One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 104. Khawatir Tanda Sayang.


__ADS_3

Prima dan Faya menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol. Tanpa terasa sudah lewat tengah malam. Dan mereka terpaksa harus mengakhiri keromantisan itu karna besok Prima masih harus bekerja.


“Kamu cepetan istirahat ya. Kalau di fikir-fikir, kalau aku capek, kamu juga pasti capek. Secara kan aku sama kamu itu satu paket. Kemana aku pergi, kesitu juga kamu ikut. Selalu bantuin aku gimanapun kondisiku.”


“Ya namanya juga kan di gaji. Kalau enggak aku juga ogah begitu. Hahahahaha.” Faya berseloroh riang.


“Dasar. Tunggu aja. kalau udah jadi nyonya Prima, kamu gak bakalan aku gaji lagi.”


“Lho? Kok?”


“Karna semua yang kupunya kan jadi punyamu juga.”


“Idihhh.”


“Udah sana. Jangan lama-lama disini. Nanti aku khilaf.” Usir Prima kemudian. Ia merangkul pundak Faya sambil mengantarkannya ke depan pintu. “Selamat malam cintaku. Kita ketemu di mimpi, ya.”


“Gak mau. Bosen ah. Melek mata ketemu, ya kali merem mata juga ketemu.” Gurau Faya kemudian melenggang pergi meninggalkan Prima yang hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Ia tersenyum kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Kamarnya masih berantakan. Ia sudah menyuruh pegawai hotel untuk membersihkannya besok pagi. Karna sudah lelah, akhirnya iapun memilih untuk membenamkan diri di dalam selimut dan mulai menjemput mimpi indahnya.


Hari yang begitu melelahkan untuk Prima. namun juga membahagiakan.


Faya berbaring terlentang sambil mengangkat tangannya ke arah atas. Terus memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya. Nampak begitu berkilau dan cantik. Tanpa sadar, ia tersenyum senang sekali. Sisa-sisa keromantisan itu masih bisa ia rasakan. Dan ia pun terlelap dalam mimpi indah. Dalam senyuman bahagia.


**


**


Sudah sejak pukul 7 pagi tadi Prima, Faya, Pras, Pak Teguh beserta tim, sudah memulai rapat mereka di kamar Prima. Pak Teguh sedang menjabarkan tentang temuannya selama beberapa hari terakhir ini.


Dua hari yang lalu, Pak Teguh sudah menemukan letak kesalahan yang menjadi penyebab masalah ini. Seorang manajer kontraktor menggelapkan dana. Dan manajer itu juga sudah di proses hukum. Pak Teguh dan timnya bergerak cepat.


Karna masalah ini, banyak sekali yang harus di urus. Dan mengharuskan Prima berada lama di Bali. Sampai keadaan menjadi membaik dan ia bisa kembali mempercayakan proyek itu kepada Pras.


Tanpa terasa sudah satu minggu mereka berada di bali. Dan masalah sudah berhasil di urai dengan baik. Para korban juga sudah di pulangkan karna sudah sehat. Prima dan Faya berencana untuk kembali ke Jakarta besok. Dan hari ini, Prima menyisihkan waktu satu harian untuk sekedar menghabiskan waktu dengan kekasihnya.


“Mau kemana sih, Mas?”


“Jalan-jalan dong. Masak kerja terus. Berasap nanti kepalaku, sayang.”

__ADS_1


“Hehehehhe.” Faya terkekeh membayangkan ada asap yang muncul dari balik rambut Prima.


“Besok kan udah balik Jakarta. Kalau udah balik, udah pasti harus kerja lagi. Jadi hari ini, kita habiskan waktu berdua aja. kamu pengen kemana?”


Faya menerawang jauh memikirkan tempat yang ingin dia datangi. Bingung, karna memang Faya belum pernah ke Bali sebelumnya. Jadi dia tidak tau mana yang ingin ia kunjungi.


“Gak ada ide, Mas.”


“Pantai?”


“Selain pantai?” soalnya menurut Faya, dimana saja, pantai itu pemandangannya tetap sama. Laut, dan pasir.


Prima menghampiri Faya yang duduk di sofa. Ia juga ikut duduk di samping gadis itu.


“Disini rata-rata laut dan air, sayang.”


“Kalau gitu kita main adrenalin aja. Bungee Jumping boleh tuh. Atau Arum Jeram. Tapi kalau Arum Jeram, di air. Kamu kan belum sembuh. Takut kamu kenapa-napa.”


“Paralayang mau?”


“Paralayang? Mau-mau.” Tiba-tiba Faya antusias. “Tapi, itu kan di atas laut, Mas. Nanti kamu....”


“Tapi nanti kalau kenapa-napa, gimana Mas?”


“Kan ada kamu. Aku yakin kalau ada kamu tuh aku berasa gak punya penyakit.”


“Waduh. Aku jadi kayak dokter dong. Hehehhe”


Prima ikut terkekeh. Ia meraih tangan Faya kemudian menggenggamnya. “Aku juga pengen sembuh. Biar bisa main-main air kayak kebanyakan orang.”


“Mas yakin gak akan kenapa-napa?”


“Yakin.” Jawab Prima mantap.


Entahlah. Faya merasa takut sendiri membayangkan. Soalnya dia tau seperti apa traumanya Prima dengan air.


Tapi mengingat ketika di kapal Prima baik-baik saja. Mungkin benar kalau pria itu sudah sedikit sembuh. Tidak ada salahnya juga di coba.


Untuk antisipasi, diam-diam Faya menghubungi dokter yang merawat Prima. Dokter itu berkata tidak apa-apa tapi tetap harus di awasi. Setelah mendapatkan kepastian dari dokter, Faya akhirnya menyetujui untuk bermain paralayang untuk menghabiskan waktu berdua.

__ADS_1


Paragliding Bali Adventure menjadi tujuan Prima dan Faya siang ini. Disana mereka akan mencoba olahraga yang memacu adrenalin itu. Setengah was-was di perjalanan tapi tetap semangat.


Itulah yang terjadi sebelum mereka sampai. Hingga pada akhirnya Faya memaksa Prima untuk menghentikan mobilnya. Biar di fikir bagaimanapun, ia tetap tidak bisa mempertaruhkan keselamatan Prima dalam hal ini.


“Mas, gak usah aja yuk. Kita cari tempat yang aman aja.”


“Ya ampun sayang. Gimana sih? Kita udah setengah jalan ini.” Prima terdengar sedikit mendengus kesal.


“Tapi aku gak mau kamu kenapa-napa, Mas. Aku takut.”


Prima terdengar menghela nafas pelan.


“Ya udah, jadi kamu maunya kemana?”


“Tempat yang gak berhubungan sama air.”


“Ya dimana? Di sini itu yang terkenal ya karna pantainya yang bagus. Fay, aku beneran gak apa-apa.”


“Mas, aku beneran takut kamu kenapa-napa. Kita ke tempat yang aman aja, ya. Please?”


Sekali lagi Prima menarik nafas berat. Kesal, tapi juga mengerti ketakutan yang kekasihnya itu rasakan.


“Mas jangan marah...” Faya nampak takut kalau sampai Prima marah.


“Aku gak marah, sayang. ya udah. Kita ke Tanah Lot aja ya? Itu pulau kecil tapi bagus.”


“Pulau?” mendengar kata ‘Pulau’, yang ada di fikirannya adalah, mereka harus menyeberang lautan.


“Tenang aja. Gak harus nyebrang. Lihat aja di gugel.” Ujar Prima kembali seolah tau apa yang sedang di khawatirkan oleh gadis itu


Seketika Faya mengambil ponselnya dan menjelajah di internet. Ia nampak lega karna benar yang di katakan oleh Prima kalau tidak perlu naik perahu untuk sampai ke sana.


“Ya udah, kita kesana aja.”


“Oke.” Prima mengelus kepala Faya dengan lembut. Merasa sangat berterimakasih karna Faya mengkhawatirkannya sampai sedemikian rupa. Itu menunjukkan betapa besar rasa sayang yang di miliki Faya untuknya. Memikirkan itu, ia tidak jadi marah. Malah senyum-senyum senang.


“Kenapa jadi senyum-senyum gitu?”


“Seneng aja. Baru jadi calon aja udah di perhatiin sampai segininya. Apalagi kalau udah jadi istri nanti ya.” Seloroh Prima. membuat Faya merona malu. “Makasih ya sayang. Aku tau perasaanmu kok. Kalau kamu itu khawatir aku kenapa-napa. Aku justru senang.” Ujar Prima yang sudah memutar balik mobilnya dan menuju ke tujuan berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2