
Perasaan Faya masih belum stabil. Rasa marah dan sakit hatinya belum bisa ia atasi. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan rasa kecewanya kepada Prima.
Bahkan saat mereka memasuki sebuah apartemen mewah, Faya masih sibuk dengan fikirannya sendiri.
“Duduk dulu, Fay.” Harvey mempersilahkan. Faya hanya mengangguk dan menurut. Ia duduk di sofa ruang tamu.
Apartemen Harvey luas juga. Hampir sama dengan milik Prima namun lebih luas apartemen Prima. banyak tanaman hias yang sengaja di taruh dalam pot di tiap-tiap sudut ruangan. Tanaman itu hijau dan kontras dengan dinding Harvey yang bernuansa putih. Memberikan kesan segar saat melihatnya.
“Minum dulu.” Harvey menyodorkan sebuah teh hangat ke meja di hadapan Faya.
“Makasih, Harv.”
“Gak usah sungkan-sungkan di sini, ya. Kamu bisa lakukan apapun. Kalau mau masak, semua bahan yang kamu butuhkan ada di kulkas dan lemari itu.” Harvey menunjuk ke sebuah lemari kecil di dekat kulkas.
Sekali lagi, Faya mengangguk mengerti.
“Maaf aku gak bsia nemenin kamu padahal kamunya lagi susah begini. Kerjaan aku gak bisa di batalin soalnya.” Sesal Harvey kembali.
“Gak apa-apa, Harv. Aku yang mina maaf udah ngerepotin kamu. Jam berapa kamu pergi?”
Harvey melihat jam tangannya. “Bentar lagi. Oh iya, kalau mau tidur, kamu bisa tidur di kamarku aja. soalnya kamar yang lain gak ada kasurnya.”
“Gak apa-apa, aku tidur di sofa aja. sofa ini udah nyaman kok, Harv.”
“Jangan gitu. Nanti kamu masuk angin soalnya disini dingin. Gak apa-apa, tidur di kamarku aja.”
“Aku bener-bener makasih banyak sama kamu, Harv. Jujur aku malu, saat susah begini justru kamu ada buat aku. Sedangkan aku,,,”
__ADS_1
Harvey tau apa yang di maksud oleh Faya. Ini pasti perihal perasaannya kepada gadis itu.
“Gak usah sungkan gitu. Aku kan udah bilang. Aku gak ngarep kamu nerima aku sebagai pacar. Aku udah senang kamu bolehin aku nyimpan perasaan ini. Satu hal yang harus kamu tau, ada aku yang akan selalu ada buat kamu. Jadi tolong, jangan simpan sakitmu sendirian. Hm?”
Mata Faya kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Harvey itu. Ia malu sekaligus terharu dengan perhatian Harvey. Kalau saja ia masih punya sisa rasa kepada Harvey seperti dulu, mungkin ia tidak perlu menolak pria itu. Sehingga ia tidak perlu diserang rasa tidak nyaman seperti ini.
Walaupun merasa tidak nyaman, tapi Faya tak punya pilihan lain. Dia benar-benar tidak punya tempat tujuan lain.
“Fay, kayaknya aku harus pergi sekarang, deh. Kamu gak apa-apa kan ku tinggal sebentar. Cuma beberapa hari, kok.” Harvey bangkit dari duduknya.
Harvey menarik koper yang memang sudah ia siapkan sebelumnya kemudian berjalan ke arah pintu. Dengan Faya yang mengikuti pria itu di belakangnya.
“Jangan lupa, kamu boleh makan apapun yang ada di rumah ini. Gak perlu sungkan. Oke?” pesan Harvey kembali. Ia tersenyum kemudian mengangkat tangannya dan mengusap kepala Faya dengan lembut.
Faya terkesiap dengan perlakuan Harvey itu. Bukan karna ia merasa berdebar di perlakukan seperti itu. Melainkan karna ia semakin merasa tak enak hati kepada Harvey.
Faya mengangguk. “Iya. Aku jagain rumahmu. Jangan khawatir.” Faya berseloroh.
Faya tidak mengantarkan Harvey sampai di tempat parkir karna Harvey melarangnya. Pria itu takut ada seseorang yang melihat dan berfikiran macam-macam. Bukan ia mengkhawatirkan diri sendiri. tapi itu karna Harvey mengkhawatirkan Faya. Ia tidak ingin timbul masalah lagi yang membuat Faya semakin buruk.
Seperginya Harvey, Faya kembali masuk ke dalam rumah. Ia kembali duduk di sofa dan mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Rumah sebesar ini tapi terasa dingin dan kosong. Itu mungkin karna Harvey jarang pulang ke rumah karna sibuknya jadwal syutingnya.
Berbeda dengan apartemen Harvey, apartemen Prima terasa hangat.
Ah, kenapa fikrian Faya jadi ke Prima sih? Menyebalkan.
Hembusan angin membuat gorden di balkon tertiup-tiup dan bergelombang. Hal itu menarik perhatian Faya. Perlahan, ia bangun dan berjalan menuju ke balkon. Pemandangan kota jakarta yang berkabut langsung menyambutnya.
__ADS_1
Itu hanya pemandangan sehari-hari yang kerap Faya lihat. Tapi entah kenapa dari sini, kota Jakarta terlihat buram karna tertutup kabut polusi. Seburam hati Faya saat ini.
Perasaan sakit itu kembali menelusupi hati Faya. Padahal beberapa saat lalu ia sudah bisa mengalihkannya. Dan benar, ia tak bisa menahan laju airmatanya. Ia kembali menangis mengingat kejadian demi kejadian yang ia alami hari ini.
Yang lebih membuatnya sakit adalah Prima. setidaknya itulah yang bisa ia lakukan untuk menekan rasa sakitnya. Padahal, kalau ia tidak memiliki rasa terhadap Prima, ia tidak akan sesakit ini. Padahal, kalau ia tidak menyimpan nama pria itu di hatinya, ia tidak akan seterluka ini.
Seharusnya ia lega karna tak terjadi apa-apa. Tapi kenapa rasanya sesakit ini?
Perbuatan Prima seolah menamparnya untuk menyadari posisinya. Kejadian ini membuat Faya mengerti, kalau tidak ada yang namanya perhatian tulus dari seorang Prima. semua yang di lakukan pria itu hanya sedikit dari sekian banyak akal bulus untuk mengerjainya. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang?
Faya terus merutuki dirinya sendiri. membodoh-bodohkan hatinya yang masih tetap berdebar bahkan setelah apa yang telah pria itu lakukan.
Ah, memang benar adanya. Perasaan yang mengalir itu tak bisa di hentikan sesuka hati. Bahkan kebencian tak mampu menutupinya.
Tapi tidak, Faya tidak mau lagi membiarkan perasaannya terus tumbuh kepada Prima. bodoh namanya jika ia masih mempertahankan nama Prima di hatinya setelah di sakiti demikian rupa. Ia tak mau buta karna perasaannya.
Hal yang tidak Faya ketahui, kalau Prima saat ini sedang frustasi karna mencari dirinya. Mengaduk-aduk seluruh kantor hingga membuat heboh.
Ponselnya tak pernah lepas dari tangan untuk menghubungi Faya. Walaupun telfonnya tak pernah terhubung dan pesan-pesannya tak pernah di baca oleh Faya.
Prima menyambar kunci mobilnya dan langsung bergegas untuk pulang. Ia berharap Faya akan ada di rumah. Ia harus menjelaskan kesalah fahaman ini sekarang juga. Kepalanya sudah hampir meledak membayangkan jika Faya akan marah padanya untuk waktu yang lama. Baru beberapa jam Faya marah saja, hatinya sudah sakit dan dadanya sesak.
“Fay,Kamu dimana?” lirih Prima saat sedang menunggu pintu lift apartemennya terbuka. Ia cemas bukan main.
Telfon dari Prima masih belum bisa tersambung. Membuat hati Prima semakin pias saja.
“Fay! Fay! Kamu di dalam, kan? Buka pintunya!” teriak Prima menggedor-gedor pintu apartemen Faya. Bisa saja ia langsung menekan tombol dan masuk begitu saja. Tapi dia tidak ingin Faya bertambah marah karna sikap kurang ajarnya itu.
__ADS_1
“Fay! Please, buka pintunya. Aku mau ngomong!” Prima seolah tak lelah untuk berteriak memanggil Faya. Walaupun tetap tak ada jawaban dari gadis itu.