Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Suara perempuan ?


__ADS_3

Hari sudah semakin terik, matahari diatas kepala seolah memperlihatkan kekuatannya. sinarnya terasa sangat membakar seluruh permukaan kulit. peluh mulai menetes di setiap wajah orang-orang yang bekerja dibawah sinarnya.


Seorang gadis menuruni tangga sebuah bus, dengan ransel yang tetap bertengger di punggungnya. hoddie yang tadi pagi dipakainya sudah tak nampak, rupanya gadis itu menyimpannya kembali kedalam ransel saat dirasa udara sudah semakin panas.


Bus yang terkenal dengan sebutan "bus cepat" itu berhenti disebuah terminal tepat saat matahari sedang garang-garangnya.


Alula menapakan kakinya melangkah keluar dari terminal, diliriknya kekiri dan ke kanan banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang disana. ada sebagian pedagang asongan yang sedang asik menawarkan dagangannya, sebagian lagi tengah berada dialam mimpi mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, dengan punggung yang menempel pada tiang penyangga terminal.


Ada pula para pengamen yang sedang bersenandung, memetik sebuah gitar dipelukannya, dan memukul sebuah gendang digendongannya. satu orang diantara mereka berkeliling membawa wadah dari plastik bekas bungkusan permen yang digulung ujungnya. seolah sedang merayakan sebuah konser mereka menikmati aktivitasnya.


Tak terkecuali orang-orang yang hendak pergi, dan baru saja tiba di terminal tersebut, semua asik dengan kesibukannya masing-masing.


Alula gamang, kemana ia harus melangkahkan kakinya. dilihatnya sebuah bangku kosong disudut terminal, lalu ia mendudukan dirinya disana.


"Kemana lagi sekarang?" ucapnya dengan wajah kebingungan. semula ia sangat bersemangat untuk pergi ke kota. tapi setelah sampai, perasaannya sedikit hampa, entah karena tak ada tujuan atau karena tak ada seseorang yang dia kenal disini.

__ADS_1


"Ah iyaa, dulu Ibu pernah nyimpen nomor ayah dibuku catatan". wajahnya tiba-tiba penuh antusias.


Dikeluarkannya sebuah buku catatan berwarna hitam dari dalam ranselnya. disana banyak coretan-coretan hasil gambar Ibu dan Alula semasa ia tinggal bersama ayah tirinya, Alula sering mengurung diri dikamarnya dan menghabiskan waktu dengan pensil dan penghapus. ia selalu asik dengan imajinasinya membuat karya seni.


Dibukanya halaman demi halaman dari buku itu, ia sangat yakin Ibunya dulu pernah menyimpan nomor sang ayah di antara halaman yang penuh gambar itu.


Ayah : 085*******


"Nahhh ketemu" senyumnya mengembang seakan menemukan sebuah harta karun, mata bulatnya berbinar menemukan nomor ponsel bertuliskan nama "ayah".


Alula menaruh ponsel itu di daun telinganya, tak lama kemudian terdengar sebuah suara keluar dari sana.


"Sisa" baru saja satu kata keluar, Alula langsung mematikan panggilannya.


"Suara perempuan ? siapa ?" ia bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap layar ponsel tersebut. ia berpikir apakah itu suara ibu tirinya ? atau saudara tiri perempuannyanya. apakah ayahnya menikah dengan janda yang memiliki anak perempuan ?pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba saja bermunculan dibenaknya. ah entahlah, satu kali lagi Alula mencoba melakukan panggilan itu, ia mencoba menguatkan hatinya jika dugaannya memang benar.

__ADS_1


Alula kembali menempelkan ponsel itu di telinganya.


Tuttt..


"Sisa pulsa dalam kartu prabayar anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segera lakukan pengisian ulang...." suara perempuan itu kini jelas terdengar ditelinga Alula.


Ck.. ia berdecak, "katanya horang kaya, beli pulsa aja ga mampu, kenapa ga sekalian minta surat keterangan 'tidak mampu' aja ke RT atau RW. dasar juragan KW". Alula menggerutu dan mengumpat kesal, dimasukannya kembali ponsel itu kedalam saku celananya.


Ia menyesali prasangkanya terhadap sang ayah, yang tidak disengaja sudah menuduhnya yang bukan-bukan.


.


.


.

__ADS_1


Lahh itu operatornya yang ngangkat telpon toh, kirain emak tiri. 😁


__ADS_2