Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Membuatnya Khawatir


__ADS_3

Sudah dari setengah jam yang lalu Mulan meninggalkan kedua sahabatnya. dan sudah setengah jam pula Alula dan Marsha berdiri tak jauh dari gerbang sekolah menunggu Mirza yang tak juga datang menjemputnya.


"Ikut aku aja yuk La, aku anterin." ajak Marsha pada Alula, karena sudah dari satu jam yang lalu supir yang menjemputnya datang, namun Marsha tetap kekeuh menemani Alula, menunggu orang yang akan menjemput nya.


"Kamu duluan aja Sa, kasian supirmu udah nunggu dari tadi." tolaknya.


Marsha menggeleng cepat.


"Aku gak akan tenang sebelum liat kamu pulang." ucap Marsha


Alula menatap Marsha, ia merasa tidak enak hati telah membuat Marsha menemaninya menunggu Mirza.


"Tapi... "


ucapannya terpotong karena Marsha menyela nya.


"Udah deh, pulang yuk ! aku anterin. aku gak tenang kalo kamu masih sendirian disini. udah mulai sepi loh. mau diculik ondel-ondel?"


"Yang bener aja." Alula terkekeh.


Sesaat Alula terdiam lalu ia mengedarkan pandangannya. benar yang dikatakan Marsha, suasana sekolah sudah mulai sepi. tubuhnya seketika meremang. ia menelan ludahnya beberapa kali. sejak kejadian malam lalu, entah mengapa ia tidak suka berada ditempat sepi apalagi tempat ini masih terasa asing untuknya.


"La.. "Marsha menepuk pelan bahunya.


Alula masih terdiam, apakah ia harus menerima ajakan Marsha dan pulang bersamanya. atau tetap menunggu Mirza yang belum tentu akan menjemputnya atau tidak.


"Ayo.. " namun tarikan tangan Marsha membuat Alula terpaksa mengikuti langkahnya.


Kini Alula tengah berada didalam mobil bersama Marsha dan Pa Supir yang langsung mengarahkan kemudinya ke alamat yang Alula berikan disecarik kertas. untung saja Alula selalu mencatat hal-hal yan penting, termasuk alamat rumah Pa Sanjaya..


"Kamu gak apa-apa nganterin aku dulu? rumahku.. eh tempat tinggalku lumayan jauh. aku takut Bunda khawatir nungguin kamu pulang."


"Kamu ini kayak sama siapa aja, aku yakin Bunda pasti seneng kalo tau aku nemuin kamu."


"Nemuin? emang aku anak hilang." membuat mereka tertawa


"Ya bener kan, kamu emang anak hilang bagai ditelan bumi lalu terbang kelangit delapan"


"Setahu aku, langit cuman 7 lapis deh"


"Yah anggep aja 8, soalnya kamu tiba-tiba menghilang tanpa jejak." mereka kembali tertawa.


Sementara ditempat lain, Mirza yang baru saja menyelesaikan tugas tambahan, terlihat langsung keluar kelas -Lagi-lagi- tanpa berpamitan pada kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Woy basket gimana?" teriak Marko.


"Besok lagi, gue buru-buru. telat jemput." ucapnya tanpa sadar, yang membuat kedua sahabatnya saling memandang.


Mirza berjalan dengan terburu-buru bahkan setengah berlari ke arah parkiran dimana motor kesayangannya terparkir disana.


Martin dan Marko bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Mirza yang tidak seperti biasanya.


"Gue yakin ada sesuatu." gumam Martin, namun masih terdengar oleh Marko.


Marko mengangguk "Gak biasanya dia kayak gitu, seradak seruduk kaya sapi kelaperan."


"Emang lu pernah liat sapi kelaperan?" namun Marko menggelengkan kepalanya.


"Dia beneran punya gebetan?" namun pertanyaan lain keluar dari mulut Marko.


"Tahu !" Martin mengangkat kedua bahunya.


"Kalaupun iya dia punya gebetan, bagus dong ! itu artinya dia normal." mereka hanya tertawa.


Memang, beberapa hari ini sikap Mirza sedikit berbeda dimata kedua sahabatnya. tidak seperti biasanya, pulang selalu terburu-buru bahkan sudah jarang berkumpul bersama. membuat mereka bertanya-tanya, apakah sahabat mereka yang satu itu sudah mempunyai kekasih? entahlah.


Mirza melajukan motor hitamnya kearah SMA PuBa. saat tiba dipersimpangan lampu merah, diliriknya jam yang melingkar dipergelangan tangannya, sudah terlambat hampir satu jam dari waktu yang seharusnya ia menjemput Alula.ia jadi khawatir. Apakah Alula masih menunggunya dipintu gerbang, atau dia sudah pulang tanpa menunggunya? tapi, bukankah gadis itu belum tau jalan pulang kerumahnya ?


Mirza turun dari motornya, ia berjalan ke arah gerbang sekolah, tujuannya adalah menanyakan pada bapak satpam yang bertugas, apakah anak yang selalu menitipkan helm sudah pulang?


Dan satpam pun menjawab "Wahhh... kayaknya udah dari sejam yang lalu deh diambilnya, anaknya juga tadi nungguin lama disitu." tunjuknya kearah tempat Alula biasa menunggunya.


"Kalo gitu terima kasih ya pak!" ucap Mirza.


"Iya, sama-sama." Mirza mengangguk. sebelum ia kembali mengendarai sepeda motornya.


Kini pikirannya mulai bimbang, apakah ia harus pulang atau mencari Alula dulu? tapi kemana ia harus mencari ? rumah temannya? Alula baru beberapa hari masuk di SMA PuBa, apa mungkin gadis itu sudah memiliki teman? Mirza berdecak, gadis itu membuatnya khawatir.


Yah, tentu saja khawatir jika ia pulang lalu Mama menanyakan keberadaan Alula, apa yang akan ia katakan nanti? Mama pasti akan marah jika tau anak perempuannya hilang.


WHAT HILANG? sungguh, gadis itu merepotkan saja.


Mirza akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah. dan setibanya dirumah, Mirza menyimpan terlebih dahulu motor kesayangannya di garasi, berdampingan dengan mobil legend milik Mama dan beberapa mobil milik Papa yang jarang sekali dipakai, dan tentu saja beberapa motor sport miliknya disana. yah, karena Mirza lebih menyukai berkendara dengan sepeda motor.


"Assalamualaikum... " ucapnya ketika membuka pintu rumah.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Mama dari arah dapur.

__ADS_1


"Loh gak jadi maen basket?" Mama justru menanyakan masalah basket. bukankah seharusnya gadis itu yang Mama tanyakan? atau jangan-jangan dia sudah pulang? Dari raut wajah Mama yang biasa-biasa saja, tidak dalam posisi angry mode on, bisa disimpulkan jika gadis itu memang sudah pulang.


"Alula mana?" tanpa menjawab pertanyaan Mama, Mirza balik bertanya.


"Dikamar." jawab Mama


Mirza berjalan ke kamar Alula dengan tergesa-gesa, namun telinganya masih menangkap suara Mama yang menyuruhnya "makan dulu!"


Tanpa mengetuk pintu, Mirza membuka pintu kamar Alula dengan sedikit kasar. Alula yang saat itu tengah asik menggambar seketika terperanjat mendengar suara pintu yang baru saja dibuka secara paksa.


"Elu tuh kalo mau pulang duluan harusnya ngomong dulu dong !" ucap Mirza tanpa basa-basi dihadapan Alula.


Alula yang masih setengah kaget hanya bisa melongo demi mendengarkan Mirza.


"Seneng banget sih Lu bikin orang khawatir dek !" ucap Mirza lagi setengah berteriak. ia bahkan tidak sadar dengan panggilan dek nya.


Alula terkesiap mendengar kalimat yang diucapkan Mirza, khawatir? sejak kapan dia khawatir. dan lagi apa tadi, dek? dia manggil adek? oh ya tuhaaan... untuk pertama kalinya Alula mendengar kata itu keluar dari mulut Mirza. namun kalimat lain yang keluar sebagai jawaban.


"Bukannya tadi pagi Kak Emir yang nyuruh aku pulang sendiri karena mau maen basket?" Mirza terdiam mendengar jawaban Alula. yang benar saja, ko' ia bisa lupa.


"Gak jadi. ada tugas tambahan makanya telat jemput elu." ralatnya.


"Nah kan, jadi bukan salah aku dong. aku tadi juga udah nunggu lama disana."


"Oke, gue minta maaf. tapi lain kali lu kasih kabar kalo mau pulang duluan."


"Gimana caranya? "gumam Alula.


Mirza mengernyit,


"Aku gak punya ponsel. lagian kalaupun ada, apa Kak Emir udah ngasih nomernya?"


Mirza menghela nafas panjang. kemudian ia berjalan keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun. tak lama ia kembali dengan membawa kotak kecil ditangannya.


"Ini ponsel lama gue, masih bagus. lu pake! jangan sampai kejadian tadi terjadi lagi. bikin repot !" ucapnya sambil menyimpan kotak yang ia bawa ke tangan Alula. kemudian dengan cepat Mirza meninggalkan Alula sendirian yang masih mematung.


Alula mengulas senyum, tidak sedikitpun ia tersinggung ataupun takut oleh perkataan dan perlakuan Mirza. karena ia yakin dibalik sikap Mirza yang seperti itu ia tau, jika Mirza orang yang sangat baik. terbukti sudah beberapa kali Mirza membantunya.


.


.


.

__ADS_1


Happy readding.. 😊


__ADS_2