
Seperti biasa, suasana kantor nampak biasa saja. Bagi yang melihat sekilas. Tapi itu tidak bagi Faya. tatapan menghakimi itu masih menghunus tajam padanya. Bahkan ketika ia melewati pantry, ia masih mendengar seseorang menggosipkannya. Berkata kalau ia adalah wanita murahan dan semacamnya.
Siang ini, Faya sengaja makan di kantin kantor. Sendirian. Tanpa Prima. Ia melarang pria itu untuk ikut dengannya. Ia ingin menantang semua orang yang mencibirnya. Karna jam makan siang merupakan waktu senggang terbaik untuk istirahat sekaligus menggosip ria.
Tekad Faya benar-benar sudah bulat. Istilahnya, solo vs squad. Tidak ada yang menemani Faya. Tidak akan ada yang membelanya. Dia benar-benar sendirian di sini sekarang. Sedang menyantap makan siangnya dengan santai. Sesekali ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Soraya tapi wanita itu belum muncul juga.
Memang mereka tetap menyapanya ramah ketika melewatinya. Tapi itu semua hanya kepura-puraan saja. Siapapun bisa melihatnya.
Soraya baru muncul ketika makanannya sudah hampir habis. Ia berpura-pura tidak melihatnya dan tetap fokus dengan makanannya.
Sampai ketika ia sudah menyelesaikan makanannya dan sedang minum, ia mendengar suara Soraya yang sedang menyindirnya. Sepertinya wanita itu sengaja meninggikan suaranya agar Faya mendengarnya.
“Emang kalau orang gak tau malu itu susah ya. Urat malunya udah putus karna kebanyakan tidur sama cowok. Suka heran sama jenis orang kayak gitu.” Sindir Soraya. Seketika suaranya menjadi pusat perhatian. Yang tadinya tidak peduli jadi ikut mendengarkan. Menatap gantian antara Soraya dan Faya.
Faya masih menahan diri. Ia hanya menghela nafas pelan untuk menenangkan emosinya yang mulai terpancing.
“Udah hamil di luar nikah, keluar dari kerjaan, eeeh malah balik lagi. Dasar gak jelas. Jangan-jangan cuti cuman mau gugurin kandungan? Ups.”
Huffhhh.
“Memang kalau dasarnya pelac*r itu ya susah. Sifat dasarnya gak akan bisa berubah.”
Sreekkk!
Yang duduk di dekat Faya terkejut ketika Faya tiba-tiba berdiri dan menolak kursi ke arah belakangnya. Bahka teman satu mejanya mendadak berhenti makan.
Ia berbalik dan menatap lurus kepada Soraya. Tatapan tajam dan dingin. Setelahnya ia berjalan mendekat ke meja Soraya dan berhenti di samping wanita itu.
“Apa? mau apa?” solot Soraya. Entah apa yang membuat Soraya merasa di atas angin sampai jadi seberani itu.
__ADS_1
“Minta maaf.” Ujar Faya datar. Ia terus menatap tajam kepada Soraya.
“Kenapa aku harus minta maaf? Aku gak salah kok.”
“Aku bilang cepet minta maaf. Kalau enggak,”
“Apa? kalau enggak, apa?!” Soraya jadi nyalang. Ia berdiri dan berkacak pinggang menantangi Faya.
“Segitunya kamu suka sama Pak Prima? sampai tega bikin fitnah gak berdasar buat jatuhin aku? Kasihan, cintamu bertepuk sebelah tangan.” Pancing Faya memulai aksinya.
“Apa?!” Soraya nampak terkejut mendengar perlawanan Faya.
“Kenapa? Malu karna ternyata Pak Prima gak balas perasaan kamu?”
“Diem kamu Faya!”
“Biarin aja. biar semua orang tau kalau mulut kamu itu comberan busuk. Bisanya ngomongin orang dari belakang. Jelek-jelekkin orang melulu kerjaannya.”
“Ya, memang aku yang cerita ke kamu. Karna aku fikir hati kamu baik, ternyata busuk. Nyebarin cerita tanpa tau keberanannya dulu.”
“Emang kamu beneran hamil, kan? Kamu sendiri yang bilang!”
“Aku gak hamil! Dasar comberan.”
“Tapi kamu bilang udah tidur sama Pak Prima!!” pekikan Soraya itu langsung membuat tatapan tertuju kepada Faya. mereka semua terkejut dengan kenyataan kalau yang tidur dengan Faya itu adalah Prima.
“Emang kalau orang tidur deketan bisa hamil? Hah?!” Faya pun sudah kepalang emosi. Tidak peduli kalau ia sednag mengungkap kebenaran yang belum seharusnya ia buka.
“Tapi tetep aja kamu udah tidur sama Pak Prima!”
__ADS_1
“Ooh, karna itukah kamu cemburu? Karna kamu fikir aku udah tidur sama Pak Prima? kamu iri? Pengen di tiduri juga?” Faya benar-benar sudah hilang kendali. Lidahnya lemas dan segala yang ia pendam meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Jaga mulutmu, Fay!”
“Kamu yang jaga mulut. Gak tau yang sebenernya aja pakek sok tau nyebarin gosip gak jelas. Iri bilang, boss.”
Dada Soraya terlihat naik turun karna emosi. Tapi Faya, sedikit merasa lega. Ia tersenyum smirk mengejek kepada Soraya.
“Cih. Di tidurin tapi gak di nikahin aja bangga.”
“Ya bangga. Karna memang kami gak ngapa-ngapain. Memangnya kamu gak pernah ketiduran seruangan sama cowok pas kerja? Aku sama Pak Prima cuma sebatas ketiduran di ruangan yang sama. Gak lebih.”
“Kalau Cuma itu, kenapa kamu cerita kalau kamu hamil?”
“Ya, memang aku udah salah faham. Dan penyesalan terbesarku adalah, aku cerita sama mulut comberan kayak kamu. Lagian, kalau memang aku hamil, apa harus kamu sebarin begitu cuman karna kamu cemburu? Cemburu karna Pak Prima gak pernah lihat kamu? Gitu? Busuknya hatimu. Seseneng itu umbar aib orang. Sekarang minta maaf. Cepet!” teriak Faya memaksa.
“Enak aja. Aku gak salah, kok.”
“Cepetan minta maaf.” Suara bariton yang entah sejak kapan menyaksikan kejadian itu sontak membuat semua orang menoleh. Prima berjalan ke arah Faya dan Soraya. Berhenti di antara keduanya. Ia menatap Soraya datar dan dingin.
“P-pak Prima?” desis Soraya yang tiba-tiba kehilangan keberanian.
“Aku kan udah bilang sama kamu. Aku bakalan bawa Faya balik ke sini supaya kamu bisa minta maaf sama dia. Aku nepatin janjiku. Cepetan minta maaf sama dia.”
“Kenapa saya harus minta maaf, Pak? Orang dia sendiri yang cerita kalau kemungkinan dia hamil.”
“Itu kan cuma kemungkinan. Kenapa kamu buru-buru menyimpulkan dan sebarin kabar yang gak jelas gitu? Lagian, memangnya kenapa kalau memang bener aku sama Faya udah tidur bareng? Apa itu masalah buat kamu? Apa itu masalah buat kalian?” kali ini Prima mengedarkan pandanganya kepada seluruh karyawannya yang ada di sana dengan tatapan tegasnya.
“Apa aku gak boleh tidur sama sekretarisku sendiri? apa kalau kami kerja sampai malem, terus ketiduran, itu ngerugiin perusahaan atau ngerugiin kalian? Aku rasa, masalah pribadiku gak sepatutnya jadi urusan kalian. Kalau kalian memang gak ada kerjaan sampai punya waktu banyak buat ngurusin urusan pribadiku, mending urus kerjaan kalian masing-masing. Dan kamu Sora, cepet minta maaf sama Faya.” nada suara Prima berubah tegas dan menakutkan. Mengintimidasi setiap orang yang mendengarkannya.
__ADS_1
“Atau, kamu mau aku sebarin CCTV di gudang pas tanggal 14 maret kemarin? Biar kita semua tau siapa yang lebih busuk disini. Kamu, apa Faya.”
Ucapan Prima itu langsung membuat semua mata tertuju padanya dan Soraya. Penasaran dengan apa yang di maksud oleh Prima tersebut. Sementara Soraya, wajahnya sudah memerah takut. Ia tau apa yang sudah ia lakukan di hari itu di gudang. Ia sedang bercinta dengan seseorang yang juga merupakan bagian dari tim HRD.