One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 122. Memaafkan Itu Membuat Hati Tenang.


__ADS_3

Kalau memaafkan lebih membuat hati tenang, kenapa harus memilih untuk mendendam?


Ya, Faya telah memang atas dirinya sendiri ketika ia mengatkan telah memaafkan Soraya. Memang kalau di ingat, rasa sakit yang di berikan Soraya sangatlah besar dan berdampak pada dirinya. Hatinya menjadi porak-poranda tidak karuan. Itu semua karna ia terlalu mempercayai Soraya. Dan memberikan ketulusan untuk pertemanan mereka.


“Kamu  beneran udah maafin aku, Fay?” Soraya nampak sangat senang. Ia segera menyeka sisa airmatanya. Ia sudah berhenti  menangis sejak mendengar kata maaf dari Faya tadi. Ia tidak menyangka kalau akhirnya Faya mau memaafkannya. Sungguh ini di luar perkiraannya. Ya walaupun ia memang sangat berharap kalau Faya akan memaafkannya.


“Iya, Mbak. aku udah maafin Mbak Sora, kok. Itu semua kan udah jadi masa lalu. Masa lalu yang bisa kita jadikan pelajaran berharga untuk hidup ke depannya. Semoga dengan masalah ini, hati kita jadi lebih kuat. Jadi lebih hati-hati dalam bersikap. Jangan sampai tindakan kita nyakitin orang lain lagi.”


Soraya segera menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Faya.


“Iya, aku ngerti, Fay. Kali ini aku bener-bener dapat pelajaran berharga. Aku ngatain kamu yang bukan-bukan. Tapi malah aku sendiri yang gak bisa nahan nafsu sampai jadi begini. Makasih banyak udah mau maafin aku, Fay. Makasih banyak. Sekarang aku bisa tidur nyenyak. Jujur, selama ini aku selalu ngerasa bersalah sama kamu. Sekali lagi makasih banyak, Fay.”


Faya hanya mengangguk saja. Ia kembali melemparkan pandangannya ke sungai. Hatinya kini jadi lebih ringan dan lega. Benar-benar sudah tidak ada lagi beban yang terasa.


Inilah indahnya memaafkan. Bukan hanya membuat orang yang bersalah kepada kita menjadi lega. Kita juga akan menjadi lega. Karna mendendam itu membuat hati kita sesak.


Tanpa keduanya sadari, Prima yang sudah kembali sejak tadi dan berdiri tidak jauh di belakang mereka, ikut tersenyum melihatnya. Ia benar-benar bangga dengan Faya. bangga dengan dirinya sendiri karna mempunyai istri yang berhati besar.


Tadinya ia segera berlari ketika melihat Soraya terlibat pembicaraan dengan istrinya. Ia takut jika mereka akan kembali beradu atau bahkan sampai bergulat di tempat ramai ini. Tapi setelah dekat ia berhenti dan memutuskan untuk mendengarkannya dulu. Dan ternyata, ia salah menduga. Hatinya lega melihat mereka sudah saling memaafkan.


“Kita masih bisa temenan lagi kan, Fay?” satu kalimat pertanyaan itu membuat Faya menoleh kepada Soraya.


Faya terdiam sesaat kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Soraya kembali menangis haru. Ia bahagia karna kini ia dan Faya bisa berteman kembali.


“Jadi Mbak Sora sekarang tinggal disini?” Faya mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


“Iya. Aku sekarang tinggal sama nenekku yang memang asli orang sini. Ini aku lagi nganter keponakan yang pengen jalan-jalan disini.” Jelas Soraya.


Faya mengangguk mengerti.


“Aku udah lihat kamu sama Pak Prima sejak pas kalian turun dari campervan. Tapi aku gak berani nyamperin karna masih ada Pak Prima. Aku takut dimarahi lagi.”


“Emangnya aku senyeremin itu ya kalau marah?” suara Prima membuat dua wanita itu langsung menoleh ke belakang.


“Mas?”


“P-Pak Prima?” Soraya jadi gugup lagi. Bukan apa, dia malu setelah semua orang tau kalau ia pernah punya rasa kepada pria itu. dan pria itu pasti  juga sudah tau. Bagaimana dia tidak malu?


“Gimana kabarnya, Sora?” tanya Prima ramah seperti biasanya. Seperti tidak pernah ada masalah diantara mereka.


“B-baik Pak. Selamat atas pernikahannya ya, pak.” Soraya masih nampak canggung.


Faya menerima kemudian membaginya dengan Soraya.


Jujur, ia juga merasa senang karna kini ia punya  teman kembali. Padahal dulu ia, Soraya, dan juga harvey sangat dekat dan sering berjalan-jalan bersama. Menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang. Dengan masalah yang terjadi, seketika membuat semuanya hancur dan merenggang.


Untuk beberapa lamanya mereka bertiga mengobrol ringan. Prima benar-benar memperlakukan Sora seperti tidak pernah ada masalah. Sehingga membuat wanita itu perlahan merasa nyaman dan sesekali tersenyum.


Sampai tiba waktunya bagi Soraya untuk pamit karna waktu sudah beranjak malam.


Kini, tinggallah Prima dan Faya yang duduk berdampingan. Menatap riak air sungai yang bergelombang. Faya menyandarkan kepalanya di dada suaminya sementara Prima merangkum pundaknya. Terlihat sangat mesra.

__ADS_1


“Kamu hebat, sayang. Aku bener-bener bangga banget sama kamu. Aku ngerasa beruntung banget bisa jatuh cinta sama kamu. Kamu istri yang hebat. Sangat hebat. Kamu luar biasa.” Desis Prima terus mengumandangkan pujian untuk wanitanya itu.


“Aku gak sehebat itu, mas. Aku Cuma gak mau terus-terusan mendam dendam. Itu buat aku gak tenang dan kefikiran. Aku mau hidupku itu tenang-tenang aja. Supaya aku bisa fokus sama kamu. Sama pernikahan kita.”


“Itulah yang buat kamu jadi luar biasa. Aku tau sesulit apa buat maafin orang yangudah nyakitin kita. Apalagi dalam satu waktu, ada dua orang yang nyakitin kamu. Aku, dan Soraya. Maaf ya sayang, aku pernah nyakitin kamu waktu itu. Kedepannya, aku gak akan pernah ngulangin kesalahan yang sama lagi.” Janji Prima.


“Udah lah, Mas. Aku kan udah jadi istri kamu. Kamu itu udah lama ku maafin. Kalau enggak, gak mungkin aku mau nikah sama kamu. Hehehehehhe.”


“Tetep aja. Pokoknya intinya aku ngerasa bersyukur banget. Aku sayang banget sama kamu, Fay.  Tetep jadi hebat kayak gini ya. Walaupun nanti sudah ada anak-anak kita, aku mau kamu tetep jadi wanita luar biasa kayak sekarang.”


Nah, pembahasan sudah menjurus ke hal ‘anak’. Sepertinya itu adalah kode untuk Faya. memang, Prima ini selalu bisa memanfaatkan waktu untuk melancarkan rayuannya. Licik sekali. Hahaha.


“Tuh kan. Bahasannya jadi nyerempet-nyerempet kesana. Dasar kamu, Mas.” Faya pura-pura mendengus kesal pada Prima. Ia bahkan memukul pelan dada suaminya itu. Tapi, ia justru mendapat balasan kecupan lembut di kepalanya. Lembut dan hangat. Kehangatan yang mampu mengaliri setiap pembuluh darahnya.


“Malam ini, kita nginep di hotel mau, gak?”


“Terserah mas aja. aku nurut. Biar aku pesenin hotel dulu.” Ternyata kebiasaan ‘sekretaris’ Faya masih belum bisa hilang sepenuhnya.


Dan, malam ini, keduanya memutuskan untuk menginap di hotel saja. Agar suasana menjadi lebih nyaman untuk.........


Haha.



__ADS_1


harap maklum ya warga. ini otor lagi mabuk jadi updatenya gak kira-kira. hahahahahahahahahaha.


__ADS_2