One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 74. Tidak Bisa Kalau Hati Yang Patah.


__ADS_3

Kedua manusia itu, tidak ada yang bicara. Baik Faya maupun Prima, hanya menikmati makanan mereka tanpa mengganggu satu sama lain.


Faya bersusah payah untuk menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Begitu juga dengan Prima.


“Aku bener-bener minta maaf sama kamu, Fay.” Kalimat pertama yang keluar dari mulut Prima setelah mereka selesai makan.


Faya hanya diam saja. Ia bahkan tidak berani menatap mantan bosnya itu karna merasa terlalu canggung.


“Kamu boleh banting aku lagi atau apapun itu. aku gak apa-apa. Aku bisa tahan kalau Cuma pingangku yang patah. Tapi aku gak bisa tahan kalau hatiku yang patah, Fay.”


Nada suara Prima terdengar dalam dan lembut. Menyiratkan makna dalam di sana.


“Bapak mending jangan ganggu saya, deh.” Balas Faya.


“Aku bakalan tetep ganggu kamu sampai kamu maafin aku. Aku bener-bener gak bermaksud buat kamu marah, Fay. Apalagi sampai nyakitin kamu.”


“Terus kenapa bapak gak langsung jelasin sama saya waktu itu? Bapak punya banyak waktu, Pak. Kenapa coba? Ya karna Bapak seneng lihat saya susah. Sehari aja Bapak gak ngerjain saya tuh mungkin kayak ada yang kurang dari hidup Bapak.” Faya bermonolog tanpa memberikan Prima jeda untuk pembelaan diri.


Tidak di pungkiri, awalnya Prima memang berniat begitu. Sedikit mengerjai Faya. Hanya sedikit.


“Ya makanya itu aku bela-belain kesini buat minta maaf sama kamu. Udah dong marahnya. Kamu balik ke kantor lagi, ya?” mohon Prima.


“Maaf, Pak. Saya udah dapet kerjaan baru. Di tempat yang lebih baik dari tempat kerja saya sebelumnya.” Tanting Faya memamerkan diri. Maksudnya adalah tawaran pekerjan dari Pak Hendro.


“Yaaaaah. Kok gitu?” Prima nampak kecewa.


“Udah lah, Pak. Gak perlu buang-buang waktu berharga Bapak disini.”


“Siapa bilang aku buang-buang waktu? Aku kesini itu demi kamu. Aku gak akan pergi sampai kamu maafin aku.”


“Terserah Bapak aja.” dengus Faya kemudian berdiri dan membawa nampan kosongnya dan mengembalikannya ke meja.


Melihat itu Prima tidak tinggal diam. Ia segera mengikuti Faya karna tidak mau ketinggalan.


“Mau kemana, Fay?” tanya Prima yang tiba-tiba sudah ada di di samping gadis itu. Faya menoleh dengan terkejut.


“Bapak ngapain ngikutin saya?” kesal Faya.

__ADS_1


“Biarin. Kan udah aku bilang. Aku bakalan nempelin kamu terus kaya lem sampai kamu mau maafin aku.” Teguh Prima.


Sungguh, Faya kesal setengah mati. Belum juga ia melempar Bian ke laut. Kini sudah muncul pengganggu lain lagi. Pengganggu yang selalu membuatnya goyah dan berdebar.


“Fay, maafin aku dong. Janji gak ngulangin lagi. Ya?” rengek Prima kembali.


Faya tidak menggubris. Dia terus melangkah kakinya. Sebisa mungkin menghindar dari pria itu.


Fikiran Faya kacau balau. Keberadaan Prima di sekitarnya membuatnya tidak fokus memperhatikan sekeliling. Hingga di ujung belokan, Faya tidak sengaja bertabrakan dengan orang lain hingga membuat tubuhnya terhuyung dan hampir saja mendarat di lantai. Untung saja gerakan cepat Prima menyelamatkannya dari patah tulang pinggang.


Kini, tubuh Faya sudah mendarat di pangkuan Prima. Sumpah, jantungnya hampir saja meloncat keluar sekarang ini.


“Kamu gak apa-apa?” panik Prima. walaupun ia tau pasti kalau Faya baik-baik saja.


“I’m so sorry.” Ujar bule yang menabrak Faya.


“It’s oke.” Jawab Faya yang langsung bangun dan melepaskan diri dari dekapan Prima. kemudian kembali


melanjutkan langkahnya seolah tidak ada yang terjadi. Ia bahkan tidak mengucapkan terimakasih kepada Prima.


Bukan Prima tidak melihat. Ia sudah melihat wajah Faya yang merona tadi. Kedua sudut bibirnyapun tertarik ke atas.


Sial! Rutuk Faya dalam hati.


Kenapa ada saja kejadian memalukan seperti itu? sejak kemarin dia baik-baik saja. Tidak pernah kok sampai menabrak orang segala. Dia bahkan sudah menyelamatkan nyawa anak Pak Hendro. Keberadaan Prima di sekitarnya benar-benar membuat Faya oleng.


Faya menuju ke ruang perawatan tempat bocah yang kemarin ia selamatkan di rawat. Itu semata-mata agar dia punya kegiatan sehingga tidak perlu fokus kepada Prima.


Setelah sampai di ruang perawatan, Faya segera bertanya kepada seorang suster yang ia temui. Suster itu memberitahu kamar perawatan bocah itu. dan Faya segera pergi menuju ke sana. Dan Prima, masih setia mengekori gadis itu di belakangnya.


Faya mengetuk pintu ruang perawatan kemudian membuka pintu.


“Faya!” pekik Wita senang. Wanita itu langsung memeluk Faya dengan erat.


“Gimana keadaan Gama, Buk?” tanya Faya basa basi. Ia melirik kepada Gama yang sedang bermain dengan ponselnya di ranjang.


“Udah baik. Hari ini udah boleh keluar. Gama, bilang makasih dulu sama Tante Faya.”

__ADS_1


“Tante, makasih banyak ya, udah nolongin Gama.” Ujar Gama sambil menundukkan kepalanya hormat kepada Faya.


Faya tersenyum. Ia mengelus kepala bocah itu dengan lembut.


“Sama-sama. Lain kali, hati-hati ya kalau main di pinggir kolam.” Pesan Faya.


“Em.” Gama langsung mengangguk mantap.


Sejenak, mereka melupakan sosok pria yang sedang berdiri di luar kamar. Pria itu terus mengintip lewat celah pintu namun hanya punggung mereka saja yang terlihat. Ia ingin masuk. Tapi tidak berani. Sungguh ia penasaran siapa yang di temui oleh Faya itu.


“Ehem! Cari siapa ya, Mas?” tanya Hendro yang baru saja kembali dari bertelfon dengan kolega bisnisnya. Menatap curiga kepada Prima. Merasa aneh dengan pria yang berdiri di luar kamar putranya itu.


“Oh, ehm, enggak ada, Pak.”


Hendro melirik aneh kepada Prima. kemudian melenggang masuk ke dalam ruangan. Sambil mendekati istrinya, Hendro melirik sekali kepada Prima yang masih berdiri di luar pintu. Pria itu nampak melongokkan kepalanya ke dalam untuk mengintip.


“Siapa itu, Pa?” tanya Wita.


“Entah. Gak tau. Gak kenal.”


“Temen kamu, Faya?” tanya Hendro kembali.


“Bukan, Pak. Saya juga gak kenal.” Kilah Faya.


Prima yang mendengar Faya tidak mengakuinya hanya bisa mendengus kesal saja. Mengelus dada berusaha untuk menyabarkan diri. Sekali lagi, Faya begitu karna sedang marah kepada dirinya. Jadi dia tidak berhak untuk menyalahkan Faya karna sikapnya. Ia akan sabar dan terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari gadis itu.


Prima setia menunggu di luar hingga Faya selesai dan keluar dari ruangan rawat Gama. Dan lagi, gadis itu tidak mempedulikan keberadaan Prima dan langsung melengos pergi begitu saja.


Prima tak mau kalah, ia segera mengikuti langkah Faya kemanapun gadis itu pergi. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedkitpun.


“Fay! Tungguin dong. Jangan cepet-cepet jalannya.” Mohon Prima. Dan Faya tetap tidak peduli. Sungguh, ia sangat ingin Prima pergi dari hadapannya.


Bukan apa, ia tidak ingin hatinya kembali goyah. Pasalnya, baru beberapa jam bertemu dengan pria itu dan kemarahannya sudah semakin menipis. Ia tidak ingin di anggap tak punya pendirian. Ia tidak ingin kalah atas Prima. Ia ingin pria itu menyesal karna sudah membohonginya sedemikian rupa.



__ADS_1


maafin gak ya????


__ADS_2