
Pukul 5 sore mereka sudah sampai di apartemen. Koper mereka di bawakan oleh Surya hanya sampai depan apartemen saja. Karna Prima tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam apartemennya kecuali ibu dan keluarganya, istrinya, dan sekretarisnya.
Prima belum mau melepaskan tangannya. Entah dia pakai lem apa kok tangannya merekat sampai tidak bisa lepas begitu.
“Mas, udah, dong. Aku mau masuk. Mau nata barang-barang.” Pinta Faya.
Prima terdiam. Ia malah terus menatapi Faya tanpa berkedip. Kemudian, ia terdengar menghela nafas keras.
“Hah! Gak bisa gini, Fay.” Dengus Prima. Membuat Faya bingung setengah mati.
Prima tetap tidak melepaskan tangannya. Ia justru menekan tombol pass di pintu Faya dan menarik Faya masuk bersamanya.
“Mas ngapain masuk kesini? Sana pulang.” Usir Faya lagi.
“Gak mau. Aku mau disini dulu. Nanti kamu minggat lagi.”
“Ya ampun. Siapa yang mau minggat sih? Aku gak bakalan minggat lagi. Udah sana, pulang.”
“Gak mau.” Prima justru menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
Faya tidak bisa berkutik. Ia membiarkan saja Prima bertingkah sesuka hati. Setelah menaruh kopernya di dalam kamar, Faya keluar dan hendak bergabung bersama Prima.
Faya berdiri mematung di dekat sofa. Memandangi sekelilingnya. Baru beberapa hari meninggalkan rumah ini, Faya sudah merasa asing saja. Padahal tidak ada yang berubah disini. Hanya saja, situasinya yang berubah. Dan statusnya tentu saja.
Dia bukan lagi sekretaris Prima, melainkan kekasih Prima.
“Sini, duduk.” Prima menepuk sofa di sampingnya. Dan Faya
. Ia duduk di samping pria itu.
“Mas?”
“Hem?”
“Nanti malam, boleh aku ketemu Harvey?”
“Mau ngapain?”
__ADS_1
“Ada sesuatu yang harus aku omongin sama dia, mas. Hubungan kami, harus di perjelas. Karna sekarang aku udah punya pacar, aku harus ngasih tau dia. Aku gak mau dia terus berharap sama perasaanku. Aku gak enak. Apalagi kebaikan dia itu lho.” Faya mengemukakan alasannya.
“Gak boleh.” Tegas Prima.
“Kok gak boleh? Aku juga mau berterimakasih sama dia, Mas. Gak enak tau. Udah di gratisin tiket, tapi malah pergi gitu aja.” Faya mencoba memberi pengertian kepada Prima.
“Gak boleh kalau malam-malam. Kalau besok, baru boleh.” Ujar Prima santai. Ia menyelipkan rambut kekasihnya ke belakang telinga.
Faya memukul pundak Prima pelan sebagai pelampiasan. Hampir saja ia marah karna mengira Prima over protektif padanya.
“Hehehhe. Udah marah aja. dengerin sampai selesai dulu, baru marah.” Seloroh Prima yang kini malah mengacak-acak puncak kepala Faya. “Karna malam ini, kita ada acara penting dan gak boleh kalau sampai gak dateng.”
“Acara apa?”
“Ada deh. Nanti kamu juga tau.”
Pukul setengah tujuh malam, Prima dan Faya bertolak menuju ke suatu tempat. Sekeras apapun Faya memaksa Prima memberitahunya, tapi pria itu kekeuh dan tidak mau memberitahu Faya. Membuat Faya penasaran setengah mati.
Ada yang berbeda di antara dua manusia itu. Yakni, Prima yang kembali duduk di balik kemudi. Ternyata pria itu sedang memerankan menjadi kekasih yang baik untuk Faya. Lagipula, hubungan mereka kan memang sudah bukan sebagai bos dan sekretaris.
Prima terus mengemudikan mobil sambil bersiul sesekali. Nampak sekali kalau dia sedang senang hati.
“Tunggu, ini kan.....” Faya nampak tidak asing dengan jalanan yang mereka lewati.
Ya, ini adalah jalan menuju ke kediaman keluarga besar Prima. Alias rumah orangtuanya.
“Mas, kita mau ke rumah kamu?” tiba-tiba Faya di serang panik.
“Hehehehe. Kenapa?”
“Kenapa dadakan gini sih? Aku belum siap ketemu keluargamu, Mas.”
“Siap, gak siap. Udah, tenang aja. kamu gak bakalan di apa-apain, kok. Palingan Cuma di tanya kapan siap nikah sama aku.”
“Hah?!! Serius, ih.” Kesal Faya.
“Hahahahahha. Udahlah, sayang. Yang tenang dong. Kayak baru ketemu sama keluargaku aja. kamu kan udah lama kenal sama mereka. Gak usah takut gitu juga kali.”
__ADS_1
“Ya tapi ini beda, Mas. Kalau kemarin-kemarin, aku kan sekretaris kamu. Kalau sekarang......” Faya merasa malu sendiri untuk menyebut dirinya kekasih Prima. Entahlah.
“Kalau sekarang, kamu calon istri aku. Udah naik jabatan lho. Hehehehhe. Udah, gak usah panik. Percaya sama aku.”
Entahlah, yang jelas ada rasa canggung yang perlahan menelusupi hati Faya. Perubahan status hubungan mereka membuat Faya merasa terintimidasi bahkan hanya dengan membayangkan akan bertemu dengan keluarga kekasihnya. Status mereka yang sebagai kekasih, membuat Faya berfikir macam-macam.
Mobil Prima sudah memasuki kawasan perumahan elit. Sejak masuk ke pintu gerbang komplek, jantung Faya semakin tak bisa di kendalikan. Berdegup kencang sekali. Dia gugup.
Apalagi ketika mobil mereka telah masuk ke halaman rumah dan berhenti di carport. Faya merasa ia semakin gugup saja.
“Ayo, turun.” Ajak Prima sambil membuka sabuk pengamannya.
Namun, yang di ajak hanya diam saja dengan tangan yang tidak lepas dari memegangi sabuk pengaman di dadanya. Faya bisa merasakan kalau telapak tangannya sudah berkeringat.
“Kamu kenapa, Fay? Sakit?” tanya Prima yang melihat wajah Faya menjadi pucat.
“Mas, lain kali aja bisa gak kesininya? Aku gugup banget ini.” Jujur Faya.
“Hahahahahahahahaha.” Mendengar kejujuran Faya malah membuat Prima tergelak lucu. Seperti bukan Faya saja, batinnya.
Mendapat gelakan itu sontak membuat Faya menoleh dengan tatapan tajam yang tertuju kepada kekasihnya itu. Prima bahkan masih tergelak ketika turun dari mobil.
Prima berjalan ke sisi Faya dan membuka pintu mobil. Ia membantu Faya melepaskan sabuk pengamannya. Setelah itu ia berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Ayo. Udah di tungguin Mama tuh di dalam.”
Ucapan Prima itu sama sekali tidak membantu. Yang ada justru semakin membuat Faya jadi lebih gugup. Tapi walaupun begitu, perlahan Faya menyambut juga uluran tangan kekasihnya.
“Wuih, dinginnya tanganmu.” Seloroh Prima. Dia lucu, tapi juga kasihan setelah merasakan tangan Faya yang begitu dingin.
Prima menghentikan langkah tepat di depan pintu utama yang mengharuskan juga Faya untuk berhenti. Kemudian pria itu menghadapkan Faya kepadanya, memegangi pundaknya dan menatap Faya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Gak usah takut. Percaya sama aku. Kalau mereka macem-macem, aku akan bawa kamu langsung pulang. Oke?
Nah, ini baru menenangkan.
Perlahan, Faya menganggukkan kepalanya. Ia memilih untuk mempercayai ucapan kekasihnya itu. memang benar kata Prima, toh ini bukan pertama kalinya Faya bertemu dengan keluarga besar Prima. jadi, ia akan berusaha untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
Prima melemparkan senyuman yang sangat manis kepada Faya. Kemudian, ia membelai kepala gadisnya itu dengan lembut sebagai upaya untuk menghilangkan kegugupan Faya.
“Sekarang kita masuk?” tanya Prima kembali. Ia benar-benar berniat kembali kalau saja Faya menggelengkan kepalanya. Namun untungnya Faya menganggukkan kepalanya dan membuat pria itu kembali tersenyum lebar.