
Sementara Rudi sudah menggeliat kesakitan sambil memegangi area pinggangnya dan berusaha untuk bangun dengan di bantu oleh Aliva.
“Sia lan! Siapa kamu berani ikut campur, hah?!” Rudi melotot ke arah Faya. Bukannya takut, Faya malah hendak kembali maju dengan tatapan menantang dan membusungkan dada serta berkacak pinggang.
“Wo, wo, wo, wo. Fay, udah. Tenang.” Prima bergegas mencegah sekretarisnya dengan melingkarkan kedua tangannya di perut gadis itu.
Sementara Faya tidak peduli kalau ia sudah di peluk dari belakang oleh Prima dan tetap berusaha merangsek maju untuk memberi pelajaran tambahan kepada Rudi. Ia menunju-ninju udara di hadapannya berharap tinjunya mengenai wajah Rudi.
“Faya! Udah!” bentak Prima kemudian. Barulah Faya sadar kemudian mulai kembali tenang. Ia melihat ke sekiling yang ternyata sedang memperhatikan dirinya.
Prima segera menarik tangan Faya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Setelah itu iapun kembali duduk di balik kemudi dan langsung melajukan mobil meninggalkan tempat kejadian perkara.
Di dalam mobil, Faya memilih untuk diam karna merasakan atmosfer di dalam mobil begitu berbeda. Bahkan ia tidak berani untuk sekedar melirik kepada Prima yang fokus mengemudikan mobil.
“Hahahahahahahahahahahahahaha!!!!!” tiba-tiba Prima tertawa sampai suaranya menggelegar di dalam mobil. Membuat Faya terkejut setengah mati. Ia langsung menoleh kepada bosnya itu dengan kening yang mengernyit ngeri.
Bagaimana tidak. Sudah dua menit berlalu namun Prima tetap tertawa seperti kuntil anak yang sedang berayun di pohon mangga pinggir sungai angker. Mengerikan.
“Bapak kesurupan apa?” tanya Faya terus terang. Jujur, sangat ngeri membayangkan jika Prima sampai kesurupan saat sedang mengemudikan mobil seperti itu. Bisa membahayakan mereka berdua. Faya belum mau mati muda saat dia bahkan belum menemukan jodohnya.
“Kamu ini bener-bener di luar galaksi. Ya ampun. Gak terduga. Tapi makasih banyak udah mewakili kekesalanku. Hahahahhahaa.” Dan Prima melanjutkan tertawanya kembali.
“Pak, udah, dong. Jangan ketawa aja. Ngeri saya.” Jujur Faya.
Dan kalimat itu bukannya membuat Prima berhenti tertawa, malah semakin tertawa. Faya mengerutkan tubuhnya di pojokan kursi hingga menempel sempurna di pintu mobil. Menatap ngeri kepada Prima yang masih tak mau berhenti tertawa.
Oke. Sejak malam ini, Prima memutuskan untuk tak lagi mengerjai Faya. Bukan apa. Ia tidak ingin menjadi sasaran bantingan Faya selanjutnya. Kalau Faya ngeri dengan tertawanya Prima, pria itu justru ngeri dengan bantingan dari Faya. Apalagi sampai terdengar gemeretuk suara tulang. Hiiiiii.
Sampai di rumah, Faya langsung masuk begitu pintu apartemen Prima tertutup. Ia duduk di tepi ranjang dengan masih merasakan suasana horor yang mengitarinya. Sampai sekarang Faya masih mencari apa yang lucu sampai Prima tak berhenti tertawa seperti itu?
Ke esokan harinya, Faya bekerja seperti biasa. Mengatur jadwal Prima. Dan mengurusi kegiatan bosnya itu. Ia
berusaha melupakan penyebab tawa Prima semalam. Karna merasa tidak penting juga untuk di fikirkan.
“Faya?” suara Ariga mengejutkan Faya yang tengah fokus di layar komputer.
“Oh, iya, Pak Ariga?”
__ADS_1
“Malam ini apa kamu ada waktu luang?”
Faya nampak berfikir. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Gak ada, Pak.”
“Bagus. Nanti malam temani saya pergi.”
“Kemana, Pak?”
“Nanti kamu juga tau.”
“Baik, Pak.” Ujar Faya setelah beberapa saat menimbang.
Setelah Ariga pergi. Telfon berdering. Prima menyuruh Faya agar ke ruangannya.
“Bapak panggil saya?” tanya Faya begitu tiba di depan meja Prima.
“Apa kamu udah belajar nyetir mobil?”
“Belum, Pak.”
‘Saya gak punya uang, Pak!’ ingin sekali Faya berteriak begitu. Namun yang terjadi dia malah menganggukkan kepalanya dengan diam. Tak berani membantah.
“Apa jadwal saya sore ini?”
“Melihat proses syuting iklan di studio.”
“Oke, kita berangkat sekarang aja. Kalau nanti aku keburu malas.” Sambil berkata begitu, Prima sambil berdiri dan lagi-lagi ngeloyor begitu saja. Membuat Faya gelagapan dan langsung mengikutinya.
Dan lagi, sepanjang perjalanan Prima terus mendengus karna merasa dia menjadi supir untuk sekretarisnya sendiri. bukan dia yang harusnya duduk manis, ini malah Faya. Tentu saja ia kesal.
“Pokoknya aku gak mau tau ya, Faya. Minggu depan kamu udah harus bisa nyetir mobil. Kalau gak aku pecat kamu.” Akhirnya Prima mengeluarkan ancamannya. Dan itu berhasil membuat Faya bergidik takut.
Tapi kembali ke permasalahan awal, ia tidak punya uang untuk biaya les mengemudi. Kan dia belum gajian karna baru seminggu bekerja. Otak Faya otomatis berputar keras mencari solusi. Ia tidak mau di pecat bahkan sebelum mencicipi gaji pertamanya.
Ya ampun, bekerja di bawah Prima merupakan sebuah tekanan besar. Wajar saja jika ia di iming-imingi bayaran yang sangat tinggi oleh Ariga.
__ADS_1
Sesampainya di studio tempat dilakukannya syuting iklan, beberapa staf segera menyambut kedatangan Prima. Mereka mengangguk hormat kepada pria itu.
Pukul 5 sore, kegiatan syuting telah selesai di lakukan. Dari sini, tinggal bagian editing yang harus bekerja keras menyempurnakan iklan itu.
Faya sedang memantau keadaan sekitar sementara Prima pergi ke kamar mandi.
“Fay? Faya?” tanya seorang pria yang Faya tau pria itu adalah aktor tampan yang membintangi iklan itu. “Kamu Faya, kan?” pria itu mendekati Faya.
Faya mengernyit. Tidak merasa kenal dengan si aktor. Tapi kenapa dia kenal dengan Faya?
“Kamu kenal sama aku?” selidik Faya.
“Ya ampun. Ternyata kamu beneran Faya. Ini aku, Harvey. Jangan bilang kamu udah lupa sama aku?” pria tampan berwajah blasteran itu mengernyit. Menunjukkan wajah kecewa kepada Faya.
Sementara Faya berusaha mengingat-ingat siapa Harvey.
“Harvey? Harv?!” wajah Faya berubah antusias. Tidak menyangka ia akan bertemu dengan teman masa SMP-nya yang ternyata merupakan seorang aktor pendatang baru yang sedang naik daun.
“Senang kamu masih inget aku.” Ujar Harvey tak kalah senang.
“Ya ampun, Harv. Kamu banyak berubah. Aku sampai gak ngenalin kamu. Tambah ganteng.”
“Hehehehehehe. Bukannya memang dari dulu aku ganteng, ya?”
Faya sontak menggelengkan kepala.
“Pe-De. Dulu itu kamu item, dekil. Kok sekarang berubah jadi glowing begini? Makan apa kamu di Spanyol? Ya ampun...” Faya tak henti-hentinya memuji ketampanan teman yang sudah sangat lama tidak bertemu itu.
Saat kelas dua SMP, Harvey yang memang keturunan Indo-Spanyol keluar dari sekolah dan pindah ke Spanyol mengikuti ayahnya yang kembali kenegaranya karna kontrak kerjanya di kedutaan telah selesai. Sejak saat itu, Faya tak lagi berhubungan dengan Harvey.
Siapa sangka artis tampan itu ternyata adalah Harvey? Maklumlah, Faya tidak hobi menonton TV apalagi acara infotainment yang menurut Faya tidak berfaedah itu.
Bagi Faya, hal yang sama sekali tidak berguna adalah mengkhawatirkan kehidupan artis. Maka dari itu dia tidak pernah mengikuti perkembangan keartisan di Ibukota. Tapi sepertinya, pandangannya itu akan sedIkit berubah setelah masuknya Harvey ke dalam kehidupannya.
__ADS_1
yang gak mau di banting Faya, cepetan komen, like, vote, hadiah, sama rate bintang 5 yaaaaa... jangan sampai faya ngelampiasin kekesalannya sama kalian. hahahahahaha.