
“Ada apa?” Tanya salah seorang pengunjung.
“Hei, Mas. Apa kamu sudah gak memerlukan tanganmu itu lagi?” Tanya Faya kepada pria yang ia banting. Melihat marah kepadanya.
Pria berambut belah tengah itu meringis menahan sakit di pinggang dan punggungnya. Menatap ngeri kepada Faya yang berdiri di sampingnya.
“Kalau kamu masih mau punya tangan, harap mempergunakannya untuk hal-hal yang baik. Bukan untuk meraba-raba pan tat perempuan.” Dengus Faya.
Seketika pandangan yang mengarah padanya beralih kepada pria itu.
Pria itu nampak tidak terima di tuduh Faya. Ia berdiri dengan susah payah dan berkacak pinggang. Menantang kepada Faya.
“Enak aja bicaramu. Aku bakalan nuntut kamu karna udah melakukan kekerasan sama aku.” Ancam pria itu tak mau kalah.
“Silahkan.” Tanting Faya kembali. Ia menunjuk ke arah CCTV tanpa mengalihkan tatapan marahnya kepada si pria.
Pria itu mengikuti arah tunjuk Faya. Wajahnya jadi pucat pasi melihat apa yang baru saja ia lakukan terekam CCTV.
“Ayo, kalau mau lapor-laporan. Kita lihat siapa yang menang.” Faya terus melancarkan serangannya. Enak saja dia di ancam-ancam begitu. Sudah jelas pria itu yang salah.
“Mbak, tenang dulu, Mbak. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Secara kekeluargaan.” Ujar pria yang kemudian melunak kepada Faya itu.
“Kekeluargaan? Sejak kapan kita keluarga? Enak aja. Apa sama keluargamu juga kamu demen pegang-pegang pan tat begitu?” Degus Faya. Mampus sana. Ia sudah mengeluarkan tanduknya. Ia lupa kalau diantara para pengunjung yang menatap ngeri padanya, ada Prima yang melihat dengan tatapan yang sama.
“Enggak, bukan. Bukan begitu. Saya minta maaf. Saya gak sengaja.” Pria itu nampak sangat ketakutan.
Perminta maafan dari pria itu justru semakin menyudutkannya. Itu sama saja dengan ia telah mengakui hal memalukan itu. Melecehkan perempuan di depan umum. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasannya. Dan kali ini, ia bertemu dengan mangsa yang salah. Mampus kan di banting.
“Jangan mau maafin, Mbak. Laporin aja ke polisi. Nanti biar kami yang mengurusnya.” Ujar manajer restoran wanita yang juga ada di sana.
Wajah pria itu semakin mengerut pucat. Takut berurusan dengan hukum. Makanya, punya tangan di jaga. (kok jadi otor yang kesel ini?)
“Iya, Mbak. Saya juga gak berniat buat maafin orang-orang sampah macam begini.”
__ADS_1
Setelah di sepakati, kalau pihak restoran yang akan membantu Faya untuk mengurus laporan ke polisi, akhirnya pria itu berjalan terhuyung meninggalkan restoran dengan membawa setumpuk rasa malu yang menggelayutinya.
“Oh.” Lirih Faya saat pandangannya bertemu dnegan Prima. Pria itu masih konsisten menatap ngeri kepada Faya.
Sempat terlintas di fikiran Prima, kalau dia tidak jadi saja lah, melanjutkan untuk mengerjai Faya. Ia takut di banting lagi.
“Maaf, Pak.” Faya maju dan mendekat kepada Prima dengan tiba-tiba. Sontak saja Prima langsung terkejut dan mundur otomatis. Entah kenapa ia merasa kalau Faya akan membantingnya lagi.
Faya melihat raut ketakutan di wajah Prima. Membuat Faya heran. Apa Prima takut padanya?
“Bapak kenapa? Kok mukanya pucet banget gitu?” Tanya Faya. Ia kembali maju mendekati Prima.
“Jangan deket-deket.” Gidik Prima.
“Bapak duduk aja disitu. Biar saya yang bawakan makanan Bapak.”
Prima menurut seperti kerbau di cucuk hidungnya. Ia menurut dengan arahan Faya. Berjalan dan duduk manis di kursi yang di tunjuk oleh Faya.
Sikap aneh Prima itu membuat Faya merasa di atas angin. Entah kenapa, perasaannya seperti ia sudah berhasil menundukkan Prima. Rasanya luar biasa. Lucu dan, senang.
Ah, sepertinya kali ini Ariga akan tersenyum penuh kemenangan. Kalau tau dia punya sedikit, ya, hanya sedikiiiiiittttt rasa takut kepada sekretaris barunya itu, Ariga pasti akan tertawa terbahak-bahak.
Karna selama ini, Ariga di buat pusing dengan terlalu seringnya Prima membuat sekretarisnya berhenti.
Faya berjalan ke meja Prima dan meletakkan pesanan Prima di depan pria itu. Kemudian, ia berjalan menuju ke meja lain yang kosong. Ia segan makan bersama dengan Prima. Jadi ia memilih untuk makan sendiri.
Faya berfikir, ia harus segera menyelesaikan makannya kalau tidak mau Prima meninggalkannya. Demi sopan santun, ia harus selesai lebih dulu dari Prima.
Selesai makan, mereka kembali ke kantor.
Sesore ini, Faya menemani Prima meeting penting. Membahas masalah iklan produk perbankan baru yang akan di luncurkan. Mereka meeting dengan produser iklan yang memang sudah bekerja sama dengan FD Corp sejak lama.
Satu jam pembahasan, mereka sampai pada pemilihan aktor pemeran. Di layar, sedang di tampilkan beberapa aktor yang cocok. Prima meneliti setiap artis-artis itu. Membayangkan dalam kepalanya, mana yang paling cocok untuk produknya. Dan akhirnya terpilihlah seorang konten kreator yang sedang naik daun.
__ADS_1
Faya fokus mengikuti rapat. Ia tau ini adalah salah satu tugasnya. Karna memang dia sama sekali tidak berpengalaman menjadi sekretaris. Jadi, untuk beberapa waktu ini, dia akan memfokuskan diri untuk mempelajari apa-apa yang harus dia lakukan. Tentu saja di samping itu ia harus menguatkan diri untuk menebalkan kesabarannya menghadapi Prima.
Pukul setengah lima sore, rapat baru selesai. Ia mengikuti Prima keluar dari ruang rapat. Sambil berjalan, ia membaca jadwal Prima yang baru saja di serahkan oleh Ariga tadi pagi.
“Apa jadwalku selanjutnya?”
“Gak ada, Pak.”
Prima berhenti mendadak. Untung saja Faya tidak menabrak punggungnya. Setengah langkah di belakang Prima, Faya berhasil mengerem kakinya.
“Beneran gak ada?” Heran Prima. Ia berbalik menatap kepada Faya dengan alis yang bertaut.
“Iya, Pak. Gak ada. Apa Bapak mau langsung pulang?”
Prima diam. Ia kembali membalikkan badan dan berjalan ke ruangannya. Sementara Faya kembali ke kursinya.
Faya merasa, entah kenapa sikap Prima berubah 180 derajat padanya. Bosnya itu seperti takut padanya. Kenapa? Apa karna kejadian di restoran tadi? Tidak mungkin. Masak hanya dengan kejadian begitu Prima sampai takut padanya. Mustahil. Mengingat beberapa kejadian yang Faya alami akibat perbuatan pria itu. Tidak mungkin Prima akan takut padanya.
Pukul setengah 6, Prima keluar dari ruangannya. Melihat itu, Faya langsung berdiri dari duduknya. Bersiap menerima perintah.
“Bapak perlu apa?”
“Aku mau pulang.” Jawab Prima singkat. Dia terus ngeloyor pergi begitu saja. Setelah beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik.
“Kamu.”
“Iya, Pak? Ada apa?”
“Usahakan belajar mobil. Soalnya mobilku gak bisa pakai supir karna cuma muat buat dua orang. Jadi kamu harus bisa nyupir pas aku butuh di anterin.” Tegas Prima.
Pria itu tidak menunggu jawaban Faya. Ia langsung menghilang di balik pintu. Meninggalkan Faya yang kini merasa pusing tujuh keliling. Belajar mengemudi? Okelah. Masalahnya, ia tidak punya uang untuk membayar jasa itu. Astaga.
__ADS_1
gak bosan-bosan aku ngingetin kalian wahai para reader yang budiman. tolong jejaknya. setidaknya aku tau mana yang setia nyedekahin jempol buat aku. hahahahahaha.