One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 54. Berdesir Tak Tahu Malu.


__ADS_3

Entahlah, rasanya aneh. Ada sebuah kenyamanan yang Faya rasakan saat berjalan di samping Prima. rasa nyaman yang memang sudah pernah ia rasakan sebelumnya karna 24 jam ia terus berada di samping Prima.


Tapi kali ini berbeda. Ada rasa hangat yang mengaliri pembuluh darah Faya. Rasa hangat itu bahkan membuat Faya tak tahu malu. Ia melirik Prima yang berjalan dengan pesona yang baru kali ini nampak di mata Faya.


“Ganti bajumu. Abis itu istirahat. Gak usah neko-neko lagi.” Pesan Prima saat mereka berpisah di depan apartemen. Prima masuk ke apartemenennya dan Faya juga masuk ke apartemennya.


Faya langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya sudah basah kuyup dan ia harus mandi lagi. Di sela mandi, ia teringat dengan tatapan hangat Prima. dan seketika, jantung Faya malah berdesir tak tahu malu.


“Ya ampun, kenapa aku?” gumam Faya pada dirinya sendiri.


Selesai mandi, Faya memilih duduk sambil menonton TV. Sampai tak lama kemudian, ia tertidur di sofa.


Rasa gatal di hidung membuat Faya terbangun.


“Hachih! Hachih!” Faya flu. Hidungnya mulai tersumbat dan kepalanya terasa pusing. Bola matanya juga hampir copot rasanya.


Faya bangun dan berjalan untuk mencari obat di kotak obat. Namun sialnya obatnya telah habis. Mau keluar beli, tapi hari sudah sangat malam. Dan di luar, masih hujan. Akhirnya, Faya memilih untuk pindah tidur di dalam kamar hingga menunggu pagi datang.


“Hachih!”


Pagi hari Faya di awali dengan bersin yang tak berkesudahan. Padahal ia hanya sebentar saja bermain hujan. Tapi kok jadi flu begini. Tubuhnya juga jadi berat dan kepalanya semakin pusing.


Ketukan di pintu rumahnya membuat Faya mau tidak mau terpaksa menyeret kakinya untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, nampak Prima yang sudah berdiri dengan bersaku tangan.


“Aku mau pulang ke rumah dulu.” Entah kenapa Prima pamit seperti itu. Padahal ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Biasanya, kalau ia mau pergi kemanapun, ya tinggal pergi. Bahkan tak jarang ia hanya mengirim pesan kepada Faya saja untuk memberitahu.


Kaki Prima yang sudah hendak pergi terhenti saat melihat wajah Faya yang nampak pucat dengan keringat yang mengucur di keningnya. Kelopak mata gadis itu nampak sayu menatap Prima.


“Kamu kenapa?” tanya Prima yang berubah mode khawatir.


“Gak apa-apa, Pak. Cuma meriang sedikit.” Jawab Faya. Padahal, ia merasa kalau kepalanya sudah hampir pecah.


Prima mengangguk sedikit dengan tatapan yang tak lepas dari Faya. Bahkan saat gadis itu menutup pelan pintu rumahnya, Prima masih tetap berdiri di tempatnya. Sampai,...


Brukk!!!

__ADS_1


Prang!!!


Terdengar suara benda terjatuh dari dalam rumah Faya. Dan Prima yang mendengar itu langsung panik dan menekan tombol kunci. Dia langsung masuk dan mendapati Faya yang sudah terkapar di dekat pintu dengan pot bunga yang sudah jatuh dan pecah sampai tanahnya berhamburan kemana-mana.


“Faya!” pekik Prima. ia langsung menghampiri Faya dan membopongnya masuk ke dalam kamar. Membaringkan gadis itu ke ranjang dan menyelimutinya.


Prima menyentuhkan tangannya di kening Faya yang terasa sangat panas. Kemudian, is segera menelfon seseorang dan menyuruhnya untuk datang.


20 menit kemuidan, seorang dokter kenalan Prima tiba dan langsung di suruh untuk memeriksa Faya. Dokter pria itu juga memasangkan infus di lengan Faya.


“Gimana?”


“Tunggu aja sampai demamnya turun. Kalau dia udah bangun, suruh minum obat ini. Tapi suruh dia makan dulu. Kayaknya dia dari kemarin belum makan itu.” Jelas dokter itu.


Prima mengangguk dengan seksama. “Oke. Makasih, Romi.” Ujarnya.


“Ya udah, kalau gitu, aku balik dulu. Jagain betul-betul. Kalau sampai sore demamnya gak turun, bawa aja ke rumah sakit.”


Prima kembali mengangguk. Ia mengantarkan dokter Romi sampai depan pintu. Kemudian ia kembali ke kamar Faya. Entah kenapa, melihat Faya terbaring lemah seperti itu  membuat hati Prima sakit. Ia tdak tega. Faya yang biasanya ceria dan cerewet padanya, kini harus terbaring lemah di ranjangnya.


Pria berjongkok di sisi ranjang Faya. Menatapi wajah gadis yang sudah mengisi hatinya itu dengan tatapan dalam. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Faya ke belakang telinga.


Tiba-tiba, sebongkah rasa bersalah menelusupi hatinya. Dia merasa bersalah karna sesuatu yang ia simpan. Yang itu menyangkut tentang Faya juga.


“Hemmmmh.” Prima menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya. Perlahan, membelai lembut wajah Faya dengan tangannya. Sungguh, Prima sangat tidak ingin melewati batasan antara dirinya dan juga Faya. Karna ia tau, kalau ia melewati batasan itu, itu akan membuat posisi Faya menjadi sulit.


Prima bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur. Ia membuatkan bubur nasi untuk Faya dengan bermodalkan tutorial dari yutup. Setelah selesai, ia membawa bubur itu ke dalam kamar Faya.


Prima kembali menempelkan tangannya di kening Faya. Demamnya sudah sedikit berkurang.


Mendapat gangguang, perlahan Faya membuka matanya. Samar ia melihat Prima yang berdiri di sampingnya.


“Udah bangun?” tanya Prima.


“Pak Prima kok disini?” tanya Faya heran. Karna seingatnya, Prima sudah pergi ke rumah kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Bangun dulu. Makan ini. Aku udah buatin bubur.” Prima mengambil mangkuk bubur dari atas nakas dan memberikannya kepada Faya.


“Bapak yang buat ini?” kerling Faya tak percaya. Rasanya ia ingin tertawa.


“Kamu itu kalau lagi malas masak, kan bisa pesen makan dari luar. Bukan malah gak makan sama sekali.” Prima mengomel. Ia memberikan sendok kepada Faya.


Mendengar omelan Prima, Faya jadi teringat kalau sejak kemarin sore ia memang tidak makan sama sekali. Fikirannya terlalu kacau untuk sekedar mengingat makan.


Faya melirik selang infus yang tertancap di lengannya. Baru saja ia membuka mulut hendak bertanya lebih lanjut kepada Prima, tapi pria itu itu sudah lebih dulu memotongnya.


“Iya. Aku yang panggil Romi kesini buat rawat kamu. Udah gak usah banyak tanya. Buruan makan. Biar sembuh. Kalau gak aku potong gajimu.”


Ish!


Padahal, bukan itu yang ingin di katakan oleh Prima. kenapa malah kalimat itu yang keluar? Dia pun tidak mengerti.


“Pak, saya sakit lho, Pak. Bukannya di semangatin biar cepet sembuh, malah di takut-takutin.” Dengus Faya kesal. Ia mulai menyendokkan bubur buatan Prima ke dalam mulut.


Faya menghentikan mengunyah bubur itu di dalam mulutnya. Membuat Prima semakin penasaran saja bagaimana rasanya. Apa tidak enak? Kenapa ekspresi Faya seperti itu?


“Gak enak? Kalau gak enak gak usah di makan. Biar aku pesenkan di luar sebentar.” Ujar Prima yang sudah merasa rendah diri akibat ekspresi Faya.


“Hehehehehe. Enak kok, Pak.”


Prima lega mendengarnya. Setengah tak yakin juga. Karna memang dia tidak mencicipinya tadi.


“Beneran enak? Gak usah di paksa kalau gak enak.”


“Enak, Pak. Beneran. Yaa walaupun masih kalah sih sama buburnya Bang Idun. Hehehehe.”


“Ck. Kamu ini.”


Samar terbitlah senyuman Prima di bibir padatnya itu.


__ADS_1



sabar gesssss... jangan misuh-misuh aja. inget, lagi puasa. hehehe.


__ADS_2