
Rasanya baru saja matanya terpejam, kini ia kembali terjaga ketika mendengar suara yang tengah ia rindukan memanggil namanya.
"Lula" suara yang lembut dan dalam itu memanggilnya.
Alula terbangun, matanya yang terasa perih langsung menangkap bayangan seseorang didekat pintu.
"Ibu.." lirihnya. Wanita yang dipanggilnya Ibu, kini tersenyum lembut kearahnya. wajah Ibu nampak putih bersih bercahaya.
"Ibu, lula kangen ibu." pandangannya memburam, disusul cairan bening yang mulai menganak sungai. namun Ibu tetap diam ditempatnya. ingin sekali Alula berlari memeluk Ibunya. tapi raganya terasa sangat berat, bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidur.
Ia masih mencoba beranjak ketika seseorang berwajah sama persis sepertinya muncul dari belakang punggung Ibu.
"Dwi.. " air matanya kini keluar lebih deras. Dwi tersenyum kearahnya, tangan Dwi menggandeng erat tangan Ibu. begitu pun sebaliknya, Ibu mengelus punggung tangan Dwi dengan lembut. mereka saling pandang kemudian tersenyum.
"Lula sayang, Ibu lega Lula sudah bersama ayah." Ucap Ibu sambil merengkuh tubuh Dwi dalam pelukannya.
"Lula jadi anak yang baik ya, jaga Ayah buat Ibu ! Lula jangan takut lagi. ada Ayah dan orang-orang baik disekitar Lula." Ibu tak henti mengembangkan senyumnya. Kini Ibu dan Dwi berbalik memunggunginya.
"Ibu, Lula sayang ibu. jangan pergi bu, Dwi jangan pergi " ia ingin beranjak, entah mengapa tubuhnya terasa berat hingga ia tidak bisa melangkah.
Ibu dan Dwi menoleh, mereka tersenyum sebelum kemudian menghilang dibalik pintu.
"IBU" teriaknya.
Alula terperanjat saat terbangun dari tidurnya. ia menyeka sudut matanya yang sedikit berair, kemudian ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh isi ruangan mencoba mencari sosok yang ia rindukan. hingga ia menyadari bahwa kehadiran Ibu dan Dwi hanyalah mimpi. Alula memejamkan matanya, ia menghela nafas panjang mencoba menghilangkan rasa sesak didadanya.
...****************...
Seperti biasa, setiap pagi Alula sudah selesai menyantap sarapannya ketika Mirza turun dari kamarnya. tiba-tiba saja ingatannya kembali pada apa yang dikatakan Ibu padanya tadi malam.
"Lula jangan takut lagi . ada Ayah dan orang-orang baik disekitar Lula." dengan senyuman Ibu yang terus mengembang.
Alula melirik Mama Indri yang tengah berada didapur dengan tangan yang tak berhenti bergerak entah tengah membuat apa, ia tersenyum melihat Mama yang terus saja mengomel pada Mbak Sri, namun disusul dengan tawa renyah keduanya.
Kini pandangannya beralih pada Mirza yang baru saja mendaratkan tubuhnya diatas kursi sambil menyantap sarapannya. ia kembali tersenyum ketika teringat malam tadi Mirza telah memproklamirkan dirinya sebagai Abang yang akan menjaganya. Abang? yah Abang, hanya sebatas itu dan tidak akan lebih.
Apa keluarga ini yang dimaksud Ibu dengan orang-orang baik? Mama Indri dengan sifatnya yang lembut dan keibuan. dan Mirza, sosok yang dingin dan pendiam. namun telah berubah menjadi sosok yang penyayang.
Apa sekarang Ibu sudah tenang melihatnya berada ditengah keluarga ini? dengan Ayah yang tentunya akan selalu bersamanya.
Alula menghela nafas panjang, sudut bibirnya tiba-tiba saja tertarik membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama ia terdiam, ia terlonjak kaget ketika suara Mirza berhasil mengejutkannya.
"Pagi-pagi jangan bengong woy!" ucapnya ketika berjalan melewati Alula.
"Cepetan mau berangkat enggak !" seru Mirza sambil menyampirkan ransel dibahunya. lalu ia berjalan kearah pintu utama.
"Iyaa.. tunggu abang." Alula harus berjalan cepat karena Mirza sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan.
"Makanya jangan bengong mulu !" telinganya masih menangkap ucapan Mirza yang telah menghilang dibalik pintu.
"Berangkat dulu Ma." ucapnya ketika ia meraih dan mencium tangan Mama Indri. Mama hanya menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum melihat tingkah Mirza yang sudah mulai dekat dengan Alula.
Dan seperti biasa, Alula akan bertumpu pada bahu Mirza sebelum ia naik keatas motor.
"Makanya, tumbuh itu keatas bukan kesamping !" seru Mirza ketika Alula telah duduk dengan sempurna diatas motor.
"Mana ada, tubuh aku juga gak tumbuh kesamping." sanggahnya.
"Itu namanya kamu kurang pertumbuhan. ke atas enggak, kesamping juga enggak." ujar Mirza setengah meledek.
Alula memperhatikan tubuhnya, apa benar tubuh mungilnya ini kurang pertumbuhan? pikirnya. Mirza hanya terkekeh dibalik kaca spion. membuat Alula refleks memukul punggungnya.
Sesampainya digerbang sekolah, Mirza tak langsung pergi. ia menunggu Alula sampai menghilang dibalik pintu gerbang. senyumnya mengembang menampakkan lesung pipit dipipinya saat ia teringat beberapa menit lalu Alula mencium tangannya ketika berpamitan. membuatnya refleks mengacak rambut Alula.
"Belajar yang bener !" serunya sebelum Alula masuk kedalam bangunan sekolah.
Pagi ini Alula datang lebih awal dari pada Marsha dan Mulan, ia masuk kedalam kelas tanpa memperhatikan teman-temannya yang lain. namun setelah sampai ditempat duduknya, ia terkejut demi mendapati sebuah bungkusan berbentuk persegi panjang diatas mejanya.
Alula mengambil bungkusan tersebut, dahinya nampak mengernyit. sebab ia tak merasa memiliki barang itu. apa ada orang yang salah meja ya? pikirnya. Alula hendak menanyakan siapa yang menyimpannya, namun urung ketika sebuah lipatan kertas kecil terjatuh dari benda tersebut.
Dengan sedikit ragu Alula membuka lipatan kertas itu, didalamnya tertulis "Dimakan ya ! semoga suka" ia membolak balik kertas tersebut, tidak ada nama pengirimnya disana. Alula melipat dan menyimpan kembali surat tersebut ke atas meja. kemudian ia meraih bungkusan kecil berbentuk persegi panjang itu. dari bentuknya saja sudah bisa ditebak, itu adalah cokelat.
Namun baru saja ia membuka kertas pembungkusnya, kedatangan Marsha yang mengejutkannya secara tiba-tiba membuat tangannya reflek menjatuhkan cokelat tersebut.
"Ya ampuuun, Sorry La gak sengaja," Ucap Marsha ketika ia berdiri setelah mengambil batang cokelat yang terjatuh. "belum lima menit." gumamnya.
"Wahhh, baik banget kamu, ini buat aku yah?" serunya dengan girang. matanya nampak berbinar memandangi batang cokelat ditangannya.
"Eh Sa, "Alula hendak mencegah Marsha membuka cokelat tersebut, namun Marsha telah lebih dulu memakannya.
"Enak nih pagi-pagi sarapan cokelat." Suara riang Mulan membuatnya terperanjat. "Bagi-bagi dong." ia mengambil cokelat dari tangan Marsha.
__ADS_1
"Aduh... " Alula menepuk dahinya pelan "kenapa kalian makan sih?" gerutunya sebelum mendaratkan diri diatas kursi.
"Loh, makanan kan emang harus dimakan?" sebuah pertanyaan polos keluar dari mulut Marsha. Mulan menganggukan kepalanya dengan antusias.
Alula menelan ludahnya sebelum berkata "Masalahnya, itu punya orang." ia menunduk tak berani memandangi dua sahabatnya.
"Bentar, "
"Maksudnya?"
Alula menghela nafas panjang, "Iyaa, itu.. aku gak tau punya siapa." ucapnya dengan gugup.
"Maksudnya gimana sih La, kan tadi kamu yang pegang." ucap Marsha yang tak mengerti dengan perkataan Alula.
"Tuh.. " Alula menunjuk lipatan kertas yang disimpannya tadi. Marsha dan Mulan membuka dan membacanya.
"Dimakan ya ! Semoga suka"
"Aku suka suka ko' sama cokelat. makanya aku makan." Ujar Mulan yang sepertinya belum paham.
"Oneng.. " sebuah toyoran mendarat di kepala Mulan. Marsha pelakunya.
"Ada yang ngirim cokelat ke kamu La?" Tanyanya antusias. kini Marsha sudah mendudukan dirinya diatas kursi miliknya.
Alula hanya mengangkat bahunya kemudian berkata
"Salah meja kali." sanggahnya.
"Wahhh daebak ! murid baru udah punya penggemar rahasia." Seru Mulan dengan girang.
"Apaan sih."
Suara bel masuk terpaksa menghentikan obrolan pagi mereka. disusul guru mata pelajaran masuk kedalam kelas.
.
.
.
Happy readding.. 😊
__ADS_1