
Setelah makan malam, keduanya kembali untuk ke kamar. Berjalan bersisian hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kamar Faya.
“Bapak kok ngikutin saya?”
“Siapa juga yang ngikutin kamu? Orang aku juga mau balik ke kamarku, kok.” Prima beralasan namun Faya tidak percaya.
Ia mendecih samar kesal karna merasa di ekori oleh Prima.
“Coba, saya mau lihat, yang mana kamar Bapak?” tantang Faya.
“Kamu gak percaya rupanya? Ya udah.” Prima berjalan mendahului Faya kemudian menempelkan kartu di kamar yang berada tepat di depan kamar Faya. Seketika, Faya ternganga tidak percaya.
“Itu kamar Bapak?” Faya heran. Karna setaunya, yang menempati kamar itu merupakan sepasang paruh baya. Faya sering bertemu dan bertegur sapa dengan mereka. Kenapa sekarang jadi kamar Prima?
Faya tidak tau saja, Ariga menyiapkan semua untuk Prima. Bahkan sampai di detail yang terkecilpun sudah di siapkan oleh Ariga. Entah bagaimana cara Ariga merayu pasangan yang sebelumnya menempati kamar itu untuk pindah, tapi yang jelas, sekarang Primalah yang menempati kamar itu.
“Waaaah. Kok bisa?” Faya masih tidak terima kalau ternyata Prima mengatakan yang sebenarnya.
“Ya bisa dong. Udah sekarang buruan masuk. Istirahat.” Titah Prima kembali penuh pengertian.
Namun, yang di lakukan Faya hanya mematung saja. Gadis itu berkali-kali menghela nafas berat seperti ada yang mengganjal di hatinya.
“Kenapa mukamu begitu?”
Prima mengernyit ketika melihat Faya menatapnya dengan sangat dalam dan serius. Lama sekali gadis itu seperti itu. Membuat Prima berfikir yang tidak-tidak. Faya seperti akan memangsanya hidup-hidup.
“Kenapa kamu ngelihatin aku begitu, Fay? Apa aku ngelakuin kesalahan?” tiba-tiba Prima merasa ngeri sendiri.
Prima semakin bergidik saat Faya maju dan berhenti setengah meter di hadapannya. Jantungnya seakan ingin melompat keluar.
“Pak, ayo besok kita pulang. Cup.” Faya mengecup pipi Prima singkat. Setelah itu, ia segera berbalik dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Menutup pintu kamar itu dengan rapat. Ia berdiri bersandar di pintu sambil memegangi dadanya.
__ADS_1
“Gila. Barusan aku ngapain? Ya ampun?” umpat Faya pada dirinya sendiri.
Sementara Prima di luar masih mematung. Tiba-tiba otaknya berhenti bekerja dan membuatnya membeku di tempat.
Namun beberapa detik kemudian, lututnya melemas. Entah kemana semua tenaganya pergi. Yang jelas ia meleyot seperti balon Wa Wa Wa. Hampir tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.
Prima terduduk di lantai. Perlahan, tangannya terangkat untuk menyentuh pipinya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Ia mencubit pipinya itu karna merasa tidak yakin.
“Aduh.” Baru setelah ia merasakan sakit di pipinya, ia baru yakin kalau ia tidak sedang bermimpi. Faya benar-benar mencium pipinya. Astaga. Seketika Prima seperti sedang terbang ke atas awan.
Ia benar-benar telah jatuh pada pesona seorang Fayandayu.
Perlahan, kesadarannya mulai pulih. Ia mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Kemudian ia berdiri dan mengetuk pintu kamar Faya.
Faya tersentak saat mendengar pintunya di ketuk. Ia bahkan masih menempel di daun pintu hingga membuatnya berjingkat sedikit karna terkejut.
Tok.
Tok.
Tok.
Dengan tangan gemetar, Faya membuka pintu dengan perlahan. Dan benar saja, Prima berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Faya.
“Ke-kenapa, P-Pak?”
Prima tidak menjawab. Pria itu hanya langsgung merangsek dan memegangi tengkuk Faya. Beberapa saat kemudian Faya baru sadar benda kenyal yang menempel di bibirnya. Prima sedang menciumnya.
Jantung Faya sudah menggelinding sampai di inti bumi. Entah bagaimana dia bisa mengembalikan jantung itu ke tempatnya semula.
Mata Faya yang sebelumnya terbelalak karna terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Prima, kini mulai terpejam demi menikmati sensasi yang membuatnya ingin menggila itu. keadaan itu berlangsung selama beberapa saat. Sampai kemudian Prima melepaskan pagutannya.
__ADS_1
Prima menempelkan keningnya di kening Faya. Matanya masih terpejam dengan nafas yang sedikit memburu. Sepertinya ia juga sedang menenangkan jantungnya yang tidak karu-karuan.
Sama halnya dengan Faya. Nafasnya juga memburu. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat kepada Prima ketika pria itu mulai menjarakkan diri darinya.
“Cepet tutup pintunya, kunci yang rapat. Kalau aku ketuk-ketuk lagi, jangan kamu buka, ya.” Ujar Prima lagi.
“Kenapa?”
“Aku takut khilaf, Fay.” Prima sangat jujur.
Bagaimana tidak? Gejolak di dalam dirinya saat ini benar-benar sedang menggila. Menuntut untuk di penuhi. Nafsu tidak butuh waktu lama untuk menguasai dirinya. Bahkan ciuman singkat di pipi sudah mampu membangkitkannya. Ia tidak ingin melewati batas yang tidak seharusnya. Sekuat tenaga ia menahan diri.
Faya hanya bereaksi dengan menganggukkan kepalanya. Ia menuruti perintah Prima dan segera menutup pintu kemudian menguncinya. Setelah itu, ia menyeret kakinya menuju ke ranjang. Otaknya masih berhenti bekerja setelah apa yang Prima lakukan padanya. Kakinya seperti tidak mengijak ke bumi.
Bahkan setelah ia berbaring sempurna di ranjang, bibirnya masih saja ternganga. Terngiang betapa lembutnya bibir Prima. entah kenapa, kali ini rasanya sangat berebeda dengan ketika ia mencium pria itu waktu itu. Mungkin karna sekarang ia masih sadar.
“Aaaaaaaa!!!!” teriak Faya dengan menenggelamkan wajahnya di dalam selimut. Ia menggunakan selimut sebagai peredam suaranya. Faya benar-benar menggila. Kakinya menendang-nendang udara untuk melampiaskan kebahagiaan yang sudah meluber kemana-mana.
“Ya ampun.” Desisnya kembali. Meraba bibirnya dengan jemari. Dan sesaat kemudian, ia kembali menggila. Ia benar-benar sudah mabuk kepayang.
Awalnya ia berfikir, tidak mungkin orang akan jadi gila karna jatuh cinta. Tapi sekarang ia menyangkal fikirannya itu sendiri. sekarang, dia benar-benar sudah gila karna jatuh cinta. Ternyata cinta memang bisa membuat orang hilang kewarasan.
Berteriak-teriak sendiri. tertawa sendiri dan tersenyum sendiri.
Gila, Faya benar-benar sudah gila.
Tidak jauh berbeda dengan Faya. Prima juga sedang menggila di kamarnya. Ia tersenyum-senyum sendiri sambil menatapi pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Berkali-kali meraba pipi kemudian bibirnya. Ia melakukan itu beberapa kali. Ia sudah menghidupkan kran, tapi tidak kunjung membasuh wajahnya. Seolah dia tidak rela untuk menghapus bekas bibir Faya di pipi dan di bibirnya.
Padahal niat awalnya ia ingin membasuh muka agar merasa segar dan menekan nafsunya kembali. Tapi tidak, ia tidak jadi melakukan itu.
Prima berjalan ke arah ranjang dan melemparkan dirinya ke atasnya dengan menelungkup. Wajahnya sempurna mendarat di bantal guling. Ia menatapi bantal itu seolah itu adalah Faya. Tiba-tiba ia menjadi gemas sendiri sampai mere mas-re mas bantal itu. ia melampiaskan kegilaannya kepada bantal yang tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Jatuh cinta, ternyata semenyenangkan ini. Sejak lulus SMA, Prima memang tidak lagi merasakan apa itu cinta. Setelah ia di sibukkan oleh setumpuk tanggung jawab yang ia bawa beserta nama Prianggoro di pundaknya. Dan kali ini, ia seolah merasa kalau hatinya kembali hidup setelah di patahkan oleh cinta pertamanya dulu.