One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 27. Pekerjaan Gabungan.


__ADS_3

Sejak jum’at pagi, Faya sudah di peringatkan oleh Prima untuk bersiap-siap. Padahal mereka baru akan berangkat siang nanti.


Wajah Faya sedang berseri-seri. Ia terus memandangi saldo rekeningnya yang bisa di katakan membengkak. Karna seumur-umur, ia baru melihat saldo rekeningnya berada di angka 2 digit. Seketika ia merasa menjadi kaya. Haha.


Tugas Faya adalah mengurus semua keperluan Prima. entah itu perihal pekerjaan, maupun urusan pribadi yang menyangkut dengan bosnya itu sendiri. jadi, Faya berinisiatif untuk membantu pirma membereskan barang-barang yang akan di bawa ke Jogja.


Faya keluar dari rumahnya dan langsung menekan pasword apartemen Prima. tanpa peringatan. Karna bosnya itu sudah memberikan ijin untuk mengakses kediamannya.


“Biar saya bantu bereskan barang Bapak.” Tawar Faya. Sementara Prima sedang menikmati secangkir kopi sambil menonton tv di ruang tamu.


“Kopernya ada di atas lemari di kamar. Gak usah banyak bawa baju. Cukup-cukup buat seminggu aja.” Ujar Prima santai.


Faya bergegas masuk ke dalam kamar Prima. mengambil koper dari atas lemari, kemudian mulai  menyusun pakaian bosnya itu di dalamnya.


Waktu sebulan bekerja di bawah Prima, Faya sudah mengetahui apa-apa saja kebiasaan bosnya itu. Termasuk dalam perihal berpakaian. Jadi ia tidak kesulitan lagi dalam memilihkan pakaian untuk Prima.


Hanya saja, ada satu hal yang membuat Faya masih canggung hingga saat ini, yaitu ketika dia harus membereskan pakaian da lam bosnya itu. Tapi demi keprofesionalan kerja, dia tetap harus melakukannya.


Seketika waktu Faya berfikir, kalau seorang sekretaris merupakan gabungan dari pekerjaan pembantu dan pekerjaan kantoran. Karna harus merangkap pekerjaan. Mungkin karna itu ia di gaji dengan sangat tinggi. Karna memang beban kerjanya dua kali lipat. Ya namanya juga sekretaris pribadi. Ya harus multi fungsi. Bahkan masalah pertiketan kepergian mereka, Faya yang mengurusnya.


Faya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk membereskan semua barang-barang Prima. setelah itu, ia meletakkan koper di ruang tamu dan ijin permisi untuk kembali ke rumahnya.


Pukul setengah dua siang, keduanya bertolak ke bandara untuk kemudian terbang ke Jogja. Dan pukul lima sore, mereka sudah menginjakkan kaki di kota gudeg itu.


Faya memejamkan mata demi menikmati udara kota yang sering di juluki kota paling romantis itu. Ia  memang belum pernah ke sana sebelumnya. Dan ini adalah kali pertamanya pergi ke sana. Bekerja dengan Prima tidak buruk juga. Apa yang dia dapatkan setimpal dengan tenaga dan fikiran yang ia keluarkan.


Faya sudah menyewa mobil secara online sebelum mereka datang. Dan mobil itu sudah standby di bandara. Setelah menyelesaikan persyaratan administrasi, Faya langsung mengemudikan mobil sedan itu, membawa Prima menuju ke kediaman keluarganya.


Sesekali ia melirik kepada Prima yang duduk di belakang. Pria itu nampak sibuk menelfon seseorang.


“Fay, kita nginep di hotel aja. Kayaknya di rumah Tante Mia penuh karna semua keluarga ada disana. Aku males nanti gak nyaman.” Celetuk Prima.

__ADS_1


“Iya, Pak.”


Lewat aplikasi, Faya segera mencari hotel untuk mereka. Setelah melakukan chek-in, Faya mengantar koper Prima ke dalam kamarnya. Sementara kamarnya sendiri ada di lantai di bawah kamar Prima. ia memesan kamar suite untuk bosnya itu. Sementara untuk dirinya hanya kamar biasa saja.


Setelah dari hotel, barulah mereka melanjutkan pergi ke rumah keluarga Prima yang ada di kawasan Blok-O.


Kedatangan Prima tentu saja di sambut hangat oleh keluarganya. Terlebih memang ia jarang sekali datang.


Plak!


Prima nyengir setelah mendapatkan pukulan keras di punggungnya sebagai sambutan selamat datang. Itu adalah Wulan. Putri pertama Ranu dan Mia. Gadis itu menatap senang kepada sepupunya itu.


“Eiisss. Mas Prima. gitu dong.” Seloroh gadis berhijab putih itu.


“Cie, yang udah mau jadi milik orang. Selamat ya, Lan. Kadonya besok aja, ya.” Celetuk Prima.


“Santai aja, Mas. Wulan gak ngarep kado, kok. Yang penting do’a tulus dari Mas Prima.”


“Gak tau. Di dalam mungkin.”


Yang di maksud oleh Prima adalah adik kembar wulan yaitu Ibra dan Igo.


Prima mengikuti arah pandang Wulan yang tertuju ke arah belakangnya. Wulan sedang memandangi penasaran kepada Faya yang berdiri mematung di belakang bosnya.


“Sekretarisku.” Prima memperkenalkan.


“Ooh. Hai. Sini, masuk aja, Mbak. gak usah segan-segan.” Tawar wulan ramah.


Sementara Faya merasa canggung karna merasa seharusnya ia tidak berada disini. Tapi, ia tetap mengangguk ramah dan mengembangkan senyuman.


Faya benar-benar merasa di abaikan. Tidak ada satu orangpun yang ia kenal yang enak untuk di ajak mengobrol. Paling Cuma Zinnia yang sesekali menajaknya bicara. Keadaan semakin canggung bagi Faya. Tapi ia berusaha bertahan sebaik mungkin.

__ADS_1


Sampai akhirnya, ia merasa bosan dan memilih untuk keluar dari rumah. Duduk di kursi taman samping sambil menyesap udara malam yang segar. Dari tempatnya, ia bisa mendengar riuh kebahagiaan keluarga Prima yang sedang bercengkerama di dalam. Sesekali terdengar tawa dari mereka.


Untuk mengusir bosan, Faya memilih bertukar pesan kepada Soraya. Bagi Faya, hanya Soraya yang enak di ajak bicara. Bahkan dalam pesan mereka sempat-sempatnya membicarakan Prima.


Pukul 10 malam, Prima menemuinya dan mengajaknya kembali ke hotel.


Setelah sampai di hotel, barulah Faya bisa beristirahat penuh. Mengganti rasa lelahnya dengan mimpi indah.


Drt. Drt.


Ponsel Faya terus berdering. Memaksa Faya membuka mata. Kelopak matanya tidak bisa di ajak kompromi dan sulit untuk di buka. Ia meraba ponsel di sampingnya dan langsung mengangkatnya.


“Fay!” suara pekikan itu terdengar seperti suara Prima. Faya masih setengah sadar. Malas untuk melihat nama si penelpon.


“Kok di taro di telinga? Fay?!”


Faya berusaha untuk melihat ponselnya. Ternyata itu adalah panggilan video.


“Kamu udah tidur?”


“Ada apa, Pak?” tanya Faya serak. Sumpah, dia ngantuk sekali. Dan Prima malah mengganggunya seperti itu.


“Gak ada. Cuma ngecek aja kamu udah tidur apa belum.”


Sudahlah mengantuk. Di tambah terkejut karna mendapat telfon. Di tambah lagi Prima bercanda. Menelfonnya hanya untuk memastikan ia sudah tidur apa belum. Kalau Prima ada di dekatnya, bukan tidak mungkin dia akan membanting pria itu.


Berusaha menetralkan kekesalannya, Faya melihat jam di ponselnya. Pukul setengah tiga dini hari. Dan Prima menelfonnya hanya untuk memastikan dia sudah tidur apa belum? Sepertinya Prima sedang kumat.


“Ya udah. Tidur lagi gih.” Prima langsung mematikan ponselnya.


Faya bahkan tidak lagi mendengar titah terakhir itu. Ponselnya jatuh tepat di depan mukanya. Sehingga Prima yang hampir menutup telfon tidak jadi karna melihat wajah Faya yang kembali terlelap.

__ADS_1


Di kamarnya, Prima terus tersenyum memandangi ponselnya. Menatap lucu wajah Faya yang mulutnya ternganga. Berkali-kali ia terkikik sendiri. ada rasa enggan untuk mematikan ponselnya.


__ADS_2