
"Kamu pulang kemana La?" tanya Marsha.
Alula, Mulan dan Marsha tengah membereskan buku-buku dan alat tulis mereka. setelah beberapa menit lalu bel tanda pelajaran terakhir berakhir.
"Ya kerumah lah.. "bukan Alula, melainkan Mulan yang menjawab dari kursi belakang.
"Emang siapa yang bilang pulang ke emol?" tanya Marsha yang kesal mendengar jawaban Mulan.
"Maksudnya rumahmu dimana La?" kali ini Marsha kembali bertanya pada Alula.
Namun belum sempat Alula menjawab,
"Ya ditinggal lah, masa dibawa-bawa." Mulan kembali menjawab sambil mencangklong tas ranselnya.
"Kamu bisa diem gak sihhh?" Kali ini Marsha benar-benar kesal. demi melihat Mulan yang sekarang berdiri disampingnya.
"Lah, emang bener kan gak dibawa-bawa. " Marsha menghela nafas panjang untuk mengurangi emosinya. bicara dengan sahabat nya yang satu ini memang benar-benar harus ekstra sabar.
"Kalian ini memang selalu gini ya tiap hari? kaya si Tom sama Jerry." Alula terkekeh mendengar kedua temannya yang kini meributkan hal sepele.
"Dia nih, suka rese ! awas yah, aku gak bakal biarin kamu deket-deket sama Bang Dito." ancam Marsha, yang Lagi-lagi membuat Mulan menurut saja pada Marsha.
"Nah kan diem, aku mah udah tau kelemahan dia ada di Bang Dito." Marsha kini tertawa membuat Mulan mencibirnya.
"Emang kalian pacaran?" tanya Alula dengan antusias.
"Bucin akut." jawab Marsha "pens panatik." ucapnya kemudian dengan disengaja.
"Siapa sih yang gak suka sama banggan ?" Mulan seolah membanggakan dirinya sebagai fans.
"Banggan?"dahi Alula mengernyit.
"Abang ganteng.. "
"Abang ganteng.. " sahut Marsha dan Mulan bersamaan.
Alula hanya menggelengkan kepalanya, rupanya selain Marsha, kini teman gesreknya bertambah satu, Mulan.
Kini mereka berjalan keluar kelas, menuju pintu gerbang melewati beberapa koridor kelas lain, sudut mata Alula sempat menangkap seseorang -yang baru ia kenal tadi pagi- tersenyum ke arahnya. namun ia buru-buru memalingkan wajahnya.
"Kamu belum cerita soal Bang Dito?" Alula menjeda ucapannya "abang dari mana ?" kali ini Alula tidak bisa menahan rasa penasaran nya.
"Ceritanya panjang La, aku sama Bang Dito bisa jadi saudara, karena Bunda sekarang udah nikah lagi sama Om nya Bang Dito."
"Bunda?" Alula membulatkan matanya tak percaya. sedangkan Mulan dengan antusias menajamkan telinganya demi mendengarkan cerita Marsha.
__ADS_1
"Hemmm" Marsha mengangguk pelan. "tak lama setelah Bunda menikah. Ayah, suami baru bunda yang tak lain adalah Om nya Bang Dito. membawa kami pindah ke Jakarta. dan sekarang, disinilah aku berada." Marsha mengulas senyum. ia masih tidak percaya dengan perjalanan hidupnya.
"Lucu yah Sa, inget nggak? Dulu, kita sama-sama pernah mempunyai keinginan buat sekolah ditempat yang terkenal, tempatnya orang-orang kaya." Alula terkekeh.
"Dulu, kita menganggap keinginan kita cuma mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata. tapi lihat, sekarang takdir membawa kita kesini, sekolah yang kita impikan." Alula mengembangkan senyumnya.
Marsha memandang Alula penuh haru, ia mengingat kembali bagaimana kehidupannya dulu. jika bukan karena keluarga Alula yang sering membantu Marsha dan Bunda, entah bagaimana mereka bisa bertahan hidup.
Marsha dan Bunda hanya tinggal berdua, karena ayahnya telah lama meninggal karena kasus tabrak lari. tidak ada yang tahu, siapa sipenabrak itu. untuk penyusutan kasus pun rasanya Bunda tidak sanggup untuk membayar biayanya. hingga akhirnya bunda mengikhlaskan kepergian Ayah yang secara tiba-tiba. Bunda akhirnya harus banting tulang membesarkan Marsha kecil seorang diri.
Ibu Dira, yang tak lain adalah Ibu kandung Alula. beliau mempunyai usaha kecil-kecilan sebagai seorang penjahit. Ibu Dira sering melibatkan Bunda disetiap pekerjaannya. dan dari sanalah penghasilan Bunda, walaupun tidak terlalu banyak, tetapi cukup untuk kebutuhan mereka berdua.
Bahkan tidak hanya pekerjaan, Ibu Dira juga sering memberi Marsha dan Bunda bantuan kecil berupa sembako, ataupun keperluan lainnya jika beliau mendapatkan kelebihan rezeki. seperti borongan jahitan, atau ketika Ayah Abhi yang adalah Ayah kandung Alula mendapatkan tender besar dikantornya.
Ibu Dira selalu bilang 'aku sudah menganggapmu seperti saudara mba. ditempat ini aku hanya seorang pendatang. tidak banyak yang ku kenal. aku senang jika bisa membantu mu. jadi, terimalah pemberianku. setidaknya untuk Sasa.' begitu beliau selalu bilang.
Bunda sering kali menangis setelah menerima bantuan dari Ibu Dira. ia merasa terharu sekaligus malu karena terlalu sering merepotkan keluarga Ibu Dira. entah harus dengan apa ia membalas kebaikan keluarga Ibu Dira.
Dan sebagai balas budi, Bunda sampai rela menjadi promotor. berkeliling keluar masuk kampung lain untuk mempromosikan hasil jahitan Ibu Dira. tidak mudah menjadi SPG dadakan ternyata, karena Bunda sempat menerima banyak penolakan. sampai akhirnya banyak yang menyukai hasil jahitan juga model baju yang dibuat Bu Dira, membuat usahanya semakin dikenal dihalangan para tetangga juga orang-orang disekitar tempat tinggal mereka.
Namun tanpa disangka, usaha Ayah Abhi yang sedang berkembang tiba-tiba saja mengalami penurunan drastis, banyak konsumen yang membatalkan kerjasamanya dengan kantor Ayah Abhi. membuat keuangan mereka semakin hari semakin menipis, belum lagi untuk biaya pengobatan anak bungsu mereka. Dwi.
Apalagi kabar tidak sedap sering Bunda dengar. mulai dari usaha Ayah Abhi bangkrut, perselingkuhan yang dilakukan Ibu Dira, yang berakhir pada keretakan rumah tangga mereka. membuat usaha Ibu Dira pun ikut terbengkalai.
Tidak hanya disitu, Bunda juga sempat syok mendengar kabar jika Ibu Dira pergi dari rumah, membawa pergi anak-anaknya. dan yang membuatnya semakin terkejut adalah kabar yang ia dengar bahwa Ibu Dira pergi bersama pria lain. Bunda sama sekali tidak percaya dengan apapun yang orang lain katakan. bagi Bunda, Ibu Dira orang yang sangat baik dan tidak mungkin melakukan hal seperti itu.
Namun yang tidak pernah disangka adalah, ketika Bunda mengetahui jika si pemilik rumah tempat Bunda bekerja ternyata seorang Pria yang telah menabrak suaminya -Ayah kandung Marsha- hingga tewas ditempat kejadian. Bunda berhenti bekerja. ia marah, dan tidak terima. namun Pria itu berulang kali datang kerumah dan memohon pada Bunda agar mau memaafkannya. dan meminta Bunda agar bersedia menikah dengannya untuk menebus semua kesalahannya dimasa lalu.
Akhirnya Bunda mau menerima permintaan maaf dari pria itu, dan bersedia menikah dengannya dengan pertimbangan masa depan putri semata wayangnya, Marsha. Dan sekarang Bunda dan Marsha tinggal dan menetap diJakarta. tempat dimana Dito dan nenek -Ibu dari ayah tiri Marsha- tinggal bersama.
Semua terasa seperti mimpi untuk Bunda dan Marsha, namun, begitulah cara takdir membawa Bunda Dan Marsha pada kehidupannya yang sekarang. kehidupan yang serba berkecukupan.
"La." Marsha menggenggam erat tangan Alula.
"Aku gak akan pernah bisa lupain semua kebaikanmu dan keluargamu." ucap Marsha sungguh-sungguh.
"Jika kamu butuh apapun, jangan sungkan meminta bantuanku La."
"La berjanjilah, kamu gak akan pergi lagi ! kita berjuang sama-sama meraih mimpi kita." ucap Marsha penuh percaya diri.
Alula mengembangkan senyumnya, sesaat ia tertegun. sempat tak menyangka jika Marsha, Sasanya bisa berbicara dengan kata-kata yang dalam seperti itu. lalu ia mengangguk dengan antusias. Mulan yang dari tadi hanya berperan sebagai pendengar ikut merasakan keharuan diantara keduanya.
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
__ADS_1
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya
Laskar pelangi
tak kan terikat waktu
Bebaskan mimpimu diangkasa
Warna bintang di jiwa
Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia
Selamanya...
Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita
Laskar pelangi
Tak kan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi
****
Laskar pelangi, Nidji.
.
.
__ADS_1
.
Happy readding 😁