
Setelah bertemu dengan Harvey, Prima dan Faya masih harus menyebar undangan untuk teman-teman Prima lagi. Sekarang, mereka sedang dalam perjalanan menuju ke salah satu rumah teman Prima.
“Mas, kamu gak ngundang Aliva?”
Mendapat pertanyaan yang Prima tau itu adalah jebakan, membuat otak Prima berfikir keras untuk menemukan jawaban yang tidak membahayakannya.
“Kenapa harus ngundang mantan? Gak ada kepentingan ngundang dia.” Jawab Prima yang sudah berkeringat dingin. Takut salah bicara.
“Tapi aku yakin aliva dan keluarganya udah di undang sama Papa. Kan Papa Aliva rekan bisnis Papamu. Jadi pasti mereka bakalan datang nanti.”
“Jadi maksud kamu tuh gimana? Kamu mau ngundang Aliva?”
“Kok aku, sih? Yang punya mantan kan kamu. Kenapa harus aku yang ngundang dia?”
“Gak usah bahas mantan. UdaH ku buang pada tempatnya. Hehehehhe.” Prima berusaha untuk mengalihkan suasana menyeramkan itu. untungnya berhasil. Kini Faya tidak lagi membahas perihal Aliva dan embel-embelnya.
Bahkan sampai mereka selesai membagikan undangan dan kembali ke apartemen, Faya tidak lagi membahas masalah itu.
Faya menghempaskan punggungnya di sofa apartemen Prima. ia memejamkan mata smeentara Prima pergi ke dapur dan mengambil air mineral untuk mereka. Setelah itu Prima ikut duduk di samping Faya.
Merasakan Prima yang duduk di sampingnya, Faya mengalihkan kepalanya dari sandaran sofa dan memindahkannya ke pundak Prima.
“Tidur aja kalau capek.” Ujar Prima. ia membelai pipi calon istrinya itu dengan lembut.
“Nanti aja tidur di rumah.”
“Kamu beneran gak mau liburan ke luar negeri, sayang?”
Prima bisa merasakan kepala Faya yang menggeleng di bahunya. “Enggak, Mas. Pengen sih. Tapi gak sekarang. Sekarang yang deket-deket aja dulu.”
“Keliling Pulau Jawa?”
Faya kembali menganggukkan kepala.
“Ya udah. Kemanapun kamu mau, aku turutin. Asal kamu senang.”
__ADS_1
“Yang penting kita nikmati waktu berdua kan? Gak terlalu penting dimana tempatnya. Yang penting di nikmati. Eksplore negara sendiri. Negara kita gak kalah cantik kok dari negara luar.”
Sepertinya istilah rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri itu tidak berlaku untuk Faya.
“Iya, sayang. Kemanapun kamu mau, aku turutin.”
“Makasih, Mas.”
“Sama-sama. Apa sih yang enggak buat kamu.”
Faya tersenyum senang sekali. Hatinya menghangat tiap kali mendengar Prima mengucapkan kata-kata manisnya. Terdengar seperti rayuan, tapi mendengarnya membuat hatinya berdebar-debar.
“Mas udah hafal belum kalimat kabulnya?”
“Udah dong. Udah di hafalin dari kemarin-kemarin. Jadi Mas Iwan kan yang jadi walinya?”
“Katanya sih iya. Lagian kan cuman dia satu-satunya keluargaku disini.”
“Memangnya gak ada satupun saudaramu yang ada disini?”
Suara Faya terdengar bergetar. Ada kesedihan disana.
Bagaimana tidak? Kini, Faya baru menyadari kalau ia benar-benar sendirian ternyata. Tidak ada teman, tidak ada saudara, tidak ada siapapun di sampingnya selain Iwan dan Harvey. Harvey saja baru bertemu baru-baru ini.
Entah mengapa menyadari hal itu membuat hati Faya terasa di iris. Menyadari kalau sejak awal ia memang hanya sendiri, membuat hatinya terasa seperti di tumbuk batu. Sesak dan menyakitkan. Hingga tanpa sadar airmatanya perlahan meleleh tanpa seijinnya.
Faya buru-buru menyeka airmatanya agar Prima tidak melihatnya. Namun terlambat, pria itu sudah lebih dulu melihatnya.
“Kamu kenapa nangis, Fay?” Prima jadi ikut cemas melihat mata Faya yang berair.
“Sekarang aku baru sadar, Mas. Kalau dari awal aku memang gak punya siapa-siapa. Aku cuma sendirian. Cuma punya Mas Iwan. Dulu aku gak pernah ngerasa sesesak ini. Tapi sekarang, pas sadar kok rasanya nyesek begini.” Faya terisak. Prima segera merengkuh kepala Faya ke dadanya. Tangannya mengelus belakang kepala untuk menenangkan calon istrinya itu.
“Udah, jangan nangis. Mulai sekarang, aku akan selalu ada buat kamu. Keluargaku juga. Mamaku, Papaku, Nenek, Kakek, bahkan Mbak Vita, mereka sekarang adalah keluargamu. Kami gak akan biarin kamu ngerasa kesepian dan sendiri lagi. Jadi tolong jangan nangis. Aku jadi ikut sedih ngelihatnya.”
“Ternyata aku semenyedihkan ini ya, Mas.”
__ADS_1
“Sssttttt. Jangan bilang gitu, dong. Ayo, buang jauh-jauh fikiran buruk itu. Buang semua hal menyedihkan yang pernah kamu alami.” Prima merenggangkan diri kemudian menangkup kedua pipi Faya. “Sekarang ada aku. Aku kan udah janji bakalan buat setiap waktumu jadi kebahagiaan. Percaya sama aku. Ya?” Prima mengusap pipi Faya bekas linangan airmata dengan jempol tangannya.
Netra milik keduanya saling bertumbuk. Dalam keadaan seperti ini, Faya bisa melihat tulusnya perasaan yang dimiliki oleh Prima untuknya. Ia bisa melihatnya dengan jelas. Bisa merasakannya dengan hatinya yang terus berdebar tak terkendali.
Kalau di fikir-fikir, hidupnya memang sudah pahit sejak awal. Jadi untuk apa ia baru menangisinya sekarang? Bahkan terlalu banyak rasa sakit dan keburukan yang mampir di hari-harinya. Dan ia bisa melewati semua itu tanpa mengeluh sedikitpun.
Sejak kepergian kedua orangtuanya, hifup Faya dan iwan jungkir balik tidak karuan. Mereka mengesampingkan interaksi sosial karna tidak punya waktu untuk itu. bahkan waktu untuk mencari sesuap nasi saja terasa masih belum cukup bagi mereka saat itu.
Sekarang, apa keadaan itu sudah benar-benar menghilang? Apa kesusahan itu sudah benar-benar pergi dari hidupnya? Prima berjanji akan membahagiakannya. Apa bahagia itu benar-benar akan hinggap di sisa waktu berharganya dalam mengarungi biduk rumah tangga bersama dengan Prima?
Entahlah, satu hal yang Faya yakin, kalau mulai sekarang ia sudah tidak sendirian lagi. Akan ada seorang pria bernama Prima Hebi Prianggoro yang akan selalu ada di sampingnya dalam keadaan apapun. Pria yang sudah berjanji akan membawakan kebahagian untuknya.
“Udah, jangan nangis terus. Jadi jelek kamu.” Ujar Prima yang masih terus berusaha membuat Faya berhenti menangis.
“Lihat ini, hidungnya jadi ngembang begini.” Prima menoel hidung Faya yang kembang kempis dengan jarinya.
“Ish.” Faya memasang wajah kesalnya. Namun kemudian ia tersenyum simpul.
“Ini air mata tolong jangan di kasih keluar lagi. Aku gak kuat ngelihatnya. Bisa gila nanti aku kalau sering lihat kamu nangis.” Prima masih terus berseloroh untuk mengalihkan kesedihan Faya.
“Jangan dong, Mas. Kalau kamu gila, terus aku gimana?” balas Faya.
Prima tersenyum mendengarnya. Kemudian ia kembali menarik tubuh Faya ke dalam pelukannya. Memeluk gadisnya itu dengan sangat erat.
Suasana hati Faya membaik berkat Prima. pria itu sangat tau dalam menempatkan diri. Setelah kesedihan Faya menguap, mereka kemudian memasak makan malam bersama. Menu sederhana saja, mie instan pakai telur dan sedikit sayuran di tambah dengan daging panggang persediaan di kulkas. Tapi itu berhasil membuat suasana hati Faya benar-benar membaik sepenuhnya. Kini keduanya sedang menikmati hasil masakan mereka di meja makan. Dengan di selingi canda tawa ringan yang membuat suasana berubah menjadi romantis.
pengumuman untuk seluruh warga kebun labu. yang mau kondangan besok kumpul di balai desa jam 9 pagi. jangan lupa pakek baju lebaran kemarin yaaa. gak usah bawa kado. kata prima dia gak nerima kado dari para warga kebun labu.
heheheh.
love
__ADS_1
PiEl