One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 71. Ingin Jadi Rumah Untuknya.


__ADS_3

Dua orang pria sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan. Saling menatap tajam dengan di pisahkan oleh meja.


“Mau ngomong apa? Buruan? Gue sibuk.” Hardik Harvey kepada lawan bicaranya.


“Dimana Faya? Gue yakin lo tau dimana dia sekarang.” Suara bariton Prima mendominasi.


Ya, saat ini Prima sedang ada di rumah Harvey. Dia mengesampingkan rasa gengsinya dan bertandang ke rumah rivalnya itu setelah meminta Ariga untuk mencarikan alamat rumah Harvey.


“Kenapa? Sekarang ngerasa kehilangan apa gimana?”


“Jawab aja. dimana dia?” wajah Prima memang datar dan nampak biasa saja. Padahal hatinya sedang berkecamuk luar biasa. Ada pengharapan yang tinggi kepada Harvey. Dan ada rasa takut kalau-kalau pria itu tak mau memberitahunya.


“Kenapa tanya dimana Faya ke gue?”


“Gue tau lo tau dimana dia. Tolong kasih tau gue.”


“Kalaupun gue tau, gue gak bakalan kasih tau lo dimana dia.” Santai Harvey. Enak saja, batinnya.


Prima marah dan kesal. Ia bangun dan merangsek mendekati Harvey. Ia menarik kerah Harvey dan hendak meninjunya. Ia sudah mengepalkan tangannya dan siap ia layangkan ke wajah tampan Harvey.


“Kenapa? Lo nyari dia supaya lo bisa ngerjain dia lagi? Iya? Supaya hati lo senang, gitu?”


Prima melepas kerah Harvey dan menghempaskannya. Entah kenapa ucapan Harvey itu sangat menyinggungnya.


Setelah Prima melepaskan tangan dari kerah baju Harvey, sekarang gantian Harvey yang memegang kerah kaus Prima.


“Denger ya. Kalau lo Cuma mau permainin perasaan Faya, sampai kapanpun gue gak akan kasih tau dimana dia.” Tegas Harvey. Tatapannya menunjukkan kesungguhan akan perlindungan untuk gadis itu.


Prima merasa iri dengan Harvey. Iri karna Harvey masih bisa berbuat sesuatu untuk Faya. Untuk melindungi gadis itu.


“Gue mohon, tolong kasih tau gue.” Mohon Prima kembali.

__ADS_1


“Gak akan. Lo Cuma mau mainin perasaan dia aja, kan? Gak puas lo nyakitin dia? Hah?”


“Bukan. gue Cuma mau bawa dia pulang.”


“Pulang?”


“Gue mau jadi rumah buat Faya pulang.” Lirih Prima. ia sudah pasrah jika Harvey akan menghajarnya atau apa. Mungkin pukulan Harvey nantinya bisa membuat hatinya sedikit merasa terhibur.


Harvey mengernyitkan keningnya. Hatinya trenyuh melihat kesungguhan yang terpancar dari netra Prima. sesaat kemudian ia melepas cengkeramannya dan menghempaskan Prima sampai pria itu jatuh terduduk di sofa.


“Gue tau gue bodoh. Gue udah banyak nyakitin dia. Karna itu gue mau ketemu dia dan minta maaf. Perkara dia mau maafin gue apa enggak, gue gak peduli. Tolong kasih tau dimana dia sekarang, Harv.” Ucapan Prima itu membuat Harvey jadi merasa tidak tega.


Harvey berkacak pinggang dan membuang wajahnya ke arah jendela. Ada rasa tidak tega kepada Prima ketika pria itu tulus memohon seperti ini.


“Gue putus asa.” Lirih Prima kembali.


Dan kalimat itu sontak membuat rasa kasihan Harvey semakin menjadi. Benar Prima adalah rivalnya. Mereka bersaing untuk mendapatkan hati Faya. Namun melihat kehancuran Prima seperti itu, hatinya luluh juga.


“Selesaikan urusan lo sama Faya. Kalau sampai lo buat Faya nangis lagi, gue pastiin gue bakalan hajar lo sampai mampus.” Ujar Harvey. Ia menyodorkan sebuah kertas kecil kepada Prima. biar bagaimanapun, ia ingin memberikan ruang kepada mereka untuk menyelesaikan masalah mereka ini. Ia tidak ingin melihat Faya yang terus terpuruk karna kesedihannya.


Prima menerimanya dengan perasaan yang entah. Ia membaca brosur itu dengan teliti. Setelah itu ia langsung bangkit dan berdiri menatap Harvey dengan perasaan penuh rasa terimakasih kepada pria itu.


“Makasih, Harv. Gue pastiin gue gak bakalan buat Faya nangis lagi. Atau lo bisa hajar gue sesuka hati lo.” Janji Prima yang kemudian langsung berlari keluar dari apartemen Harvey.


Ada sedikit rasa menyesal di hati Harvey karna sudah memberitahu keeradaan Faya kepada Prima. tapi itu sudah terlanjur. Ia berharap, keadaan Faya akan semakin membaik setelah masalah mereka selesai nantinya. Entah apa yang akan di lakukan Faya nantinya.


Sementara Prima langsung melesatkan mobilnya menuju ke kantor. Ruangan Ariga adalah tempat yang akan ia tuju.


Sesampainya di sana, Prima langsung masuk ke ruangan Ariga dan meminta sesuatu kepada pria paruh baya itu.


“Paman Ariga, bawa aku kesini secepatnya.” Prima menunjukkan sebuah lembaran kapal pesiar ke hadapan Ariga.

__ADS_1


Pria itu mengambil selebaran itu dan membacanya dengan seksama.


“Urus semuanya ya, Paman. Aku minta tolong sama Paman.” Ujar Prima kembali.


“Siapa disini?” tanya Ariga penasaran. Ia hanya ingin memastikan saja apa yang di fikirkan olehnya benar.


“Masa depanku.” Jawab Prima dengan seutas senyum behagia.


Ariga juga ikut tersenyum. Ia kemudian mengangguk.


“Anda tennag aja. saya akan ngatur semuanya sampai beres.”


“Makasih, Paman.”


Ariga mengangguk. Ia sedikit tersenyum saat melihat punggung Prima keluar dari ruangannya. Baru kali ini, Prima meminta bantuan pribadi kepada dirinya. Bantuan yang bukan merupakan urusan pekerjaan. Ada yang berubah dari diri Prima.


Dengan perasaan membuncah, Prima pergi ke ruangannya. Tidak untuk bekerja. Dia hanya ingin bersantai. Ia duduk di kursi bekas Faya. Merasakan setiap jejak yang gadis itu tinggalkan di sana.


“Tunggu sebentar ya, Fay. Aku bakalan bawa kamu pulang.” Lirih Prima berjanji. Ia mengelus meja di hadapannya seolah sedang menyalurkan rasa rindunya kepada gadis itu.


Sementara itu di kapal pesiar, Faya sedang menikmati waktu sendirinya dengan berenang di kolam renang outdor yang ada di sana. Bukan hanya dirinya. Tetapi banyak orang yang juga ada di sana.


Berenang adalah salah satu olahraga kesukaanya. Memikirkan berenang, ia jadi teringat akan Prima yang takut air.


Ya ampun. Seolah semua hal yang dia lalui terselip kenangan akan Prima. kalau begini terus,  bagaimana bisa dia melupakan pria itu dan memulai hidup baru? Hampir semua yang ia lakukan selalu mengingatkannya kepada Prima. menyebalkan sekali fikirannya itu.


Faya sedang asyik dengan fikirannya sendiri. ia duduk di tepian kolam dengan kaki yang menjuntai ke dalam air. Menggoyang-goyangkan kakinya itu hingga membuat air di kolam sedikit bergelombang.


Tatapan mata Faya tertuju pada sesuatu yang menimbulkan bayangan di dalam air. Seperti manusia. Ah, mungkin seseorang sedang menyelam, batinnya. Namun entah kenapa firasatnya berkata kalau hal yang dia lihat itu aneh.


Pasalnya, bayangan itu tak bergerak sama sekali. Tetap diam di tempatnya. Tak ada yang menyadari hal itu selain Faya.

__ADS_1


Merasa penasaran, Faya kembali menceburkan dirinya ke dalam air. Dan benar saja, ia melihat seorang bocah lak-laki yang sudah tenggelam di dasar kolam. Segera saja Faya berenang secepat kilat untuk meraih tubuh bocah itu dan membawanya ke permukaan.


__ADS_2