
Alula merasa satu persatu urusannya telah usai, kini ia bisa pergi dengan hati yang tenang. Ia sudah menyelesaikan urusannya di Butik, dan berhenti dengan cara baik-baik.
Bu Nuning juga menghargai keputusannya, tidak mau memaksakan Alula agar terus bekerja untuknya. Marsha yang meski seringkali membujuk nya untuk tidak pergi, akhirnya mau mengerti.
Ia juga merasa tenang, karena telah menemui Bu Indah yang sejak dulu ingin sekali ia temui. Namun siapa yang menyangka, jika orang yang selama ini ia hormati ternyata adalah saudaranya sendiri. kakak kandung dari sang Ibu.
Bu Indah juga terus saja membujuk Alula dan ayah untuk tinggal bersama mereka, beliau bilang
"Aku akan terus merasa bersalah jika kalian tetap pergi." ucap Bu Indah ketika mereka telah kembali dari Rutan ke rumah singgah.
"Sebagai penebus kesalahanku dimasa lalu, aku ingin Alula ikut membantuku mengurus panti ini." lanjutnya dengan penuh harap.
"Ini semua sudah keinginan Alula, aku tidak bisa menolak kemauannya." ucap ayah yang duduk diseberang Bu Indah.
Senang rasanya melihat raut wajah ayah yang kini sudah terlihat ramah, tak lagi dingin dan kaku seperti saat pertama kali bertemu dengan Bu Indah pagi tadi.
"Aku tetap akan pindah Bu," lidahnya tentu tak terbiasa dengan panggilan 'tante', meski Bu Indah seringkali mengoreksi panggilannya.
"Ada Risma yang akan meneruskan pengurusan panti, juga pengelolaan usaha ibu yang lainnya." ucap Alula dengan tulus. ia bersyukur dalam hati, karena ia dikelilingi oleh orang-orang baik.
Dan yang paling membuatnya merasa tenang adalah sikap Risma yang tiba-tiba berubah menjadi hangat. Ia selalu tersenyum pada Alula ketika tak sengaja saling melempar pandang, tak pernah lagi menampilkan wajah ketus dan judesnya.
"Aku gak nyangka, kalo ternyata kamu itu saudaraku," ucap Risma saat Alula tengah memandangi anak-anak yang bermain bola di halaman.
Alula menoleh pada Risma yang berdiri disampingnya, lalu ia tersenyum ramah.
"La, maafkan aku. Sikapku selama ini tidak pernah baik sama kamu." wajah Risma terlihat menyesal.
"Bahkan, aku juga ikut andil dalam penculikan kamu waktu itu." ucap Risma dengan mulut gemetar.
Alula mengerutkan dahi, tak mengerti dengan apa yang dimaksud Risma.
Risma menceritakan pertemuannya dengan seorang pria di halte bus, ia memberi tahu kepada pria itu tempat dimana Alula sering menunggu untuk dijemput. Risma pikir, saat itu ia juga ikut andil dalam penculikan itu. dan ia tidak menyangka jika pria yang menghampirinya dulu adalah Leon, ayah kandungnya sendiri.
"Aku minta maaf untuk semuanya La, terutama untuk ayahku." lirih Risma dengan wajah murung.
Seperti apapun Leon dimasa lalu, pria itu tetaplah ayah kandungnya. dan ia sangat menghormati dan menyayanginya, meskipun pertemuan pertama mereka terbilang cukup singkat.
"Semua sudah terjadi Ris, aku sudah melupakan semuanya." ucap Alula seraya tersenyum. Meskipun masih ada rasa takut didalam dirinya untuk sekedar mendengar nama Leon.
"Jadi, apa sekarang kita teman yang bersaudara?" Alula mengulurkan tangannya, dan berharap Risma menyambutnya.
Namun Risma malah memandanginya dengan penuh haru, lalu merengkuhnya kedalam dekapan.
"Terimakasih La." lirihnya dengan mata yang berkaca.
__ADS_1
"Terimakasih sudah memaafkan ku, terimakasih sudah mau berteman denganku." ucap Risma dengan tulus.
Alula tersenyum dibalik punggung Risma, ia tahu jika Risma sebenarnya adalah orang yang baik. Ia hanyalah anak yang kecewa pada keadaan.
Ketiadaan seorang ayah dalam hidupnya, membuatnya kekurangan kasih sayang. serta kesibukkan Bu Indah dalam mengurus anak-anak di rumah singgah membuat perhatian Bu Indah menjadi terpecah.
Risma hanya butuh ditemani dan dimengerti, ia sebenarnya hanyalah anak manja yang haus akan kasih sayang. Jika saja Risma bisa berbaur dengan anak-anak panti yang lain, tentu ia tidak akan merasa kesepian. Alula tersenyum, ia merasa beruntung karena sejak kecil Alula sudah tinggal bersama keluarga yang lengkap.
...****************...
Matahari mulai merangkak naik, saat Alula keluar dari paviliun. hari ini ia benar-benar akan pergi, meninggalkan rumah yang selama ini memberikan rasa nyaman. Rumah keluarga baik hati yang memberikannya kasih sayang layaknya anak mereka sendiri.
Beberapa barangnya sudah lebih dulu ia kirimkan melalui jasa pengiriman barang, hanya tinggal beberapa baju dan beberapa barang kecil saja yang tersisa.
"Sudah siap ?" ayah memandangi nya lekat saat ia keluar dari pintu. seperti melihat keraguan dalam diri Alula.
Alula mengangguk dengan yakin, "Ayo yah." ajak Alula seraya menuntun ayah berjalan ke halaman depan dimana Pa Sanjaya dan Mama Indri tengah menunggu mereka.
"Kenapa harus pergi sih ?" keluh Mama Indri.
"Mama pasti bakalan kangen banget sama kamu." ujar Mama Indri dengan wajah murung saat Alula berpamitan.
"Sehat-sehat disana yah." imbuhnya seraya memeluk tubuh Alula. Alula mengangguk, lalu balas memeluk Mama Indri.
"Aku yakin, kamu mampu berdiri sendiri Abhi. jangan takut gagal lagi !" Pa Sanjaya menepuk bahu ayah, memberikan semangat.
Ayah memang sering menceritakan perihal kegagalannya dalam dunia bisnis kepada Pa Sanjaya. itulah mengapa ayah bertahan sebagai seorang supir dan asisten pribadi Pa Sanjaya.
Karena ayah selalu ragu untuk memulai sesuatu yang baru. ia tahu, Leon akan selalu merusak dan menggagalkan setiap rencana yang sudah ayah buat.
"Terimakasih untuk semua pengalaman yang sudah anda ajarkan Pa. kedepannya saya akan mulai merintis usaha baru." ayah Abhi begitu optimis. pasalnya orang yang selalu menghalanginya kini sudah tak bisa lagi melakukan apapun.
"Apa gak nunggu Emir pulang dulu ? dia pasti sedih gak ada kamu." pertanyaan Mama Indri membuat Alula menjadi gugup.
Sejak acara pertunangan Mirza dan Gweny waktu itu, ia bahkan belum bertemu dengan pria itu sampai saat ini. Alula yang selalu memilih menghindar, juga Mirza yang terlalu disibukkan dengan pekerjaan barunya membuat mereka semakin menjauh satu sama lain.
"Dia sudah tahu kan, kalau kamu mau pindahan hari ini ?" Mama Indri kembali meyakinkan karena Alula hanya diam saja.
"Taksi kami udah datang Ma." ujar Alula mengalihkan perhatian. ia menunjuk taksi yang baru saja masuk ke halaman rumah, setelah sebelumnya satpam membuka pintu gerbang.
"Kami pamit Ma, semoga Mama dan Pa Sanjaya selalu sehat." pamit Alula dengan suara tercekat.
"Do'akan yang terbaik untuk aku dan ayah." imbuhnya.
Wajah Mama Indri nampak murung, merasa sedih karena kembali kehilangan anak perempuannya. Mama Indri mendongak, saat Pa Sanjaya merangkul bahunya , memberikan kekuatan.
__ADS_1
"Saya permisi Pa, Bu. Terimakasih untuk semua kebaikan kalian yang tidak akan pernah bisa
saya balas satu persatu." pun dengan ayah, berat rasanya meninggalkan orang-orang baik seperti mereka. namun ia pun tak bisa memaksa Alula untuk tetap tinggal disana.
Dengan langkah berat, Alula berjalan beriringan dengan ayah menuju taksi yang telah ia pesan. barang-barang mereka sudah dimasukkan kedalam bagasi oleh supir taksi.
Sesekali ia menengok kearah Mama Indri yang masih memandanginya dengan wajah sendu. seakan tidak rela melepaskan kepergiannya.
Alula masuk kedalam taksi, ia melambaikan tangan pada Mama Indri yang masih berdiri ditempatnya. Ia tersenyum saat Mama Indri dan Pa Sanjaya membalas lambaian tangannya.
Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah mewah bertingkat dengan cat putih itu. Alula menatap nanar rumah dihadapannya yang kini semakin menjauh dari pandangannya.
"Terimakasih, sudah menjadi bagian dalam hidupku."
"Semoga suatu saat nanti, kita kembali dipertemukan dengan perasaan yang berbeda."
"Aku pergi bang, semoga Abang selalu bahagia."
batin Alula, disertai meluruhnya air mata yang sejak tadi berdesakan ingin segera keluar.
Ayah mengusap tangannya saat menyadari dirinya tengah menangis. lalu menarik tubuhnya kedalam dekapan. ayah seolah mengerti dengan keresahan hatinya saat ini.
Aku pergi,
Meninggalkan kenangan yang tak akan bisa kulupakan.
Kau akan selalu tersimpan dihati,
Meski jarak dan waktu kini menghalangi.
Selamat tinggal,
Terimakasih untuk waktu yang tak akan pernah bisa kembali terulang.
Bahagia lah dengannya,
Meski hatiku tersayat melihatnya.
.
.
.
Happy Reading 😊
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya...👍