
Alula masih berdiri ditempatnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. lalu ia berlari menghampiri Marsha. Sasanya, sahabat masa kecilnya. ia terdiam dihadapan Sasa, sesaat ia tertegun, benarkah ini Sasanya ? Namun belum juga ia tersadar, Marsha telah menubrukkan diri kepadanya. memeluknya erat. hingga ia menangis tersedu.
Hening..
1 menit,
3 menit,
5 menit..
Tidak ada yang berbicara, hanya suara isakan yang terdengar dari keduanya, saling memeluk, saling melepaskan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kamu jahat."kata pertama yang keluar dari mulut Marsha setelah keheningan beberapa saat.
"Kenapa kamu pergi?" Marsha terisak.
"Kamu, tau, aku sendirian?"kali ini Marsha menangis sesegukan.
"Gak ada teman." Marsha masih memeluk erat Alula, sahabat masa kecilnya.
"Kamu, kemana aja? aku kangen tau." suara Marsha terdengar sedikit marah dan kesal, namun pelukannya semakin erat.
"Maaf.."ucap Alula dengan lirih. ia pun tak kuasa membendung air matanya. kini air matanya mulai menganak sungai.
"Kamu apa kabar?"
"Aku baik Sa, kamu gimana?"
"Aku baik, lebih baik dari pada Marsha yang dulu." kemudian mereka terkekeh.
Mereka masih berpelukan ketika seseorang datang dari belakang punggung Marsha, ia menepuk bahu Marsha dan memanggil namanya.
"Marsha, kenapa?" seorang siswa laki-laki yang datang. Alula menatap seseorang dihadapannya sebelum melepaskan pelukannya dengan Marsha. ia mengernyit merasa tak asing. begitupun dengan siswa laki-laki itu, ia nampak terkejut melihat Alula.
"Gak apa-apa bang." begitu Marsha menjawab siswa laki-laki itu sambil menyeka air matanya. begitu pun dengan Alula, tentu ia tidak ingin orang lain melihatnya sedang menangis.
"Pelukan aja kaya teletubies." kelakarnya, kemudian ia terkekeh "siapa?" tanya siswa laki-laki itu melirik ke arah Alula.
"Ah iya, ini Alula. dia temen aku dari kecil bang." Marsha memperkenalkannya pada siswa laki-laki itu.
"La, ini bang Dito, Abang aku." Alula hanya tersenyum padanya. sebelum kemudian dahinya mengernyit demi mendengar panggilan 'abang' yang keluar dari mulut Marsha. abang dari mana? ia bahkan sangat mengenal seluruh keluarga Marsha.
Namun sebelum Alula bertanya, Marsha seolah mengerti dengan raut wajah Alula yang seperti ingin menanyakan sesuatu.
"Ceritanya panjang. nanti deh aku ceritain." ujarnya.
"Kamu.. anak yang beberapa hari lalu baru masuk kan?"tanya Dito yang sepertinya mulai penasaran dengan sosok Alula. Alula hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Kamu lupa? aku yang kamu tabrak waktu itu."Dito mengulas senyum, senyum yang membuat siapapun meleleh melihatnya.
Ah ya, ia ingat. seseorang yang pernah ditabraknya dihari pertama ia masuk sekolah. sungguh memalukan.
__ADS_1
"Maaf untuk waktu itu. aku... "namun ucapan Alula terpotong diudara karena Dito menyelanya.
"Makanya lain kali kalo jalan jangan kebanyakan nunduk. untung aku yang ditabrak." candanya. Alula hanya meringis, ia merasa malu.
"Udah deh bang, jangan gangguin temen aku." ucap Marsha. Dito hanya terkekeh.
"Eh iya La, kamu sendirian? Dwi mana, sekolah disini juga kan? "tanya Marsha, sambil mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari seseorang.
Seketika raut wajah Alula berubah mendung. belum sempat Alula menjawab, bel tanda masuk berbunyi nyaring. walaupun banyak sekali pertanyaan yang ingin mereka utarakan. namun dengan terpaksa, mereka harus segera masuk kelas.
"Kamu dikelas mana La?" tanya Marsha, kini mereka tengah berjalan menuju lorong ruang kelas X.
"XA, sekelas denganmu." jawab Alula dengan senyum merekah.
"Ya ampuun, ternyata kita sekelas?" mata Marsha membulat, ia merasa senang kembali satu sekolah, bahkan satu kelas dengan best friend nya.
"Kamu sakit apa?" tanya Alula demi melihat wajah Marsha yang masih sedikit pucat.
"Biasalah, cuaca gak menentu. bikin suhu badan naik turun. akhirnya aku demam." Marsha mengerucutkan bibirnya.
Kini mereka berada didalam kelas, Alula tetap menempati bangku yang sebelumnya meski pemiliknya sudah masuk. dan Marsha memilih duduk disampingnya, dan dengan tega mengusir Mulan untuk duduk dibelakangnya.
"Gak mau, enak aja." gerutu Mulan saat Marsha memintanya menduduki bangku dibelakang.
"Biar aku aja yang pindah Sa."Alula merasa tak enak hati pada Mulan. pasalnya, hanya Mulan yang selama ini selalu menyapa nya. namun Marsha dengan cepat menggelengkan kepala tak setuju.
"Oke kalo gitu, sorry ya gak bakalan aku sampein salam kamu sama bang Dito." ancaman Marsha pada Mulan, hingga dengan terpaksa Mulan pun berpindah tempat.
"Sungguh terlaaalu." jawab Mulan dengan menirukan suara khas raja dangdut. Marsha hanya terkekeh mendengarkan keluhan Mulan.
"It's Okee." Mulan tidak sedikitpun keberatan.
Jam pelajaran kedua berakhir, bel tanda istirahat pun berbunyi. Alula bersama Marsha dan Mulan sepakat untuk jajan dikantin. sebelum kehadiran Alula, Marsha dan Mulan memang berteman dengan baik, Marsha bilang..
"Mulan ini satu-satunya orang yang mau temenan sama aku tau." kini mereka sedang duduk di kantin menikmati siomay buatan ibu kantin yang terkenal enak.
"Siapa juga yang mau temenan sama kamu. kalau bukan demi bang Dito, ku sih ogah."jawab Mulan dengan nada judes yang dibuat-buat sambil memasukan potongan siomay ke mulutnya.
"oh jadi gitu, ada cabe dibalik gigi." Jawab Marsha sambil mengaduk es teh manis nya.
"Apaan sih, ih jorok tau." Mulan melemparkan gulungan tidu pada Marsha.
"Emang bener, ngaca aja !"
Mulan menurut saja apa yang dikatakan Marsha. ia mengeluarkan cermin kecil siap siaga didalam saku bajunya.
"Gak ada." jawab Mulan dengan kesal.
"Haha.. nurut aja kan dia." Marsha tertawa dengan renyahnya.
"Kamu ngerjain aku?"
__ADS_1
"Rasain.." Marsha semakin tergelak.
Alula hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, Marsha tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.Ia bersyukur kini ia kembali dipertemukan dengan sahabatnya. ditambah Mulan, teman barunya yang menyenangkan.
"La, kamu belum jawab pertanyaanku."
"Apa?" Alula mengernyit, pertanyaan apa maksudnya.
"Dwi, dia gak sekolah disini ? " tanya Marsha sambil meminum es teh yang hanya tersisa setengahnya.
Alula terdiam, ia menelan ludahnya. tiba-tiba saja suaranya tercekat dikerongkongan.
"La.. " Panggil Marsha.
"Dwi... " ucap Alula lirih.
"Iya Dwi, dia sekolah disini juga kan ?" Marsha menuntut sebuah jawaban.
Alula masih terdiam, ia memejamkan matanya, mencoba mencari kekuatan untuk menceritakannya kepada Marsha. namun setetes air mata yang keluar menjadi pertanyaan besar untuk Marsha.
"Kamu kenapa La? kamu ko' nangis? " Marsha memegang kedua bahu Alula yang saat ini duduk disebelahnya.
"Dwi.. dia udah gak ada Sa." Alula tertunduk, ia tak kuasa menahan tangisannya.
"Mak.. Maksud kamu apa La? Dwi kemana?"
"Dwi udah meninggal Sa." Alula memeluk Marsha dengan erat.
"Ya alloh... Dwi.. " Marsha terkejut, ia benar-benar tak percaya.Dwi.. benarkah dia sudah tiada.
Mulan hanya menatap bingung pada keduanya tidak tahu harus berbuat apa. ia tidak mengerti, bahkan tidak mengenal siapa yang mereka tangisi.
"Dwi siapa?" meski ragu, Mulan memberanikan diri memecah suasana.
"Dia kembaran Alula." jawab Marsha setelah mereka melapaskan pelukannya.
"Ke.. kembar? jadi, kamu anak kembar?" Mulan membulatkan matanya.
Alula hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku ikut sedih ya La." ucap Mulan dengan tulus.
Marsha terdiam, masih tidak percaya dengan kabar yang didengarnya hari ini. Dwi dan Ibu Dira sudah tiada? berapa lama mereka tidak bertemu, hingga akhirnya kabar duka yang ia dengar. Marsha mengusap pelan punggung Alula, mencoba memberi kekuatan dan menghiburnya. ada banyak cerita yang pastinya mereka lewati hingga sampai bertemu kembali.
"Aku disini La, kita berjuang sama-sama." Marsha kembali memeluk Alula. begitupun dengan Mulan yang kini juga ikut memeluk nya.
"Aku juga."ucap Mulan sungguh-sungguh.
.
.
__ADS_1
.
Happy readding... 🤗