One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 88. Karma Untuk Kirani.


__ADS_3

Emosi Faya kembali memuncak tatkala melihat Kirani bergelayut mesra di lengan seorang pria paruh baya berkacamata. Sesekali tertawa bahagia sambil menempelkan wajahnya di lengan pria itu. di lihat bagaimanapun, mereka terlalu mesra untuk di katakan bukan sepasang kekasih.


“Di kamar mana dia nginap?” tanya Faya dengan suara beratnya.


Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Prima segera menghampiri Faya dan ikut memperhatikan ke layar komputer.


“Kenapa?” tanya Prima khawatir.


“Itu bener-bener Mbak Kiran.” Tunjuk Faya ke komputer. “Tolong kasih tau nomor kamarnya.” Pinta Faya kepada resepsionis.


“Tapi,,,” sang pegawai nampak lebih terkejut dari ketika Prima meminta melihat rekaman CCTV.


Memberikan informasi pribadi kepada orang lain adalah tindakan ilegal bagi hotel. Mereka bisa saja mendapat masalah serius atau bahkan berakhir di tuntut oleh pelanggan. Tapi masalahnya, yang meminta informasi itu adalah pemilik hotel itu sendiri. Pegawai itu di ambang bimbang.


“Tenang aja. aku pastikan kalian gak akan dapat masalah karna ini.” Janji Prima lagi. Ia bisa mengerti apa yang sedang di takutkan oleh pegawainya itu. ia sendiri merasa tidak enak hati karna sudah melanggar peraturannya sendiri. untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Tapi sepertinya, Faya benar-bear membutuhkan bantuannya kali ini.


Pada akhirnya, Faya berhasil mengetahui kamar tempat Kirani menginap. Dengan dada yang bergemuruh marah.


Faya dan Prima, beserta dua orang kemanan yang di minta Prima untuk menemani. Kini mereka sudah ada di depan kamar Kirani. Faya mengeluarkan ponselnya dan bersiap untuk merekam. Ia sudah berniat untuk memberitahu kakaknya perihal ini. Dan ia butuh bukti kalau mau kakaknya percaya padanya. Dan agar Kirani tidak bersikap seperti korban lagi.


“Silahkan di buka.” Perintah Prima kepada security.


Mereka semua masuk begitu saja begitu pintu terbuka. Faya segera merangsek dengan kamera yang siap di tangannya.


“Wahhh. Beneran ternyata. Hebat yaa.”


Kirani yang sedang tidak berbusana di tempat tidur nampak sangat terkejut. Ia langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Siapa kalian?” tanya si pria yang nampak marah karna aktivitas mereka terganggu. Ia buru-buru mengenakan celana pendeknya.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Kami harus memeriksa kamar ini.” Ujar security kembali. Mereka langsung memeriksa meja yang nampak berantakan. Disana terdapat satu buah bong, alias alat untuk menghisap obat-obatan terlarang. Lengkap dengan beberapa bungkus obat yang masih nampak utuh.


“Panggil polisi.” Perintah Prima kembali.


“Dasar bia dab. Ja lang. An jing. Tega-teganya kamu begini sementara Mas Iwan di luar sana kerja banting tulang buat cukupin kebutuhan kamu?!!!” murka Faya. Saking murkanya, dia sudah tidak peduli dengan ucapan kasar yang keluar dari mulutnya sendiri.


“Matiin hapenya!” teriak Kirani dengan wajah ketakutannya.


“Kali ini kamu gak bisa ngelak lagi. Aku bakalan ngasih tau Mas Iwan soal ini.” Geram Faya.


Puas merekam, Faya kemudian mematikan ponselnya. Menaruh ponsel itu di sakunya kemudian berjalan mendekati Kirani. Ia mendekatkan wajahnya kepada wanita itu sampai berjarak beberapa centi saja. Menatap nyalang seolah ia hendak memangsa Kirani hidup-hidup.


“Kamu, udah tamat sekarang.” Faya menyeringai kepada Kirani. Seringai yang cukup membuat tubuh Kirani melemas seketika. Rasa takut mulai menjalari setiap pembuluh darahnya.


“Kamu tau, sekarang aku pengen banget nampar kamu. Jambak kamu sampai rambutmu itu lepas dari kepalamu. Tapi enggak, itu terlalu mudah buatmu. Tunggu sampai Mas Iwan ceraiin kamu nanti. Aku lebih suka lihat kamu terpuruk di penjara.”


Kalimat Faya itu terdengar sangat menyeramkan. Bahkan bagi Prima sekalipun. Ternyata rasa marah mampu mengeluarkan sisi gelap dari seorang Faya.


“Sayang, udah. Serahin semuanya sama polisi aja.” Prima menarik kedua bahu kekasihnya untuk mundur. Ia tidak ingin apa yang terjadi selanjutnya membuat mereka berada di posisi yang sulit.


Tak berselang lama kemudian, polisi sudah datang dan segera mengurusi Kirani dan kekasihnya itu kemudian membawa mereka ke kantor polisi.


Sementara Prima menyerahkan semua urusan hotel kepada manajernya. Ia juga meminta Ariga untuk membantu.


Saat ini, Faya dan Prima sedang duduk di dalam mobil. Prima tidak kunjung menjalankan mobilnya. Ia hanya terus melihati ke arah kekasihnya itu dengan wajah yang pias.


“Kamu gak apa-apa, Fay?” tanya Prima.


Mendapat pertanyaan itu, membuat airmata yang sudah di tahan oleh Faya sejak tadi kini berhamburan keluar dan mengalir di pipinya. Perlahan ia terisak dengan airmata yang semakin deras mengalir.

__ADS_1


Prima menarik dan merengkuh tubuh Faya ke dalam pelukannya. Ia mengelus belakang kepala Faya berharap itu bisa menenangkannya.


“Kasihan Mas Iwan, Mas. Gimana caranya aku ngasih tau dia nanti? Aku gak tega ngasih tau dia.” Itulah yang sejujurnya Faya rasakan. Walaupun tadi ia sempat merasa lega karna pada akhirnya ia punya senjata untuk memisahkan kakaknya dengan Kirani. Tapi, senjata yang ia miliki ini terlalu tajam dan pasti akan melukai hati kakaknya nanti.


Tapi, ini adalah hal yang benar yang harus Faya lakukan. Anggap saja, tuhan sedang menunjukkan jalan ini kepadanya. Mungkin tuhan sedang menjawab doa-doanya untuk kakaknya itu.


“Sabar Fay. Aku yakin Mas Iwan juga bakalan ngerti kok. Sekarang kamu tenang ya.”


Faya berhasil menenangkan diri karna pelukan Prima itu. ia merasa bersalah karna sudah menempatkan kekasihnya itu di posisi yang sulit akan masalahnya.


“Kita pulang sekarang, ya?” tanya Prima kembali setelah Faya melepaskan diri dari pelukannya. Dan Faya hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Prima segera melajukan mobilnya kembali menuju ke apartemen untuk mengantarkan kekasihnya itu.


Sesampainya di apartemen, Faya segera meringkuk di ranjangnya. Airmatanya kembali meleleh tanpa  ijin. Ia meringkuk membelakangi Prima yang duduk di tepian ranjang di belakangnya. Ia malu karna harus membawa-bawa Prima dalam masalah keluarganya.


Faya terhenyak saat merasakan tangan Prima yang kini justru melingkar di perutnya. Pria itu ikut berbaring di ranjang dan memeluknya dari belakang.


“Gak usah malu, nangis aja sepuasmu. Aku ada disini buat kamu. Aku bakalan jalan di samping kamu. Jadi, kamu gak usah takut sendiri, Fay. Ada aku.” Bisik Prima kembali.


Perlahan, Faya membalikkan tubuhnya. Ia menatap netra Prima dengan masih menangis. Kemudian ia memejamkan matanya saat Prima mengecupi kedua matanya dengan lembut.


Prima memeluk tubuh Faya dengan erat hingga wajah gadis itu tenggelam di dadanya. Tangannya terus saja mengelus-elus punggung dan kepala Faya untuk menenengkannya. Sungguh, ia ingin membantu meringankan beban yang sedang di rasakan oleh Faya. Dia akan melakukan apapun untuk membantu gadisnya itu.




kalian pasti seneng kan lihat si kirani dapet karma? hahahaha. aku juga...

__ADS_1


jejaknya jangan lupa ya warga yang baik hati dan budiman. rajin menabung juga rajin ngambekan.


__ADS_2