One Night Stand With My Crazy Boss

One Night Stand With My Crazy Boss
BAB 28. Ingin Terlihat Tampan Untuk Seseorang.


__ADS_3

Pagi hari, Faya terbangun pukul setengah 6. Bahkan hari sudah terang benderang. Menyadari ia terlambat bangun, Faya segera melompat dari ranjang. Ia segera mandi dan berpakaian rapi. Karna hari ini adalah acara pernikahan Wulan.


Setelah selesai dan siap berangkat, Faya mencari-cari ponselnya. Ia melihat ponselnya itu sudah dalam keadaan mati dan panas. Seperti habis di gunakan dalam waktu yang lama.


Faya heran. Ia menimbang-nimbang dan berfikir kenapa ponselnya bisa sampai sepanas itu. Faya ingin mengecas ponselnya, tapi ia di buru waktu. Jadi ia melemparkan saja ponselnya itu ke atas ranjang kemudian keluar dan pergi ke kamar Prima.


Faya langsung masuk saja ke kamar Prima. namun ternyata pria itu masih tertidur lelap di ranjangnya. Segera saja ia membangunkan Prima dengan hati-hati.


“Pak? Pak Prima?”


Prima nampak tidak menggubris panggilan Faya. Dia hanya terus terlelap dan hanya bergerak sedikit saja. Sepertinya dia sangat mengantuk sekali.


Bagaimana tidak mengantuk? Prima baru tidur sekitar 5 menit yang lalu. Setelah menghabiskan sisa malamnya dengan menatapi layar ponsel yang membuat senyumnya terus mengembang. Bahkan ia tidak mempedulikan rasa perih yang mendera bola matanya karna terlalu lama terbuka.


“Pak? Udah waktunya berangkat.” Ujar Faya lagi. Dan Prima nampak masih tidak mendengarnya.


“Pak Prima?!” akhirnya Faya memekik dengan suara lantang. Itu sengaja ia lakukan untuk membangunkan bosnya itu. Bukan apa, kalau Prima terlambat, bosnya itu pasti juga akan menyalahkannya nanti.


Jadi biar saja Prima marah padanya karna mengejutkannya saat tidur. Daripada dia uring-uringan nanti.


Mendengar teriakan Faya, mata Prima sontak terbuka lebar dengan degub jantung yang tak terkendali. Ia terkejut bukan main. Menyadari telah di bangunkan paksa oleh sekretarisnya, lantas ia menatap tajam kepada Faya dan sedikit mendengus kesal.


“Kamu ini. Gak bisa apa banguninnya pelan-pelan? Buat orang kaget aja.” Gerutu Prima. ia masih berusaha menetralkan degub jantungnya.


“Maaf, Pak. Saya udah bangunin Bapak berkali-kali. Tapinya Bapak gak bangun-bangun. Saya gak punya pilihan lain, Pak.” Faya terkesan membela diri.


Karna terkejut, kantuk Prima menjadi menguap entah kemana. Ia melirik jam di ponselnya dan setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi.


Faya menunggu di ruang tamu sementara Prima mandi. Sebelumnya, ia sudah menyiapkan satu stel pakaian formal untuk bosnya itu di atas ranjang. Kemeja batik dan celana kain berwarna abu-abu. Faya fikir, karna ini merupakan acara formal keluarga, jadi ia menyiapkan baju itu.


“Fay!” pekik Prima dari dalam kamar.


Mendengar namanya di panggil oleh bosnya, Faya bergegas masuk ke dalam kamar Prima. namun, setelah masuk ia seketika membalikkan badan dan berhenti di pintu.


Bukan apa, ia melihat Prima yang hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Sungguh pemandangan yang menggoda iman. Untung saja Faya tidak sempat memperhatikan. Ia bersyukur karna mempunyai reflek yang bagus.

__ADS_1


“Kenapa, Pak?” tanya Faya sambil membelakangi Prima.


“Kamu serius suruh aku pakai ini?” Prima mengernyit. Rasanya malas mengenakan baju batik yang terkesan seperti bapak-bapak itu. Bahkan ia tidak tau kalau ternyata Faya menyiapkan pakaian itu.


“Kan acara formal, Pak. Bapak mau pakai celana pendek dan kaus kayak di kantor? Bisa-bisa bapak di ketawain sama orang-orang. Ini kan acara penting sepupu Bapak, jadi berikan kesan terbaik buat dia supaya sepupu pak Prima gak kecewa.”


“Kok sekarang jadi kamu yang suka ngatur aku?”


“Bukan ngatur, Pak. Tapi memberi saran. Biar Bapak kelihatan baik di mata orang. Kan itu tugasku buat bantu Bapak terlihat baik. Bapak pasti kelihatan tambah keren pakai baju itu.” Rayu Faya.


Ah, manis sekali mulut Faya itu. Haha.


Dan untungnya rayuan itu termakan oleh Prima. lebih kepada, Prima tidak mau panjang berdebat. Bisa-bisa dia di banting oleh sekretarisnya itu. Hiiii. Serem. Lagipula ia ingin membuktikan perkataan Faya. Apa dia akan terlihat lebih tampan?


“Ya udah sana. Keluar.” Usir Prima karna ia mau berpakaian.


Dengan segera Faya keluar. Tidak lupa ia menutup pintu dengan tanpa melihat ke arah Prima.


Selesai berpakaian, Prima terus mematut dirinya di depan cermin. Penilaian Faya ternyata tidak salah. Ia terlihat sangat tampan mengenakan pakaian batik seperti ini.


Sepuluh menit kemudian, Prima keluar dari kamar dengan sudah dalam keadaan rapi.


“Nah. Gitu, Pak. Kan tambah ganteng.” Seloroh Faya memuji ketampanan bosnya itu.


Mendapat pujian dari Faya, pirma sontak mengu lum senyum. Entahlah, ia senang di puji oleh Faya.


Entah sejak kapan hati Prima luluh kepada Faya. Iapun tak tahu pasti. Yang jelas, saat kejadian di depan toko roti waktu itu, Prima menyadari kalau ia sedih melihat Faya menangis. Tak tega.


“Ayo.”


“Siap. Hehehehehe.”


Keduanya lantas menuju ke kediaman keluarga Prima. tidak butuh waktu lama. Karna memang jarak hotel dan rumah ranu tidak jauh. Hanya 10 menit saja.


Sesampainya di tempat, Prima langsung mendapat tatapan tajam dari sang ibu. Zinnia lantas memarahinya karna hampir saja terlambat.

__ADS_1


“Kamu ini. Gak bisa cepet dikit, apa..........” Zinnia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia malah jadi menatapi putranya itu dari ujung kepala hingga kaki. Hampir saja ia mengira salah memarahi orang.


“Mama kenapa ngelihatinnya begitu? Nyeremin.”


“Kamu? Beneran Prima? pakai ini?” tanya Zinnia tak percaya. Ia menunjuk pakaian putranya itu.


“Memangnya kenapa?”


“Ya ampun. Gini dari dulu kan enak di lihat, Nak. Bukan kemana-mana pakai kaus oblong sama celana pendek. Bagus. Bagus.” Zinnia menepuki punggung Prima dengan bangga. Menatapi wajah putranya yang ketampanannya berlipat itu.


Dari arah sebelah, Favita datang dan langusng menghampiri ibu dan adiknya. Ia terkesiap dan hampir tidak percaya melihat Prima mengenakan pakaian seformal itu. Karna ini pertama kalinya Favita melihat adiknya itu mengenakan pakaian batik.


“Weeiissst. Gila ganteng banget. Bisa klepek-klepek cewek-cewek nanti, Dek.”


“Lebay.” Gerutu Prima yang langsung ngeloyor pergi begitu saja sambil bersaku tangan dengan gaya cool. Meninggalkan ibu dan kakaknya.


Faya mengangguk hormat kepada Zinnia dan Favita sambil mengembangkan senyuman.


“Kamu yang nyuruh dia pakai itu? Pakai jurus apa kamu, Fay?” tanya Zinnia.


“Jurus rayuan maut, Buk. Hehehehe.”


Sejak makan malam bersama keluarga Prima waktu itu, hubungan Faya dan keluarga bosnya itu bisa dikatakan cukup dekat. Pun Faya sudah tidak merasa canggung lagi. Cuma dia tetap mempertahankan rasa segan. Karna bagaimanapun mereka keluarga bosnya. Jadi tidak mungkin dia asal bersikap.


“Ayo, masuk.”


“Baik, Buk.”


Faya mengikuti zinnia masuk ke dalam rumah besar itu. Faya membatin, sepertinya memang keluarga Prima bukanlah orang sembarangan. Ia bisa merasakan kemewahan dekorasi pernikahan. Dengan nama Wulan dan Indra yang terukir manis di beberapa lokasi pesta.


Faya mengedarkan matanya untuk mencari Prima. dia bisa melihat bosnya itu sudah duduk manis di kursi. Faya tidak mendekat. Ia memilih untuk duduk di kursi paling belakang karna merasa dia bukan bagian dari keluarga. Dan selebihnya, dia hanya memperhatikan saja selama acara berlangsung.



__ADS_1


hai kalian, jangan lupa tinggalin jejak yaaaa para warga kesayangan. mmuuaahh...


__ADS_2