
Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung menghabiskan waktu selama 4 jam lebih. kini Alula dan ayah Abhi telah sampai di rumah yang sudah mereka tinggalkan selama kurang lebih enam tahun.
Ayah Abhi pernah beberapa kali mengunjungi rumah itu. namun setiap ia masuk kedalam rumah, hanya keheningan yang ia dapat. karena semua penghuninya tak pernah pulang kembali.
Alula terpaku, menatap bangunan rumah sederhana dihadapannya. Ditempat ini ia dan Dwi dilahirkan. ditempat ini pula ia dan Dwi dibesarkan. dengan cinta dan kasih sayang tulus dari kedua orang tuanya.
Namun suatu kejadian yang tidak terduga telah membawa mereka kedalam kehidupan pahit yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Alula masih mematung, kenangan buruk yang sudah lama ia coba lupakan kini terasa berputar, saat ia berdiri ditempat yang sama. tempat dimana ia dan Marsha melihat mobil hitam yang terparkir dihalaman rumah hampir enam tahun yang lalu.
Ayah Abhi menepuk bahu Alula, membuatnya tersadar dari lamunan. ia menuntun Alula untuk masuk kedalam rumah. dengan langkah berat Alula mengikuti ayah yang kini berjalan mendahuluinya.
Pintu rumah telah terbuka, udara lembab khas rumah kosong tercium diindera penciumannya. Alula mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut ruangan. tak ada yang berubah. Semua masih sama seperti dulu, hanya saja rumah sederhana bernuansa putih itu nampak lebih rapi dan lebih bersih dari sebelum ia meninggalkannya.
Rupanya ayah Abhi sengaja menyuruh orang untuk mengurus dan membersihkan rumah itu selama dikosongkan.
"Ayah ... " panggil Alula saat ayah hendak memasukkan tas miliknya kedalam kamar .
"Ya ?" ayah menoleh pada Alula yang masih berdiri diruang tamu.
"Semuanya tidak berubah ?" tanyanya keheranan. karena tidak ada satupun barang-barang mereka yang bergeser, bertambah ataupun hilang. hanya dua penghuninya saja yang sudah tak ada lagi disana.
"Ayah tidak mau merubah ataupun merusak apa yang sudah Ibumu jaga selama ini." ucap ayah dengan senyum diwajah lelahnya.
Alula menatap ayah dengan mata penuh haru. sedalam itukah rasa cinta yang ayah punya untuk Ibu, sampai ayah tidak mau merubah apapun dirumah mereka ini.
Meskipun selama ini Ayah mengira bahwa Ibu telah mengkhianatinya, namun ayah masih setia dengan cintanya. Alula tersenyum haru, beruntung sekali Ibu memiliki pria seperti ayah.
"Kamarmu sudah siap, tadi Teh Yuyun sudah merapikannya." ujar ayah.
Teh Yuyun, orang yang selama ini mengurus dan membersihkan rumah yang mereka tinggalkan. Beliau adalah janda dengan tiga anak, suaminya pergi meninggalkan mereka entah kemana.
Dulu ayah pernah meminta Teh Yuyun untuk menempati rumah itu, namun Teh Yuyun menolak. ia bilang,
"Tinggal dirumah sendiri lebih nyaman dari pada tinggal dirumah orang. meskipun rumah itu lebih besar dari yang kita punya."
Dan itupun berlaku untuk Alula, karena saat ia masuk kedalam kamar lamanya, ada perasaan hangat, tenang dan nyaman yang tiba-tiba saja muncul.
Alula merebahkan tubuhnya yang lelah diatas tempat tidur. menghirup dalam aroma kamar yang lama tak ia tempati. matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya, bayangan wajah sang abang tiba-tiba saja melintas begitu saja.
"Pasti sekarang Abang sudah tahu aku gak ada dirumah." gumamnya hampir tak terdengar.
__ADS_1
"Maaf bang, aku gak bermaksud seperti ini." ada perasaan bersalah yang tiba-tiba ia rasakan. karena ia tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya pada Mirza.
Ia meraih handphone dari dalam tasnya. sejak keluar dari kediaman Mahesa, ia sudah mematikan handphonenya. ia tahu pasti akan ada orang yang menelponnya untuk menanyakan keberadaannya. untung saja handphone ayah tengah dalam kondisi rusak, hingga ayah tidak akan bisa dihubungi oleh siapapun.
Ia menghidupkan handphone miliknya -handphone pemberian Mirza- dan benar saja, puluhan panggilan masuk dari Marsha, Mulan, Mama Indri dan Ibu Indah. namun tidak ada satupun nama yang ia harapkan masuk kedalam daftar panggilan tak terjawab.
Namun ada satu nama yang membuat hatinya mencelos, Gweny.
Alula masih mengingatnya, kata-kata yang Gweny ucapkan saat mereka bertemu dibutik waktu itu. Gweny mengajaknya untuk berbicara berdua, dan membawanya ke salah satu restauran yang tak jauh dari butik.
Disana, mereka duduk berdua dengan canggung. bingung, apa yang harus mereka bicarakan. hingga akhirnya Gweny membuka percakapan.
"Kita sekarang sudah bertunangan." Alula yang waktu itu tengah mengaduk-aduk minumannya mendongak, ia menatap lekat wajah wanita dihadapannya.
"Aku mohon sama kamu, jangan terlalu dekat dengan Emir." satu kalimat yang membuat sudut hati Alula terasa tersayat.
"Kalian bahkan bukan saudara kandung. jadi ... aku mohon, jaga jarak dengan Emir! dan biarkan kami menjalani hubungan tanpa adanya penghalang." lagi, hati Alula terasa perih mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gweny.
Ini seperti bukan Gweny yang ia kenal, Gweny yang selalu berbicara lembut, tidak pernah berhenti tersenyum, ramah, cantik dan anggun. berubah menjadi Gweny yang arogan dan egois.
"Kak Gweny jangan khawatir." ucap Alula dengan suara tercekat.
"Terutama dari rumah itu." imbuhnya.
Wajah Gweny nampak terkejut mendengar penuturan Alula. mungkin, ia tak menyangka jika Alula akan melakukan semua itu.
Alula kembali mematikan handphonenya usai ia memberikan kabar bahwa ia telah sampai dirumah. ia menghela napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. apakah Mirza tidak mencari dirinya? ya, ia masih mengharapkan Mirza mencari tau tentang keberadaannya. namun Alula segera menepis kehaluannya.
Alula duduk ditepian ranjang, ia menatap nanar meja belajar disamping jendela kaca. ingatan ketika ia dan Dwi saling berebut buku bacaan tiba-tiba saja melintas dipikirannya.
"Aku kangen sama kamu Dwi." lirih Alula, lalu ia tersenyum getir.
Alula berjalan menuju lemari, tempat ia menyimpan semua pakaiannya.
"Dulu, Ibu yang sering beresin baju-baju aku." ucapnya pelan. ia membuka satu pintu lemari, dan terkejut saat ia melihat baju-bajunya masih tersimpan rapi disana. mungkin Teh Yuyun yang merapikan pakaian lamanya.
Dan ia semakin terkejut saat melihat boneka Barbie yang ia simpan dibawah gantungan baju. boneka yang dulu sempat patah tangannya karena ia berebut dengan Dwi, kini telah kembali utuh.
Alula berjongkok untuk mengambil boneka itu, lalu ia memeluk erat boneka yang sudah lama ia biarkan didalam lemari.
"Aku kangen kamu Pio." ucapnya dengan tanpa melepaskan pelukannya dari boneka itu. boneka yang sama, dengan yang Mirza simpan dalam lemari kaca dikamarnya.
__ADS_1
Tak lama pintu kamar terbuka, disusul munculnya ayah dibalik pintu.
"Ayah mau keluar dulu, mau beli bahan makanan buat nanti malam." pamit ayah.
"Yah," ayah kembali menoleh "Lula ikut yah, jalan-jalan sebentar." Alula menyimpan kembali boneka itu kedalam lemari.
Alula mengikuti ayah keluar dari rumah, namun ia terhenyak ketika mendapati sepeda motor tua milik ayah terparkir di halaman rumah.
"Ayah ?" Alula menatap ayah tak percaya, sebab sepeda motor itu masih bisa dikendarai.
"Ayah sudah menyuruh orang untuk mengecek mesinnya, ternyata masih bisa jalan." Ayah tersenyum, lalu menaiki sepeda motornya.
"Ayo naik !" seru ayah, karena Alula masih mematung ditempatnya.
"Dulu, kamu sering nolak kalau ayah ajak bonceng. sekarang Dwi udah gak ada, gak ada alasan buat nolak ayah." ayah terkekeh kemudian menghidupkan sepeda motornya.
Mereka berkeliling kampung dengan menggunakan sepeda motor tua milik ayah. mereka melewati tempat-tempat yang dulu sering Alula datangi untuk bermain. terutama kebun jambu milik Pa Tatang yang dulu sering Marsha curi jambunya.
Beberapa tetangga yang mengenal dan mengingat mereka nampak menyapa. terutama Bu Eti, pemilik warung yang berada tak jauh dari rumahnya.
Bu Eti nampak terkejut melihat kehadiran Alula dan ayah disana. tak pernah menyangka jika ia akan bertemu kembali dengan Alula, anak yang dulu sering membeli roti dan kue diwarungnya, untuk diberikan kepada Dwi dan Ibu.
Ayah beberapa kali tertawa, saat mendengar Alula menceritakan masa kecilnya bersama Marsha. terutama saat ia dan Marsha berlarian karena ketahuan mencuri jambu milik Pa Tatang.
Alula juga menceritakan bagaimana ia melawan anak laki-laki yang saat itu mengganggu Dwi. ia maju ke depan, berperan sebagai kakak yang baik. membela sang adik hingga ia masuk kedalam selokan karena anak laki-laki itu mendorong nya hingga terjatuh. ayah kembali tergelak, karena saat ia dan Dwi pulang ke rumah, ayah mengguyurnya dengan air hujan yang ayah tadah didepan rumah.
Kenangan yang tidak akan pernah bisa terulang.
Alula bersyukur, setidaknya ia masih memiliki ayah. tempatnya berkeluh kesah, juga tempatnya berbagi canda dan tawa.
Kini ia harus mulai merencanakan masa depannya bersama ayah. belajar lebih mandiri, agar tidak selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain.
.
.
.
Happy Reading.. 😊
Jangan lupa like and comment nya 👍
__ADS_1