
Sudah beberapa hari ini Mirza lebih betah berdiam diri di kantor, ia selalu pulang saat malam hampir larut. Pa Sanjaya sampai heran, karena ia tidak pernah memberikan pekerjaan berat pada putranya itu.
Sebenarnya pekerjaan hanyalah alasan, ia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri. mengistirahatkan pikirannya yang terasa kacau akhir-akhir ini. beruntung kini ia memiliki ruangan sendiri di kantor, ia jadi bisa berlama-lama berdiam diri disana.
Pertunangannya dengan Gweny yang dilakukan secara tiba-tiba, juga perasaan yang tak terbalaskan oleh Alula, membuat hati dan pikirannya semakin kacau. bingung tak tahu harus melakukan apa.
Satu-satunya cara adalah dengan menghindari semua orang. entahlah, rasanya malas sekali berbicara dengan semua orang. karena tidak ada seorangpun yang memahami perasaannya saat ini. bahkan Alula, gadis yang ia sangka juga memiliki perasaan yang sama, ternyata hanya menorehkan luka.
Tapi, mengapa saat ini perasaannya berbeda. tiba-tiba ia sangat merindukan Alula. senyum manisnya, tawa riangnya, cerewet nya Alula saat membangunkan dirinya dari tidur, tiba-tiba saja melintas dipikiran nya.
Satu hari tidak bertemu dengannya saja, hidupnya terasa sepi. Dan sekarang, sudah berhari-hari ia tidak melihatnya. ada perasaan kehilangan yang mulai ia rasakan.
Mirza menatap jam yang menggantung di dinding ruangannya. Sudah saatnya ia pulang, pikirannya langsung tertuju pada Alula.
Ia ingin meyakinkan sekali lagi, apa mungkin Alula juga memiliki perasaan yang sama, namun terhalang sesuatu. setelah sekian lama bersama, sedikitnya ia tahu sifat Alula yang selalu mementingkan perasaan orang lain dari pada dirinya sendiri. apa mungkin, Alula melakukan itu ?
Ia segera membereskan file-file yang baru saja ia baca. Menyusunnya kembali di atas meja dengan rapi, agar lebih mudah diambil dan dipelajari lagi.
Perasaan tak sabar ingin bertemu dengan Alula, membuatnya lupa mengambil handphone nya diatas meja. kebiasaan yang sering ia lakukan jika sedang terburu-buru.
Mirza keluar dari ruangannya, ia melihat beberapa karyawan lainnya juga tengah bersiap untuk pulang. dengan langkah tergesa, ia berjalan menuju lift tanpa menghiraukan beberapa karyawan yang menyapa.
"Selamat sore pak."
"Pulang pak ?" sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Mirza tak menjawab, pikirannya kini fokus pada pemilik wajah putih bersih yang akhir-akhir ini meresahkan perasaannya.
Pintu lift terbuka, ia buru-buru masuk ke dalamnya. hanya ada beberapa karyawan yang ikut masuk bersamanya.
Diparkiran, mobilnya terjebak diantara beberapa mobil karyawan yang lain. membuatnya merasa kesal, mengapa tukang parkir tidak memudahkannya untuk keluar.
Entah mengapa, rasanya ia tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu. masa bodoh dengan penolakan yang diterimanya. ia hanya ingin bertemu dan memastikan kembali perasaanya.
Ditengah perjalanan, mobilnya terhenti. jalanan begitu penuh, hingga mengakibatkan kemacetan yang cukup panjang. Mirza mendengus kesal, mengapa semua orang tidak mengerti kemauannya. ia hanya ingin pulang dengan cepat.
TIIIN ...
TIIIN..
TIIIN...
Mirza membunyikan klakson berkali-kali, karena mobil didepannya tidak bergerak sedikitpun meski kendaraan yang lain sudah mulai berjalan normal. Ah, rupanya mobil didepannya mengalami kerusakan mesin. lagi-lagi Mirza mendengus kesal.
__ADS_1
"Brengs*k." umpatnya.
Setelah berjuang menghadapi macetnya jalanan ibu kota, akhirnya Mirza tiba dihalaman rumahnya. hari masih sore saat ia pulang, tidak seperti biasanya Mirza pulang lebih cepat.
Pintu utama rumahnya telah terbuka. langkah Mirza tertuju pada pintu bercat putih, tak jauh dari tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. senyumnya mengembang saat sudah berada diambang pintu.
"Dek," panggilnya setelah pintu kamar terbuka. Berharap ia akan menemukan Alula tengah berbaring sambil menggambar desain baju diatas tempat tidur seperti biasanya.
Namun ia hanya mendapati ruangan kamar kosong. Mirza kembali memanggil nama Alula, tidak ada jawaban. hingga panggilan seseorang diluar kamar membuatnya menoleh ke asal suara.
"Den Emir, lagi apa disini ?" Mbak Sri datang dengan membawa kain sprei ditangannya. ia hendak mengganti kain sprei dikamar Alula.
"Adek mana Mbak?" tanyanya tanpa basa-basi, tak sabar rasanya ingin segera bertemu.
"Loh, Den Emir emang belum tahu, neng Lula kan sudah pergi tadi siang." ujar Mbak Sri dengan logat medoknya.
Senyum Mirza tiba-tiba saja surut. entah mengapa kata 'pergi' yang diucapkan Mbak Sri terasa menusuk kedalam hatinya.
Mirza mengerutkan dahinya,
"Pergi ? pergi kemana. kapan dia akan pulang." batinnya.
Tanpa mempedulikan Mbak Sri yang masih berdiri didepan pintu, Mirza buru-buru berjalan ke halaman belakang. Ia melewati tanaman bunga hias milik Mama Indri, kolam renang, kebun buah dimana Mang Ujang tengah bersih-bersih disana dan kolam ikan untuk sampai dipaviliun.
"Dek ... Pa Abhi .. " teriak Mirza saat sudah sampai didepan pintu paviliun. Ia mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak terdengar jawaban dari dalam.
"Den Emir teh kunaon (kenapa) ? ko' lari-lari. aya naon (ada apa) den ?" rupanya mang Ujang juga ikut berlari saat melihat Mirza berlari kearah paviliun.
"Mang Ujang, Pa Abhi sama Lula kemana ?" tanya Mirza dengan napas tersengal.
"Loh, kan sudah pergi tadi. Den Emir teh enggak tahu?" jawab mang Ujang dengan dahi yang mengkerut.
Lagi-lagi kata 'pergi' yang keluar dari mulut mang Ujang, membuat sudut hatinya terasa nyeri.
Mirza merogoh saku celananya, ia hendak mengambil handphone. Namun sayang handphone nya tertinggal dikantor.
"Aarrgh ..." kesalnya. kenapa ia selalu ceroboh jika sedang terburu-buru.
Mirza panik, dan tanpa berpikir panjang, ia kembali berlari kedalam rumah, meninggalkan mang Ujang yang masih terbengong-bengong melihat nya.
"Ma," panggil Mirza, menghampiri Mama Indri yang ternyata tengah asik memasak di dapur.
"Kamu itu kenapa sih, dari tadi Mama lihat kamu kayak lari-lari." tegur Mama Indri.
__ADS_1
"Main petak umpet?" imbuhnya.
"Ma, Lula kemana ? kenapa dia gak ada dikamar, dipaviliun juga gak ada. adek kemana Ma ?" Mirza langsung memberondong Mama Indri dengan pertanyaan, tanpa menghiraukan teguran Mama Indri.
"Loh, jadi kamu gak tahu ?" tanya Mama Indri dengan dahi yang mengkerut.
"Apa Ma ?" desak Mirza, wajahnya kini menjadi semakin panik.
"Kamu gak tau kalau Alula pergi? bukannya dia udah bilang sama kamu?" wajah Mirza kini berubah pias. kata-kata 'pergi' terus terngiang di telinganya.
"Pergi kemana sih, semua orang bilang Alula pergi."
"Jadi, kamu benar-benar gak tahu kalau Alula pindah ke Bandung ?" Mama Indri kembali menyakinkan.
Seketika tubuhnya terasa lemas, seakan tak ada tulang penyangga ditubuhnya. ia terduduk diatas kursi meja makan. Pendengarannya mendadak tu li, hanya kata-kata 'pergi' yang semakin terngiang-ngiang ditelinganya.
"Kenapa Mama biarin dia pergi ?" meski tak menangis, namun suara Mirza terdengar sedih dan kecewa. ia menatap nanar meja makan kosong dihadapannya.
"Kenapa dia pergi Ma .. " lirihnya.
"Mama sama Papa gak bisa maksa dia buat tetap tinggal disini Mir. Dia masih punya Pa Abhi, orang yang lebih berhak mengurusnya." Mama Indri mengusap punggung Mirza, mencoba menenangkannya.
"Setidaknya tunggu Emir pulang Ma." ia menatap Mama Indri dengan tatapan sendu, suaranya terdengar semakin pilu.
"Mama pikir Alula sudah bilang sama kamu." namun Mirza menggelengkan kepalanya.
"Emir gak tahu Ma. kalau Emir tahu, tadi pagi Emir gak akan pergi ke kantor." desahnya tak percaya, mengapa Alula sampai tega tidak memberitahunya.
Mama Indri menghela napas panjang, melihat Mirza yang seperti ini, mengingatkannya akan kepergian Inara waktu itu. Ia rasa, Mirza benar-benar menyayangi Alula.
"Dia cuma pindah ke Bandung, kita bisa kesana kapanpun." hibur Mama Indri.
Entah mengapa Mirza merasa Alula tak hanya pindah rumah, melainkan pergi menjauh darinya. Jika Alula memang benar-benar pindah rumah, mengapa sejak awal ia tidak pernah mengatakan apapun padanya.
Mirza merasa sedih, apakah selama ini kehadirannya tidak pernah dinggap. mengapa Alula setega itu, meninggalkan dirinya dan perasaannya yang kini mulai bisa ia pahami.
.
.
.
Happy Reading.. 😊
__ADS_1
Otor lagi baik, lagi rajin Up. 🤣
Jangan lupa like and comment nya ... 👍