
“Kamu gak apa-apa kan, Fay kalau kita langsung nikah? Apa kamu mau tunangan dulu?” akhirnya Prima bertanya langsung kepada Faya.
Kini kembali semua orang menatap kepadanya. Sepertinya, Faya memang harus memberikan jawaban dari mulutnya sendiri.
“Mungkin, lebih baik kalau langsung menikah aja.”
“yes!!” pekik Prima seraya mengepalkan tangan tanda kemenangan. Membuat Favita hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah aneh adiknya itu.
“Tapi,,,,”
Prima langsung menghentikan euforianya melihat keraguan Faya. sementara Faya menoleh kepada Favita dengan tatapan yang penuh arti.
“Gak usah mikirin aku, Fay. Aku gak apa-apa” Favita mengerti kalau Faya memikirkan dirinya. Secara dia adalah kakak dari Prima. “Aku sama sekali gak keberatan kalau kalian nikah dulu dan ngelangkahin aku. Santai aja. jodohku masih on the way.” Seloroh Favita membuat semua tertawa.
“Jadi kamu mikirin Vita? Gak usah pusing, Fay. Keluarga kami ini paling santui pokoknya. Dulu Ranu juga nikah lebih dulu daripada Ren. Dan kami gak pernah mempermasalahkan itu.” kali ini Esta ikut menimpali.
Bukan apa, Faya takut di anggap tidak sopan karna melangkahi Favita. Ya walaupun sebagian besar masyarakat sudah tidak masalah dengan langkah-melangkahi. Tapi untuk berjaga-jaga saja.
“Kalau memang Mbak Vita ijinin kami nikah dulu, saya juga gak apa-apa kalau langsung nikah. Maaf ya, Mbak. kami duluan.” Seloroh Faya yang sudah mulai ikut mencair.
Senyum lebar Prima kembali terbit sampai menampakkan deretan gigi-giginya. Ia terus menatap dalam kepada calon istrinya itu dengan rasa bangga.
Selebihnya, mereka membahas tentang hari pernikahan yang akan di adakan. Dan yang tidak kalah penting, tentang mahar.
“Kamu mau mahar apa dari Prima, Fay?” tanya Zinnia.
Faya sontak melihat kepada Prima. pria itu malah menaik-naikkan kedua alisnya sambil terus tersenyum.
“Minta yang mahal, Fay. Dia banyak uangnya.” Favita ikut menimpali. Ia ingin mengompori calon adik iparnya untuk menguras isi dompet Prima.
“Ehm, kalau itu, terserah Mas Prima aja. sesanggupnya Mas Prima. Aku gak mau ngeberatin Mas Prima. Dia pasti tau berapa nilai maharku.” Jawab Faya sambil menatap Prima. Prima hanya balas tersenyum padanya.
__ADS_1
“Ya udah. Kami yakin kalian udah bicarain tentang ini.”
Telah di sepakati, hari pernikahan Prima dan Faya akan di gelar sekitar satu setengah bulan lagi. Dan itu waktu yang lebih dari cukup untuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan. Zinnia meminta Prima dan Faya fokus pada urusan mereka saja. Tidak perlu ikut mengurusi gedung, undangan dan segala ***** bengeknya. Karna itu akan menjadi urusan Zinnia nantinya.
Zinnia pasti akan memberikan yang terbaik untuk mereka. Itu adalah janji yang di ucapkan oleh Zinnia. Sehingga ia meminta Faya untuk tidak khawatir.
“Tapi nanti tetep bakalan koordinasi sama kalian. Biar gimanapun kan ini pernikahan kalian. Faya pasti ada pengen sesuatu soal dekorasi dan yang lainnya. Jadi, nanti mama tetep bakalan tanya-tanya sama kalian.”
“Iya, Buk.”
“Eh. Kayaknya mulai sekarang kamu udah bisa biasain panggil Mama, Fay.” Ujar Zinnia kembali. Membuat wajah Faya merona malu.
“Kamu ini Prim, susah dapet sekretaris yang betah. Sekalinya dapet yang betah, eeeh malah di jadiin istri sekalian.” Selorohan Esta itu langsung di sambut gelak tawa oleh semua orang. Membuat Prima menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir.
“Namanya jodoh, Nek. Gak kemana.” Jawab Prima pada akhirnya. Tingkah malu-malu Prima itu membuat semua orang semakin tertawa. Terlebih Favita.
Termasuk Iwan. Ia ikut tertawa saja larut dalam suasana ceria itu. dalam hati benar-benar bersyukur Faya di cintai oleh laki-laki yang tepat. Ia lega karna nantinya Faya akan ada di tengah-tengah keluarga hangat ini. Semoga itu bisa mengganti bahagia Faya yang hilang. Bahagia yang tidak bisa ia berikan untuk adik semata wayangnya itu.
Selesai menyantap hidangan yang tersaji, obrolan berlanjut. Saling menceritakan apapun yang bsia menjadi topik pembicaraan. Kebanyakan keluarga Prima menceritakan tentang masa kecil Prima. kemudian berlanjut dengan Iwan yang menceritakan beberapa pengalaman menarik ketika ia sedang bekerja. Mereka benar-benar membaur seperti tidak ada batasan di antara mereka.
Ternyata, di balik kesempurnaan sosok Prima, dia tidak lebih hanyalah sosok pria biasa. Bandel ketika kecil dan berontak ketika merasa tidak terima.
Di balik sosoknya yang terlihat hebat itu, tersimpan kelembutan juga. Terbukti dari cerita Zinnia kalau ternyata Prima sama sekali tidak pernah melawan ibunya. Hanya kepada Ren saja ia sesekali berani memberontak ketika di larang.
“Mau kemana, Fay?” tanya Iwan ketika Faya beranjak dari duduknya.
“Mau ke kamar mandi sebentar, Mas.” Ujar Faya kemudian ia berjalan keluar dari ruangan.
Melihat itu, Prima langsung mengikuti kekasihnya itu keluar. Tidak peduli mendapat ejekan dari Favita sekalipun.
“Lho? Kok Mas ikut keluar?” tanya Faya ketika menyadari Prima yang mengikutinya di belakang.
__ADS_1
Prima tidak menjawab. Ia hanya langsung merengkuh tubuh Faya ke dalam pelukannya. Erat sekali. Ia sampai memejamkan mata demi meresapi setiap debaran hatinya sekarang ini.
“Makasih, sayang. Makasih banget.” Desis Prima.
“Mas, udah dong. Di tempat umum ini. Gak enak di lihatin orang.”
Dan sepertinya Prima sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Ia tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari gadis yang di cintainya itu. Yang ada malah semakin mengeratkan pelukannya.
Baru setelah Faya memaksa untuk melepaskan diri, Prima merenggangkan pelukannya. Ia membelai pipi gadisnya itu dengan lembut dan menatap lurus ke netranya.
“Mas?” lirih Faya. matanya sendu menatap netra Prima.
“Hem?”
“Aku......” Faya menggantung kalimatnya.
Prima tidak sabar mendengar kalimat selanjutnya. “Apa?”
“Aku kebelet pipis. Udah di ujung.” Ucap Faya yang langsung berjalan cepat masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Prima yang hanya terkekeh kecil melihat tingkah lucu kekasihnya itu.
Prima menunggui Faya di depan kamar mandi. Setelah Faya selesai, mereka kembali ke ruangan bersama-sama.
“Cieee. Ngekor terussssss.” Seloroh Favita namun tidak di gubris oleh Prima. Yang ada Prima malah nyengir saja.
Kesepakatan pembahasan pernikahan telah tuntas. Waktu juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ternyata mereka keasyikan mengobrol sampai tidak terasa malam sudah sangat larut. Dan sudah saatnya mereka mengakhiri pertemuan malam itu.
“Kapan-kapan mampir ke rumah kami, Mas. Biar tau.” Tawar Ren kepada Iwan.
“Iya, iya. Pasti. Nanti saya pasti mampir ke rumah Pak Ren dan keluarga kalau ada kesempatan.”
“Kalau Mas mau mampir, telfon aku aja Mas. Nanti aku antar.” Timpal Prima.
__ADS_1
Iwan mengangguk mengerti. Selanjutnya mereka semua bergerak menuju rumah masing-masing. Sementara Prima, Faya dan Iwan, berada di satu mobil dan mereka pulang ke apartemen.
Pertemuan malam ini sungguh sangat berkesan bagi Faya maupun Iwan. Mereka benar-benar di sambut dengan baik dan hangat oleh keluarga Prima. ia merasa di hargai walaupun status sosial mereka jauh di bawah keluarga Prima.