
Suasana ruangan Ariga berubah menjadi dingin dan canggung. Faya terus saja mencengkeramkan tangannya di pangkuan bahkan setelah dia menaruh amplop yang berisi surat pengunduran dirinya ke atas meja.
“Apa gak bisa di fikirin lagi, Fay? Sayang lho, kamu udah selama ini kerja disini. Dan Cuma kamu yang cocok sama Pak Prima.”
Ya, cocok.
Tapi Faya tak menyukai kata itu. Ia bertahan bukan karna cocok. Tapi karna memang dia membutuhkan pekerjaan. Dan kebetulan gaji yang di tawarkan disini lumayan besar. Setidaknya itulah alasan awalnya dulu.
Tapi seiring waktu berlalu, seiring perasaan yang mulai tumbuh untuk ‘bos gila’nya itu, Faya jadi menikmati pekerjaanya walaupun penuh tekanan.
“Saya udah gak sanggup ngurusin Pak Prima, Pak. Saya minta maaf kalau saya mengecewakan Bapak. Beberapa hari ini saya hampir gila karna Pak Prima.”
Ariga menghela nafas dalam. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi antara Faya dan Prima. melihat ekspresi Faya, sepertinya masalah kali ini tidak main-main.
“Pak Prima ngerjain kamu lagi?” Ariga mencoba untuk mencari tau.
Faya hanya diam saja. Ia semakin menundukkan wajahnya.
“Selama ini kan kamu udah berhasil bertahan, Fay.” Ariga masih mencoba untuk merayu Faya. Sungguh, ia juga sudah bosan jika harus mencari pengganti Faya lagi. Padahal sudah setahun ini pekerjaannya sedikit lebih ringan karna ada Faya yang membantu mengurusi Prima.
“Kali ini bercandanya Pak Prima gak main-main, Pak. Dan saya juga udah capek sebenernya. Saya ingin berterimakasih sama Bapak atas kebaikan Bapak sama saya selama ini. Sekali lagi saya minta maaf, saya terpaksa berhenti disini.”
“Kalau itu udah jadi keputusan mutlak kamu, saya gak bisa menghalangi kamu, Fay. Walaupun saya berharap kamu masih mau tetap bekerja disini. Tapi ya mau gimana lagi. Saya juga paham kalau kamu lelah.”
Faya hanya diam saja. Ada sedikti rasa tidak tega melihat wajah kecewa Ariga. Selama ini, pria itu telah banyak sekali membantu Faya melewati hari-hari suramnya bekerja dengan Prima. Ariga selalu memberi bantuan dan dorongan kepada Faya untuk tetap semangat. Ia juga membantu Faya dalam perihal pekerjaannya.
__ADS_1
“Saya harap, kamu segera menemukan pekerjaan yang kamu impikan ya, Fay. Saya tulus mendoakan ini.”
“Terimakasih banyak, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu.” Faya menganggukkan kepala untuk menghormati atasannya itu. Ia menyambut uluran tangan Ariga ketika pria itu meminta bersalaman.
Faya membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari ruangan Ariga dengan perasaan campur aduk tak terhingga. Rasa tidak tega itu masih memenuhi rongga dadanya. Dalam hati ia menyesal karna telah meninggalkan beban kerjanya kepada Ariga.
Setelah keluar dari ruangan Ariga, lutut Faya seolah lemas. Ia memejamkan mata sebentar kemudian menghembuskan nafas dengan perlahan untuk mengembalikan tenaganya. Ia harus cepat, karna sebentar lagi Prima pasti akan datang ke kantor.
Sebelum masuk ke dalam ruangan Prima, Faya terlebih dulu mengintip ke dalam. Takut kalau Prima ada di dalam. Tapi untungnya pria itu belum datang.
Faya berdiri tepat di depan meja Prima. memandangi papan nama yang bertuliskan nama Prima dengan perasaan yang entah. Ada untungnya juga selama ini ia tidak menunjukkan perasaannya. Hal itu memudahkan dia sekarang ketika ingin pergi.
Setelah puas memandangi nama Prima, ia kemudian meletakkan amplop berisi surat pengunduran dirinya di atas meja. Setelah itu, barulah ia berjalan keluar dari ruangan Prima.
Sebelum pergi, ia berdiri di depan mejanya sendiri. yang sekarang tak akan lagi ia tempati. Memikirkan apa yang telah ia lalui sejauh ini, ia merasa bangga dan memuji dirinya sendiri karna berhasil bertahan sampai sejauh ini.
Taksi yang di tumpangi oleh Faya bersisian dengan mobil Prima di depan gedung. Mobil yang di kemudikan Prima itu masuk ke area gedung ketika taksi yang di tumpangi Faya keluar dari sana. Untung saja Faya menghitung waktunya tepat.
Prima memarkirkan mobilnya di basement gedung. Perasaannya sangat hampa. Biasanya ia akan di supiri oleh Faya. Tapi kali ini tidak ada Faya di sisinya. Dan itu akibat kesalahannya sendiri.
Dengan langkah gontai dan kurang semangat, Prima masuk ke dalam ruangannya. Ia duduk dengan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Memejamkan mata demi menenangkan hatinya yang gundah.
Sebelum ke kantor tadi, Prima sempat mengetuk apartemen Faya kembali. Namun tetap tak mendapat jawaban. Ia
tau pesan-pesannya sudah di baca oleh Faya. Masalahnya sekarang, ia bahkan tidak bisa lagi menghubungi gadis itu karna Faya telah memblokir nomornya. Itu semakin membuatnya frustasi.
__ADS_1
Tatapan mata Prima fokus tertuju kepada amplop yang tergeletak di mejanya. Dengan malas ia membuka amplop itu dan menemukan surat dari Faya. Seketika Prima berlari dengan sekuat tenaga menuju ke ruangan Ariga.
Ariga bahkan sampai terkejut melihat kedatangan Prima yang nampak tergesa-gesa.
“Mana Faya, Paman?” tanya Prima.
“Faya, baru aja keluar. Apa kalian gak ketemu? Tadi...” Ariga bahkan tak bisa melanjutkan kalimatnya karna Prima keburu menghilang dari ruangannya.
Prima berlari tunggang langgang mengejar Faya. Ia berharap masih sempat mengejar gadis itu.
“Apa kau lihat Faya.” Tanyanya pada seorang karyawan yang ia temui di loby.
“Faya? Tadi kesana, Pak.” Tunjuk karyawan itu ke arah luar gedung.
Belum sempat hilang kekagetan karyawan itu, Prima sudah lebih dulu melesat berlari keluar gedung. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Faya. Namun sialnya, ia tak bisa menemukannya.
“Aarrggghh!!!!!!” teriak Prima dengan wajah frustasi. Ia mengusap kepalanya kasar tanda ia sedang marah. Bukan pada Faya, melainkan pada diri sendiri.
Kelakuan Prima itu sontak saja mendapat perhatian dari para karyawannya. Mereka heran kenapa pagi-pagi Prima sudah kesurupan seperti itu.
Prima menatap nanar ke arah jalan raya. Fikirannya buntu. Kemana lagi ia harus mencari gadis itu. Namun sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya. Prima berlari ke loby dan mengambil mobilnya. Membawa mobil itu melesat pergi meninggalkan gedung FD Corp.
Sesampainya di apartemen, Prima langsung memaksa masuk ke dalam rumah Faya tanpa permisi lagi. Entah kenapa perasaannya tidak enak mengenai ini.
Dan benar saja, rumah Faya sudah kosong. Bahkan laptop yang selalu ada di atas meja ruang tamu sudah tak ada di tempatnya. Perasaan Prima semakin pias dan panik. Ia membuka pintu kamar Faya dengan tergesa. Dan lagi, yang ia dapati haya kekecewaan karna kamar itu terlihat bersih tanpa ada pakaian Faya yang tertinggal.
__ADS_1
Dengan perasaan yang entah, Prima duduk di tepian ranjang Faya. Ia memegangi dadanya yang seolah seperti di hantam oleh benda tumpul. Sakit, dan sesak.
“Fay, kamu dimana?”