Faya pulang dulu. Aku mau ada urusan sebentar.” Ujar Iwan yang langsung pergi begitu saja meninggalkan adiknya dan Prima.


Faya hanya memandangi pias punggung kurus milik Iwan sampai menghilang dari pandangannya. Hatinya ikut sakit melihatnya.

__ADS_1


“Kita pulang sekarang?” tanya Prima.


“aku Mau nemuin Mbak Kiran, boleh?” ijin Faya. Prima mengangguk setuju. “Tapi aku ikut masuk.” Syarat Prima. ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Faya kalau membiarkan gadis itu masuk sendiri. ya walaupun tidak mungkin ada yang bisa menyakitinya di dalam sana.


Melihat kedatangan Faya, membuat Kirani buru-buru menghapus jejak airmatanya. Entah kenapa ia marah sekaligus malu kepada Faya.


“Ngapain kamu kesini?” ketus Kiran tanpa berani melihat Faya langsung.


“Puas Mbak Kiran udah nyakitin Mas Iwan?” seolah Faya sedang meluapkan seluruh amarah yang sudah ia tahan. “Mbak Kiran bener-bener bodoh. Di dunia ini, cowok yang bisa menjaga hati bisa di hitung jari, Mbak. beruntungnya Mbak dapat salah satunya, tapi malah Mbak Kiran sia-siain. Dimana lagi mbak Kiran dapat orang sebaik Mas Iwan?”


Kirani diam saja. Ia menyesal, itu sudah pasti. Dan memang benar, kalau sebenarnya ia beruntung mendapatkan Iwan. Tapi entah mata dan hatinya di butakan oleh apa, sehingga ia menjadi gelap dan melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Kini menyesalpun, percuma. Karna sejatinya, tidak ada yang bisa mengubah masa lalu.


“Mungkin aku masih bisa maklum kalau Mbak Kiran jahat sama aku. Tapi ini Mas Iwan, Mbak. Suami Mbak sendiri. Dan Mbak sejahat itu sama dia? Mbak ini manusia bukan? Kok gak punya hati apalagi harga diri. Bener-bener murahan.” Faya memaki tanpa ampun.


Dan Kirani, hanya diam saja. Sudah tidak punya tenaga untuk membantah ucapan Faya. Padahal dalam hati ia tetap tidak terima di katai sekasar itu. Ia tetap punya pembenaran untuk dirinya sendiri.


“Kalau Mbak bebas nanti, tolong jangan muncul lagi di depan kami.” Kalimat terakhir yang di ucapkan Faya sebelum ia berbalik dan pergi.


Nafas Faya terdengar memburu. Dadanya naik turun seirama. Walaupun marah, ia merasa lega setelah mengatakan seluruh kekecewaannya kepada Kirani.

__ADS_1


Akibat kejadian ini, bayangan atas kebahagiaan pernikahan kini menghantui fikiran Faya. Kejadian yang menimpa Iwan ini, membuat sebuah ketakutan perlahan muncul di dalam hatinya. Ketakutan yang menggiring rasa ragu untuk mengambil alih semua fikiran tentang hal baik yang ada di kepalanya.


__ADS_2