Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Lebih Indah


__ADS_3

Posisi Villa yang terletak persis disamping perkebunan teh membuat udara dimalam hari terasa lebih dingin, hingga menusuk kedalam pori-pori.


Mirza, Marko dan Martin dengan sengaja membuat api unggun dan cara barbequean di halaman belakang. sekedar untuk menghangatkan badan, juga agar membuat suasana liburan kali ini tak membosankan.


"La, abangmu keren juga ya kalo lagi ketawa gitu." ujar Mulan, ketika mereka baru saja keluar dari Villa menuju halaman belakang. terlihat wajah Mirza yang bercahaya terkena paparan sinar api unggun.


"Ah dia mah tiap liat cowok bening dikit pasti dibilang keren." cibir Marsha.


"Kalo ini sih beningnya gak dikit, bening banget. mukanya aja kinclong gitu, muka kamu aja kalah kinclongnya Sa." Mulan tertawa melihat Marsha yang mendengus kesal.


"Tapi iya juga sih, aku gak pernah liat abangmu ketawa kaya gitu La. kalo ketemu pasti mukanya datar, udah kaya permukaan triplek." Marsha cekikikan sendiri.


"Udah ah, kalian ini, selalu saja berisik."


Tapi Alula membenarkan apa yang dikatakan Mulan dan Marsha. pria yang kini selalu dipanggil abang olehnya itu memang selalu terlihat mempesona dibanding teman-temannya. apalagi saat ia tersenyum lembut padanya, seakan senyumnya hanya tertuju pada dirinya saja.


Pipi Alula tiba-tiba saja terasa panas, hingga menampilkan semburat rona merah ketika teringat kembali tragedi kecupan singkat dipaviliun.


"Wajah kamu kenapa jadi merah?" tanya Mulan sambil mengamati wajah Alula.


"Apaan sih," elaknya dengan kepala tertunduk, menyembunyikan wajahnya. meskipun dalam suasana malam hari tapi terlihat dengan jelas pipi Alula yang putih bersih kini merah merona.


"Apa kamu suka ya, sama bang Emir La?" tebak Marsha. belum sempat Alula menjawab seseorang telah memanggil mereka.


"Hey, sini ! malah pada ghibah disitu." seru Martin yang melihat mereka bertiga berkumpul di depan pintu.


"Udah ayo, dipanggil tuh." Alula menarik tangan Mulan dan Marsha untuk mengikutinya.


"Tapi kamu belum jawab aku La." protes Marsha.


"Emang kamu nanya apa Sa?" tanya Mulan dengan wajah polosnya.


"Astagaa.. " Marsha menepuk dahinya


"Ngomong sama kamu bikin cape Lan."


"Emang ngomong sama aku pake tenaga ya Sa, ko' bikin cape?"


"Enggak, pake nap shu !" Marsha mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Mulan. sedangkan Alula hanya cekikikan. ternyata, ada yang lebih menyebalkan dari pada Marsha.


Alula menyusul Marsha berjalan menuju api unggun. tiga pria dihadapannya kini tengah asik bermain gitar, menyanyikan lagu apa saja yang bisa mereka bawakan. pop, rock, melayu bahkan dangdut.


Alula duduk bersisian dengan Marsha. ia terlonjak kaget saat baru saja mendudukan diri diatas tikar yang digelar, ketika tiba-tiba Marko menyanyikan sebuah lagu yang membuatnya terkikik geli.


Kau bidadari


Jatuh dari surga


Dihadapanku..


Ea...


Bahkan Alula sampai melongo dan memegang dadanya karena terkejut.


Kau bidadari


Jatuh dari surga


Tepat dihatiku..


Ea...


Marko bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan tangannya didepan dada. membuat Martin gemas, lalu menjitak kepalanya.


"Gue kira lu mau nyanyi apaan. mainannya koboy junior. udeh senior lu, inget umur." ujar martin sambil mengangkat jagung bakar yang telah matang.


"Ledies first." ucapnya kemudian, dengan menyodorkan jagung bakar yang masih mengepulkan asap pada Mulan.


Mulan yang merasa tersanjung menerimanya dengan senang hati "Terima kasih."


"Lah, Lu kagak liat muka gue unyu-unyu gini kaya Ikbal CJR." Marko menunjuk wajahnya dengan percaya diri. membuat Marsha mencebikan bibirnya.


"Apa lu, sirik aja lu ma gue." sembur Marko pada Marsha.


"Ish, kalian ko ribut terus sih. jangan-jangan jodoh." ucap Mulan yang kini duduk disebelah Marsha sambil memakan jagung bakarnya.


Mata Marsha membulat,


"Dia?" tunjuknya pada Marko.


"Masih kerenan Romiku." gumamnya pelan, namun masih terdengar jelas ditelinga Alula.


"Siapa Romi?" tanya Alula dengan dahi yang mengkerut.


"Cowoknya dialah." tunjuk Mulan pada Marsha.


Dahi Alula semakin mengkerut "ko' gak pernah cerita?"


Marsha hanya meringis malu "Hehee.. iya aku ceritain. tapi nanti."


"Punya cowok juga lu? gue kira gak bakalan ada yang mau sama cewek beo kaya lu." cibir Marko.


"hemh emangnya kamu, ngakunya keren tapi jomblo."

__ADS_1


"Lah.. itusih nyindir lu, Mir." Mirza yang tengah asik memainkan handphone langsung menoleh.


"eh, enggak bang. sumpah deh!" elak Marsha yang gelagapan karena Mirza menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Ganteng sih, tapi kalo kayak gitu, aku jadi ngeri." bisik Mulan pada Marsha , namun masih terdengar dengan jelas. membuat Marko dan Martin sontak tertawa.


"Makanya lu maskeran pake aer gula, biar manis dikit." ujar Marko sambil melemparkan kulit kacang pada Mirza.


"Manis kagak, bonyok iya lu dikerubutin semut." mereka kembali tertawa. namun tidak dengan Mirza yang hanya berdengus sebal.


"Berisik lu pada, mending nyanyi Ko." Mirza menyodorkan gitar yang sedari dipegangnya pada Marko.


"Oke.. oke.."


"Mari kita dengarkan suara merdu dari orang yang paling tampan." ucap Marko dengan tangan mulai memetik senar gitar, membuat Marsha mencibir.


Markopun memulai lagu yang akan ia nyanyikan.


Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu


Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta


Entah mengapa lagu ini terdengar begitu menggelitik ditelinga Mirza, membuatnya langsung menoleh pada Marko yang tengah memainkan gitarnya.


Hati ini kembali temukan senyum yang hilang


Semua itu karena dia..


Lalu tanpa sadar ia menoleh pada Alula yang juga tengah menatapnya. ia ikut tersenyum saat mendapati Alula tersenyum padanya. Martin, Mulan dan Marsha hanya diam mendengarkan. si rentenir abal-abal ini punya suara yang lumayan juga pikirnya.


Oh tuhaaan..


Kini semua mulai ikut menyanyi, terbawa permainan gitar Marko.


Ku cinta dia..


Ku sayang dia..


Rindu dia..


Lalu dengan suara keras Marko berkata 'DIA SIAPA????'


Keplakk...


Martin memukul punggung Marko dengan botol akua bekas.


"Heh somplak, merusak suasana Lu." geramnya. Marko hanya tertawa dengan puas.


"Tenang... tenang.. " Marko mengangkat kedua tangannya seolah tengah menenangkan para penonton yang rusuh.


"Kita dangdutan oke." Marko menjentikan jarinya.


Jreng....


Kalau ada makanan di meja


Mejanya yang ku makan...


Keplakk...


Lagi-lagi botol akua bekas mendarat di punggungnya.


"Udah Mir, Lu lagi aja yang nyanyi. butek gue denger dia nyanyi dari tadi." Martin merampas gitarnya dari Marko, lalu memberikannya pada Mirza.


"Gue nih?" tanya Mirza tak yakin.


"Iya lu aja !" seru Martin.


"Nih, gue nemu lagu yang bagus." ucap Martin sambil memberikan handphonenya pada Mirza.


"La, temenin dia nyanyi !"


"Ko' aku?" tanya Alula dengan dahi mengernyit. namun ia tetap menghampiri Mirza dan duduk disampingnya. ia melirik handphone yang dipegang Mirza.


"Lagu apa bang?"


Namun bukannya menjawab, Mirza malah mulai memainkan chord gitarnya. terdengar lebih ceria dari lagu sebelumnya yang dinyanyikan Marko.


"Ekhm.. " Mirza berdehem sebelum memulai bernyanyi.


Saat kutenggelam dalam sendu


Waktu pun enggan untuk berlalu


Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku


Entah untuk siapa pun itu


Alula sampai terbengong-bengong mendengarkan Mirza bernyanyi. pria -yang orang lain kenal sebagai pria- dingin ini ternyata mampu membuat hatinya luluh lantah hanya dengan mendengar suaranya saja.


Semakin kulihat masa lalu


Semakin hatiku tak menentu

__ADS_1


Tetapi satu sinar terangi jiwaku


Saat 'ku melihat senyummu


Mirza menoleh lalu tersenyum dengan lembut pada Alula yang masih memasang wajah tak percayanya. mereka sampai tak sadar jika orang-orang kini tengah memperhatikan mereka.


Dan kau hadir


Merubah segalanya


Menjadi lebih indah


Kau bawa cintaku


Setinggi angkasa


Membuatku merasa sempurna


Dan membuatku utuh


'Tuk menjalani hidup


Berdua denganmu selama-lamanya


Kaulah yang terbaik untukku..


"Ko' abang bisa nyanyi?" tanya Alula saat Mirza menghentikan lagunya.


"Bisa dong, lu pikir gue punya gitar buat apaan." ucap Mirza sambil meletakkan gitarnya.


"Kamu dong yang nyanyi La!" Seru Marsha.


"Kamu kan dulu suka juara lomba nyanyi pas agustusan." lanjutnya.


Alula menaikan satu alisnya kemudian menoleh pada Mirza.


"Mau duet?" tanyanya setengah menantang.


"Neng peri duet sama abang aja." ajak Marko. ia hanya ingin melihat reaksi Mirza saja. dan benar saja Mirza langsung mengambil kembali gitarnya.


"Mau nyanyi lagu apa?" tanyanya pada Alula.


"MY HEART." teriak Mulan dengan mulut penuh dengan jagung bakar.


Disini kau dan aku


Terbiasa bersama


Menjalani kasih sayang


Bahagia kudenganmu


Mirza tersenyum pada Alula dengan tangan tak henti memainkan gitarnya. lalu ia mengangguk memberikan kesempatan pada Alula untuk menyambung lagu.


Pernahkah kau menguntai


Hari paling indah


Ku ukir nama kita berdua


Disini surga kita


Bila kita mencintai yg lain


Mungkin kah hati ini akan tegar


Sebisa mungkin tak akan pernah


Sayang ku akan hilang


Kini mereka menikmati lagu bersama. ditengah dinginnya udara malam, dibawah temaramnya sinar rembulan, dengan ditemani nyala api unggun yang menghangatkan. juga para penonton yang ikut larut dalam suasana syahdu malam itu.


If you love somebody


Could we be this strong


I will fight to win


Our love will conquer all


Wouldn't risk my love


Even just one night


Our love will stay in my heart


My heart


.


.


Happy Reading... 😊

__ADS_1


__ADS_2