
Fajri.
Adalah mantan kekasih Faya ketika berkuliah dulu. Pria itu adalah kakak kelasnya. Mereka menjalin hubungan cukup lama. Hampir tiga tahun lamanya. Namun hubungan mereka pupus setelah Fajri menghilang begitu saja setelah wisuda. Tanpa kabar dan berita. Pria itu bahkan tidak pamit kepada Faya.
Setelah berpisah dari Fajri, Faya memilih untuk memvakumkan hatinya dan fokus bekerja untuk menyambung hidup. Cukup lama ia berkubang dalam luka itu. Namun waktu berbaik hati membantunya melupakan Fajri.
Kesadaran Faya kembali setelah beberapa detik mematung. Hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Prima. Ia menelusuri arah pandang Faya yang tertuju kepada pria di sampingnya. Prima menyimpulkan kalau mereka pasti saling mengenal.
Faya kemudian masuk ke dalam dan berdiri di belakang Prima. Diam tak bergeming.
“Hai, Fay.” Sapa Fajri pelan.
Faya diam saja. Malas menanggapi. Bertemu Fajri seolah luka lama itu kembali terbuka.
“Apa kabar?” ramah Fajri yang sepertinya tidak membaca situasi.
“Baik.” Faya menjawab singkat tanpa menoleh kepada mantan kekasihnya itu.
“Kamu kerja disini?” selidik Fajri lagi.
“Enggak. Aku Cuma nginep disini.”
“Wuiih. Udah bisa nginep di hotel, kamu? Udah punya uang?”
Deg.
Apa maksud pria itu berkata menyinggung begitu?
Untungnya Faya masih bisa menahan diri untuk tak terpancing.
“apa, jangan-jangan kamu kesini sama sugar daddy? Hehehehehe.”
Mungkin niat Fajri bercanda. Tapi itu melukai harga diri Faya.
“Tolong dijaga omongannya.” Faya berubah ketus. Menatap marah kepada Fajri.
“Waduh. Marah, nih. Kamu udah banyak berubah ya, Fay. Dulu kamu gak sesewot ini.”
“Jangan merasa seolah kamu paling tau tentang aku.”
“Aku tau banyak tentang kamu. Fay. Kita pacaran gak sebentar.”
__ADS_1
“Bisa diem, gak?” nada ancaman itu keluar juga. Faya menatap semakin nyalang kepada Fajri.
Sementara satu pria lain yang juga sedang ada bersama mereka, nampak menggeretakkan giginya kesal. Kedua tangannya yang tersimpan di dalam saku celana menggenggam dengan kuat seolah sedang mere mas sesuatu. Entah kenapa Prima menjadi kesal setelah mendengar perbincangan mereka. Ada yang terbakar di hatinya.
Setelah pintu lift terbuka, Faya ikut keluar dan berjalan di belakang Prima. bahkan Fajri mengikuti mereka dan berusaha mensejajarkan langkah dengan Faya. Tak merasa kalau kehadirannya sama sekali tak di inginkan.
“Ngobrol dulu yuk, Fay. Kan udah lama gak ketemu.”
Seketika Faya menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap kepada Fajri yang sedang tersenyum dengan lebarnya.
“Memangnya kalau udah lama gak ketemu itu, terus ada yang perlu di obrolin, gitu? Aku rasa nggak.”
“Kok marah? Kenapa? Kamu masih berharap sama aku, ya?” pede sekali Fajri ini.
“Pe De.”
“Fay! Cepetan!” teriak Prima dari samping mobilnya. Menatap kesal kepada Faya yang ternyata sedang asyik megobrol dengan pria itu.
“Ooh, apa itu sugar daddymu, Fay? Kok masih muda? Atau jangan-jangan dia yang nyewa kamu? Ya ampun, Fay. Miskin sih boleh. Tapi bodoh jangan. Pakai jual diri pula.”
Awalnya Faya tak menggubris walaupun hatinya tersinggung luar biasa. Jadi ia memutuskan untuk pergi saja dari hadapan pria bang sat itu.
Sungguh, ucapan Fajri terlalu tajam terdengar. Praduga yang keterlaluan. Sudah, Faya tidak bisa lagi menahan diri. Apalagi ucapan Fajri itu tentu saja terdengar oleh Prima yang nampak memicingkan kening melihat tajam kepada Faya. Seolah sedang melucuti harga diri Faya sampai tak bersisa.
Faya berbalik dan kembali kepada Fajri.
“Kalau kamu mau, aku bisa kasih kamu kerjaan. Kerja yang halal.” Fajri percaya diri.
Wajah Faya datar tanpa ekspresi menatap Fajri. Kemudian ia menyunggingkan senyum sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan pria itu.
Merasa mendapat balasan ramah dari Faya, Fajripun menyambut uluran tangan Faya dengan senyuman lebar.
Bruk!
Fajri merasakan tubuhnya melayang sebentar sebelum punggungnya mendarat di lantai dengan keras. Ia merintih kesakitan merasa tulang ekornya remuk.
“Jadi laki itu omongannya tolong dijaga. Ternyata kamu juga banyak berubah. Berubah jadi lebih breng sek. Mulut kayak comberan ngalahin emak-emak. Aku kok jadi kasihan ya sama cewek yang mau sama kamu. Untungnya kita udah nggak.” Dengus Faya.
Sementara di dekat mobil, Prima menutup mulutnya yang ternganga. Dalam hati ia bersorak untuk kemenangan Faya. Sekretarisnya itu memang luar biasa sekali. Wajar saja. Faya satu-satunya sekretaris yang berhasil lolos dari target keisengan Prima. dan berhasil mengusik hatinya.
“Kamu!” pekik Fajri tertahan karna saat ia bergerak, pinggangnya terasa pegal.
__ADS_1
“Kamu kan orang kaya. Jadi sanggup dong bayar sendiri biaya berobat ke rumah sakit?”
Faya mendengus kesal sekali lagi sebelum kemudian ia berjalan menghampiri Prima.
“Maaf, Pak. Membuat Bapak menunggu.”
“Gak apa-apa. Dapat tontonan gratis yang seru.” Seloroh Prima yang kemudian masuk dan duduk di kursi belakang.
Faya melirik sekali lagi kepada Fajri yang masih nampak kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Kemudian ia melajukan mobil meninggalkan mantan pacarnya itu.
“Kurang ajar!” maki Fajri saat mobil Faya sudah menghilang dari pandangannya. “Awas kamu ya Faya.” Ancamnya penuh dendam.
Sementara Faya terus mengemudikan mobilnya dengan fokus. Sesekali memperhatikan aplikasi GPS di dashboard mobil. Dan Prima sibuk dengan ponselnya di belakang. Untuk beberapa saat, mereka hanya diam dan tak ada yang bersuara. Padahal, Prima menahan rasa penarasannya yang membuncah.
“Siapa itu tadi, Fay?” pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Prima.
“Mantan pacar saya dulu, Pak. Waktu kuliah.” Faya menjawab walaupun dengan ragu. Tidak menyangka ternyata Prima penasaran juga dengan kejadian tadi.
“Berapa lama kalian pacaran?”
“Lumayan lama, Pak.”
“Terus kenapa putus?” Prima terus menyelidiki masalalu Faya.
“Bukan putus, Pak. Sehari setelah dia wisuda, dia pergi ngilang gitu aja. Breng sek memang orangnya pak. Dan kami baru ketemu sekarang. Hah. Kenapa juga harus ketemu sama tuh ornag buat kesel aja.” Dengus Faya.
“Keren banget kamu tadi pas banting itu orang.”
“Ya abisnya saya kesel, Pak. Mulutnya itu kalau ngomong gak pakai filter. Asal nyeplos gitu aja. Salah sendiri buat saya marah, ya saya banting.” Kesal Faya. Seolah ia sedang melampiaskan kekesalannya dengan bercerita. Sesaat ia lupa kalau yang ia ajak bicara itu adalah bosnya.
Sementara Prima hanya terkekeh saja melihat reaksi Faya. Baginya itu lucu sekali.
Faya membelokkan mobil di salah satu warung nasi pecel yang ramai. Menuruti permintaan Prima yang meminta sarapan nasi pecel dulu sebelum meninjau proyek. Warung itu kecil, tapi pembelinya ramai sekali. Sampai berdesakan.
Faya memesankan makanan untuk mereka dengan menu komplit. Setelah itu mereka duduk di salah satu meja panjang yang kosong. Duduk berhadapan. Benar-benar tidak ada jarak untuk bos dan sekretarisnya itu. Perlakuan Prima kepada Faya membuat gadis itu sesekali merasa nyaman hingga ia berani duduk berhadapan saat makan seperti itu.
tak bosan-bosan, aku mengingatkan, tolong jempolnya, di sedekahkan.....
__ADS_1