Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Pusat Kebahagiaan


__ADS_3

"Dek, apa kita pernah bertemu sebelumnya ?"


Alula merasakan degup jantungnya yang berdetak hebat. apakah Mirza menyadari jika sebenarnya ia lah si anak perempuan bergigi ompong itu. tidak, jangan sampai.


"Ko' lu malah bengong sih, jawab dong ! harusnya kayak di film-film gituloh."


"Gak asik lu ah." Mirza melepaskan rangkulan tangan dibahu Alula, membuat Alula tak seimbang dan hampir terhuyung kembali ke samping.


"Abang ih, gak lucu tahu !" ucapnya kesal sambil berjalan mengekori Mirza. namun ia bisa bernapas lega, karena Mirza ternyata hanya bersandiwara. menyebalkan.


"Haha ... adegan romantis tahu tadi tuh." mereka kini tengah berjalan menuju parkiran motor. Mirza sedikit kesulitan mencari motornya yang terparkir cukup jauh, dan terhalang sepeda motor yang lain.


"Kapan lagi lu dirangkul sama cowok ganteng, mana gerimis lagi. iya gak?" lanjut Mirza yang masih terkekeh. mereka berjalan dengan sedikit tergesa, karena gerimis yang turun semakin membesar.


"Dih pede banget sih." cibir Alula.


"Ati-ati loh, ntar suka sama gue." Mirza tergelak saat melihat ekspresi Alula yang lagi-lagi mencibirnya.


Alula menghela napas, lalu tersenyum menatap punggung tegap yang kini berjalan dihadapannya. wanita mana yang tidak menyukai pria tampan seperti abangnya ini. terkadang sifatnya memang kasar, tapi ia tahu, Mirza memiliki hati yang baik. andaikan saja ia memiliki segalanya, tentu akan mudah untuknya mengakui semua perasaannya.


Bagi Alula, Mirza adalah sosok yang sempurna. akan lebih sempurna jika ia mendapatkan perempuan yang sebanding dengannya.


"Tunggu disini, biar gak jalan jauh !" seru Mirza seketika meleburkan lamunannya.


Alula mengangguk patuh lalu mendudukkan diri diatas kursi besi setelah Mirza berlalu dari hadapannya.


Malam ini, ia merasa hatinya benar-benar bahagia. walaupun hanya sebentar waktu yang ia habiskan bersama Mirza, namun ia tidak akan pernah melupakan malam ini. malam dimana ia melihat wajah Mirza yang penuh tawa.


Setelah malam ini, mungkin saja tidak akan ada malam-malam lain yang akan ia lewati bersama Mirza. Karena setelah ini, ia harus memutuskan sebuah kebimbangan besar yang belakangan ini ia rasakan.


Alula menengadahkan kepalanya, ia menatap nanar langit malam dengan tetesan air hujan. Ia berharap, keputusan yang akhirnya akan ia ambil adalah keputusan yang terbaik. demi dirinya, juga demi hatinya agar semuanya baik-baik saja.


Tiiin... Tiiin...


Suara nyaring klakson membuatnya terperanjat.


"Abang." pekiknya, ketika mengetahui Mirza lah yang membunyikan klakson.


"Malem-malem bengong dibawah pohon lu, gak takut dimasukin mak kunti ?" ucap Mirza sambil membuka helm fullface nya.


"Abang ih, ngomongnya gitu banget." Alula memukul bahu Mirza menggunakan helm bogo berwarna pink miliknya.


"Aduh ... sakit tahu!" Mirza mengaduh sambil mengusap-usap bahunya yang baru saja terkena pukulan.


"Siapa suruh ngomongnya gitu, kalo nanti beneran ada anaknya Mak kunti gimana."


"Anaknya Mak kunti ? eum ... berarti tuyul dong." Mirza tertawa dengn renyahnya.


"Abang ih !"

__ADS_1


"Eh tapi lu gak usah takut ! gak liat tadi anaknya Mak kunti lagi naik bianglala ?"


"Abang ih." kini Alula terkikik "mana ada tuyul naik bianglala."


"Ada, tadi ditempat karcis ada yang kepalanya botak."


"itu kang karcisnya abang ih." mereka kembali tergelak.


Mirza keluar dari kawasan pasar malam, menuju jalan raya. ia mengendarai sepeda motor hitamnya dengan hati yang riang. entah mengapa sejak ia keluar dari rumah tadi, hatinya terasa bahagia.


Terlebih, ia bisa melihat Alula tertawa dengan riang saat mereka selesai menaiki beberapa wahana tadi. sudut bibirnya terus saja tertarik melengkung, menyadari bahwa pusat kebahagiaannya adalah saat melihat Alula bahagia.


"Coba tebak, siapa yang kalo tidur gak bisa dibangunin?" tanya Alula dibelakang punggung Mirza.


"Maksudnya apa, Lu nyindir gue?" tanya Mirza tak terima. pasalnya ia selalu susah dibangunkan jika sudah bertemu dengan bantal.


"Dih, biasa aja kali gak usah ngegass."


"Lah, siapa yang ngegas, orang lagi lampu merah."


"Bukan motornya, tapi abang yang ngomongnya ngegas." Alula mendorong bahu Mirza kedepan.


"Ah abang gak asik, orang jawabannya polisi tidur juga." Alula bersungut-sungut dengan bibir yang mengerucut.


"Hahaha .. boleh ketawa gak sih ?"


Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, mereka selingi dengan penuh canda tawa. apapun yang mereka bicarakan, pasti berujung keributan. namun akhirnya mereka tergelak bersama.


Mirza menghentikkan sepeda motornya dihalaman rumah, ia terus saja mengganggu Alula, hingga tak menyadari sebuah mobil asing terparkir dihalaman rumah.


"Heh tunggu lu, apa tadi bilang ? jomblo tua? berani yah ngatain abang sendiri?" Mirza berlari mengejar Alula yang berjalan mendahuluinya.


"Ampun abaaang." teriak Alula, karena Mirza kini telah memiting lehernya.


Mereka masih tertawa-tawa hingga sampai didepan pintu. namun tawa mereka surut ketika pintu tiba-tiba terbuka, disusul dengan keluarnya seorang gadis dengan paras anggun yang langsung tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Kak Gweny?"


"Gweny?"


...****************...


Pagi ini Pa Sanjaya menikmati hari liburnya dirumah, menemani Mama Indri menonton film Bollywood kesukaannya. kapan lagi bisa berduaan seperti ini.


Meskipun sudah berulang kali menontonnya, namun Mama Indri masih saja menangis, saat melihat adegan seorang ayah yang mengusir anak laki-lakinya karena telah menikahi gadis yang ia cintai.


"Papa jangan gitu yah kalo nanti si Emir nikah." ucap Mama Indri sambil menyeka sudut matanya menggunakan tisue.


"Mama ini ngomong apaan sih." Pa Sanjaya mengambil tisue dari tangan Mama Indri, kemudian melemparnya ketempat sampah.

__ADS_1


"Papa jangan galak-galak yah ! tuh jangan kaya si amit." Mama Indri menunjuk pria berjambang yang berperan sebagai ayah pemeran utama didalam film.


Pa Sanjaya hanya menggelengkan kepalanya. merasa heran, bagaimana bisa istrinya berpikiran seperti itu. tentu ia ingin yang terbaik untuk putera semata wayangnya.


Siapapun yang Mirza cintai, ia pasti akan merestuinya. tapi jika Mirza belum juga menemukan perempuan yang baik, ia akan mencarikannya. dan sepertinya ia telah menemukan perempuan yang cocok untuk putranya itu.


"Mir, sini !" seru Pa Sanjaya saat melihat Mirza berjalan menuju dapur.


Mirza menoleh sebelum kemudian berkata


"Bentar Pah, ngambil air dulu. haus." jawabnya cepat, karena tenggorokannya sudah terasa kering.


"Kenapa Pah ?" Mirza mendudukkan diri disofa. ia menyimpan gelas yang baru saja ia ambil diatas meja.


"Papa .. mau tanya sesuatu." Mirza menatap sang Papa dengan dahi yang mengkerut.


"Kamu, sudah punya pacar ?" Mirza diam tak menjawab. merasa aneh, mengapa tiba-tiba Papanya bertanya seperti itu.


"Papa tumben nanya gitu ?" dahi Mama Indri mengernyit.


"Yah, Papa nanya aja. gak ada salahnya kan ?"


"Pacar sih belum, tapi yang deket ada kan yah Mir." goda Mama indri


"Sampe gak berkedip semalem, mungkin kaget tiba-tiba ada dirumah." Mama Indri terkekeh sambil memandangi putranya.


"Emang siapa Ma ?" tanya Pa Sanjaya penasaran.


"Ya ... yang semalem datang lah. anaknya Pa Handoko itu. ya kan Mir?" Mirza masih diam tak menjawab. ia mengambil gelas di atas meja lalu meminum sisa air didalamnya. entah mengapa tiba-tiba ia merasa perasaannya tidak enak.


"Loh kebetulan kalau gitu."


"Kenapa Pa?" dahi Mama Indri kembali mengkerut.


"Papa berniat menjodohkan Emir sama anaknya Handoko."


Uhukk ... Uhukk ..


Mirza tersedak minumannya sendiri.


.


.


.


Happy reading... 😊


Jangan lupa like and commennya yah 👍

__ADS_1


__ADS_2