
Prima perlahan turun dari mobilnya. Ia sudah sampai di tempat tujuan. Walaupun ia merasakan tubuhnya remuk, tapi ia sudah kadung berjanji dengan teman-temannya.
Prima menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghalau rasa sakit. Dan berhasil. Rasa sakitnya perlahan berkurang. Hanya lengannya saja yang masih terasa linu.
Astaga, Prima sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Faya bisa bela diri. Menyesal dia karna sudah berniat membantunya. Akibatnya, dia sendiri yang remuk tulangnya.
“Woi Prim! Sini!” Teriak salah satu teman Prima. Ia kemudian berjalan menghampiri mereka.
“Prima?” Panggil Aliva yang ternyata juga ada disana.
Prima tidak terkejut. Karna teman-temannya pasti memberitahu Aliva kalau ia akan datang ke sini. Gadis yang berstatus kekasihnya itu langsung bergelayut manja di lengannya.
“Lama banget sih. Kita udah nungguin dari tadi.” Celetuk Rian. Teman Prima itu melemparkan stik bilyar kepadanya.
Prima bermaksud menangkap stik itu, namun gagal. Stik itu justru jatuh ke lantai begitu saja. Sementara Prima hanya meringis memegangi lengan bagian atasnya yang masih terasa sakit. Oleh-oleh dari Faya tadi.
“Kamu kenapa, sayang? Sakit?” Tanya Aliva cemas.
“Aku ketemu sama orang gila tadi di jalan. Mau bantuin, malah aku yang di banting. Hufh.” Kesal Prima.
Dalam hati ia berjanji, akan membalas Faya saat di kantor besok. Semangatnya untuk mengerjai sekretaris barunya itu kembali membara setelah ia mendapat bantingan dari gadis itu.
“Ya ampun. Tapi kamu gak apa-apa, kan?” Tanya Aliva kembali.
“Gak. Aku gak apa-apa.” Prima melingkarkan tangannya ke pundak kekasihnya dan disambut dengan pelukan mesra oleh Aliva. Lantas keduanya duduk di sofa.
“Kalian aja yang main. Malam ini aku lagi gak fit.” Ujar Prima kepada teman-temannya.
Dan mereka setuju. Membiarkan Prima bermesraan sambil mengobrol bersama kekasihnya di sofa.
__ADS_1
Aliva terus bergelayut di pinggang Prima. Melingkarkan kedua tangannya memeluk pria itu. Menyenderkan kepalanya di dada bidang Prima. Tidak ada kata risih walaupun banyak orang yang memperhatikan mereka.
“Kamu tadi siang kenapa gak datang, sih? Aku sampe bosan nunggui kamu. Kamu malah nyuruh sekretaris kamu buat datang.” Protes Aliva.
“Sory, aku banyak banget kerjaan tadi.” Alasan Prima.
Ya kerjaan memindahkan queen wajik ke tempatnya.
“Kamu janji gak boleh gitu lagi ya. Nanti aku sebel sama kamu.” Rengek Aliva manja.
Padahal, bukan kali ini saja Prima ingkar janji. Sebelum-sebelumnya juga ia sering mengingkari janjinya pada gadis itu. Teringat sesuatu membuatnya malas bertemu dengan Aliva.
Prima tidak menanggapi rengekan Aliva. Ia hanya diam dan menenggak wishki yang tersaji di atas meja. Setengah gelas sudah cukup untuk membasahi tenggorokannya.
Tubuhnya di gelayuti oleh Aliva, tapi fikirannya terus tertuju pada Faya. Dalam hatinya ia tengah mengasah dendam kesumat untuk sekretarisnya itu. Ia harus membalas gadis itu karna ia sudah dibanting sedemikian rupa. Bantingan yang meruntuhkan harga dirinya melorot sampai ke perut.
Dalam kepalanya, Prima sedang menyusun strategi untuk mengerjai Faya. Baru kali ini ia di banting oleh sekretarisnya sendiri.
Tapi perkara nasi goreng saja, Kirani bahkan sampai tega mengeluarkan isi kebun binatang dan menunjuk-nunjuk muka Faya.
“Kamu ini memang begitu. Gak bersyukur kamu udah ku kasih tempat tinggal.” Kesal Kirani.
Faya memang sengaja diam. Fikirannya sudah kalut karna ia sudah membanting bosnya. Takut kalau besok dia akan di pecat. Jadi ia sudah tidak punya tenaga untuk melawan Kirani.
Bukan, karna Faya masih menahan diri untuk tidak melempar kakak iparnya itu dengan televisi yang ada disampingnya.
Kirani terus memaki-maki Faya. Bahkan sekarang sampai membawa-bawa nama suaminya.
“Kamu tau, kamu sama kakakmu itu sama aja. Bisanya cuma numpang makan dan tidur. Giliran di mintai sesuatu banyak alasannya! Yang inilah, yang itulah. Kasih uang gak seberapa tapi banyak alasan. Emang kalian itu berasal dari orang miskin, ya susah!” Bentak Kirani menjadi tak terkendali.
__ADS_1
Sudah, kali ini telinga Faya sudah tidak mampu menampung segala caci maki dari Kirani. Semakin Faya diam, kok Kirani semakin menjadi-jadi.
“Mbak! Cukup! Kenapa Mbak bawa-bawa Mas Iwan?! Apa salah dia?! Dia kerja keras utnuk mencukupi keinginan Mbak Kiran. Keinginan yang bukan kebutuhan. Tapi sekarang Mbak malah tega memaki suami sendiri. Tega Mbak?!” Faya ganti berteriak.
“Kamu itu sebenernya beban tau gak?! Hah?”
Deg. Beban?
“Seharusnya jatah makan kamu dari Mas iwan itu bisa buat beli baju aku. Gara-gara kamu, aku jadi gak pernah bisa beli baju.”
“Sejak kapan Mas Iwan ngasih uang ke aku sejak kalian nikah, Mbak? Aku kerja buat menghidupi diriku sendiri. Mbak Kirani gak berhak bilang begitu ke aku. Semenjak kalian nikah, aku sama sekali gak pernah ngerasain hasil kerja keras kakak aku sendiri. Semua uang hasil kerja Mas Iwan buat Mbak Kirani semua. Kenapa sekarang Mbak nyalahin aku? Yang ada aku sering ngasih uang buat makan kita sehari-hari. Mbak bilang aku pengganggu? Oke. Aku akan pergi dari rumah ini biar gak ada yang gangguin Mbak lagi.” Dengus Faya yang sudah tersulut emosinya.
“Oke! Silahkan pergi kalau kamu mau!” Balas Kirani.
Faya menatap tajam kepada Kirani. Kemudian ia meninggalkan kakak iparnya itu begitu saja dan masuk ke dalam kamar. Ia bahkan membanting pintu kamar dengan sangat kuat hingga Kirani terperanjat di buatnya.
Faya mengambil tas kecil dari atas lemari dan memasukkan semua pakaiannya ke dalamnya. Ucapan Kirani sudah sangat keterlaluan kali ini. Dan Faya sudah tidak bisa mentolerirnya lagi. Biarlah nanti Iwan marah padanya karna minggat dari rumah seperti ini. Tapi, hatinya tidak bsia terus-menerus tersakiti begini.
Telinganya memang kebal dengan caci dan maki. Tapi hatinya, tergores sedikit demi sedikit. Selama ini ia maklum dan menahan semuanya seorang diri. Tak pernah menceritakan keburukan kakak iparnya itu kepada Iwan. Karna Faya tau, kalaupun ia bercerita, Kirani punya banyak muslihat untuk membuat Iwan berpihak padanya.
Faya menghentikan aktifitasnya. Tiba-tiba ia teringat. Kalau ia pergi dari rumah ini, dimana ia akan tinggal? Kemudian sesaat ia teringat kembali, kalau Ariga menawari sebuah apartemen untuknya. Hatinya lega membayangkan kalau ia tidak akan hidup di jalanan selama satu bulan sampai ia menerima gaji pertamanya nanti.
Faya meraih ponsel dan mencari nama Ariga. Ada rasa tidak enak hati menelpon Ariga malam-malam begini. Tapi, Faya tidak punya pilihan lain. Dia bahkan lupa dengan masalahnya dengan Prima tadi. Karna kepalanya sudah hampir meledak akibat kemarahannya kepada Kirani.
“Halo?” Sapa Ariga di seberang telfon.
Seketika Faya menjadi gelagapan sendiri. Kalimat yang sudah ia susun menjadi berantakan. Merasa segan dan canggung kepada Ariga.
__ADS_1
maaf typo bertebaran dimana-mana. walaupun udah di baca berulang-ulang sebelum di up, tetep aja ada yang ketinggalan.