
Faya sudah sampai di lantai atas. Ia bisa melihat sebuah cafe outdoor yang ada di sana. Nampak indah dengan hiasan lampu-lampu kecil di sana. Di tambah dengan pemandangan yang terhampar di sektiranya. Pengunjungnya juga banyak ternyata.
Faya mengedarkan pandangan. Setelah menemukan Prima, ia segera menghampiri pria itu.
Prima duduk di dekat pembatas kaca. Sendirian. Saat Fayaberjalan mendekati, pria itu menatapnya dan mereka bertemu pandangan.
Deg.
Langkah kaki Faya terasa menjadi berat. Prima sedang menatapnya penuh amarah. Faya bisa merasakan hal itu. Dan seketika Faya menyadari kalau ia telah berbuat salah. Bosnya itu pasti kesal karna ia membuatnya menunggu.
Faya duduk sambil mengunci tangan di depan. Menundukkan wajahnya bersiap untuk menerima kemarahan Prima.
“Bukanya duduk. tunggu apa lagi?” dengus Prima kesal.
Tuh, kan.
“Ma-maaf, Pak.”
“Kamu gak tau kalau aku tuh udah nungguin kamu dari tadi?” kesal Prima. menatap tajam kepada Faya.
“Maaf, Pak. Tadi saya mandi dulu karna belum mandi.”
“Kita pulang dari tadi dan kamu belum mandi? Buruan duduk.”
Ternyata Prima benar-benar marah pada sekretarisnya itu. Ia tidak tau kalau setelah pulang dari Prambanan, Faya di sibukkan memikirkan sikap manisnya.
Mendapat repetan dari bosnya, Faya memilih untuk tidak banyak membantah. Ia hanya mengambil duduk tepat di depan Prima dengan wajah yang masih menunduk.
Prima mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Sejak tadi ia sudah memesankan makanan untuk ia dan Faya. Namun karna sekretarisnya itu belum datang, ia meminta untuk menunggu.
Seorang pelayan datang dengan membawa dua porsi steak dan langsung menghidangkan ke atas meja. Lengkap dengan minumannya. Setelahnya mereka makan tanpa bersuara.
Faya berfikir sepertinya Prima benar-benar marah padanya. Karna bahkan setelah makan pun, bosnya itu memilih diam tak bersuara.
“Pak, Bapak beneran marah sama saya?” akhirnya Faya memberanikan diri untuk bertanya. Sumpah, ia tidak tahan dengan kecanggungan yang ada di antara mereka.
“Menurut kamu?”
“Saya Cuma terlambat lima menit, Pak.”
“Lima menit? Jadi kamu anggap waktu 35 menit itu lima menit buatmu?” Prima semakin kesal.
__ADS_1
“Maaf, Pak.” Faya semakin menundukkan wajahnya. Ia takut saat Prima membelalakkan mata seperti itu.
“Hufh.”
“Tadi itu saya ketemu lagi sama Fajri, Pak. Waktu di l....”
“Hah? Kalian ketemu lagi?!” teriak Prima melotot kepada Faya.
“...ift.” Faya ternganga di ujung kalimatnya. Bola matanya membulat mendapati reaksi Prima yang membuatnya terkejut.
“Ngapai lagi ketemuan?”
“Bukan ketemuan, Pak. Gak sengaja ketemu pas di lift.”
Prima menyisir wajah Faya seolah mencari sebuah kebohongan dari sekretarisnya itu.
“Kamu mau balikan sama dia?” sargah Prima mengejutkan.
“Lhah? Cuma ketemuan kok di bilang mau balikan?” gumam Faya.
“Kamu bilang apa?”
“Eng-gak, Pak. Saya gak bilang apa-apa.”
“Besok pagi kita pulang.” Ujar Prima kembali.
“Besok, Pak? Bukannya masih ada jadwal Bapak disini?”
“Batalin semua. Aku udah gak mood kerja.”
Dan seketika Prima langsung bangun dari duduknya. Pergi dari cafe. Meninggalkan Faya yang hanya bisa terbengong-bengong sendiri.
“Dia cemburu? Gak mungkin. Tapi sikapnya itu kayak orang yang lagi cemburu.” Faya bergumam pada dirinya sendiri.
Sementara Prima langsung kembali ke dalam kamarnya.
Seperti ujarnya semalam, pagi ini, mereka akan bertolak kembali ke Jakarta. Sebelum pergi ke bandara, Prima memerintahkan kepada Faya untuk mampir ke rumah Om dan Tantenya terlebih dahulu. Biar bagaimanapun, ia harus pamit kepada mereka.
Ada kekesalan yang menyelinap ke dalam hati Faya. Padahal ia sudah bersemangat karna akan lama di Jogja dan ia akan puas berkeliling. Tapi nyatanya bosnya itu berubah moodnya tiba-tiba begitu. Menyebalkan.
Faya memarkirkan mobil di halaman rumah kediaman Ranu. Setelah mobil terparkir dengan sempurna, ia keluar dan berniat membukakan pintu untuk Prima. Namun pria itu ternyata sudah keluar lebih dulu.
__ADS_1
Inilah yang Faya herankan selama bekerja dengan Prima. Ia tidak pernah punya kesempaan untuk membukakan pintu saat bosnya itu keluar. Padahal ia sering melihat Ariga dan para sekretaris yang lain selalu membukakan pintu untuk atasan mereka. Tapi itu tidak bekerja untuk Prima dan Faya. Bosnya itu, selalu selangkah lebih dulu dan tidak sabar menunggunya.
“Lho, Mas Prima?” sebuah suara menyapa dari arah samping rumah. Nampak seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian santai sedang memegang ponsel di tangannya. Dia berjalan menghampiri Prima.
“Om sama Tante mana?”
“Di dalam, Mas. Masuk aja.” Jawab pemuda itu.
Pria itu menoleh kepada Faya dan melemparkan senyuman ramah. Faya membalasnya dengan anggukan dan senyuman yang tak kalah ramah juga.
Faya tau siapa itu. Itu adalah salah satu saudara kembar Wulan. Walaupun ia tidak tau entah itu Ibra atau Igo. Soalnya dia tidak bisa membedakannya karna mereka kembar identik. Menurut penglihatan Faya, samasekali tidak ada pembeda diantara keduanya.
“Kamu tunggu disini.” Ketus Prima memerintahkan Faya untuk menunggunya di luar. Sementara ia sendiri masuk ke dalam rumah itu untuk bertemu dengan Tante dan Om nya.
“Pagi, Om. Tante.” Sapa Prima langsung menghampiri Ranu dan Mia yang sedang berbincang di meja makan. Ia lantas menyalami mereka.
“Lho, kok udah ganteng. Mau kemana rencana hari ini?” tanya Ranu.
“Prima mau balik Jakarta pagi ini, Om. Ada kerjaan yang udah nunggu.” Jelas Prima yang bahkan tidak mengambil duduk terlebih dulu.
“Lha katanya seminggu disini. Ini kan baru beberapa hari.” Mia ikut menimpali.
“Lain kali Prima main ke sini lagi, Tan. Ya udah kalau gitu, Prima pamit ya, Om. Tan.”
“Hati-hati, Prim. Maaf kami gak bisa nganter ke bandara.”
“Gak apa-apa, Om. Pamit Om.”
“Ya.”
Prima lalu kembali keluar. Dia menghentikan langkahnya di depan pintu. Mengedarkan pandangan mencari Faya yang ternyata sedang bermain dengan kucing milik Wulan di samping mobil.
Faya segera berlari setelah melihat Prima berjalan ke arah mobil. Ia masih kalah cepat dengan pria itu yang sudah membuka pintu dan langsung masuk ke dalamnya. Dan ia memutuskan untuk langsung masuk dan duduk manis di balik kemudi. Kemudian melajukan mobil menuju ke bandara.
Sesampainya di bandara, Faya mengurus pengembalian mobil dan kemudian menyusul Prima yang sedang menunggunya di pintu masuk.
Ada yang aneh dengan Prima. Faya bisa merasakannya. Tapi entah apa.
Pria itu diam saja selama perjalanan mereka. Bahkan Prima nampak menyibukkan diri dengan tabletnya.
Faya tau kalau banyak sekali pekerjaan Prima yang menunggu untuk di selesaikan.
__ADS_1
Bahkan sampai di apartemen pun, Prima masih tak mau membuka mulut. Pria itu seperti sedang marah. Tapi Faya tidak tau apa yang membuat bosnya itu kesal seharian ini.
Faya menarikkan koper milik Prima dan langsung meletakkannya ke dalam rumah bosnya itu. Mengeluarkan dan merapikan barang-barang Prima kembali ke tempat semula. Pakaian kotor ia taruh di keranjang pakaian.